
Hawa mencoba melupakan penuturan Dena tadi, karena ia masih memiliki dua pasien yang harus ia tangani.
waktu berjalan begitu cepat tak terasa waktu sudah menunjukkan waktu asar, pekerjaan nya pun sudah selesai.
"dokter.....!"
"kenapa san....?"
"itu ponselnya berdering....!"
hawa langsung menoleh melihat ponselnya, terlihat Esa melakukan panggilan telepon.
"assalamu'alaikum bang....?"
"walaikumsalam...mau Abang jemput atau gimana?"
"jemput hawa di rumah Sakit Bang!"
ucap hawa yang sudah mengambil keputusan untuk menerima lamaran Esa.
seperti ucapan Dena bahwa menggapai langit hanya sebuah mimpi. "apa karena langit di jodohkan ia tak pernah mencari ku?"ucap hawa sendiri dalam hati, tapi jika ia diberikan kesempatan untuk bertemu dengan langit, maka ia akan tanyakan pada nya tentang semua itu , apapun nanti kenyataan... setidaknya ia tidak hidup dengan tanda tanya.
"ya udah, kamu tunggu di sana ya!"
"ya bang......."
"Sebenarnya... ibu-ibu tadi itu salah tempat atau memang bermasalah dengan dokter?
maaf dok atas pertanyaan saya...!"
ucap Sani yang sejak tadi penasaran dengan kejadian dua jam yang lalu.
"kita punya masalah di masa lalu san, cerita nya tuh panjang, lama kalau di ceritakan.. intinya dia benci sama aku karena aku anak dari seseorang yang membuat nya sakit hati!"
ucap hawa membuka jas berwarna putih nya itu.
"oh gitu......!"
ucap sani membulat kan bibir nya.
"kita sholat berjamaah di masjid yuk..!"
ajak hawa pada Sani.
"ayo dok....!"
ucap Sani Kemudian berjalan beriringan bersama hawa menuju masjid.
**
Sore ini langit mendatangi apartemen yang dibeli nya kemarin, rasanya jengah dengan sikap Dena yang terus meminta nya untuk menerima perjodohan dengan Violla.
langit memutuskan untuk tinggal di apartemen itu, dengan alasan ingin lebih dekat dengan kantor.padahal alasan sebenarnya adalah ia malas berdebat dengan dena.
"apartemen nya bagus, nyaman lagi"
ucap lili yang menemani Ibra melihat lihat apartemen baru milik langit.
"wah....." ucap lili tersenyum melihat sebuah Poto berukuran besar di atas kepala ranjang.
yang menampakkan Poto langit tengah memeluk hawa dari belakang sambil tertawa, terlihat saat itu keduanya tengah bahagia.
"kapan Lo cari hawa, gue denger dia udah balik dari London...."
ucap Ibra membuat langit menoleh seketika.
__ADS_1
"Lo tahu dari siapa!?"
"gue tahu dari adik nya lili nih, dia kan kenal sama Winda.. Winda itu saudara tiri nya Hawa"
"ya itu benar, aku juga tadi nya tidak tahu cuma kemarin kemarin dengar percakapan Yuni sama Winda, sedikit banyak menceritakan tentang hawa yang sudah kembali dari London, dan sekarang tuh hawa Udah jadi dokter..
aku bisa kok minta alamat nya Winda dari Yuni kalau kamu mau lang!"
"boleh deh .....aku coba temui hawa!"
ucap langit, karena ia sangat merindukan gadis itu.
setelah itu lili menelpon adiknya untuk meminta alamat hawa, tak lama kemudian Yuni mengirimkan pesan pada lili yang berisi alamat hawa.
"nih....gue kirim Lang, semoga Lo berhasil..gue harap kali ini Lo temui Hawa, apapun yang terjadi Lo harus tanya langsung sama Hawa, jangan mundur sebelum berperang...!"
ucap lili dan Ibra yang senyum menatap langit yang menatap ponselnya.
kedua nya sudah menikah, beberapa tahun yang lalu.namun Ibra selalu meluangkan waktu untuk sahabat nya itu, lili juga tak pernah keberatan jika langit meminta Ibra menemani nya bermain bola, lepas dari itu langit juga tahu batasan pada Ibra yang sudah berumah tangga.
***
Esa senyum melihat hawa berjalan menghampiri nya, terlihat alisnya Masih basah karena air wudhu, Gadis itu memang jarang memakai make up seperti kebanyakan gadis lainnya.
"assalamualaikum...bang!"
