
pagi itu hawa terbangun dan melihat bekas air hujan yang turun semalam, hujan selalu mengingat kan nya pada seseorang yang semalam menelpon nya hingga membuatnya gelisah tak menentu semalaman.
Hawa terperanjat saat tiba tiba ponselnya berdering dan melihat nomor yang tidak ia kenal melakukan panggilan.
Hawa mencoba mengabaikannya karena hawa baru saja selesai mengepak baju, pekerjaan yang sempat tertunda karena Percakapan nya dengan Esa, namun beberapa kali nomor itu terus menghubungi nya, karena penasaran akhirnya Hawa menggeser tombol hijau pada layar ponsel tersebut.
"halo, hawa sayang! ini aku langit!"
ucap seseorang dari jauh membuat Hawa membeku seketika.
Esa pun memperhatikan Raut wajah hawa yang berubah tegang saat menerima telepon tersebut, entah dari siapa.
"sayang....... Hawa!"
ucap langit lagi karena tak ada jawaban dari gadis itu.
"HM....bang!"
"Hawa....."
"HM......"
"kamu Kok gak semangat sih?
Terima telpon dari Abang.
kamu gak kangen,ini Abang pake nomor Ibra!"
ucap langit terus berbicara, bertanya pada gadis yang bersikap biasa saja saat menerima telpon dari nya.
"sayang......!"
"Abang udah pulang?" ucap hawa lirih karena khawatir terdengar oleh Mimin dan Esa yang berada tak jauh dengan nya.
"lagi di jalan masih di bus, macet yang?"
"kenapa baru hubungi hawa sekarang, setelah seharian Abang sama Ibra?
oh ya hawa lupa, Abang kan sibuk banyak yang minta Poto..."
ucap hawa beranjak pergi masuk ke dalam toilet karena tak ingin ada yang mendengar percakapan mereka berdua.
langit terkekeh kecil mendengar penuturan hawa diseberang sana.
"kalau Ada di depan mata,kamu habis de!
Abang kangen banget sama kamu, Abang senang karena kamu cemburu!"
hawa menautkan alisnya mendengar penuturan langit yang di terkekeh kecil sendiri.
"I Miss u so much.... baby!"
ucap langit membuat hawa merinding.
"banyak yang ingin Abang bicarakan tapi gak bisa, karena...dua body guard tengil itu...!"
ucap langit, ia pikir benar kedua body guard itu menuggu di depan gerbang masuk, namun ternyata tidak.
itu hanya muslihat mereka, agar mereka mengetahui apa saja yang dilakukan langit tanpa penjagaan dari mereka.
tadi nya langit memang berniat untuk menelpon hawa tadi siang namun ia urungkan karena hal itu.
ternyata mereka cukup pintar menjadi mata mata, pantas lah Dena membayarnya mahal.
namun langit pun menyadari hal itu.
"banyak yang ingin Abang bicarakan sama kamu,de!
tapi kemarin kamu malah bikin Abang cemburu?"
hawa menghela nafas mendengar penuturan langit yang terkesan berlebihan itu.
"Abang harus nya dengarkan hawa, bukan marah!
__ADS_1
apa dengan marah masalah bisa selesai?
hawa lelah kalau Abang selalu seperti itu?"
"Astaga de, jangan seperti itu!
Abang seperti itu karena Abang tuh cinta sama kamu, Abang gak suka kamu dekat dengan cowok lain!
Abang tuh takut!"
"takut apa?
apa yang Abang takut kan?"
"Abang tuh takut kehilangan kamu Hawa!
rasanya tuh rindu dengan waktu yang kita jalani bersama seperti kemarin,Abang pengen peluk kamu!"
"Abang yakin itu cinta, atau hanya sekedar nafsu!"
"kenapa kamu bicara seperti itu? Abang tuh beneran sayang sama kamu Hawa!
Abang mesti gimana sih?"
"bang cinta sama nafsu itu beda Tipis!"
ucap Hawa kemudian menutup telponnya.
Hawa tertegun dengan nafas yang memburu, hawa Benar benar bingung dengan sikap langit yang selalu seperti itu, cinta nya yang terlalu besar justru membuat hawa takut.
"hawa, aku kalau udah sayang sama seseorang,aku bakalan sayang banget sama orang itu.
aku gak akan sanggup jauh darinya,aku bisa tersiksa .... seperti hal nya aku cinta sama kamu..aku menderita kita seperti ini, bukan sebuah nafsu seperti yang kamu katakan. andai mami gak mengancam aku dengan video kita,aku tidak akan mau terpenjara seperti ini...."
isi pesan langit membuat hawa menelan Saliva nya, mengingat kejadian saat bersama langit.
"ya Tuhan bagaimana jika ayah tahu soal itu?"
ada rasa sesal karena terbuai dengan mudah nya.
