
Hawa terbangun dari tidurnya saat bermimpi seorang wanita memeluk nya, mengusap punggung nya hingga hawa merasa tenang.
"putri ibu harus sabar, akan ada kebahagiaan yang menanti mu... jangan berputus asa sayang,, saat ini anak mu bersama ibu...."
"astagfirullah..."
untuk sekian lamanya ia bermimpi tentang almarhum ibu nya.
nafas Hawa tersengal, keringat dingin mengucur di pelipis nya, hawa tak mampu menahan laju air mata nya saat melihat langit tak berada di samping nya.
"bang...aku harus bagaimana agar Mami mu mengerti posisi ku....aku juga ingin punya anak, tapi aku bisa apa?"
ucap hawa Terisak kemudian beranjak dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil wudhu,,hal yang menjadi pelarian nya untuk mencari ketenangan.
Hawa tidak pernah bosan berdoa dan meminta kepada Nya, Meski pun sampai saat ini tuhan masih membiarkan nya dalam fase rendah,,
ia yakin dengan janji Nya bahwa keselamatan bagi mereka yang mau bersabar.
hawa termenung setelah membaca beberapa surah dalam kitab suci Al-Qur'an.. hati nya sedikit tenang, hawa terpaku sendiri mengingat kejadian semalam.
"kenapa disaat aku bertahan, justru kamu meminta ku untuk menyerah...
itu sama saja kamu meragukan cinta ku Hawa..."
ucap langit saat hawa meminta nya untuk menikah lagi.
"aku tidak pernah meragukan cinta mu, bang.
tapi aku tahu kamu juga ingin seperti Ibra dan teman teman kamu yang lain nya yang sudah memiliki anak...."
ucap hawa tanpa menatap netra suami nya.
"kamu pikir baik baik saja Bang, mungkin kita harus berpikir untuk masa depan....
hawa akan ikh...las..."
ucap hawa sambil terisak.
"Coba bayangkan jika aku bercumbu dengan perempuan lain.....apa benar kamu ikhlas berbagi..."
ucap langit tak sanggup menahan air matanya.
hawa terdiam tak sanggup menjawab pertanyaan suami nya
"tidak akan ada yang sanggup berbagai...aku tak bisa, tapi aku juga tidak kuat menahan semua ini bang.. rasanya sesak dengan semua tuntutan mami mu, aku harus Apa?"
ucap hawa membalikkan badannya dan meringkuk membelakangi langit.
setelah itu langit pergi tanpa berpamitan pada Hawa, hawa sendiri tidak tahu kemana suaminya itu.
beberapa hari lagi bulan suci Ramadhan, rasanya rindu kampung halaman.
entah kapan terakhir ia pergi ke solo, yang hawa ingat adalah saat hari raya dua tahun yang lalu bersama langit, dan sekarang ingin berziarah ke makam almarhum ibu nya.
mungkin ia bisa menenangkan diri di sana dari permasalahan ini, gegas hawa membereskan barang barang nya untuk pergi ke solo.
kemana langit?
sebelum pergi ia mencoba menghubungi Sanusi untuk izin beberapa waktu,
benarkah beberapa waktu?
tapi kenapa hati nya justru ingin pergi jauh dari tempat ini.
dengan atau tanpa Langit...ia juga tidak akan sanggup melihat suaminya menikah lagi.
"Bu....."
ucap hawa menghampiri Amora untuk berpamitan.
"kamu mau kemana?"
ucap Amora melihat hawa membawa koper.
"Bu....hawa ingin menenangkan pikiran..."
__ADS_1
"kamu pergi kemana? jangan pergi Hawa"
"tapi saat ini biarkan hawa bernafas tanpa tekanan Bu... kalau memang Langit mencintai Hawa, dia akan tahu kemana Hawa pergi...!"
ucap hawa menghapus air matanya.
"kamu hati hati ya ....!"
ucap Amora memeluk Hawa sambil terisak.
malam itu langit mendatangi Ibra untuk mencari solusi permasalahan nya, ia benar benar butuh seseorang untuk mendengarkan keluh kesah nya, dalam keadaan seperti itu ia tidak bisa mengajak istrinya bicara.
jadi Langit mencoba untuk menenangkan diri nya dari masalah yang tak henti membelit Rumah tangga nya, ia lebih memilih untuk mengikuti program bayi tabung dari pada menikah lagi ia tak ingin menyakiti hati Hawa.
hingga memutuskan untuk bermalam di apartemen nya.
"langit......!"
ucap Amora saat langit tiba di rumah.
sejak tadi Amora mencoba menghubungi anak asuh nya itu namun langit tak mengangkat nya.
"kenapa Bu...!"
"kenapa sih ibu telpon tidak angkat!"
"langit matikan karena sejak semalam mami Sarah menelpon terus....!"
ucap langit menatap wajah Amora yang tampak khawatir.
