Langit Hawa

Langit Hawa
energi


__ADS_3

sore itu ketiga nya sampai di solo,gegas Surya memesan taksi online untuk sampai di rumah itu, karena kediaman keluarga mereka di dalam kota.


hawa tersenyum melihat jalanan yang lenggang, udara yang sejuk tak seperti Jakarta yang panas dan ramai pengendara.


beberapa kali hawa merasa sedikit mual, entah kenapa ia juga tidak mengerti.


mungkin magh nya mulai kumat karena kebiasaan nya yang selalu malas makan.


tak lama mereka sampai, sebelum nya Surya juga sudah memberi tahu bu le murni bahwa mereka akan datang berkunjung.


"assalamualaikum...bu le"


ucap hawa yang lebih dulu turun dari mobil, di ikuti oleh Surya dan Arumi di belakang.


"Walaikumsalam..mana langit...?


kalian hanya bertiga?"


ucap murni membuat ketiga nya Terdiam.


"mungkin besok lusa dia menyusul...!"


ucap Hawa ragu dengan ucapan nya.


"oh gitu, ya sudah ayo masuk!"


ucap murni untuk mengajak ketiga nya masuk.


"hawa mau tinggal disini selama bulan puasa.. boleh tidak bu le?"


ucap hawa duduk di sofa.


"boleh.. kenapa tidak? lagi pula Bu le juga di sini tinggal sendiri.."


ucap murni karena memang semua anaknya sudah menikah dan memiliki rumah sendiri.


dulu juga ia ingin merawat hawa saat Surya pindah ke Jakarta namun saat itu ia juga memiliki empat orang anak yang masih kecil dan tak bisa membantu Surya merawat hawa.


"kamu yakin mau tinggal lama disini? nanti bagaimana langit?"


ucap Arumi masuk ke dalam kamar Hawa.


"hawa tidak khawatir masalah Rizki dan jodoh...hawa yakin apa yang Tuhan takdir kan untuk hawa tidak akan menjadi milik orang lain.. hawa lelah dengan semua penekanan mami Sarah.. mungkin jika di sini hawa bisa sedikit bernafas lega... meski tanpa langit, semoga Allah memberikan hawa kekuatan!"


ucap hawa menghapus air matanya, Hanya pada Arumi ia menceritakan semua keluh kesah nya, satu satunya tempat bersandar selain sang maha pencipta.


malam itu langit sampai di Jogjakarta, kemudian langsung menuju solo tempat dimana hawa berada meski tidak tahu apa benar perkiraan nya, namun langit berharap jika filing nya Benar.


Langit merebahkan tubuhnya di ranjang, ia memutuskan untuk ke hotel.


karena kepalanya sedikit pusing dan Lelah, langit juga merasa lemas karena beberapa jam tidak bertemu dengan Hawa.


langit memijat keningnya mengingat penuturan nya pada Sarah, mungkin ia sudah keterlaluan tapi langit benar benar pusing dengan keinginan Sarah yang terus menuntut hawa untuk cepat hamil dan yang lebih kesal adalah bisa bisa nya Sarah sampai memberi nya saran untuk menikah lagi.


apa ia tidak berpikir bagaimana jika ia di posisi hawa, perempuan yang begitu ia cintai.


lusa sudah puasa, rasa nya tidak sanggup jika harus jauh dari istri nya itu di bulan suci ini.


**


Pagi...

__ADS_1


hawa membuka pintu jendela kamar nya, Udara begitu sejuk hingga angin berhembus kencang membuat nya merasa dingin.


"baru satu hari jauh dari mu bang, aku sudah rindu..."


ucap hawa menatap langit yang biru.


"hawa...."


ucap Arumi masuk ke dalam kamar.


"kita berangkat ke makam sekarang saja"


ucap Arumi dan di angguki oleh hawa.


pagi itu mereka berempat pergi berziarah ke makam almarhum ibu hawa, sudah hampir dua puluh tahunan beliau pergi meninggalkan putri nya kini sudah menjadi seorang dokter.


hawa mengikuti Surya yang memimpin pengajian itu, Arumi memperhatikan Hawa yang beberapa kali membuang nafas.


