Langit Hawa

Langit Hawa
percuma.


__ADS_3

langit membuang nafas nya mengingat kejadian tadi, Apa harus ia bertanya tentang semua itu pada Hawa? sedangkan semua sudah jelas apa yang di dengar nya, satu Tahun mereka berpisah Tanpa kabar, apa hal itu yang menyebabkan hawa berpikir untuk melupakan nya.


"lang....Lo harus tanya langsung hawa!?"


"untuk apa? percuma.....gue rasa semua Udah jelas, mungkin dari awal mereka memang ada hubungan.. pantas hawa Nolak, waktu gue ajak kawin lari ternyata sudah ada seseorang yang menunggu nya, pintar nya kamu bersandiwara hawa...!"


ucap langit menunduk kan wajah kebawah.


rasanya sakit tak terperih melihat hawa bersama pria itu, percuma usaha nya untuk pulang jika apa yang di dapatkan nya hanya sebuah kekecewaan.


"apa aku harus melepaskan kamu hawa?


mengapa kamu tidak menyadari dalam nya cinta ku yang hebat...."


ucap langit sendiri dalam hati nya, menarik nafas dalam-dalam agar ia tidak menangis.


"lang ...Lo percaya sama jodoh, semua belum pasti Lang, saran gue. Lo selesaikan dulu kuliah Lo, setelah Lo sukses Lo bisa pulang dan cari hawa lagi...!"


"apa masih sempat?"


"Lo harus yakin kalau jodoh itu tidak akan tertukar,Lo harus percaya sama ketentuan Nya!


kalau pun hawa bukan jodoh Lo, gue yakin Tuhan pasti udah siapkan jodoh terbaik buat LO!"


"entah lah, rasanya tidak berdaya dengan keadaan ini, ditambah Dena yang menentang hubungan gue Sama hawa, sekarang hawa malah berpaling dari gue.


gue mau balik ke Amrik, percuma gue disini juga! hati gue sakit!"


ucap langit beranjak dan di ikuti oleh Ibra di belakang.


langit berjalan melewati Restoran Dimana hawa dan Esa sedang ngobrol serius berdua, hawa menoleh ke arah kaca tampak seperti seseorang yang telah lama di rindukan nya melewati restoran tersebut, menoleh sekilas kemudian pergi.


"langit.....!"


ucap hawa pelan sambil beranjak mengejar.


hawa yakin itu langit...


Esa diam melihat hawa beranjak ke luar seperti mencari seseorang.


Sarah sendiri sedang ke toilet untuk membersihkan bajunya yang terkena sedikit makanan.


hawa menoleh ke kanan dan ke kiri, namun tak mendapati orang tersebut.


langit sendiri bersembunyi di dekat toko sepatu, menatap gadis itu dari kejauhan.


hati nya semakin perih melihat hawa tak lagi memakai cincin pemberian nya.


"hawa... baru satu tahun kita berpisah, kamu sudah menanggalkan cincin ku...!"


ucap langit dengan gemeretak gigi, kemudian melangkah pergi bersama Ibra.


"hawa... kamu cari siapa?"

__ADS_1


tanya Esa membuat hawa menoleh.


"tidak bang, mungkin hawa salah orang!"


ucap hawa kembali masuk ke restoran.


terlihat Sarah sudah kembali dari toilet.


"kita mau pulang sekarang atau bagaimana?"


"karena waktu sudah menunjukkan waktu solat magrib, Esa pikir kita solat dulu saja mi!. setelah itu kita baru pulang!"


ucap Esa memberikan saran dan di angguki oleh hawa juga sarah.


ketiga nya melangkah menuju masjid yang berada di belakang mall tersebut, dengan perasaan tak menentu hawa melangkah bersama Sarah mengambil wudhu.


"mungkin hanya perasaan ku saja karena terlalu berharap langit datang mencari ku...!"


ucap Hawa tertegun sejenak.


"hawa, ini mukena nya!"


ucap Sarah membuyarkan lamunan nya.