"karena cinta kamu menjadi bodoh hawa!"
ucap Hawa memejamkan matanya melupakan semua itu.
langit kesal karena hawa mengabaikan pesan dari nya, bahkan nomor hawa tidak aktif.
Tak lama mobil pun melaju mendekati gedung sekolah ,namun langit meminta turun di depan ruko tersebut, mengabaikan ucapan Ibra untuk tidak berbuat bodoh, namun langit tak memikirkan resiko apa yang akan ia hadapi jika Dena tahu soal itu.
yang langit mau adalah berbicara langsung dengan kekasih nya itu.
langit melihat laundry itu hendak tutup, bergegas ia menyeberang jalan.
"hawa......" ucap Langit masuk ke ruko itu, menarik tangan hawa dan memeluk gadis itu dihadapan esa dan Mimin yang memantung melihatnya..
"bang ....!"
ucap hawa melepaskan pelukan erat Langit.
"aku gak suka kamu mengabaikan aku, kenapa kamu gak balas pesan aku sih yang?"
ucap langit tak memperdulikan esa dan Mimin yang memperhatikan mereka berdua.
"maaf....!
hawa keluar sebentar!"
ucap hawa menarik tangan langit untuk menjauh dari tempat itu.
"bang... kamu tuh gak tahu tempat ya!"
"sengaja.....?"
ucap langit menatap tajam hawa.
__ADS_1
"sengaja maksud nya apa sih bang?"
ucap hawa memijat keningnya yang pusing.
"biar cowok itu tahu, kalau kamu itu punya Abang?!"
ucap langit mengikis jarak di antara keduanya.
"bang mau kamu apa sih?"
ucap hawa menepis tangan Langit yang hendak menyentuh pipi nya.
Esa terdiam memperhatikan interaksi antara hawa dan laki laki yang memakai topi berwarna putih itu.
entah kenapa Esa merasa tak suka melihat kedekatan mereka, laki laki itu tanpa segan memeluk hawa di hadapan nya.
"kenapa kamu berubah Hawa?"
ucap langit lirih menatap perempuan itu dengan sendu.
"Abang rindu sama kamu?
kenapa kamu malah bersikap seperti ini sama aku hawa?" ucap langit menunduk kan wajah nya.
"ya tapi gak seperti itu cara nya bang, kenapa sih Abang terang terangan memberi tahu tentang kepemilikan Abang di hadapan orang yang berada di sekitar hawa, sementara di sekolah Abang gak bela hawa Sama sekali"
ucap Hawa mengeluarkan apa yang menjadi unek-unek nya.
"bukan seperti itu,tapi mami ngancem aku dengan video kita di dapur ....!"
ucap langit terhenti saat hawa menempel kan telunjuk di bibirnya.
"hawa gak mau inget itu lagi bang!
hawa nyesel.....!"
"jangan begitu yang, Abang tuh sayang sama kamu!
Abang takut kalau Abang deketin kamu,mami akan sebarkan video itu .. Abang khawatir sama kamu!"
"terus sekarang kenapa Abang deketin Hawa?"
"Abang udah gak sanggup seperti itu, Abang rindu sama kamu hawa...!"
"Abang tuh berlebihan, yang berlebihan itu gak baik bang,itu akan menyiksa lebih baik kita pisah..
hawa gak bisa melanjutkan hubungan kita!
hawa mau hidup tenang tanpa cinta Abang yang berlebihan itu..."
ucap hawa dengan air mata yang mengenang di pelupuk mata nya.
bukan karena ia tak cinta pada Langit, rasa yang tersemat di dadanya sama besar, namun saat ini bukan itu yang hawa pikirkan..
masa depan yang masih jauh, apa pantas jika ia memikirkan hal semacam itu,hal yang justru membuat nya pusing dan sakit karena menyadari hal bahwa Dena benar benar tidak ingin langit dekat dengan nya.
"gak mau, Abang tetap akan pertahankan hubungan kita hawa, apapun yang terjadi..
kalau perlu Abang pergi dari rumah.."
"gak, jangan konyol bang .....!
lupakan hawa....!"
ucap hawa kemudian Berbalik badan, lalu berlari masuk ke ruko meninggalkan langit yang mematung Sendiri dengan dua body guard yang sedang memperhatikan nya dari jauh.
begitu juga dengan Esa dan Mimin yang mematung melihat hawa masuk ke dalam Ruko sambil terisak.
cintailah kekasihmu mu sekadarnya nya saja, siapa tahu ia akan menjadi musuh mu,dan benci lah musuh mu sekedar nya saja, siapa tahu ia akan menjadi kekasih mu...
(Ali bin Abi Thalib)
bersambung.
__ADS_1