
sore hari......
"sayang....."
ucap Langit memanggil istrinya, ia baru saja sampai di rumah.
"kamu udah pulang bang?"
"udah... kamu ngapain?"
ucap langit yang melihat hawa keluar dari dapur.
"masak....!"
ucap hawa yang Kini berada dalam dekapan langit.
"masak? bukan nya sudah ada pembantu?"
"ya , tapi hawa jenuh di kamar terus!
cuma bantu bantu saja!"
ucap hawa yang kini duduk di sofa bersama langit.
"hawa, Ambil minum ya buat kamu!"
ucap hawa menatap wajah langit yang tampak lelah.
"ya, boleh...!
air putih saja"
ucap langit, kemudian hawa beranjak mengambil minum untuk suami nya itu.
"ini Bang...!"
ucap hawa tak lama kembali dengan segelas air putih yang sedikit dingin.
"manis....!"
ucap langit setelah meminum segelas air putih itu, hawa Menautkan kedua alisnya,tak mengerti dengan penuturan langit..
"masa sih?
perasaan hawa enggak kasih gula..!"
"Minum nya itu sambil lihat kamu...!"
ucap langit membuat Hawa tersenyum.
"kamu Bisa aja bang...!"
ucap hawa terkekeh.
"bisa lah, apa yang Abang enggak bisa?"
ucap langit memeluk hawa dari belakang.
hal yang paling langit suka.
"Mau kerumah Ayahmu?"
tanya langit dan di angguki oleh hawa.
"bang...!
lepas!"
ucap hawa mencoba melepaskan diri.
"takut ada bibi lewat "
ucap hawa menghentikan aktivitas langit menciumi pipinya.
hal seperti ini yang hawa khawatir kan jika tinggal bersama Sarah, apa lagi ada Esa.
ah tak terbayangkan dengan sikap suami nya yang agresif itu.
"tidak ada... mereka tidak akan berani melewati kita..!"
"ya tapi tetap saja!
hawa tidak mau jika kita seperti ini di luar!"
"kapan beres nya?"
"apa?"
"itu....!"
ucap Langit menaikkan alisnya.
"masih lama, satu Minggu!"
ucap hawa terkekeh.
"astaga..... hawa, selama itu?"
ucap langit menepuk keningnya sendiri membuat hawa tertawa.
__ADS_1
"ayo Bang, hawa mau kerumah Ayah!"
"ya, udah. Abang mandi dulu ya!
udah Shalat Asar tadi di kantor!"
ucap langit menarik tangan istrinya untuk ikut ke kamar.
***
"assalamualaikum...."
ucap hawa masuk ke dalam rumah.
"walaikumsalam...." ucap Arumi menghampiri dengan wajah sumringah melihat langit yang kini tanpa kursi roda.
"Alhamdulillah... kamu udah sembuh nak"
ucap Arumi dan di angguki oleh langit, yang kemudian mencium tangan nya di ikuti hawa.
"hawa....." ucap Winda tersenyum menghampiri.
"Alhamdulillah.... Langit, Kamu udah Bisa jalan, aku ikut senang lihat nya!" ucap Winda senyum.
"ya, terima kasih win..." ucap langit Kemudian masuk ke dalam rumah bersama hawa.
terlihat Surya tengah berada di ruang keluarga sambil menatap laptop nya.
langit tahu saat ini perusahaan Surya tengah menghadapi masalah.
namun langit tak ingin ikut campur karena tahu bagaimana sikap Surya terhadap nya.
tetapi langit siap membantu jika Surya membutuhkan bantuan nya.
"kamu sudah bisa jalan?"
ucap Surya saat mereka masuk.
"ya, yah....! langit udah sembuh"
ucap Hawa tersenyum mencium tangan Surya.
sementara langit diam tanpa ekspresi, melihat Surya yang biasa saja melihat nya bisa berjalan.
"syukur lah... kapan kamu kembali bertugas?"
ucap Surya yang langsung bertanya tentang profesi anak nya itu.
"kemungkinan Minggu depan..hawa sudah membicarakan hal itu dengan dokter Syam?"
ucap hawa menoleh pada langit, karena ia belum membicarakan tentang itu dengan suaminya.
"oh ya sudah, ayah senang kamu bisa kembali bertugas lagi!"
untuk Surya tanpa menoleh pada langit.
setelah selesai makan malam bersama, langit dan hawa memutuskan untuk pulang.
tak ada obrolan apapun antara Surya dan langit, mereka lebih diam mendengarkan para wanita berbincang.
**
Langit merebahkan tubuhnya di ranjang, terlihat hawa tengah mengganti pakaiannya.
"bang....!"
ucap hawa naik ke ranjang.
"apa sayang...!"
ucap langit memeluk istrinya itu.
