
Arumi termenung memikirkan ucapan Sang kakak tentang Surya yang ingin meminang nya.
Surya memang baik, akhir akhir ini surya juga rajin ke masjid dan mengikuti acara pengajian yang di adakan setiap malam Jumat di masjid.
"kamu masih pantas berumah tangga Arumi, kakak tahu Surya itu pria yang baik meskipun dia punya masalalu yang kurang baik tapi kakak tahu kesungguhan nya memperbaiki diri kembali ke jalan yang benar...."
ucap abu Haidar memutar di benak nya.
"gimana ya apa Al mengizinkan jika aku menikah lagi?"
ucap Arumi menatap Poto sang putra sulung yang berkuliah di Jakarta.
Beberapa bulan ini putra nya memang tidak pulang Karena sibuk mengerjakan skripsi untuk kelulusan nya nanti.
"Kenapa Bu?"
ucap Winda membuyarkan lamunan nya.
"win, menurut mu bagaimana tentang ayah nya hawa?"
ucap Arumi tanpa segan meminta saran pada putri nya itu.
beberapa waktu ini mereka memang dekat dengan hawa dan surya,Winda juga tahu bagaimana keseharian Surya dan hawa.
"baik, sopan! seperti hal nya hawa pak Surya tidak neko-neko, hawa juga baik, bunda suka?"
tanya Winda menyelidiki.
"bagaimana jika beliau menjadi ayah mu win?"
tanya Arumi langsung pada pokok bahasan.
"tidak apa apa, kalau bunda bersedia dan suka, Winda tidak akan melarang karena suatu saat Winda juga akan pergi kelak jika sudah berumah tangga, bukan maksud mengabaikan bunda tapi mungkin kebersamaan kita tak akan lagi sama,...dan Winda berharap saat Winda atau kak Al menikah,bunda punya seseorang yang menemani bunda hingga tua!"
ucap Winda senyum memeluk sang ibu.
Arumi tersenyum, jika seperti itu ia tinggal berbicara dengan Al nanti di telpon.
"assalamualaikum Al....?"
ucap Arumi menelpon putra sulung nya itu.
"walaikumsalam Bun, gimana bunda sehat...!"
ucap Alfarezi di sebrang sana.
"sehat nak, gimana kabar kamu?"
"baik, Skripsi nya hampir selesai bun?
ada apa Bun?"
"begini Al,bunda mau bicara sesuatu sama kamu!"
"soal apa Bun, bicara saja Al akan dengarkan!"
"Al bagaimana jika bunda menikah lagi?"
ucap Arumi kemudian menceritakan semuanya dengan jelas.
Arumi tersenyum saat jawaban yang dilontarkannya oleh putra sulung nya itu sama persis seperti winda.
Arumi begitu bersyukur karena memiliki dua orang anak yang Soleh dan Solehah.
tujuh tahun yang lalu suami nya meninggal, beberapa kali ada yang datang melamar namun Arumi selalu menolak,tapi saat Abu Haidar sang kakak mengatakan maksud keinginan Surya, Arumi tergugah apa lagi melihat hawa.
selama ini mereka hidup dari penghasilan restoran keluarga yang memang sudah mereka rintis sejak lama,di tambah investasi sang suami di salah satu perusahaan yang membuat keluarga nya tak pernah kekurangan makan.
__ADS_1
sekecil apapun Rizky yang tuhan berikan selalu Arumi syukuri namun ada hal yang memang tak bisa di beli oleh uang,ya itu kesenangan batin.
"bismillah....!"
ucap Arumi menelpon sang kakak.
Surya tersenyum melihat Arumi berjalan bersama winda, entah kenapa Jantungnya berdetak kencang mengingat percakapan nya kemarin dengan ustadz abu Yang mengatakan jika Arumi bersedia menunggu pinangan nya.
"HM..ada yang jatuh cinta...!"
ucap hawa di belakang Surya.
"ah kamu bisa aja....!"
ucap Surya tersenyum menatap punggung hawa yang menjauh masuk ke dalam masjid.
Surya berencana meminang Arumi weekend ini, entah kenapa rasanya begitu gugup, seperti saat pertama kali hendak meminang perempuan, yaitu ibu nya hawa.
"assalamualaikum Bu...!"
ucap hawa senyum duduk di samping Arumi.
"walaikumsalam Hawa...!"
ucap Arumi mengusap pucuk kepala gadis itu.
rasanya seperti mimpi, tak menyangka jika sebentar lagi mereka akan menjadi keluarga.
