
Sore itu Hawa merasa tidak semangat, kepala nya pun terasa pusing..
hawa membuang nafas mengingat percakapan nya dengan sang ayah tadi ditelpon.
"ayah, Hawa mau ikut ke Kalimantan....!"
"kamu yakin hawa!?"
"ya, hawa ikut ayah! Karena hawa tak punya siapa siapa lagi di sini, hanya ayah yang hawa miliki!"
Surya tersenyum mendengar penuturan Putri nya itu, entah kenapa Surya merasakan sesuatu yang berbeda pada putrinya itu.
hawa seperti sedang menyimpan kesedihan,
entah apa yang terjadi selama ia pergi?
bukan kah dulu hawa pernah mengatakan jika ia ingin menetap di Jakarta meski ia berpindah tempat lagi.
"hati hati hawa....!"
ucap Esa membuyarkan lamunannya,membuat Hawa langsung menoleh, terlihat Esa sedang tersenyum.
senyum sama persis itu kembali Hadir mengingat kan nya pada langit, atau itu hanya perasaan nya saja karena merindukan pria itu.
"kalau kerja jangan melamun!"
ucap Esa Duduk di samping Hawa.
kenapa beberapa hari ini Esa selalu datang ke laundry, kemana ibu Sarah yang biasa nya datang? kini tak pernah terlihat lagi, digantikan oleh Esa yang tiap hari berada di laundry Tersebut memantau pekerjaan karyawan.
"hawa....!"
"HM....!"
ucap hawa menoleh sekilas karena rasanya tidak enak dengan karyawan yang lain jika ia dekat dengan Esa.
"kamu sakit?"
tanya Esa membuat hawa dejavu, mengingat langit yang juga pernah bertanya soal itu.
"gak bang, hawa baik baik saja!
ibu Sarah jarang ke laundry?"
"oh, emang kenapa? kamu bosan ya lihat aku terus!"
"bukan begitu... hawa hanya bertanya!"
"mami tuh lagi Anter papih berobat!"
"sakit apa memang suami Bu Sarah!"
"papih sakit paru-paru, udah lama sih!
mungkin kehilangan itu membuat papih sedih hingga sakit, Ade Abang hilang!
Abang juga kangen sama Dwi"
"hilang gimana?"
"ya, kita itu dua bersaudara..
Abang sama Dwi Rangga, cuma dwi hilang waktu umur satu tahun, diculik orang gila gak jelas gitu kemana!?
sampai sekarang Belum ketemu, kalau ada Mungkin udah kelas tiga!"
"oh ...kasihan banget!"
ucap Hawa, menilik wajah Esa yang memang mirip dengan ibu Sarah namun entah kenapa ia juga melihat sosok langit jika Esa tertawa.
selama kerja di laundry itu, Hawa tak pernah bertemu dengan suami nya bu sarah.
apa karena beliau sakit, jadi tak pernah datang ke laundry.
__ADS_1
"ya sudah lanjut hawa, jangan melamun lagi!"
ucap Esa mengusap pucuk kepala gadis itu, hal yang sama seperti tadi pagi.
Esa pergi meninggalkan hawa yang membeku karena perlakuan Esa terhadap nya.
***
beberapa hari kemudian, semua berjalan seperti biasa..
langit kesal karena Hanya bisa melihat kekasihnya itu dari jauh, ia juga tidak suka dengan hawa yang semakin cuek dan tak menghiraukan keberadaan nya yang selalu mencuri pandang pada nya.
"hawa aku Rindu, rasanya ingin sekali bertemu dan memeluk mu erat...!"
Langit meminta pada Sarah untuk pergi bermain futsal bersama Ibra, Mungkin dengan cara seperti itu, ia bisa pergi keluar rumah dan bertemu dengan Hawa.
"boleh tapi sama dua pengawal yang sudah mami siapkan untuk kamu!"
"langit mau pakai motor!"
"kamu tuh .. bilang sama mami kalau kamu mau ketemu sama perempuan itu?"
"ya, itu mami tahu! langit mau ketemu Hawa!"
"gak... jangan macam macam langit!"
langit terdiam,tak apa lah menurut untuk bisa pergi keluar menggunakan motor meski di dampingi oleh body guard itu..nanti ia bisa memikirkan cara agar bisa kabur dan menemui hawa.
"langit mau main putsal mi, udah gitu langsung pulang!
tapi langit mau pakai motor!
please mi...!"
ucap langit memohon.