"terima kasih Bu, maaf hawa merepotkan!"


ucap Hawa sungkan karena ia benar benar tidak enak.


hawa tertegun mendengar suara seseorang yang ia kenal menjadi imam shalat mereka, apakah itu Esa?


hawa merasa jantungnya berdetak kencang saat melihat Esa lah yang memang menjadi imam mereka, Esa tersenyum menghampiri kedua nya Setelah selesai berdoa.


tampak air wudhu masih membasahi pelipisnya.


"kita langsung pulang?"


ucap Esa bertanya pada Sarah dan hawa yang sejak tadi diam.


"ya,kita langsung pulang saja!"


ucap Sarah kemudian merangkul pundak hawa berjalan menuju mobil.


"laki laki yang Soleh itu harus bisa menjadi imam shalat di rumah nya.....!"


ucap ustadz abu Haidar kala itu dalam tausiyahnya, memutar di benak hawa yang termenung menatap Esa yang fokus menyetir.


Hawa menghempaskan tubuhnya di ranjang, menatap jari manis nya melingkar cincin emas yang dibelikan oleh Sarah tadi, beberapa hari ini ia mencari cincin pemberian langit yang terjatuh di kamar mandi dan terbawa air.


beberapa kali mencari ke tempat pembuangan air namun tak menemukan nya, apa kata langit nanti jika dia menanyakan perihal cincin putih itu.


teringat saat di mall tadi,ia seperti melihat langit.


bukan ilusi, tapi.......

__ADS_1


teringat percakapan nya dengan Esa saat mereka berdua.


"sebenarnya apa yang mendasari Abang, untuk menunggu Hawa?"


ucap hawa berbicara mumpung mereka berdua, karena hawa malu jika ada Sarah.


"maaf de, kalau Abang sayang sama kamu!


sebenarnya Abang tahu hubungan kamu dengan langit, Abang juga tahu tentang ayah mu yang menentang hubungan kalian, Abang suka sama kamu sejak kita di laundry, sebenarnya Abang tidak mau banyak berharap karena Abang tahu gimana kamu sama langit, Tapi Saat Abang tahu kalau sekarang hubungan kalian tidak ada kejelasan, boleh kan de Abang berharap kamu mau sedikit membuka hati kamu untuk Abang...."


ucap Esa membuat hawa tertegun, jadi selama ini Esa banyak ngobrol dengan Surya, seperti nya Surya menceritakan semuanya pada Esa, dan Mendukung Esa dengan Hawa.


"Abang akan menuggu kamu sampai kamu jadi dokter!"


ucap Esa lagi meyakinkan hawa tentang perasaan nya.


sementara Hawa bungkam tak menjawab penuturan Esa yang membuat nya bimbang.


haruskah ia menerima Esa karena langit tak ada kabar sama sekali?


atau ia bertahan dengan harapan yang tak pasti!


langit membereskan baju baju nya kedalam koper, ia akan kembali malam itu juga.


"lang,Lo yakin mau balik sekarang?"


ucap Ibra melihat langit berkemas.


"ya, percuma Disini juga, hawa juga udah punya yang lain, dia juga udah gak berharap sama gue, jadi lebih baik gue balik sekarang!


terima kasih untuk semua nya bra,Lo emang sahabat terbaik gue!"


"ya,Lang ... jangan pikirkan apapun lagi.


lanjutkan mengejar mimpi dan cita-cita Lo!"


"ya,itu pasti!


tapi gue akan kembali nanti, setelah gue memiliki sesuatu yang bisa gue Banggakan untuk Hawa, karena saat ini gue sadar gue gak punya apa apa selain dari pemberian mami gue"


ucap langit mencoba meyakinkan hatinya tentang jodoh.


biarkan waktu yang akan menjawab semua nya.


saat ini biarkan semua berjalan seperti adanya, Dena juga berkali-kali menghubungi nya dan meminta nya untuk kembali ke Amrik.


"gue salut lang sama Lo, Lo harus semangat!


percaya jodoh akan mencari jalan nya sendiri..."


ucap Ibra menepuk bahu langit,ia pun akan kembali ke Jakarta malam itu juga.


bersambung.

__ADS_1


__ADS_2