
beberapa hari berlalu, tinggal dua hari menuju hari pertunangan nya dengan Esa.
hawa berjalan di koridor rumah sakit, ia belum menemukan keberadaan langit,, hawa pernah mencoba melewati rumah yang dulu pernah mereka tempati bersama, namun hawa melihat jika rumah itu telah di renovasi,dan mereka tidak tinggal lagi di rumah itu.
"Hawa......!"
ucap seseorang menghentikan langkah nya.
"kak Lili....?"
ucap hawa senyum melihat lili mengahampiri nya.
"Hawa, kamu kerja di rumah Sakit ini?"
ucap lili menilik hawa yang berjas putih.
"ya, kak. hawa kerja dirumah sakit ini....
kak Lili sedang Apa?"
ucap hawa hanya melihat lili sendirian.
"aku mau periksa kandungan hawa...!"
ucap lili tersenyum.
"Alhamdulillah...kak lili hamil....?kok sendirian?"
"ya, Ibra lagi sibuk, jadi tidak Bisa mengantar ku!"
hawa tersenyum mendengar hal itu, dari dulu sampai sekarang keduanya masih bersama, bahkan mereka sudah menikah.
"aku menikah dua tahun yang lalu,tapi baru sekarang di berikan anugerah terindah...!"
"oh, gitu.. selamat ya kak...!"
ucap hawa berpikir, mungkin lili bisa membantu nya memberitahu soal Violla.
"kak, hawa mau bicara...kak lili ada waktu tidak?"
"boleh hawa, bagaimana jika kita makan siang bersama...!"
"boleh kak, ini kartu nama hawa.. disitu ada nomor telepon nya kak!"
"oke, nanti aku hubungi kamu ya hawa!"
setelah itu keduanya berpisah, hawa masuk ke dalam ruangan nya dan lili menuju ruang dokter kandungan.
hawa duduk di kursi dan bersandar, terlihat Sani tengah membereskan berkas berkas pasien.
"dokter tahu tidak?"
"tahu apa San....?"
"dokter kinan bilang, wanita yang kemarin menolak dokter periksa itu, dia sakit kanker.."
"astaga..kamu tidak salah dengar?"
"tidak dokter, wanita itu kena leukemia..."
ucap Sani yang kemarin ngobrol dengan Kinan di kantin.
"Udah stadium lanjut lagi dok...!"
"inalillahi.... kasihan...!"
ucap Hawa, semakin teringat pada langit.
bagaimana keadaan pria itu kini, rasanya ingin sekali menghentikan langit mengkonsumsi obat itu,tapi apa daya ia sudah terlanjur menerima lamaran dari Esa
Surya pasti akan marah jika ia membahas mengenai langit lagi.
tak lama ponsel nya berdering dan melihat Esa melakukan panggilan telepon.
"assalamualaikum.. bang?"
"walaikumsalam.....hawa apa kamu sedang sibuk?"
"tidak, hawa sedang tidak ada pasien...!"
"nanti malam kamu temani Abang ya...!"
__ADS_1
"kemana?"
"ke Acara pertemuan para pebisnis... kamu mau kan?"
"oh, gitu?
apa ayah juga berangkat?"
"ya, ayah mu juga ikut...!"
"ya udah... nanti hawa temani bang...!"
"ya udah... nanti sore Abang jemput hawa"
ucap Esa kemudian mengakhiri telponnya.
"cie ... makin lancar jaya aja nih?"
ucap Sani terkekeh.
"ya, nanti kamu datang ya san, weekend ini acara pertunangan aku sama bang Esa, aku cuma undang kamu.. acara nya memang di hotel,tapi cuma keluarga dekat aja yang aku undang..." ucap hawa pasrah dengan keadaan ini.
"loh, kenapa tidak undang yang lain nya dok?"
"nanti saja kalau menikah....!"
'mungkin...'
ucap hawa, entah kenapa ia merasa ragu dengan semua itu.
"astagfirullah..."
ucap hawa mengusap wajah nya sendiri.
"sudah lah hawa... ikuti alur cerita nya saja...."
tutur hawa dalam hati nya.
***
Siang menjelang, hawa dan lili bertemu di kafe yang tak jauh dari rumah Sakit.keduanya kini duduk berhadapan.
"kak... berapa bulan kata dokter?"
"tiga bulan hawa...!
oh ya, kamu mau bicara apa?"
"oh, ini soal Violla...dan langit..........!"
ucap hawa kemudian menceritakan tentang Violla yang hendak menjadikan langit sebagai kambing hitam.
"oh gitu, sebentar ya aku telpon Ibra, supaya datang kesini....!"
"tidak usah kak, kak lili nanti cerita kan saja Sama Ibra dan langit....hawa sama langit sudah berpisah...!"
ucap hawa menunduk.