"ya udah,tapi di ikuti oleh dua pengawal ya!"
"ya .... gak apa-apa!"
entah tinggal dimana gadis itu? setelah di usir oleh Maminya, tapi langit yakin Surya pasti mencari nya.
Ibra tertawa kecil melihat langit yang sejak tadi tak fokus bermain, Ibra tahu sahabat nya itu tengah merindukan perempuan berambut keriting itu.
"sebenarnya apa yang terjadi Lang?"
langit menceritakan semuanya pada Ibra termasuk mengenai ancaman Dena terhadap nya.
"video Lo sama hawa?
Lo gila! hubungan kalian sejauh itu?"
"apaan maksud Lo?"
kini kedua tengah ngobrol berdua di tengah lapangan.
"Lo sama hawa?"
ucap Ibra menghentikan ucapan nya saat langit melotot kan matanya.
"Lo mikir gue udah nidurin hawa gitu?"
tanya langit paham dengan maksud Ibra.
"terus apa dong?
mandi bareng?"
"Gila...!"
ucap langit melempar bola tersebut pada Ibra.
"ya terus apa dong,kok Lo takut gitu!"
__ADS_1
"gue Sama hawa cuma ciuman....gue masih waras kalau ke arah situ, emang Lo sama lili!"
"haha.... jadi Lo udah nikmati bibir nya si Hawa?"
"sialan Lo, nyesel gue cerita!"
"hahaha.... pantesan Lo segitu nya.."
"bukan karena itu,gue bener bener sayang sama dia,gue gak mau dia kenapa kenapa,apa lagi kalau sampai mami benar benar menyebar video itu, gue gak bayangin gimana Malu nya hawa!"
"kok Lo berdua ceroboh gitu sih?
ngapain di dapur, di kamar makanya kayak gue!"
ucap Ibra terkekeh kecil.
"justru gue lebih takut kalau kayak Lo berdua"
"takut apa?"
"setan....otak gue masih jalan!"
ucap langit mengingat semua itu bersama Hawa.
tak ada satupun hal yang membuat nya tak fokus bermain bola, namun gadis itu seakan merubah apa yang dulu menjadi candu untuk nya kini beralih pada perempuan itu.
"Ibra .. tolong dong Lo kecoh body guard gue, gue mau ketemu sama Hawa! sebentar aja gue mau jelasin semuanya Sama dia, mumpung gue bawa motor!"
"oh gitu,oke...Lo bawa motor gue aja biar gak ketahuan!"
"sip ide Lo!"
ucap langit bersemangat untuk bertemu dengan kekasih nya itu.
bergegas ia pergi ke tempat ganti.
lewat jalur rahasia langit Berhasil kabur dari para bodyguard nya itu.
sore itu Esa mengajak hawa berbelanja kebutuhan laundry, hawa sendiri merasa tidak enak kemudian mengikutsertakan mimin bersama mereka.
saat tiba di Ruko, Mimin turun lebih dulu membawa barang bawaan nya kedalam, menyisakan Hawa dan Esa yang saat kini tengah memesan capuccino cincau untuk mereka bertiga.
Esa duduk di samping Hawa yang sedang memainkan ponselnya dengan khusu, hingga membuat Esa berpikir untuk menjahili nya.
"nonton apa sih!"
ucap esa mengambil ponsel hawa dan menaikkan nya ke atas oleh tangan nya.
"ih ..bang esa,sini ponsel Hawa!"
Esa malah terkekeh melihat tingkah Hawa yang berusaha menggapai nya, namun tak bisa karena hawa kalah tinggi.
langit meremas stang motor Melihat kejadian itu, bergegas ia turun dan menghampiri Hawa.
"jadi seperti ini Kelakuan kamu jauh dari aku?"
ucap langit menarik tangan Hawa.
hawa membulat kan matanya melihat sosok langit dengan tatapan tajam nya.
"pantas kamu bersikap biasa saja jauh dari aku? secepat itu kamu melupakan aku Hawa?"
ucap langit kemudian pergi meninggalkan hawa yang mematung sendiri.
melajukan motornya kencang.
"langit.........!"
teriak hawa namun tak terdengar karena secepat itu langit membawa motor nya pergi.
"Kamu salah paham langit!"
ucap hawa menghapus air matanya yang jatuh di pipi.
__ADS_1
bersambung..