"ada apa?"
"hawa pergi....!"
langit membulat kan matanya mendengar penuturan Amora.
"kemana? kapan Bu?"
"tadi pagi,,Amora tidak tahu, karena hawa juga tidak memberi tahu....!"
"sudah.. tapi hawa bilang jika kamu benar benar mencintainya, kamu pasti tahu kemana dia pergi...!"
"astaga.... ini semua gara gara Sarah!"
ucap langit beranjak dari tempat itu menuju mobil nya dengan tergesa.
"langit........ hati hati nak!"
teriak Amora.
Langit melajukan mobilnya, mencoba menghubungi hawa namun nomor di luar jangkauan.ia salah karena membiarkan istrinya itu sendiri.
saat ini hawa sudah berada di dalam kereta api bersama Surya dan Arumi.
awalnya hawa hanya ingin pamit karena tidak ingin membuat keduanya cemas, Hawa tidak menceritakan tentang permasalahan nya dengan sarah namun Surya tahu bahwa hawa menyembunyikan sesuatu dari nya.
"ayah tidak akan membiarkan kamu pergi sendiri, ayah tahu kamu sedang punya masalah.
kamu jangan khawatir, ada kami disini.
kami tidak akan membiarkan kamu sendiri!"
ucap Surya memeluk putri nya itu.
"terima kasih ayah.....!
hawa ingin ke makam ibu...!"
ucap hawa Terisak.
rasanya ingin sekali marah pada Sarah namun Arumi selalu menahan nya agar membicarakan semua masalah Secara baik baik.
"biarkan Tuhan yang mengatur semuanya..."
ucap Arumi mencoba menenangkan Surya.
__ADS_1
**
langit masuk ke dalam rumah Tanpa mengucapkan salam atau apapun, terlihat esa da Aqila berada di rumah itu.
semua terdiam melihat langit dengan tatapan nanar nya.
"apa maksud Mami dengan semua ini...?
yang harus mami tahu dan langit jelas kan sekali lagi...
langit tidak akan pernah mau menikah lagi hanya untuk mendapatkan keturunan... dengan Atau tanpa anak dalam kehidupan rumah tangga kami, langit tidak akan pernah membawa orang ketiga di rumah tangga langit dan Hawa...
sekarang gara gara Mami, Hawa pergi entah kemana!
apa mami tidak sadar bahwa apa yang mami lakukan itu Sama saja membunuh langit secara perlahan karena untuk langit Hawa itu seperti nafas yang menghidupkan kehidupan langit..
apa mami tidak tahu karena apa Langit dulu sampai kecelakaan, itu karena Langit tidak sanggup melihat hawa dengan bang Esa.
lantas karena anak, mami bukan hanya menyakiti hawa, tapi Mami juga menyakiti Langit..
Mami tidak ada bedanya dengan mami Dena!"
ucap langit panjang membuat semua orang yang berada di tempat itu membeku.
"langit..."
tutur Esa berdiri..
"diam bang...!"
ucap langit menunjuk pada Esa yang langsung membeku.
"jika seperti ini, apa Langit masih harus bersyukur bertemu kalian..."
ucap langit terlihat Sarah Langsung menangis.
"jaga ucapan kamu Langit, kita bicarakan semua baik-baik...!"
ucap Esa lagi.
"baik baik?
selama ini kami selalu bersikap baik meskipun mami bersikap acuh..tapi ternyata hal itu tak membuat mami puas?"
"langit...."
ucap Rizal mencoba menenangkan putra nya itu.
"langit kecewa dengan kalian....!"
ucap langit kemudian pergi begitu saja tanpa mendengar Rizal yang terus memanggil nya.
langit menyandarkan kepalanya di kursi, sambil berpikir kemana Perempuan itu pergi.
"hawa aku bisa gila jauh dari kamu...!"
ucap langit menelungkup wajah nya di stir mobil.
"maafkan aku..."
langit mencoba menghubungi Winda namun nomor nya tidak aktif, lalu menghubungi Zaki namun saat ini ia tengah berada di luar kota mengelola tender proyek mereka yang baru.
langit memejamkan mata nya di dalam mobil, saat ini ia berada di depan rumah Surya, pembantu bilang keduanya pergi keluar kota namun tidak memberi tahu kemana.
langit termenung sendiri setelah berusaha beberapa kali mencoba menghubungi orang terdekat hawa namun mereka mengatakan bahwa hawa tidak berada bersama mereka.
bahkan nomor Surya dan Arumi juga tidak bisa di hubungi.
"Aku akan menemukan mu kemanapun kamu pergi hawa..aku akan membuktikan bahwa aku mencintaimu...."
gegas langit menyalakan mobil nya, malam ini juga ia akan terbang ke Jogjakarta, tujuan solo.
hati nya mengatakan jika Hawa pergi ke kota itu.
bersambung...
__ADS_1
😍😍😍😍