
langit menyembul dari air ketika dirasa nafasnya tersengal,tak sanggup lagi berada di bawah air.
keadaan saat ini membuat nya begitu tersiksa,ia ingin sekali bertemu dengan hawa.merengkuh tubuh gadis itu dan memeluk nya erat.
tiga tahun ia berada di Indonesia,dan weekend ini ia harus kembali ke Amrik.
tapi bagaimana dengan hati nya?
kenapa hawa memutuskan hubungan mereka secara sepihak? apa gadis itu benar benar tidak ingin memperjuangkan cinta nya?
hal itu benar benar membuat langit kecewa.
langit terdiam di tepi kolam, mengingat masa lalu saat bersama dengan Hawa.
ternyata benar, apa yang di jalani memang tidak semudah itu."apa aku harus menyerah dan pergi?"
tutur langit sendiri.
"Lang ..... !"
ucap Ibra membuyarkan lamunannya.
"eh Lo...? kenapa?"
ucap langit naik ke atas permukaan.
"ngapain Lo ngelamun terus?
mikirin Hawa?"
ucap Ibra duduk di kursi menghadap kolam renang.
"apa gue harus nyerah bra?
hawa bilang dia tidak mau melanjutkan hubungan kita?"
"udah lah Lang, jangan mikirin itu terus?
Lo mendingan mikirin masa depan aja deh!
setelah sukses Lo bisa cari dia.. kalau jodoh gak akan kemana lang..!"
"gue justru takut, kalau gue jauh dari dia, bisa aja kan dia Sama cowok lain?"
"ya itu berarti hawa bukan jodoh Lo... cewek banyak Lang? kenapa Lo harus terpaku sama satu cewek?
Lo tuh bisa dapat cewek Mana aja yang Lo mau?"
"ya, gue tahu tapi hati gue terlanjur menginginkan dia bra... jujur gue sedih banget waktu hawa Nolak gue!
gak ada satu cewek pun yang nolak gue, tapi di saat gue benar benar sayang sama cewek, gue curahkan semua rasa cinta gue sama dia, tapi dia malah nolak gue..!"
ucap langit menatap air yang jernih di dalam kolam renang.
"ya gue tahu, tapi sekarang Lo mau gimana?
Lo mikirin dia disini?apa hawa disana juga mikirin Lo?
dunia ini tidak selebar daun kelor, cewek banyak!
Lo harus tunjukkan sama hawa, langit yang dia tolak itu gak akan tumbang karena penolakan nya, laki laki harus kuat Lang..."
"gampang Lo ngomong... kalau masalah perasaan gue gak bisa seperti itu, gue gak bisa!
gue tuh sayang banget sama Hawa!"
"ya udah terserah Lo... mendingan sekarang kita main putsal yu?!"
"ya udah...gue mandi dulu!"
ucap langit kemudian pergi ke dalam rumah.
***
Hawa terdiam menatap jendela kaca apartemen, terlihat gedung gedung tinggi menjulang menjadi pemandangan kota Jakarta.
hawa terpaku pada sebuah paper bag berwarna coklat yang diberikan tadi oleh Esa.
"assalamualaikum... bang,mba Mimin..!"
__ADS_1
ucap hawa mengahampiri mereka berdua yang sedang mengepak barang, selepas Dzuhur hawa kembali ke ruko bertemu dengan Sarah.
"walaikumsalam hawa.....!"
ucap Mimin tersenyum menghampiri Hawa.
"bang, ibu udah datang?"
ucap hawa bertanya pada esa yang tersenyum menatap nya.
"belum, lagi di jalan.. tunggu sebentar ya hawa..!"
"ya Bang, ya udah hawa bilang dulu sama ayah!"
ucap hawa Kemudian berjalan menghampiri Surya.
tak lama hawa kembali setelah berbicara dengan Surya, terlihat Surya melajukan mobilnya entah kemana?
"ayah kamu mau kemana wa?"
"oh itu..ayah ada urusan sebentar, nanti kesini lagi jemput hawa!"
ucap hawa duduk di dekat Esa yang sedang berdiri di samping lemari.
Esa tersenyum melihat tingkah laku gadis polos itu,ia pasti akan merindukan masa seperti ini.
esa pun terperangah dengan pemikiran nya, kenapa ia harus berpikir seperti itu?
sebenarnya apa yang terjadi dengan hati nya?
tak lama Sarah turun dari mobil bersama Rizal sang suami.
"hawa.....!"
ucap Sarah saat tiba di ruko dan melihat hawa tersenyum melihat nya Datang, namun senyum nya tertahan saat melihat seorang lelaki yang wajah nya mirip dengan langit.
