Langit Hawa

Langit Hawa
Titik terendah.


__ADS_3

Sepuluh hari ini mereka berada di Mekkah, semua kegiatan berjalan dengan lancar.


Hawa menatap bangunan indah itu, sambil berdoa dalam hati semoga Rahmat tercurah pada keluarga nya, semoga Allah mengembalikan mertua yang dulu begitu menyayangi nya.dan memberikan anugerah terindah sebagai pelengkap di keluarga nya.


teringat saat kemarin keduanya hendak pamit pergi namun Sarah hanya diam, hanya Rizal lah yang mendoakan keselamatan untuk mereka.


awalnya Langit tidak mau mendatangi Sarah lagi tapi hawa Terus membujuk suaminya itu, apa lagi mereka akan pergi beribadah ke tanah suci.


sore ini langit mengajak hawa untuk membeli oleh oleh untuk yang berada di rumah, seperti menjadi kebiasaan mereka tak pernah pulang dengan tangan kosong.


mereka berjalan beriringan bersama Arumi dan juga yang lainnya, mendatangi pusat perbelanjaan yang berada di Makkah dan Madinah.


langit memfoto istri nya yang tengah memilih beberapa pasmina dan yang lainnya, lalu mengunggah nya ke Instagram miliknya.


setelah selesai berbelanja mereka kembali ke hotel untuk mempersiapkan kepulangan nya esok hari.


setahun berlalu.


kesibukan masih saja menghiasi hari hari kedua nya, Hawa baru saja keluar dari ruang operasi dan melihat seseorang yang ia kenal tengah menunggu nya di ruang tunggu.


"assalamualaikum...Mi?"


ucap hawa Menghampiri Sarah yang duduk di kursi.


"walaikumsalam... Apa kamu ada waktu?


Mami ingin bicara ...!"


ucap Sarah langsung beranjak dari duduknya.


Hawa membuang nafas kemudian mengikuti langkah Sarah setelah meminta izin pada dokter Sanusi.


**


"ada apa Mi?"


ucap hawa, saat ini kedua nya tengah duduk di sebuah kafe yang tak jauh dari rumah sakit.


"Hawa....tujuh tahun berlalu, sampai kapan kalian seperti ini?"


ucap Sarah membuat hawa tertegun, mengerti maksud wanita yang berada di hadapan nya.


"ya, tapi hawa dan langit tak bisa menentukan hal itu, tapi selama ini kami sudah berusaha,


kami juga sudah konsultasi dengan dokter kandungan"


ucap hawa tak sanggup menatap wajah Sarah.


"kamu lihat Aqila bahkan sedang mengandung lagi anak ke tiga.kenapa sih kamu tidak mau ikut saran mami untuk ikut program bayi tabung."


ucap Sarah membuat wajah hawa memerah.


Hawa pun mengetahui soal itu, Esa juga berpesan untuk Terus bersabar dan berusaha.


perihal keturunan sama hal nya dengan kematian yang tak bisa kita sangka sangka karena hanya Dia pemilik kehidupan yang menentukan semuanya.


"kalau kamu tidak mau...!"


"bukan Mi , tapi hawa mau membicarakan ini dengan langit dulu!"


"kalau tidak begini saja Hawa, mami sudah siap kan rahim pengganti untuk anak kalian, tapi bisa kan kamu yang minta langit untuk menikah lagi, sementara waktu sampai bayi itu lahir!"


ucap Sarah membuat Hawa meneteskan air mata nya.


***

__ADS_1


Sanusi memperhatikan Hawa yang berjalan gontai di koridor rumah sakit, rasanya lemas dan tak sanggup berjalan.


Entah kenapa sampai saat ini dokter tampan itu belum menikah juga, bahkan Kinan saat ini sudah menikah dan memiliki seorang anak berusia empat tahun namun pria itu masih saja sendiri.


"kamu jangan Egois, kamu juga harus memikirkan kebahagiaan mami dan langit..Mami pikir setelah pulang dari umroh kamu akan hamil, tapi tetap saja seperti ini!"


ucap Sarah terngiang hingga membuat Hawa tak sanggup menahan air matanya.


gegas hawa masuk ke dalam ruangan nya, Sani membeku saat melihat hawa datang dan langsung duduk menelungkup wajah nya di meja.


"dokter.....!"


ucap Sani berjalan mendekati, terdengar hawa menangis.


