
Hawa melangkah masuk ke dalam kelas, sepanjang jalan tadi hawa hanya melihat anak kelas tiga yang berada di gedung tersebut, kebanyakan dari mereka tidak datang karena memang tak ada kegiatan lain selain menuggu surat kelulusan, apa lagi pasca tour kemarin, pasti kebanyakan dari mereka beristirahat di rumah, begitu juga dengan langit yang saat ini masih setia dengan selimut tebalnya, meringkuk di ranjang sambil memikirkan langkah kedepannya,apa ia harus melepaskan gadis itu?
Atau membawa nya pergi jauh, hingga tak ada satupun yang bisa menemukan mereka berdua.
"ah ... pusing...!"
ucap langit mengacak rambutnya sendiri, kesal dengan Dena yang masih menahan handphone nya,
langit beranjak dari ranjang, pergi kebawah menghampiri kolam renang lalu menceburkan diri ke air, membiarkan dirinya merosot ke bawah air.
"pagi Rin...!"
ucap hawa tersenyum melihat Erin yang sudah duduk di kursi.
"pagi wa ..... kamu sehat!?"
ucap Erin melihat wajah Hawa sedikit pucat.
"aku gak apa-apa Rin, oh ya Rin.. mungkin setelah kenaikan kelas nanti kita gak akan bertemu lagi....!"
ucap hawa hendak memberi tahu tentang kepindahan nya ke Kalimantan.
"emang kenapa wa? kamu mau pindah sekolah?"
tanya Erin, ia sendiri paham dengan permasalahan yang di hadapi hawa.
teman yang belum lama bersama nya di sekolah itu.
"aku mau pindah ke Kalimantan Rin... ayah ku ada pekerjaan disana!"
ucap Hawa menunduk, sebenarnya ia betah di sekolah itu, kalau saja sang ayah tidak pergi ke Kalimantan, mungkin ia akan bertahan di sekolah itu.
Violla and the gang nya juga sudah keluar dari sekolah itu, mungkin tak akan ada lagi kegaduhan seperti dulu.
tapi apa boleh buat, ia harus kembali mengikuti langkah sang ayah.
"kok jauh banget wa ..aku pikir kamu pindah kesekolah yang masih daerah sini, aku pasti kangen sama kamu!"
ucap Erin memeluk temannya itu.
"aku juga pasti kangen sama kamu Rin, terima kasih udah mau berteman sama aku ya Rin!"
ucap hawa tersenyum, selama ini ia tak pernah memiliki teman dekat seperti sekarang ia memiliki teman yang bisa ia ajak curhat.
Erin dan Mimin akan menjadi sosok teman yang akan hawa rindukan kelak.
"kamu baik baik ya wa, kita tetap jalin komunikasi ya ..!
jangan lupakan aku ya hawa!"
"ya Rin ..gak akan pernah!"
ucap hawa tersenyum kemudian keduanya berpelukan.
waktu berjalan cepat, hawa dan Erin berpisah di depan gerbang.terlihat Surya sudah menuggu Putri nya itu di dalam mobil.
hawa berjalan menghampiri mobil yang terparkir tak jauh dari gerbang sekolah.
__ADS_1
"ayah......"
ucap hawa membungkuk melihat sang ayah yang berada di dalam mobil.
"masuk hawa .... cepat!"
ucap Surya membuka pintu mobil.
"kita langsung ke laundry saja, nanti kita bicara sambil makan siang!"
"mau bicara apa yah?"
"tentang kamu dan langit!"
ucap Surya kemudian melajukan mobilnya menuju Ruko, membiarkan hawa membeku dengan beberapa pertanyaan di dalam benak nya.
"hawa, turun sebentar yah!"
ucap Hawa dan di angguki oleh Surya.
Surya memperhatikan putri nya berjalan menuju ruko,tak pernah Surya sadari putri nya itu telah tumbuh menjadi gadis belia yang cantik.
bahkan Surya tak pernah berpikir tentang kedekatan yang terjadi antara putri nya dan langit, Surya merasa sesak karena telah menjadi orang tua yang lalai dalam memperhatikan anak nya, bahkan Surya takut jika mereka berdua sudah melakukan hal lebih dari itu, Surya meninggalkan kedua nya cukup lama, kenapa Surya tak berpikir jauh meninggalkan laki laki dan perempuan yang sudah besar di dalam rumah hanya berdua saja, tidak ada yang mengawasi mereka berdua.
tapi kenapa hal itu bisa terjadi?
tutur Surya dengan pemikiran nya sendiri.