"hawa, apa kamu sakit nak..?"


ucap Arumi menyentuh pundak hawa.


hawa menggeleng kan kepalanya, namun saat ini ia merasa mual, mungkin karena ia belum sarapan.


"tidak Bun, hawa hanya lapar!"


ucap hawa tersenyum, setelah selesai mengaji mereka berempat kembali kerumah.


langkah hawa terhenti saat tiba di gerbang rumah sederhana itu, ia melihat seorang pria yang ia rindukan, tengah tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya.


hawa menghapus air matanya kemudian berlari kecil menghampiri langit yang juga menghampiri nya.


ucap langit mencium kening Hawa dengan air mata di sudut mata nya.


ternyata filing nya Benar, itu semua terjadi karena mereka satu hati.


"i Miss you to..."


ucap hawa memeluk langit erat.


Surya menitikkan air mata nya melihat kedua nya yang seperti sudah berpisah lama.


Surya tidak menyangka langit mencari hawa sampai ke sini, cinta nya yang membawa nya sampai di sini.


"maaf kan aku! jangan pergi lagi, aku tidak akan sanggup jauh dari kamu..."


ucap langit dan di angguki oleh hawa.


"maaf bang....!"


"kamu tidak salah, kamu tidak pernah salah...


aku yang salah, harus nya aku tidak pergi malam itu..!"


ucap langit menghapus air matanya.


setelah itu murni menyuruh kedua nya untuk masuk ke dalam rumah.


"kamu tahu dari siapa kalau kami pergi kesini?"


ucap Arumi menyimpan beberapa minuman untuk mereka.

__ADS_1


"tidak ada yang memberi tahu, tapi cinta yang menuntun langit sampai di sini...!"


ucap langit memeluk istrinya itu.


energi nya seperti kembali setelah bertemu dengan Hawa, ia yang tadi merasa lemas kini menjadi lebih baik setelah memeluk perempuan itu.


"hawa tidak mau pulang Bang, hawa mau disini sampai Nanti!" ucap Hawa membuat Langit terdiam, langit tahu hawa tengah menghindar dari Sarah.mungkin memang jauh dari jangkauan nya akan lebih baik.


"Abang akan Disini dengan mu!"


ucap langit membuat hawa tertegun.


"Abang tidak mau terpisah Jarak dan ruang dengan mu..."


"lalu bagaimana dengan pekerjaan Abang..?


hawa sudah Risen dari rumah Sakit..!"


ucap hawa, semalam ia sudah menghubungi Sanusi,memberi tahu jika ia akan Risen dan kemungkinan besar ia akan tinggal di solo.


mungkin dengan hal itu Sanusi juga bisa melupakan nya dan mencoba mencari pendamping hidup.


"kalau soal itu gampang, ada Zaki!"


ucap Langit terkekeh kembali memeluk istrinya itu.


Surya merasa lega karena langit memilih untuk tinggal bersama Hawa, meski ia harus meninggalkan pekerjaan nya disana.


"Abang bisa kirim file lewat email, itu bukan hal yang sulit...!"


ucap langit, kini keduanya berada di dalam kamar.Hawa tengah merapikan baju baju suami nya itu.


"tapi nanti bagaimana tanggapan Mami bang?"


ucap Hawa menatap wajah tampan suaminya itu.


"tidak perlu memusingkan hal itu, bukan kah kita disini untuk hidup tenang tanpa tuntutan dari nya!"


ucap langit menghampiri hawa kemudian memeluk nya dari belakang.


"kenapa kamu berani berani nya pergi dari rumah...?"


ucap langit mencium pipi hawa.


"maafkan Hawa bang...!"


ucap hawa Menoleh ke belakang membiarkan langit menciumi wajah nya.


"kamu itu seperti energi untuk ku, aku merasa lemah jika jauh dari mu hawa, ada atau tidak anak di dalam rumah Kita itu tidak akan pernah membuat ku berubah..aku akan tetap menjadi langit yang menerima mu apa adanya...."


ucap langit membuat hawa berkaca kaca..


bersambung..


terima kasih yang udah mampir, 😍😍


hati ini author update tiga episode ya, karena kemarin author libur...


jangan lupa like dan komentar ya..


😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2