Langit Hawa

Langit Hawa
kambing hitam.


__ADS_3

Hawa merebahkan tubuhnya di ranjang sambil menatap cincin putih pemberian dari langit, dulu sebelum berangkat ke London, Winda menemukan cincin itu tersangkut di dekat pembuang air.


hawa memang tidak pernah memakai nya lagi setelah kejadian itu, namun Hawa simpan di lemari nya.


pria yang Langit maksud saat di London itu adalah Ezi, Saat itu Ezi sedang ada kunjungan kerja ke London, ia pikir tidak ada salahnya menemui hawa dan mengajak nya makan siang.


Ezi yang memang humoris, selalu membuat candaan yang membuat hawa tertawa.


"kenapa kamu selalu seperti itu langit....? saat ini aku benar benar cemas dengan keadaan kamu? obat itu bisa merusak kesehatan jika di konsumsi terus menerus...!"


ucap hawa sendiri, ia juga bingung dengan keadaan nya saat ini di tambah ancaman Dena tempo hari pada nya.


tapi ia benar benar tidak bisa tidur memikirkan keadaan langit.


hawa melihat jam menunjukkan pukul setengah tiga pagi, ia pun beranjak dari ranjang dan masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.


hawa menunaikan shalat istikharah dua rakaat di lanjut dengan sholat tahajud dua rakaat dan witir tiga rakaat.


Hawa terisak mengingat semua kejadian di masa lalu bersama langit, menyesali setiap dosa dan kesalahannya dulu.


"ya Allah,


Ampunilah aku, segala dosa dosa ku! berikan hidayah Mu untuk ku, dan langit.


aku pasrahkan segala nya kepada mu Ya Robb.


tuntutlah kami untuk kembali ke jalan Mu.


aku serahkan semua permasalahan hati ku padamu, dan tunjukkan kepada ku.jodoh yang terbaik untuk ku menurut MU.


jika langit jodoh ku, maka aku memohon pada Mu, berikan jalan untuk kami agar bisa bersama.


dan jika langit bukan jodoh ku, Maka aku minta padamu..bimbing hati ku Agar Tidak condong pada Nya.


jika Bang Esa yang terbaik, aku mohon berikan aku kemudahan untuk membuka hati....."


ucap hawa Terisak...


**


langit menghempaskan tubuhnya di ranjang, ia pulang bersama Zaki. kalau tidak Zaki khawatir karena langit mabuk, beberapa kali Dena menelpon namun Zaki tak menghiraukan.


yang terpenting saat ini langit sudah berada di apartemen.zaki menatap foto besar yang berada di atas ranjang, dari foto itu jelas tergambar langit begitu mencintai gadis berambut keriting itu, namun ujian cinta nya begitu besar. sebesar cinta keduanya.


"semoga tuhan kasih jalan untuk kalian..."


ucap Zaki kemudian keluar dan menghempaskan tubuhnya di sofa lalu terlelap.


Dena meremas ponselnya saat langit tak kunjung mengangkat telpon nya, Dena benar benar kesal saat mengetahui jika langit membeli apartemen, anak itu ternyata ingin menghindar dari nya...


**


Arumi dan Surya menilik wajah hawa yang sedikit pucat dan sembab, semalam keduanya memang tidak tahu Hawa pulang dalam keadaan menangis, keduanya sudah masuk ke dalam kamar.


hawa meminta pada Winda untuk merahasiakan hal itu dari orang tua nya, karena hawa tak ingin Surya tahu soal pertemuan dengan langit yang berujung kepedihan.

__ADS_1


"kamu sakit Hawa?"


Arumi bertanya dengan lembut.


hawa menoleh sambil menggelengkan kepalanya, Acara tinggal beberapa hari lagi.


kenapa rasanya waktu berjalan begitu cepat.


"Hawa baik baik saja Bun....oh ya, nanti mami Sarah mau ajak bunda untuk milih baju untuk acara nanti....!"


"kamu tidak ikut?"


"hari ini hawa ada jadwal operasi, jadi hawa tidak bisa ikut....!"


tadi pagi Sarah menelpon nya untuk mengajak nya memilih baju untuk Acara nanti, namun karena memang hari ini ada jadwal operasi hawa meminta Arumi saja ikut bersama Sarah.