"bang..... !"
ucap hawa mengetuk pintu ruang tempat Esa beristirahat.
"kenapa hawa?"
ucap Esa keluar dari ruangan itu.
"bang, hawa mau ketemu Bu Sarah sekarang bisa?
ayah meminta Hawa untuk ikut dengan nya sekarang, hawa gak bisa kerja di tempat ini lagi!"
ucap hawa tak berani menatap wajah Esa yang baru saja terbangun dari tidurnya.
"oh.....!
tapi mami kesini nya sudah Dzuhur hawa, kamu bisa kan menunggu...!"
hawa diam sambil berpikir tentang hal itu,, apa Surya akan mengizinkan nya kembali ke ruko ini.
"ya udah Bang, nanti hawa kesini lagi,hawa udah bawa barang barang hawa,bang esa boleh cek!"
"gak usah hawa, saya percaya sama kamu!"
ucap esa tersenyum menatap gadis polos itu.
berharap suatu saat bisa bertemu lagi dengan nya.
"ya, udah hawa pergi sama ayah dulu, nanti hawa kesini lagi!"
__ADS_1
ucap hawa senyum kemudian pergi meninggalkan Esa yang mematung melihat punggung nya menjauh, menitipkan barang barang nya pada Mimin.
"nitip ya, nanti Hawa balik lagi mba?"
"ya Hawa...kamu hati hati..!"
"ya Mba Terima kasih!"
ucap Hawa Menghampiri Surya.
"kenapa barang nya di tinggal hawa?"
ucap Surya memperhatikan hawa yang tidak membawa apapun.
"nanti hawa balik lagi, karena belum pamit sama Bu Sarah..gak apa-apa kan yah? beliau yang menolong hawa waktu hawa di usir ibu Dena ..!"
ucap hawa Kemudian memindai wajah sang ayah yang membuang nafas.
"ya sudah!"
ucap Surya lalu melajukan mobilnya menuju rumah makan yang tak jauh dari tempat itu.
"assalamualaikum...mi?"
ucap Esa menghubungi Sarah.
"walaikumsalam, ada apa sayang?"
tanya Sarah pada putra Sulung nya itu.
"mi, masih diman?
tadi hawa datang ke laundry, mau pamit!
katanya hawa mau ketemu sama mami...!"
"mami baru pulang dari rumah sakit jiwa, nanti mami akan ke luandry setelah Dzuhur sa..!"
ucap Sarah dan di angguki oleh Esa di seberang telepon.
Sarah mendapatkan kabar, jika pak tua yang dulu membawa putranya sudah ingat dimana ia meninggal kan Dwi dulu, setelah beberapa tahun pria tua itu menderita penyakit jiwa, hari ini tuhan seakan mengabulkan doa Sarah, meminta pada Tuhan untuk memberikan nya jalan untuk menemukan anak bungsu nya yang hilang.
"yang saya ingat, anak itu di rebut oleh preman, setelah itu saya tidak tahu lagi...!"
ucap pria tua itu membuat Sarah lemas, pencarian nya seakan kembali buntu.
kemana ia harus mencari informasi tentang anak nya itu, beberapa kali mengirim kan Poto langit ketika kecil tak ada satupun berita yang memberi tahu kan keberadaan putra bungsu nya itu.
"Dwi mami rindu Sama kamu nak..?
apa kamu sudah makan nak?
mami janji kalau kita bisa bertemu lagi, mami akan memberikan apapun yang kamu Mau nak!
mami harus cari kamu kemana?"
ucap Sarah menangis dalam sejadah yang tergelar di hadapan nya itu.
__ADS_1
Rizal terdiam menoleh ke belakang,melihat perempuan yang menjadi makmum nya menangis terisak, ia pun sama begitu merindukan putra bungsu nya itu.
bersambung.