
langit menatap Sarah dan Rizal bergulir... namun ia tidak menemukan Dena di ruangan itu.
"kalian siapa? kenapa ada di sini?"
ucap langit lirih, meskipun sebenarnya ia tahu jika Sarah adalah orang tua dari Esa.
"langit sebenarnya kami ini orang tua kamu yang sebenarnya...!"
"maksud anda...."
ucap langit menautkan kedua alisnya tak mengerti maksud penuturan Sarah.
"Dwi..... kamu itu anak Mami yang hilang duapuluh satu tahun yang lalu...!"
ucap Sarah mendekat kemudian pintu terbuka dan masuklah dena yang di dorong oleh suster menggunakan kursi roda.
"mi....Apa maksud nya semua ini?"
ucap langit saat Dena mendekati nya.
meminta dena untuk menjelaskan semuanya.
"maafkan mami langit.........mami melakukan semua ini karena mami mandul tak bisa punya anak, itulah kenapa mami memberi mu nama Langit karena kamu bukan anak mami, mami Anggap kamu seseorang yang datang dari langit untuk mami.... meskipun Mami akhirnya tahu siapa orang tua kamu, tapi Mami sudah terlanjur menyayangi kamu, maka dari itu mami membesar kan mu di Amrik... sebentar lagi mungkin mami akan mati, tapi mami tenang karena sudah ada mereka keluarga kamu yang sesungguhnya.....!"
ucap Dena Terisak,dena menceritakan keseluruhan tentang Langit yang sebenarnya.
ia pun sudah pasrah dengan hidup nya yang mungkin tinggal sebentar lagi.
"Mi... jangan berkata seperti itu, langit sayang sama mami....!"
ucap Langit terisak, Entah harus senang atau sedih dengan kenyataan ini.
"langit......"
ucap sarah memeluk langit yang membeku karena perlakuan orang yang asing bagi nya.
"maafkan Mami, selama ini mami selalu mencari Kamu nak...!"
ucap Sarah Terisak.
namun langit tetap diam.
pintu terbuka dan masuklah dokter Sanusi beserta dua orang suster.
"Alhamdulillah... sudah Sadar!
saya periksa dulu ya...!"
ucap dokter Sanusi mendekati langit yang mematung.
"bagus... Langit coba gerakan kaki nya!"
ucap dokter membuat langit menoleh.
langit merasakan kaki nya beku dan tak terasa apapun.
"kenapa dokter....!"
ucap Sarah menilik kaki langit yang tak bisa digerakkan
"maaf kalau saya tidak memberi tahu masalah ini dari awal, saya menunggu pasien Sampai sadar.... kecelakaan itu membuat cedera pada kaki langit, dan untuk sementara waktu langit harus menggunakan kursi roda Dulu!"
"saya cacat?"
ucap langit dengan nafas tersengal.
"tidak langit ini hanya masalah waktu, kamu bisa mengikuti terapi nanti untuk bisa berjalan kembali.....!"
ucap dokter membuat langit Terisak.
lihat semua terjadi karena kebodohannya sendiri.
Sarah memeluk Langit yang terisak, kemudian Esa masuk ke dalam ruangan itu bersama hawa.
mereka tak sengaja bertemu di depan tadi, hawa begitu senang saat mendengar dari Sani jika langit sudah sadar kan diri.
langit terdiam saat melihat Hawa dan Esa berdampingan.
entah sudah berapa lama ia tidur, mungkin mereka juga sudah menikah.
langit memalingkan wajahnya dan meringkuk sambil terisak menangisi dirinya sendiri.
__ADS_1
Sarah mengajak semua nya keluar dan membiarkan hawa bersama langit.
Dena juga sudah kembali ke ruangan nya.
"bang....!"
ucap hawa lirih duduk di tepi ranjang.
"udah lah wa, kamu gak usah mikirin aku?
kamu pikirkan saja suami mu itu?"
ucap Langit membelakangi hawa.
"suami yang mana?hawa belum menikah?"
ucap Hawa menggeleng kan kepalanya.
"bang...!"
ucap hawa memegang tangan langit.
"bukan nya kalian udah nikah?"
ucap langit masih membelakangi hawa.
"batal.....!"
ucap hawa singkat.
langit menoleh ke arah hawa.
"kenapa.....? ucap langit berbalik menatap wajah hawa.