"hawa, kenapa seperti itu?apa kamu tidak tahu kalau langit begitu mencintai kamu, hanya langit yang tidak bisa menahan rasa cemburunya...dia memang keras kepala"
"ya,tapi hawa sama langit tidak bersama kak,ayah dan mami nya langit menentang hubungan kita, rasanya tak ada jalan di antara kita karena hawa juga tidak mau di ajak kawin lari kak..."
"ya, kalau soal itu aku ngerti Hawa,, kalian yang sabar ya, semoga ada jalan untuk kalian"
"ya kak Terima kasih, hawa cuma mau menyampaikan itu saja..."
ucap Hawa, ia bersyukur karena bertemu dengan lili, dengan itu ia tidak harus bertemu dengan langit.
setelah selesai makan siang keduanya berpisah, Ibra menjemput lili di kafe tersebut.
hawa membuang nafas sambil berjalan di koridor rumah sakit, waktu menunjukkan pukul setengah lima sore,Esa sudah menunggu nya di parkiran.
"assalamualaikum..bang?"
ucap hawa menghampiri Esa yang sedang memainkan ponselnya.
"walaikumsalam....!"
ucap Esa menilik hawa yang terlihat lesu.
"kamu sakit?"
__ADS_1
"tidak, hawa Hanya lelah...kita langsung pulang saja bang?!"
"oh, ya sudah ayo!"
ucap Esa membuka pintu mobil.
di depan pagar, langit memperhatikan Hawa dan Esa.
Ibra langsung menemui langit saat lili menceritakan obrolan nya dengan Hawa.
langit sendiri tidak kaget, ia tahu bagaimana pergaulan Violla.
jika itu tidak terjadi pun, langit tidak akan mau menerima perjodohan itu,dengan atau tanpa hawa di sisinya.
Lili juga memberi tahu rumah sakit tempat hawa bekerja.
ada perasaan tidak rela melihat hawa bersama pria itu,, rasanya ingin menarik tangan gadis itu untuk keluar dari mobil itu.
tapi langit berpikir berulang kali untuk melakukan hal itu, karena hawa sudah memilih pria itu.
kemudian langit melajukan mobilnya membawa hati nya yang terluka.
langit memarkirkan mobilnya menuju rumah Dena, sejak tadi pagi Mami nya itu terus menelpon nya.
"mi....!"
ucap langit menghampiri Dena yang sedang duduk di sofa sendiri.
"langit....!"
ucap Dena senyum senang karena langit masih memperhatikan nya.
"mami sakit apa?"
ucap langit menilik wajah Dena yang begitu pucat.
"langit mami sakit kanker....!"
"astaga.....!" ucap langit tak menyangka dengan kenyataan itu.
"mungkin hidup mami tidak lama lagi....!"
ucap Dena dengan pandangan jauh ke depan.
"mami jangan bicara seperti itu...!"
"langit, tolong Kabul kan keinginan mami untuk yang terakhir kali....!"
"keinginan apa?"
"menikah lah dengan Violla...!" langit membuang nafas mendengar permintaan Dena.
"langit akan memberikan apapun yang mami mau,tapi jika itu keinginan mami, langit tidak bisa... coba mami pikirkan kebahagiaan langit Juga, selama ini langit selalu menuruti keinginan mami,langit menuruti keinginan mami untuk menjadi pebisnis seperti mami, padahal mami tahu sejak kecil langit ingin jadi dokter tapi langit mengalah dan menuruti keinginan mami...tapi untuk yang satu itu langit tidak bisa....!"
"Kenapa? karena Hawa?"
langit diam menatap wajah Dena yang berair.
"itu menjadi salah satu alasan langit, tapi langit juga tidak mau menikahi wanita yang sudah hamil oleh lelaki lain... silahkan mami cari tahu apa yang langit katakan...!"
ucap langit kemudian beranjak pergi dari hadapan Dena yang mematung sendiri.
langit termenung sendiri menatap kaca jendela yang basah oleh air hujan, tiba tiba hujan turun mengguyur kawasan itu.
tentu saja hal itu membuat nya mengingat gadis yang di cintai nya itu.
hujan bukan hanya menciptakan genangan,tapi hujan juga menciptakan kenangan bersama gadis itu.
"gue pikir, hawa masih peduli sama Lo Lang, makanya dia mengatakan soal Violla sama lili... kenapa sih Lo gak perjuangkan hawa.. kalau cuma dekat doang mah kecil lah menurut gue.
kalau udah nikah baru lah Lo mundur....
gue yakin hawa masih cinta sama Lo Lang..."
ucap Ibra memutar di benak nya, tapi bagaimana dengan restu Dena dan Surya yang tak kunjung berubah.
bersambung...
terima kasih yang sudah mampir,,
semoga bisa menghibur..
__ADS_1
terima kasih yang udah like and komentar 😍😘