Langit Hawa

Langit Hawa
lost kontak.


__ADS_3

Beberapa kali hawa menoleh pada ponsel, namun tak ada non tipikasi yang masuk.


tiga jam yang lalu Hawa sampai di Palangkaraya, Surya langsung mengajak Hawa ke sebuah rumah di kawasan perumahan elit di kota tersebut, meski rumah yang mereka tempati tak terlalu besar namun Hawa menyukai rumah yang memiliki dua kamar, dengan kamar mandi di dalam nya, ruang tamu beserta dapur.


terdapat taman di depan dan belakang rumah tersebut meski tak terlalu besar namun cukup lah untuk rehat sejenak.


hawa tersenyum saat melihat ponselnya berdering, namun senyum nya tertahan saat melihat nomor Esa lah yang menghubungi nya.


"assalamualaikum bang...!"


ucap hawa tak bersemangat.


"walaikumsalam Hawa, kamu sudah sampai?"


"sudah bang, tiga jam yang lalu...!


Abang Dimana?"


ucap hawa karena hawa tak tahu jika Esa pun terbang ke Amrik.


"ada di bumi...! sedang menelpon gadis yang entah kenapa terdengar lesu!


kamu lelah atau sakit hawa..?"


ucap Esa tersenyum di sebrang sana.


"HM... tidak,hawa baik baik saja.


hanya sedikit lelah bang... gimana bang, apa laundry Ramai?"


ucap hawa mengalihkan pembicaraan.


"sepi hawa, tidak ada kamu!"


ucap Esa terkekeh dan terdengar oleh Hawa.


"bang Esa bisa aja...!"


"Abang serius, ya sudah, syukurlah kalau kamu selamat sampai tujuan.. beristirahat lah hawa, jangan lupa solat magrib...!"


ucap Esa, untuk pertama kalinya Esa memperingatkan hal itu.


"ya, Terima kasih Bang!"


setelah itu percakapan pun keduanya akhiri.


"kenapa langit belum telpon juga ya...?"


ucap hawa menatap ponselnya.


"harusnya aku juga meminta nomor langit tadi, aku lupa....!"


ucap hawa kemudian membuang nafas.


langit membulat kan matanya menatap telapak tangan yang telah basah oleh air, nomor handphone hawa terhapus tak tersisa.


langit lupa menyimpan nomor Hawa tadi, saking senangnya mengingat kejadian tadi, ia tak ingat jika hawa menulis kan nomor nya di telapak tangan.


"astaga...syit...aku lupa!


bagaimana cara ny menghubungi hawa kalau nomor nya hilang, kalau begini caranya kita bisa lost kontak...!


ah bodoh nya Kamu Langit, bagaimana ini?


hawa pasti menuggu telpon dari ku?"


ucap langit Kemudian mengacak rambut nya, menatap wajah nya yang basah di cermin.


"Hawa..........!"


ucap langit membuang nafas, kemudian berpikir bagaimana cara nya agar ia bisa mendapatkan nomor Hawa.


"ah sial.....!"


ucap langit keluar dari kamar mandi dan langsung merebahkan diri di Ranjang.


tiga tahun yang lalu,ia meninggalkan rumah ini.


dari kecil langit di urus oleh baby sitter, Dena selalu sibuk dengan pekerjaan Nya, saat sakit pun langit bersama baby sitter.


sampai saat ini baby sitter itu masih bekerja di rumah itu, mengurus rumah itu selama Dena dan langit di Indonesia.


dulu Enggan meninggal kan rumah ini, tapi saat ini rasanya ingin berlari, kembali ke Indonesia mencari separuh nafas nya.

__ADS_1


langit benar benar merasa buntu, entah harus bagaimana menghubungi hawa.


Ia bisa saja mencuri nomor Surya, tapi itu sama saja bunuh diri.


mami pasti marah dan bisa saja kembali seperti dulu dengan penjara yang Dena lakukan dua body guard dan merampas kembali ponselnya.


"langit......!"


ucap Bu Amora di balik pintu.


"ya sebentar......!"


ucap langit menghampiri pintu.


"kenapa Bu?"


ucap Langit melihat wanita paruh baya itu tengah tersenyum membawa kan makanan untuk nya.


"makan lah dulu langit.....!


ibu bawa makanan kesukaan kamu!"


langit senyum, hanya perempuan ini lah yang peduli padanya, selain hawa.