"karena aku mau hidup sama kamu bang?"
ucap Hawa membuat Langit tertegun.
"tapi aku tidak bisa hawa...!"
ucap Langit menunduk menatap kakinya yang kaku.
ucap hawa menatap wajah langit yang sedikit ditumbuhi bulu pada dagu nya.
"ya, itu dulu... tapi sekarang aku cacat, aku hanya akan merepotkan kamu!"
ucap langit yang merasa tak pantas untuk hawa.
"aku tidak akan bisa membahagiakan kamu dengan keadaan ku yang sekarang!"
hawa menghela nafas mendengar hal itu.
"bang ... kamu akan sembuh, jangan berpikir seperti itu.
hawa mau merawat kamu...!"
"aku gak bisa jalan...aku gak bisa bahagiakan kamu, entah sampai kapan aku seperti ini?"
ucap langit Terisak menunduk pada bahu Hawa.
karena ia tahu hawa pasti menolak sandaran nya.
"ya hawa tahu!
tapi biarkan hawa yang merawat kamu sampai sembuh bang...!
kita menikah...!"
ucap hawa memangku wajah langit yang basah, kemudian melepaskan nya.
"kamu jangan berpikir kalau hawa hanya mau menerima keadaan kamu saat sehat... berjanjilah untuk meninggalkan minuman haram itu!"
"lalu bagaimana dengan Esa...!"
hawa pun meminta esa untuk masuk.
"Abang sudah ikhlaskan kalian berdua...."
ucap Esa senyum menatap langit yang tertegun.
Sarah dan Rizal pun masuk ke dalam di ikuti oleh Ibra dan lili yang baru saja datang.
__ADS_1
"Alhamdulillah.......!"
ucap Ibra melihat hawa dan langit.
"gimana keadaan kamu Lang?"
"gue gak bisa jalan.....!"
ucap langit menunduk.
"sayang..ini hanya masalah waktu, mami dan papi akan cari dokter spesialis tulang yang terbaik untuk kamu!"
ucap Sarah memeluk putra nya itu.
"ya itu benar Dwi....!"
"nama nya siapa?"
"langit itu sebenarnya nama nya Dwi Rangga!
tapi kalau kamu lebih suka Langit itu tidak masalah, yang terpenting sekarang kamu ada bersama mami...!"
ucap Sarah senyum merapikan rambut Langit yang cukup panjang.
"jadi kalian akan menikah?"
ucap Sarah bertanya pada langit dan hawa.
"ya mi...."
ucap hawa menjawab pertanyaan Sarah karena langit diam tak menjawab.
"kamu yakin mau nikah sama aku?
aku hanya akan merepotkan kamu?
Kamu akan malu punya suami seperti aku!"
ucap langit menunduk.
"jangan berkata seperti itu Bang, nanti kamu akan sembuh....!
kita menikah....!"
ucap hawa senyum dan di tanggapi diam oleh langit.
langit tak yakin bisa membahagiakan perempuan itu, meski dalam hati tak ingin kehilangan lagi.
"ya sudah ... nanti papi akan bicarakan ini dengan ayah hawa....!
lebih cepat lebih baik.....!"
ucap Rizal tersenyum merangkul bahu esa.
**
"silahkan aja jika hawa mau menerima keadaan langit, saya juga tidak bisa menentang keinginan mereka sejak lama"
ucap Surya saat Rizal dan Esa datang untuk melamar Hawa untuk Langit.
"tapi saya minta tidak perlu lah menggelar acara resepsi pernikahan... karena masalah kemarin juga belum sepenuhnya reda.. jujur saja saya masih malu..."
ucap Surya membuat Rizal tertegun.
"ya tidak apa-apa..pak Surya, nanti biar kami ya urus semua berkas pernikahan mereka"
ucap Esa dan di angguki oleh Surya.
Surya tak menyangka jika Esa benar benar berlapang dada menerima Kenyataan ini.
"yah, kenapa seperti itu?
apa salahnya mengadakan resepsi pernikahan?"
ucap Arumi saat Esa dan Rizal sudah pulang.
"saya harus berpikir ulang untuk mengenal kan menantu yang duduk di kursi roda... lain kali saja, kalau anak itu bisa mengambil hati saya!"
ucap Surya kemudian beranjak pergi ke luar rumah.
bersambung.
__ADS_1