"dokter Hawa....?"


ucap Sani menyentuh bahu wanita itu.


mana bisa ia meminta pria yang ia cintai untuk menikah lagi, meski mungkin terbilang Egois tapi ia tak sanggup berbagai.


"dokter....!"


ucap sani dengan mata berkaca-kaca mendengar Hawa menangis pilu.


"astagfirullah...!"


ucap hawa menarik nafas dalam-dalam lalu membuang nya.


"San... aku mau pulang, lagi pula sudah tidak ada jadwal pasien kan!"


ucap hawa dan di angguki oleh Sani.


hawa menatap wajah Sani, Sani sudah menikah bahkan sudah memiliki anak berusia tiga tahun, sementara dirinya tak ada kemajuan dari tahun ke tahun masih saja seperti ini.


ucap Sani memeluk hawa yang kemudian terisak.


Hawa berjalan menuju parkiran dan terkesiap saat seseorang menarik tangan nya.


"awas motor dokter hawa...!"


ucap dokter Sanusi membuat hawa terpaku.


"kenapa anda melamun dokter...!?"


ucap Sanusi menatap wajah hawa yang sembab.


"tidak apa-apa... terima kasih dokter Sanusi..!"


ucap hawa menunduk.


"saya... pamit..!"


ucap hawa kemudian bergegas pergi menuju mobil.


**


"kenapa masih saja menjomblo..."


ucap hawa membuka obrolan saat keduanya masih di ruang operasi.


"tidak ada yang seperti seseorang...." ucap Sanusi Terkekeh kecil menatap Hawa.


percakapan itu sudah lama, sejak saat itu Hawa mencoba menjaga jarak dengan dokter Tampan itu, hawa khawatir jika yang dokter Sanusi bilang seseorang itu dirinya karena seperti yang langit bilang jika dokter tampan itu menaruh perasaan pada nya.


"aku laki laki, aku tahu jika dokter itu suka sama kamu....!"

__ADS_1


ucap langit saat itu.


hawa masuk ke dalam rumah dan menghempaskan tubuhnya di sofa, terlihat Amora baru pulang berbelanja.


"hawa... kamu sudah pulang?"


ucap Amora duduk di hadapan hawa.


hawa diam memperhatikan Amora yang memakai kerudung berwarna hitam.


enam tahun sudah perempuan itu memeluk Islam, saat itu hawa dan langit yang mempertemukan nya dengan Arumi dan ustadz abu Haidar.


"ada apa hawa?"


ucap Amora, paham jika dokter cantik itu tengah memikirkan sesuatu.


"Amora... bagaimana menurut mu jika langit menikah lagi....!"


ucap hawa kemudian menceritakan semuanya kepada Amora sambil terisak.


"Amora tidak setuju.... Langit begitu mencintai kamu, ia tidak akan mau melakukan hal itu?


kenapa Bu Sarah setega itu?"


ucap Amora kemudian memeluk Hawa.


malam.....


langit masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya tengah meringkuk sendiri,,


"sayang.....!"


ucap langit naik ke ranjang.


hawa membalikkan tubuhnya menghadap suami nya itu.


"bang...kamu sudah pulang?"


ucap Hawa menunduk.


"kamu kenapa sayang....?"


ucap langit memangku wajah istrinya itu, terlihat wajah perempuan itu sembab.


langit terdiam mengingat kejadian tadi saat bersama Sarah, ibu kandung nya itu tiba tiba datang untuk mengajak nya makan malam.


dan langit tak mengerti apa maksud Sarah memperkenalkan nya dengan seorang gadis cantik yang hampir mirip dengan Hawa tapi bukan hawa, langit juga tidak tahu dari mana Sarah menemukan perempuan itu.


menjadi titik terendah untuk hawa saat ini, ia juga tahu Sarah baru saja mengenal kan perempuan itu pada langit, hati nya benar benar sakit dan tak sanggup menatap wajah suaminya, untuk kali ini Sarah benar benar menjalankan rencananya.


apa ia sanggup meminta suaminya sendiri untuk menikah lagi...?


lalu bagaimana dengan hati nya?"


"hawa.....?"


"bang... menikah lagi lah dengan wanita pilihan mami..."


ucap hawa menunduk.


langit terdiam dengan nafas tersengal mendengar penuturan istri nya itu.


bersambung...


happy weekend para reader...😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2