"terima kasih Bu...!"


ucap langit menerima nampan tersebut kemudian membawa nya ke dalam.


langit menilik makanan tersebut, ia teringat makan bersama hawa.


rasanya benar-benar merindukan gadis itu, "Bagaimana jika hawa berpikir macam-macam tentang ku...?"


tutur langit sembari membuang nafas.


"hawa aku harap kamu menuggu ku, aku akan segera kembali......!"


ucap langit merebahkan tubuhnya membiarkan makanan itu dingin tak tersentuh.


memejamkan matanya kemudian terlelap.


seminggu berlalu,hawa masih berharap langit menghubungi nya, menelpon atau sekedar chat.namun semua itu hanya lah Angan angan saja Kenyataan nya hanya Esa lah yang justru sering menghubungi nya.


"kemana kamu langit..... kenapa kamu membiarkan aku menuggu seperti ini?"


**


satu Minggu


satu bulan.


semudah itu engkau pergi..


meninggalkan ku tenggelam dalam sepi.


teganya Dirimu sentuh aku dengan cintamu.


secepat itu dan kini kau berlalu.


ku hilang karena mu..


ku tersesat karena mu


Hancur sudah karena mu...


dimana engkau kini..?


aku berselimut sepi.


menangis memanggil nama mu..


kemana harus ku cari?


saat rindu membunuh ku.


jangan jadikan hati ini.


hati tak bertuan.


senandung lirih cinta ku,


jatuh berderai, sakit terasa pilu....


(Rosa-hati tak bertuan)

__ADS_1


**


beberapa waktu berlalu,hawa juga sudah kembali masuk sekolah, Entah Kenapa waktu terasa lambat berjalan.


tetap fokus belajar meski hati tak bisa menyangkal bahwa sampai saat ini ia mengharapkan langit menghubungi nya, namun satu bulan berlalu tak ada telpon atau chat sedikit pun dari langit.


"apa langit lupa, atau apa dia sibuk dengan kuliah nya... tapi apa tak ada waktu sebentar saja untuk menghubungi ku sebentar saja?"


ucap hawa sembari menatap cincin putih pemberian Pria itu.


air mata kembali lolos dari pelupuk matanya.


"langit.... Apa kamu sudah melupakan aku?


apa disana banyak perempuan cantik hingga kamu tak menginginkan kita lagi....!"


tutur hawa dalam hati nya, berpikir buruk tentang Pria itu.


hawa masuk ke dalam kamar, beberapa hari ini Surya sibuk dengan pekerjaan nya, hingga hawa selalu sendirian dirumah.


hawa duduk di kursi makan, teringat makan bersama langit, rasanya rindu saat seperti itu.


hawa menelungkupkan wajah di meja, membiarkan air matanya jatuh.


sepi.....


ayah..........


malam hari Surya tiba di rumah dan langsung masuk ke dalam rumah, terlihat hawa tengah menelungkup wajah di meja makan.


"hawa .......!"


ucap Surya menghampiri putri nya itu, namun tak ada jawaban apapun dari putri nya itu.


"hawa....."


ucap Surya menyentuh bahu Hawa, namun Surya terhenyak saat tubuh hawa jatuh ke bawah.


"hawa......!"


ucap Surya menyentuh Kening putri nya yang panas.


"astaga, kamu demam!"


ucap Surya kemudian mengangkat tubuh Hawa ke sofa.


Surya lupa membeli obat untuk persiapan dirumah, sejak sampai di Palangkaraya Surya Langsung disibukkan dengan pekerjaan nya.


bergegas Surya pergi keluar menghampiri tetangga yang berada di samping rumah.


"assalamualaikum.....!"


ucap Surya mengetuk pintu rumah tersebut.


"walaikumsalam.....!"


seorang perempuan cantik, seperti nya seumuran dengan almarhum istri nya, berkerudung panjang menutupi hampir seluruh tubuhnya.


"maaf, Anda siapa ya...!"


"saya, Surya....!


saya tetangga baru..!"


ucap Surya menunjuk rumah yang berada di samping.


"lalu.....?"


ucap wanita itu menautkan alisnya.


"anak saya pingsan, tolong saya tidak punya Obat atau minyak angin...!"


ucap Surya sedikit panik.


"oh , ya sudah! Anda tunggu...!"


ucap wanita itu masuk ke dalam,tak lama keluar bersama perempuan seumuran hawa.


"ini Winda ,anak saya..!"


ucap wanita itu kemudian berjalan gegas memasuki rumah Surya, terlihat seorang anak perempuan tengah berbaring tak sadarkan diri.


wajah nya pucat, suhu tubuh nya tinggi.

__ADS_1


bersambung.


__ADS_2