
Hawa duduk di ranjang menatap kaca jendela, Malam ini ia berbohong pada Surya..
"Hawa, kamu dari mana?
Esa mencari mu...!"
ucap Surya saat melihat hawa masuk ke dalam rumah.
"maaf tadi hawa ada pasien mendadak yah, Hawa terpaksa pergi...hawa minta maaf!"
Surya membuang nafas mendengar penuturan Hawa.
*
"Maafkan hawa, Ayah..."
ucap hawa menangis menelungkupkan wajah nya di bantal, mencoba memejamkan matanya namun tak bisa, karena terus memikirkan keadaan Langit.
teringat foto dirinya bersama langit, tangan langit yang terukir namanya, membuat nya merasakan sesak.
hawa beranjak dari ranjang dan mengambil wudhu,, menangis di depan sajadah.
berharap Tuhan memberikan nya jalan keluar.
Arumi mendengar hawa Terisak, ia pun baru saja menunaikan shalat tahajud.
"hawa......."
ucap Arumi membuka pintu kamar hawa, terlihat gadis itu memang tengah menangis di atas sajadah.
"Bun....." ucap Hawa menghapus air matanya.
"kamu kenapa....ada yang membebani pikiran kamu..?"
ucap Arumi memeluk putri suaminya itu.
Arumi begitu menyayangi hawa seperti ia menyayangi anaknya sendiri.
"Bun.... hawa minta maaf karena hawa bohong sama bunda dan ayah, tapi hawa mohon jangan beri tahu soal ini sama ayah bun....hawa tahu hawa salah tapi hawa benar benar bingung..."
ucap hawa kemudian menceritakan kejadian tadi malam.
"astagfirullah.......!"
ucap Arumi mengusap punggung gadis itu.
"hawa harus bagaimana Bun, hawa......"
ucap hawa menunduk sambil terisak.
"hawa.....apa sampai saat ini kamu masih mencintai langit...?"
tanya Arumi memangku wajah hawa yang basah oleh air mata.
hawa membisu tak menjawab pertanyaan Arumi, namun Arumi tahu bahwa hawa memang masih mencintai langit, terlihat dari mata gadis itu.
Arumi membuang nafas kemudian kembali memeluk hawa, ia juga bingung jika seperti ini keadaan nya.
untuk bersama langit pun tidak mungkin karena Dena dan Surya menentang keras hubungan mereka berdua.
"Kamu yang sabar ya Hawa, Allah sedang menguji kalian... semoga Allah memberikan jalan keluar terbaik untuk permasalahan ini...!"
tak lama adzan subuh berkumandang, Arumi mengajak hawa untuk kembali mengambil air wudhu dan menunaikan shalat subuh.
"setelah sholat, kamu istirahat saja hawa.. kamu tidak kerumah sakit kan...jaga kondisi saja untuk acara nanti malam!
maafkan bunda yang tidak bisa membantu kamu...!"
ucap Arumi dan di angguki oleh hawa singkat.
langit dan hawa sama sama meringkuk menatap kaca jendela yang basah, keduanya terpisah jarak dan ruang, terlihat awan masih gelap mungkin hujan akan kembali turun..
keadaan keduanya layaknya semesta yang gelap Berawan hitam.... hujan pun turun dengan deras, sederas air mata keduanya.
"aku mau hidup sama kamu..."
ucap langit terngiang di telinga nya..
__ADS_1
***
Sungguh ku sesali
nyata cinta mu kasih
tak sempat terbaca hatiku
malah terabai oleh ku
Lelah ku sembunyi
tutupi maksud hati
yang justru hidup karena mu
dan bisa mati karena mu
Andai saja aku masih punya
kesempatan kedua
pasti kan ku hapus kan lukamu
menjagamu memberi mu
segenap cinta
kusadari tak selayaknya
selalu penuh kecewa
kau lebih pantas bahagia
bahagia karena cinta ku
kau bawa bersama mu
sebelah hati ku separuh jiwaku
Andai saja aku masih punya kesempatan kedua.
pasti akan ku hapuskan luka mu
memberi mu segenap cinta.
(tangga.. kesempatan kedua)
hawa memejamkan matanya yang lelah, semalam ia juga kurang tidur karena Terus-menerus memikirkan langit.
Esa menatap ponselnya, beberapa kali melakukan panggilan telepon namun hawa tidak mengangkat nya.
lalu Esa mencoba menghubungi nomor Winda untuk mencari tahu keadaan perempuan yang menjadi calon istri nya itu.
