
siang itu Sarah dan Rizal sudah bersiap untuk pergi ke taman mini Indonesia indah mengajak Esa dan Dwi untuk bertamasya di tempat itu.
Saat itu Esa berumur lima tahun dan Dwi berusia satu tahun.
keduanya berjalan bersama, Rizal menuntut tangan Esa yang sudah pintar melakukan segala hal, anak laki-laki yang bersekolah Tk nol besar itu sudah pintar menulis, berhitung dan membaca juga mengaji iqra.
Rizal Begitu menyayangi putra sulungnya itu karena sejak kecil Esa menjadi anak yang senang belajar..
begitu juga dengan Dwi Rangga yang aktif dan sudah bisa berjalan di usianya yang menginjak sebelas bulan, pintar berbicara.
menyebut nama mama berulang ulang.
Sarah begitu bahagia dengan kehadiran dua putra nya, keduanya memberikan semangat di hari hari nya..
Sarah menggendong Dwi untuk membeli eskrim,tak di temani oleh Rizal yang sedang bersama Esa.
Sarah tersentak saat tiba tiba ada seorang pria tua merebut Dwi dari genggaman tangan nya,saat itu Sarah menuntun Dwi berjalan menghampiri Rizal dan Esa.
"astagfirullah.. Dwi..!"
ucap Sarah berteriak memanggil, mengejar pria tua yang menderita depresi itu.
"tolong....mas!"
ucap Sarah berteriak, namun pria tua itu membawa Dwi yang menangis.
Sarah berlari mengejar namun entah kemana pria tua itu membawa putranya, mencoba meminta bantuan pada penjaga di tempat itu.
"ada apa mah?"
ucap Rizal melihat kegaduhan, Sarah menangis berteriak meminta tolong.
"Dwi pah,di bawa lari pria tua!"
ucap Sarah terisak memeluk Rizal yang menggenggam tangan Esa.
beberapa jam kemudian, petugas berhasil mengamankan pria tua itu, namun tidak dengan Dwi entah kemana.
"pak mana anak saya!"
ucap Sarah mencoba bertanya namun tak ada Jawaban, pria itu diam saja.
tak lama keluarga pria itu datang.
"maaf Bu,pak....ayah saya depresi karena kehilangan anak nya yang kemarin baru saja meninggal karena hanyut di sungai...!"
ucap perempuan itu menjelaskan tentang keadaan pria tua itu.
"Tapi kenapa anak saya yang jadi korban, saya tidak mau tahu!
pokoknya saya mau Dwi saya kembali!"
ucap Sarah menangis meraung.
beberapa hari berlalu,Dwi masih hilang.pihak polisi sudah mencari namun belum mendapatkan hasil, Poto juga sudah disebarkan, namun tak ada kabar.
pria itu tak memberikan informasi apapun, justru kondisi nya semakin parah.bukan lagi depresi tapi sakit jiwa.
kebahagiaan yang kemarin terpancar di keluarga itu,meredup setelah kehilangan Dwi.
beberapa kali Sarah sakit karena tak percaya dengan kenyataan ini,Dwi hilang dari genggaman nya.
mencoba terus bangkit dari kesedihan, beruntung memiliki Rizal dan Esa yang sedikit banyak mengisi kekosongan hati nya karena kerinduan nya pada sosok Dwi.
__ADS_1
di satu sisi Rizal pun sama merasakan kepiluan karena kehilangan putra bungsu nya itu,namun Rizal tak pernah menampakkan nya pada Sarah karena khawatir hal itu akan memperburuk keadaan.
bertahun tahun masih mencari keberadaan putra nya itu, sampai kapan pun keduanya yakin bahwa putranya masih ada.
beberapa kali Sarah selalu bermimpi tentang anak laki-laki yang memperlihatkan punggung nya, lalu menghilang dari kegelapan.
"astagfirullah aladzim....!"
ucap Sarah terbangun dari tidurnya saat bermimpi seorang pria tenggelam dalam air.
"kenapa mi?"
ucap Rizal membangunkan Sarah yang tertidur di sajadah, masih dengan memakai mukena nya.
Sarah terlelap setelah menangis mengingat putranya yang belum ia temukan.
"Dwi...... sebenarnya apa yang terjadi dengan nya?mami yakin mami tadi bermimpi tentang Dwi pih...!
Dwi tenggelam...!"
ucap Sarah terisak.
"istighfar mi...itu hanya mimpi!
kita berdoa Dwi baik baik saja mi...!"