Hawa juga senang karena sebentar lagi ia akan memiliki keluarga baru, semoga Bu Arumi bisa menjadi persinggahan ayah yang terakhir.
"wa, sebentar lagi kita akan satu rumah!"
ucap Winda terkekeh kecil, hawa hanya senyum menanggapi hal itu.
Winda baik, tapi ia tak pernah tahu siapa anak laki-laki Bu Arumi.
selama ini hawa tak pernah melihat potretnya dirumah, Winda bilang kakaknya itu tidak suka di Poto maka nya tak ada satupun Poto kakak sulung Winda di ruang tamu.
subuh itu ponselnya Terus berdering, terdengar suara adzan subuh berkumandang.
hawa mengambil ponsel yang berada di atas nakas.
terlihat Esa melakukan panggilan telepon.
"assalamualaikum... Hawa? sudah bangun?"
"walaikumsalam....bang, barusan Abang telpon!"
ucap hawa menguap, udara begitu dingin karena semalam hujan.
weekend ini Surya akan melamar Arumi, semua persiapan Untuk lamaran sudah siap.
"oh, kirain udah bangun dari tadi....!"
"belum,, semalam belajar sampai larut jadi ngantuk banget!"
"oh ya udah, kamu langsung ambil wudhu!"
"ya terima kasih Bang!"
ucap hawa.
hening tak ada yang bicara.
hawa menuggu Esa berbicara, begitu juga dengan Esa yang menuggu Hawa berbicara.
"bang ....!"
__ADS_1
"HM.....!"
"udah ya, hawa ke kamar mandi dulu!"
"ya sudah, hati hati hawa....!"
ucap Esa kemudian keduanya mengakhiri percakapan.
"kalau Esa lebih baik kenapa tidak...?"
ucapan Surya memutar di benak hawa, tapi untuk benar-benar menghapus nama langit bukan hal yang mudah.
selama ini Esa tak pernah henti menjalin komunikasi dengan nya,hal yang begitu ingin hawa lakukan dengan langit.
Esa menyebutkan nama hawa di setiap doa doa nya, dan hawa sendiri menyebutkan nama langit di setiap doa doa yang ia panjatkan kepada Allah SWT.
hanya waktu yang akan menjawab semua nya.
"bang, semoga kamu di sana baik baik saja!"
ucap hawa dalam hati, teringat pria yang kini tak pernah ada kabar.
sore itu mereka sudah bersiap, Surya di temani pak RT dan para jamaah masjid yang biasa berkumpul bersama, jarak rumah keduanya yang begitu dekat tak lantas membuat Surya bergegas pergi.
Surya bersikap tenang memasuki rumah tersebut bersama hawa dan yang lainnya.
"assalamualaikum....!"
ucap pak RT berada di depan.
"walaikumsalam....!"
ucap ustadz abu Haidar menyambut kedatangan tamu itu.
mereka langsung di persilahkan masuk,
"maksud kedatangan saya kesini, ingin melamar Ibu Arumi....!"
ucap Surya dengan lantang menuturkan keinginan nya itu.
tak perlu basa basi karena mereka semua mengetahui hal itu terlihat beberapa hidangan makanan sudah tersaji.
hawa tersenyum menatap wajah Arumi yang memerah.
"bagaimana Arumi,kamu mau menerima lamaran Surya?"
tanya Abu Haidar selaku sang kakak juga orang tua.
Arumi tersenyum menanggapi pertanyaan sang kakak.
"kalau senyum artinya di Terima...!"
ucap Abu Haidar lagi.
"Alhamdulillah....!"
ucap Surya senyum meraih pundak Hawa.
*
"ayah akan menikah lagi, tapi perempuan itu harus lebih menyayangi kamu...ayah tak ingin memberikan kamu mimpi buruk lagi dengan menghadirkan ibu tiri yang jahat..."
ucapan Surya terngiang di telinga hawa,Arumi itu baik. hawa percaya bahwa hawa bisa menjadikan Arumi seperti ibunya sendiri.
setelah Arumi menerima lamaran Surya, mereka memutuskan untuk menikah dua Minggu yang akan datang, karena Arumi ingin menuggu Putra sulung nya itu pulang, agar bisa hadir di acara pernikahan nya dengan Surya.
"ayah, semoga semua berjalan lancar sampai hari H...."
__ADS_1
ucap hawa mendoakan sang ayah bersama ibu Arumi.
bersambung...