"walaikumsalam.... hawa!"
kedua nya sama sama diam dengan pikiran masing-masing.
"bang......!"
"hawa.....!"
ucap kedua nya bersamaan, keduanya terkekeh kecil mendengar hal itu.
"ya udah bang, bismillah aja bang....!"
"bismillah itu artinya.....?"
hawa tersenyum mengangguk.
"Alhamdulillah.....!
ya udah masuk tuan putri...!"
hawa terkekeh kecil mendengar penuturan Esa, mungkin lebih baik di cintai dari pada tersiksa karena mencintai.
malam itu Surya begitu senang saat mendengar penuturan Hawa jika keluarga Esa akan datang malam ini untuk membicarakan masa depan mereka, Arumi memasak banyak makanan di bantu oleh satu orang pembantu.
"kamu udah yakin wa ...?"
ucap Winda duduk di hadapan hawa yang sedang memakai kerudung segitiga berwarna hijau daun senada dengan gamis cantik nya.
"mungkin ini yang terbaik........!"
ucap hawa kemudian menceritakan kejadian di rumah Sakit pada Winda.
"astagfirullah....kok tega sih perempuan itu bicara seperti itu wa..?"
ucap Winda geleng kepala.
"ya , tapi kamu jangan cerita soal ini sama ayah dan ibu, Aku tidak mau mereka khawatir....."
ucap Hawa, namun tanpa sengaja arumi mendengar percakapan mereka berdua karena pintu terbuka sedikit.
__ADS_1
"hawa.....Tamu sudah datang,ayo keluar!"
ucap Arumi kemudian meninggalkan kedua gadis yang berada di dalam kamar itu.
Sarah langsung memeluk hawa saat keduanya bertemu, hawa merasa bahagia Karena Sarah yang selalu bersikap baik padanya, benar kata Surya.
mereka langsung berbicara pada pokok pembahasan,Minggu yang akan datang keduanya akan bertunangan setelah satu bulan baru lah keduanya melangkah ke pelaminan.
setelah itu mereka makan malam bersama,hawa sendiri lebih banyak diam, memperhatikan Sarah dan arumi yang terus membahas acara untuk Minggu depan.
"ya Allah, semoga ini keputusan terbaik...
langit maafkan aku yang berhenti berharap, meski sesungguhnya hati kecil ku menanti mu..." ucap hawa dalam hati nya.
setelah selesai berbincang mereka memutuskan untuk pulang,dan menunda obrolan nya lain waktu.
langit menepikan mobilnya di depan rumah Hawa, terlihat beberapa orang tengah berbincang di teras rumah.
langit ingat mereka, pria dan perempuan yang waktu itu bersama hawa di mall.
hatinya bergetar saat melihat hawa berdiri di samping pria itu, pria yang dulu sering kali bersama Hawa, seperti nya mereka tengah mengadakan pertemuan keluarga.
langit tak kuasa menahan kembali kekecewaan nya atas kenyataan itu, rasanya tak sanggup untuk menemui gadis itu.
apa yang hendak ia katakan jika tiba-tiba ia datang ke rumah itu, langit sendiri tahu jika Surya tidak menyukai nya.
langit melajukan mobilnya menuju apotek,ia harus membeli keperluan nya.
***
"Bun...hawa mau ke apotek sebentar,ada yang mau hawa beli..."
ucap hawa saat Esa dan keluarga nya sudah pulang, hawa keluar menghampiri kendaraan roda dua nya.
"mau aku antar?"
tanya Winda.
"boleh deh, ayo win...!"
ucap hawa menyalakan mesin motor nya.
tak lama mereka sampai di apotek yang tak jauh dari perumahan tersebut, Winda berjalan lebih dulu membiarkan hawa memarkirkan motornya.
tak menyadari jika langit berjalan ke arah nya dengan tergesa.
hawa menoleh pada bungkusan plastik yang terjatuh tak jauh dari nya, sambil melihat pemilik nya yang berjalan tergesa menuju mobil.
"mas... tunggu!"
ucap hawa sambil melihat obat yang berada di dalam plastik itu.
"mas....... obat nya jatuh!"
ucap hawa yang menautkan kedua alisnya melihat obat tersebut.
"mas.......!"
langit menoleh saat seseorang memanggil dengan jarak yang cukup dekat.
keduanya sama sama membulat kan matanya saat kedua pandangan mereka bertemu.
"bang....kamu!"
ucap hawa lirih, jantung nya berdetak kencang.
__ADS_1
keringat dingin tiba tiba mengucur di pelipis nya.
bersambung.