"assalamualaikum, bang Esa.."
ucap Winda yang baru saja keluar dari kamar.
"walaikumsalam..win apa hawa ada disitu, beberapa kali menelpon namun hawa tidak mengangkat nya.
Arumi memperhatikan Winda yang sedang menerima telepon, entah dari siapa?
"oh gitu, sebentar Winda lihat ke kamar ya bang...!"
"ya udah Terima kasih win...!"
ucap Esa kemudian mematikan ponselnya.
Winda berjalan ke kamar Hawa dan melihat hawa masih terlelap, terlihat mata nya sedikit sembab, Winda tidak tega membangun kan nya.
Winda mengirimkan pesan pada Esa dan mengatakan jika Hawa masih tidur karena kurang sehat.
"hawa sakit....?"
ucap Esa menghela nafas, Esa memikirkan hawa yang memang seperti ada yang membebani pikiran nya,apa karena aku?
Esa memijat keningnya sendiri karena tak mengerti dengan gadis itu..
__ADS_1
apa hawa terpaksa menerima lamaran nya?
"astagfirullah.....!"
ucap Esa bersandar pada sofa.
kejadian semalam masih menjadi tanda tanya untuk nya, urusan Apa Yang membuat hawa pergi begitu saja....
***
"kenapa Winda...?"
tanya Arumi yang sedang menata makanan.
"Bun, sebenarnya hawa kenapa sih?"
ucap Winda duduk di kursi.
Surya sendiri sedang pergi olahraga pagi bersama Ezi yang datang semalam, Ezi datang untuk menghadiri acara pertunangan hawa dan Esa.
bulan depan juga rencananya Ezi akan melamar kekasihnya yang saat ini Tinggal di Singapura bersama nya, sudah satu tahun ini Ezi di pindahkan ke Singapura oleh pihak perusahaan tempat nya bekerja.
Arumi membuang nafas jika mengingat permasalahan itu.
"Bunda juga bingung sama masalah mereka... sebenarnya bunda kasihan sama Hawa karena Sampai saat ini ia masih mencintai langit,tapi keadaan tak bisa membuat mereka bersatu..
bunda juga sedih melihat hawa seperti itu, tapi kita juga sudah terlanjur menerima lamaran Esa ...!"
"ya , Winda juga kasihan sama Hawa...tapi gimana ya Bun, kita cuma bisa berdoa yang terbaik untuk mereka berdua...!"
ucap Winda memangku wajah nya di meja.
Dena mendengar kabar jika langit sakit, kemudian Dena pun mendatangi langit di apartemen.
langit langsung keluar saat mendengar Dena masuk ke dalam apartemen nya..
ia tidak mau Dena masuk kedalam kamar dan melihat foto mesra mereka terpajang di atas ranjang.
"kamu sakit.....?"
ucap Dena duduk di sofa, terlihat Zaki sedang menyeduh kopi untuk nya sendiri.
"udah mendingan Mi..."
ucap Langit tanpa menoleh pada Dena.
"Mi.... Langit mau balik ke Amrik..!"
"kenapa....?"
"Untuk apa di sini...?
mungkin lebih baik di Amrik..!"
"apa karena perempuan itu?
mami tuh gak ngerti langit, perempuan tuh banyak, tapi kenapa kamu masih saja terpaku pada perempuan yang sudah memilih pria lain..!"
"ya ,tapi hawa seperti itu karena mami... kenapa sih mi langit tuh gak pernah merasa kan kebahagiaan sedikit aja....!"
ucap langit tanpa menoleh pada Dena.
"mami tuh sakit... kalau kamu ke Amrik siapa yang memegang kendali perusahaan mami di sini...!"
"mami pasti sembuh...!"
ucap Langit kemudian masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.
Zaki sendiri acuh tak menghiraukan Dena yang mematung sendiri.
Dena mengepalkan tangannya melihat foto foto Langit tadi malam bersama Hawa, anak ini yang menyebabkan langit nya seperti itu.
"Hawa.... lihat saja, aku akan memberikan kamu kejutan di malam pertunangan kamu dengan Esa, ternyata selama ini kamu tak mengindahkan peringatan ku...berani kamu bermain main dengan ku..!"
ucap Dena dengan penuh kebencian, tak sadar dengan kondisi kesehatan nya yang semakin menurun.
bersambung.
__ADS_1