Langit Hawa

Langit Hawa
labirin.


__ADS_3

seorang wanita dapat menyembunyikan cinta nya selama empat puluh tahun, namun tidak dapat menyembunyikan rasa cemburunya meski sesaat....(Ali bin Abi Thalib)


sejak kejadian itu hawa lebih banyak diam, meski langit dan Aqila sudah menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


hawa tidak menyangka kejadian itu membuat keduanya tak berjarak, tentu saja hal itu membuat hawa cemburu, belum lagi Aqila yang memang dari awal seperti memiliki perhatian khusus pada langit.


Berbeda dengan Esa yang tampak biasa saja, pria itu memang selalu menyikapi segala sesuatu dengan tenang dan tidak terlalu memikirkan nya karena memang semua terjadi karena tidak sengaja.


"maaf bang.... maaf!"


ucap Aqila menunduk, Aqila juga tidak tahu kenapa tiba-tiba ayam itu mengejar nya.


sebagian santri yang melihat justru tertawa kecil melihat hal itu.


"Aqila.... masuk?!"


ucap Ilham menggeleng kan kepalanya, melihat tingkah laku putri bungsu nya itu.


Aqila memang berbeda dengan ketiga kakaknya, sedikit bandel dan susah di atur.


Ilham sendiri terkadang pusing dan tak mengerti, padahal Ilham selalu menasehati nya dengan lembut.


%%%


"sayang... kamu mau makan apa?"


ucap langit yang kini hendak makan siang bersama.keluarga ustadz Ilham menyajikan banyak makanan untuk mereka.


Ilham juga sudah minta maaf perihal kejadian itu.


"hawa enggak makan... belum laper bang"


ucap hawa tanpa menoleh.


"makan dong.... masih marah...?"


tanya langit mendekat.


"hawa tidak marah...!"


"terus kenapa manyun seperti itu...!"


"enggak, siapa yang manyun...?"


langit terkekeh kecil melihat ekspresi wajah Hawa yang ketahuan jika Istri nya itu tengah cemburu.


"kamu cemburu ya ...!"


"menurut Abang?


jangan jangan kalian sengaja ya!"


ucap hawa membuat langit terperangah.


hawa sendiri tidak tahu kenapa langit malah pergi melihat peternakan saat ia dan Sarah melihat kondisi Umi nya Aqila.


Esa dan Sarah juga Rizal menghentikan aktivitas makan nya melihat mereka sedikit berdebat.


"astaga.....ya enggak lah, ngapain kayak gitu sama dia, Abang Udah punya yang cantik seperti ini....!"


ucap langit mencubit pipi Hawa gemas.


"udah ya bang...!"


ucap Hawa melepaskan tangan langit dari pipinya.


Sarah pun ikut memperhatikan hawa yang lebih banyak diam, apa keputusan mengajak kedua nya ke pondok ini suatu hal yang tidak tepat.


langit memijat keningnya, baru pertama kali setelah mereka saling mengenal hawa bersikap seperti itu.


"makan ya, Hawa. ini kan sudah waktunya makan siang! nanti kamu sakit perut!"


ucap Sarah dan di angguki oleh hawa.


mereka kembali ngobrol setelah makan siang, membicarakn kegiatan para santri di tempat itu.


"Mi, kita kapan pulang?"


ucap langit yang mengelus kepala hawa yang bersandar pada dada bidang nya, membiarkan hawa fokus pada ponsel nya, langit tahu istri nya itu masih merajuk.


"sore saja ya..


istirahat dulu... hawa juga kan suka pusing"


"enggak, nanti tidur aja ya sayang.......! biar tidak pusing!"


ucap langit dan di angguki oleh hawa.


"astaga... jangan seperti ini dong yang!"


ucap langit membuat hawa terkekeh karena sejak tadi hawa hanya mengangguk dan menggeleng.


"enggak enak kan di cemburuin...hawa juga seperti itu kalau Abang lagi cemburu!"

__ADS_1


ucap hawa memberangus.


"oh jadi ceritanya ngebales?"


ucap langit mencubit pipi hawa gemas.


hawa terkekeh di ikuti Sarah yang juga terkekeh kecil melihat hal itu, syukur lah mereka sudah kembali ke keadaan semula.


****


sore menjelang waktu ashar, mereka berencana untuk pulang setelah sholat ashar.


"hawa...mau ke masjid atau Sholat di sini...!"


tanya Sarah membuat hawa tertegun.


"hawa lagi bebas rowming mi,, "


ucap Langit terkekeh kecil mencubit pipi istri nya itu.


karena Dzuhur tadi Sarah tidak sadar jika hawa tidak shalat.


"oh gitu......ya udah, kamu tunggu disini aja, mami mau ke masjid saja ikut berjamaah"


"ya mi....!"


"ya udah, Abang shalat dulu ya sayang"


"ya ....!"


ucap hawa yang meringkuk di atas permadani, memainkan ponselnya.


hawa memang memainkan ponselnya tapi pikiran nya tidak disitu, apa pendapat Sarah ya mendengar nya sedang datang bulan.


sementara Sarah berharap ia bisa pulang membawa kabar gembira..


***


Aqila memperhatikan seorang perempuan yang tengah meringkuk sendiri di pendopo itu.


"jangan bikin Abi malu, Aqila..!"


ucap Ilham saat mereka berada di dalam rumah.