"kamu menuggu saya?!"
ucap Sarah mengahampiri Hawa.
namun hawa tidak menjawab ia malah memperhatikan Rizal yang berbicara dengan Esa.
"eh ..... maaf Bu!"
ucap hawa tersentak saat Sarah memegang tangan nya.
"kok mirip sih, apa cuma kebetulan Saja!"
ucap hawa sendiri dalam hati.
"ini gajih kamu selama kerja di sini hawa!
ibu senang punya pekerja seperti kamu yang rajin dan cekatan...esa sudah membicarakan soal kamu dengan saya, semoga kelak Kita bisa bertemu lagi ya hawa....!"
ucap Sarah saat mereka berada di ruang kerja Sarah.
Sarah tersenyum mengingat percakapan nya dengan Esa semalam.
"hawa tuh mau berhenti kerja mi, katanya sih mau pindah ke Kalimantan!"
"oh gitu....ya udah nanti mami ke ruko esa..!"
Sarah memperhatikan esa yang tampak termenung sendiri.
"kamu suka sama Hawa?"
ucap sarah membuat Esa langsung menoleh.
"HM...... suka mi, hawa anak yang baik dan rajin!"
ucap Esa berkata jujur karena memang seperti itu adanya, untuk selebihnya Esa perlu mendalami perasaaan nya seperti apa pada gadis polos itu.
"mami juga suka, hawa itu anak nya tidak neko-neko, rajin dan mandiri..!"
Esa menoleh lagi dan melihat Sarah yang sedang tersenyum.
"berdoa saja, kalau jodoh tidak akan kemana Esa?!"
ucap Sarah kemudian berlalu meninggalkan Putra sulung nya sendiri.
__ADS_1
**
"terima kasih Bu, selama ini Bu Sarah sudah menerima hawa disini.hawa tidak akan melupakan kebaikan kalian di Ruko ini...."
ucap hawa kemudian berpamitan.
"ya hawa...baik baik ya kamu disana, semoga kelak kita bertemu dengan status yang berbeda"
"HM... maksud nya?"
Sarah tak menjawab malah terkekeh kecil sambil merangkul bahu hawa berjalan keluar.
kemudian hawa pamit pada Mimin dan juga Esa.
"hawa...ini untuk kamu!"
ucap Esa memberikan sebuah paper bag berwarna coklat.
"HM...ini apa bang?"
"buka nya nanti saja kalau kamu sudah sampai di apartemen....!"
ucap esa tersenyum.
hawa memang mengatakan Jika ia akan tinggal di apartemen sang ayah dua hari ini sebelum ia pergi ke Kalimantan weekend ini.
"terima kasih bang .....!"
**
Hawa membuka paper bag tersebut dan melihat isi nya, sebuah gamis cantik berwarna merah maroon senada dengan warna kerudung segitiga yang berada di dalam nya.
"hijab bukan hanya melindungi kamu dari panasnya sinar matahari, namun juga melindungi kamu dari panasnya api neraka....
semoga bermanfaat...."
kata kata tertulis dalam kertas segi empat bercorak bunga mawar.
hawa membeku mengingat kejadian tadi, Esa tersenyum menatap kepergian nya.
"semoga kita bisa ketemu lagi ya hawa...."
kata terakhir yang Esa ucapkan Sebelum ia pergi.
"terima kasih bang, Hawa akan pakai nanti...."
ucap hawa sendiri sambil tersenyum, sosok pria yang sudah hawa Anggap seperti kakak sendiri.
**
langit meminta Ibra untuk mampir ke Ruko, entah apa yang terjadi dengan Dena?
kali ini Dena membiarkan langit pergi tanpa dua body guard yang selama ini menjaga nya.
"mba... maaf apa hawa ada?"
ucap langit pada Mimin yang sedang mencatat barang belanjaan.
"langit.......?"
"ya...saya mau ketemu Hawa?!"
"ya tapi hawa sudah tidak bekerja di sini lagi... tadi siang hawa pergi dengan ayah nya...!"
langit terdiam mendengar penuturan Mimin tentang kekasih nya yang telah pergi.
"kemana Mba?"
"kalau tidak salah...hawa akan pindah ke Kalimantan...!"
ucap Mimin kemudian di angguki oleh langit yang langsung berjalan menghampiri Ibra di motor.
"kenapa Lang?"
tanya Ibra melihat wajah langit tampak kecewa.
"hawa pergi............!"
bersambung...
__ADS_1