"oh ya udah... nanti biar bunda yang pergi sama Bu Sarah...!"


"non, maaf di depan ada den Esa...!"


ucap pembantu memberi tahu kedatangan Esa untuk mengantar nya ke rumah sakit.


"tuh Esa Udah datang...!"


ucap Surya mengamati putri nya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"ya udah hawa berangkat....!"


ucap hawa kemudian mencium tangan Surya dan Arumi.


hawa keluar dan melihat Esa tengah menerima telepon,, hawa menuggu sambil bersandar pada pintu.


hawa senyum sambil mengangguk.


"kenapa tadi tidak masuk bang?"


ucap hawa kini keduanya tengah berada di dalam mobil.


"Abang sebenarnya sedang buru buru, tapi Abang sempat kan untuk mengantar kamu ke rumah sakit...!"


"ya Ampun bang, kalau Abang sibuk, Abang tidak harus mengantar hawa ke rumah Sakit, Hawa bisa kok, berangkat pakai mobil sendiri..!"


"tidak apa-apa Hawa, meski Abang sibuk tapi kamu tetap prioritas utama Abang....!"


ucap Esa senyum, menoleh sekilas pada hawa yang membeku mendengar penuturan nya.


"kamu sebaik itu sama aku bang...!"


ucap hawa sendiri dalam hati.


tak lama mereka sampai di depan rumah sakit.


"ya udah, Hawa turun ya... terima kasih bang!"


"ya, nanti Abang jemput ya....!"

__ADS_1


hawa mengangguk kecil..


namun Esa masih belum beranjak dari tempat nya.


"kenapa bang ...?"


"tidak, Abang mau lihat kamu masuk dulu... setelah itu Abang baru pergi...!"


"astaga..."


hal yang sama pernah langit katakan, kenapa keduanya memiliki banyak persamaan.


bedanya Esa selalu bersikap dewasa dan selalu bersikap sopan padanya.


sementara langit, dia selalu bersikap seperti anak kecil, pencemburu dan agresif.


namun kenapa aku tidak bisa melupakan nya?


hawa berjalan di koridor sambil memikirkan hal itu, setelah tadi ia membiarkan Esa melihat nya masuk ke dalam, namun langkah nya terhenti saat melihat Violla berada di dekat ruang pemeriksaan ibu hamil.


hawa bersembunyi dibalik tembok dan mendengar kan percakapan Violla dan teman nya itu.


"Lo hamil Sama siapa vi?"


ucap teman Violla.


"gue hamil sama Daniel, tapi Lo tahu kan kalau orang tua gue menjodohkan gue sama langit, jadi gue gak akan memberi tahu tentang kehamilan gue ini... biarin aja nanti gue nikah sama Langit...!"


ucap Violla tersenyum, membayangkan bersanding dengan langit.


Violla memiliki kekasih, namun hubungan keduanya tak di Restui oleh orang tua Violla.


tapi mereka sudah sering melakukan hubungan terlarang hingga saat ini Violla tengah hamil.


dan Violla akan menjadi kan langit kambing hitam.


hawa berjalan dengan pikiran tak menentu, ia harus mencegah hal itu, hawa tak mau jika langit harus mempertanggung jawabkan sesuatu yang bukan hasil perbuatannya.


tapi kemana ia harus mencari langit?


"hawa.....!"


ucap dokter Kinan menghampiri hawa yang tengah Risau.


"dokter Kinan....!"


"Hawa,aku dengar dari Sani kemarin ada pasien yang Menolak untuk kamu periksa...!"


"ya, ada masalah pribadi, apa pasien itu mencari mu?"


"ya, kemarin..tapi kita buat janji hari ini, mungkin setelah makan siang nanti...!"


"oh gitu......ya sudah, aku masuk ke dalam dulu ya...!"


ucap hawa senyum kemudian keduanya berpisah...

__ADS_1


hawa memikirkan bagaimana ia bisa bertemu langit,ia harus membicarakan masalah Violla.


bersambung.


__ADS_2