"maafkan ayah ya bang....!"
ucap hawa menatap wajah suaminya itu.
kata tamu yang Langit ucapkan dirumah Surya masih terngiang di telinga nya.
"ya, yang terpenting itu putri nya!"
ucap langit memeluk Hawa.
"Abang akan berusaha meraih hati ayah mu,Abang sayang sama kamu, jadi jangan banyak pikiran"
ucap langit mengusap rambut hawa yang keriting itu.
***
teringat saat di rumah Surya, waktu sholat Magrib tiba, mereka bergegas menuju mushola yang berada di dalam rumah itu.
hawa memberikan kain sarung untuk langit, mereka akan sholat berjamaah.
Surya terdiam saat mendengar hawa tidak ikut shalat berjamaah dengan mereka karena sedang ada tamu bulanan, padahal Surya berharap hawa bisa memberikan nya cucu, tapi saat mendengar penuturan hawa, Surya harus meredam keinginan nya itu.
"langit, kamu saja yang jadi imam!"
ucap Surya menghentikan Langkah hawa yang hendak pergi dari tempat itu.
"maaf ,ayah saja!
__ADS_1
langit belum Paseh dalam membaca surat surat Alquran... jadi takut nya salah, kalau salah semua juga ikut salah!"
"lalu bagaimana selama ini kamu dengan hawa...!"
"berbeda dengan Hawa, hawa itu tanggung jawab langit di dunia dan di akhirat..."
"maksud mu tidak masalah jika kamu salah membimbing nya ..!"
"bukan seperti itu, tapi untuk menjadi imam kalian langit tidak bisa, karena saya masih belajar....pak Surya kan kepala rumah tangga disini...saya hanya tamu!"
ucap langit membuat Surya langsung membalikkan badannya menghadap depan.
Arumi dan Winda diam mematung mendengar penuturan kedua nya.
langit sendiri hanya membuang nafas, langit tahu Surya sedang membandingkan nya dengan Esa.
sementara hawa menitikkan air mata nya melihat interaksi keduanya yang tak pernah berubah..
***
beberapa hari kemudian, weekend.
kemarin Sarah menelpon langit dan mengajak mereka untuk ikut ke pondok.
Awalnya Langit ingin Menolak, karena ia berpikir lebih baik dirumah bermesraan dengan istrinya itu, tetapi hawa menerima ajakan Sarah untuk berkunjung ke pondok pesantren milik teman Rizal.
"yang...."
ucap langit berbaring memperhatikan hawa yang sedang berdandan.
dokter muda itu tampil cantik dress muslim berwarna coklat susu di padu pasmina berwarna moccha.
"yang ...!"
"apa sih bang, dari tadi tuh yang, yang terus!"
"enggak usah pergi"
ucap langit menarik tangan hawa hingga menindih tubuh nya.
"bang...!"
ucap hawa sedikit berteriak karena langit mendekap erat tubuh nya.
"Abang sebenarnya tidak rela jika orang lain Melihat istri Abang yang cantik ini..."
ucap langit mengecup bibir hawa.
tok tok.....
hawa dan langit menoleh pada pintu, terdengar pembantu memanggil dari balik pintu.
"kenapa Bi...!"
ucap hawa beranjak membuka pintu.
"maaf non, ada bu sarah di bawah sama bapak!"
ucap pembantu dan di angguki oleh hawa.
terlihat langit meringkuk membelakangi.
"bang, ayo berangkat! udah ada Mami sama Papih!"
ucap hawa menarik tangan langit, merapikan rambut suami nya itu.
"mi....." ucap hawa tersenyum menghampiri kedua nya yang tengah duduk di sofa menunggu mereka.
"udah siap berangkat?"
ucap Sarah tersenyum memeluk putra bungsu nya itu.
"ya mi,,!"
ucap langit singkat menuntun tangan istrinya itu.
"bang Esa tidak ikut?"
tanya hawa, membuat langit menoleh seketika.
"ah salah lagi kan...!"
ucap hawa saat Langit menaikkan alisnya.
"ikut, tapi bawa mobil sendiri...?"
ucap Sarah sambil membuka pintu mobil.
"oh gitu....!"
ucap hawa tersenyum paksa.
"jangan menanyakan perihal keberadaan pria lain dihadapan aku hawa, kalau tidak setelah ini aku tidak akan membiarkan kamu keluar rumah"
ucap langit berbisik di telinga hawa.
hawa memberangus mendengar hal itu.
langit terkekeh kecil melihat ekspresi wajah istrinya itu, tanpa menghiraukan Sarah dan Rizal yang duduk di tengah, langit membawa hawa ke dalam dekapan nya tanpa sungkan.
__ADS_1
bersambung...