"Aqila tidak sengaja Abi...!


maafkan Aqila...!"


apapun yang terjadi dengan kalian di masa lalu jangan sampai kamu merusak rumah tangga orang...Abi tidak pernah mengajarkan hal memalukan seperti itu...!"


"ya Abi... maafkan Aqila...!


Aqila tidak bermaksud seperti itu...!"


ucap Aqila menunduk.


"aku sadar, aku tak sebanding dengan istri langit yang seorang dokter itu.


meski aku tidak bisa membohongi perasaanku yang masih menginginkan nya.. kenapa rasa ini masih saja hadir, di saat keadaan tak memungkinkan untuk berharap!"


ucap Aqila sendiri.


setelah sholat ashar, mereka memutuskan untuk pulang.Sarah dan Rizal berpamitan pada keluarga Ustadz Ilham.


"kami akan kembali bulan depan untuk merencanakan pernikahan Esa dan Aqila...!"


ucap Sarah memeluk istri Ustadz Ilham yang duduk di kursi roda.


"untuk mendapatkan penanganan terbaik, sebaiknya ibu ustadz ke kota saja!"


ucap hawa berdiri di samping langit.


tak lagi mengingat kejadian tadi yang membuat nya tak nyaman berada di tempat itu.


"ya, kami juga berpikir seperti itu, boleh kan nanti kami menghubungi Kamu nak.!"


ucap ustadz Ilham menatap Hawa.


"ya, tentu saja!


besok saya sudah kembali ke rumah sakit..!"


ucap hawa senyum.


Aqila hanya diam sambil menunduk tak berani menatap wajah langit atau pun Esa.


masih terbayang kejadian itu, saat tubuh nya menempel pada tubuh Langit yang begitu hangat.


"astagfirullah...!"


ucap Aqila dalam hati nya, masuk ke dalam rumah.


*****

__ADS_1


setelah itu mereka pamit kembali ke Jakarta.


"tidur Yang!"


ucap langit menyandarkan tubuh hawa.


"kita mampir ke taman bunga mau tidak?"


ucap Sarah menoleh ke belakang.


"gimana yang?"


"boleh....!"


ucap hawa tersenyum.


dari Tempat itu mereka hanya menempuh perjalanan satu jam, perjalanan yang sama membuat hawa sedikit pusing. namun saat sampai di tempat itu, rasa pusing nya terbayar dengan melihat hamparan bunga yang indah.


Sarah merangkul bahu hawa untuk berjalan bersama, mungkin dengan cara seperti ini bisa menggantikan hal yang tadi terjadi di pondok pesantren.


Esa sendiri sudah pulang lebih dulu memakai mobil nya, padahal Sarah sudah memberi tahu Esa jika mereka akan mampir ke taman wisata itu.


"kalian berdua berkeliling saja, mami tunggu disini!"


ucap Sarah duduk di rumput yang hijau dekat dengan kolam air mancur.


langit tersenyum melihat hawa yang tampak senang berada di tempat itu.


"kita masuk labirin yu?"


"tidak ah Bang, takut enggak bisa nemuin jalan!"


ucap hawa menatap pintu labirin yang di tumbuhi tanaman itu, terlihat Beberapa orang masuk ke dalam.


karena Weekend, tempat itu cukup ramai.


banyak yang memperhatikan langit, ketampanan nya memang selalu menjadi pusat perhatian para kaum hawa.


"jangan takut, kan Sama aku!


kita akan masuk bersama dan keluar bersama.."


ucap langit entah kenapa ia terkekeh sendiri.


"kamu mikirin apa bang?


kok terkesan lucu!"


"tidak sayang... ayolah!"


ucap langit mengajak hawa untuk masuk.


beberapa kali belok ke arah yang sama dan menemukan jalan Buntu hingga kedua nya kembali memutar.


Sarah mencoba menelpon langit, namun tak di angkat, waktu juga sudah hampir gelap.


"tuh kan dari tadi muter muter terus... udah mulai gelap lagi!"


"ya, sabar ya sayang..!


sekarang kita ke kanan....!"


ucap langit Namun kedua nya membeku saat jalan yang ditempuh kembali buntu.


hawa sudah takut karena tempat itu juga sudah mulai sepi, namun Langit tetap berjalan menemukan jalan keluar hingga langit Tersenyum kemudian membawa istrinya berlari menuju pintu keluar..


"Alhamdulillah...!"


ucap hawa memeluk leher langit, tersenyum menatap wajah suaminya itu.


"jangan pernah melepaskan tangan Ku jika kamu tidak ingin tersesat sendiri..


apapun masalah yang kita hadapi, yakinlah pasti ada jalan keluar nya..!


kita hadapi bersama..."


ucap Langit mengecup bibir Hawa dibawah semburan jingga senja.


labirin memang berliku dan berbelok. cukup susah untuk mencari jalan keluarnya, namun bagi mereka yang mau berusaha dan tidak berputus asa, pasti menemukan jalan keluar nya.


seperti hal nya kehidupan manusia yang berliku, serumit apapun masalah yang dihadapi yakinlah bahwa Allah akan memberikan jalan keluar nya.


bersambung.


ada yang pernah masuk labirin?


author pernah dulu ya, tapi gak jadi masuk🤭🤭🤭🤭


anak nya nangis duluan minta Keluar..


hehehe...


terima kasih yang udah mampir 😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2