"astagfirullah... kemana lagi mami harus cari kamu nak!"
ucap Sarah terisak memeluk Rizal.
***
Hawa memperhatikan Surya yang sedang mengunyah makanan dengan lahap, mungkin Surya lapar.
"hawa....?"
"apa saja yang kamu lakukan di rumah Dena ketika ayah tidak ada?"
tanya Surya membuat hawa memucat.
"apa ayah tahu soal itu?"
tutur hawa dalam hati nya.
"hawa... kenapa kamu diam?"
tanya Surya melihat hawa yang membeku di tempatnya.
"ayah.... Hawa...!"
ucap hawa terhenti melihat wajah sang Ayah yang tampak menunggu.
"ayah meninggal kan kalian berdua bukan untuk berpacaran, ayah tahu kalian sudah besar,tapi apa kamu tidak berpikir apa yang kalian lakukan itu......!"
"ayah.......!"
ucap hawa mengehentikan ucapan Surya.
"sejauh apa kalian berhubungan?"
tanya Surya menatap netra putri nya itu.
"maksud ayah?"
__ADS_1
"apa yang kalian lakukan selain itu Hawa?
kamu tidak tidur dengan anak itu kan hawa?"
Surya berbicara dengan nada penakan.
"tidak.... kenapa ayah berpikir sejauh itu?"
tanya hawa menelan Saliva nya.
"tentu saja, tidak ada yang tahu apa saja yang kalian lakukan berdua selain itu, karena tak semua tempat dirumah itu menyimpan Cctv.
jujur ayah khawatir jika....!"
"tidak ayah...hawa dan langit tahu batasan!"
ucap hawa menunduk.
"apa kamu suka sama anak itu?"
tanya Surya semakin menyelidiki.
"hawa tidak akan melakukan hal itu dengan seseorang yang tidak hawa sayangi ayah, maafkan Hawa karena jatuh cinta pada langit!"
ucap hawa menunduk, berusaha jujur dengan apa yang dirasakan oleh nya, meski hawa tahu apa jawaban Surya,tapi saat ini ia benar benar gelisah karena memikirkan keadaan langit,menyesal karena memutuskan hubungan secara sepihak.
"cinta....? terlalu dini untuk merasakan semua itu, yang harus kamu pikirkan saat ini adalah sekolah hawa!
ayah menyesal meninggalkan kalian berdua dirumah itu,ayah tidak akan merestui hubungan kalian, kamu tahu kan bagaimana Dena?"
Surya terdiam melihat hawa yang bungkam mendengar penuturan nya.
"hawa.... Ayah merasa Gagal menjadi orang tua, ayah jarang memikirkan kamu, maaf kan ayah hawa..!
ayah tidak mau sesuatu yang terjadi pada adik ayah terulang kembali!"
"maksud ayah?"
ucap hawa mendongak mendengar penuturan Surya tentang kisah Tante nya yang sudah tiada sebelum ia berada di dunia ini, hanya potret cantik nya yang menjadi kenangan indah untuk sang ayah.
"Tante mu meninggal akibat depresi, karena ia hamil saat ia masih sekolah kelas tiga SMA, pacar nya tidak bertanggung jawab dan pergi keluar negeri tanpa memperdulikan Yunita yang menanggung beban karena berbadan dua,ia prustasi kemudian menceburkan diri ke sungai karena tidak kuat menanggung hinaan dan cacian orang sekitar tentang kehamilan nya.
ayah kehilangan Yunita.....! sampai saat ini ayah sedang berusaha membalas kan rasa sakit hati ayah terhadap keluarga laki laki yang sudah menghancurkan hidup Yunita..."
ucap Surya membuka luka lama yang bertahun-tahun mencoba untuk ia lupakan.
"astagfirullah..... kasihan Tante Yun..!"
ucap hawa memeluk sang Ayah.
"belajar lah dari kesalahan Tante mu Hawa..!
pikirkan masa depan, jangan terpaku pada cinta yang membawa mu pada nelangsa...!
ayah tidak menyebutkan diri ayah benar, ayah juga ingin belajar memperbaiki semuanya.
ayah ingin fokus dengan masa depan kamu nak....jauhi anal laki laki itu Hawa... ayah ingin melihat kamu menjadi sarjana...!"
hawa membeku mendengar penuturan sang ayah yang begitu menohok hati nya,
'mungkin memang tak ada jalan untuk kita bersama'
bersambung.
__ADS_1
boleh ya komentar nya author tunggu dukungan nya.
terima kasih...😍