Langit Hawa

Langit Hawa
tergoda.


__ADS_3

Esa memperhatikan hawa yang sedang melamun, tangan nya tetap bergerak ke belakang dan ke depan menyetrika kemeja berwarna biru muda.


pikirkan hawa tak lepas dari sosok langit, Hawa melihat beberapa siswa yang mengunggah foto mereka bersama langit, belum soal video yang entah siapa pengirimnya.


hal itu seakan menyadarkan hawa, bahwasanya ia dan langit jauh berbeda, langit di Kelilingi cewek cewek cantik yang berebut ingin mendapatkan perhatian nya, kalau Violla tak usah di tanya lagi.


Apa pantas ia bersikap egois mempertahankan hubungan nya yang tak jelas itu?


hal itu hanya akan membuat nya sakit Sendiri.


mungkin lebih baik menyerah lagi pula ia akan pergi jauh.


"hawa.....!"panggil Esa membuyarkan lamunannya.


"HM.....!"


ucap Hawa menoleh ke arah suara.


"jangan melamun, kamu lagi nyetrika loh!"


ucap Esa tersenyum mendekati gadis berambut keriting itu.


"ya maaf bang,hawa nanti mau ketemu sama Bu Sarah,bisa gak Bang?"


Hawa hendak memberi tahu tentang dirinya yang akan berhenti bekerja di laundry itu.


"kamu mau Ambil gaji!?"


tanya Esa semakin dekat.


"bukan Bang, hawa mau berhenti kerja disini!"


ucap Hawa membuat Esa tertegun sejenak.


"Kenapa berhenti? kamu gak betah disini?"


"bukan bang, tapi hawa mau pindah ke Kalimantan ikut Ayah!"


"emang kamu orang Kalimantan wa?"


ucap Mimin yang mendengar percakapan mereka.


"bukan,ayah ada bisnis disana, sebenarnya Hawa betah disini, tapi hawa gak punya keluarga di Jakarta!"


"kita disini udah seperti keluarga hawa!"


ucap Esa tak ingin gadis itu pergi jauh.


"bang Esa betul wa,aku juga asli orang Bandung, aku merantau disini gak ada keluarga!"


"ya, tapi kalau masih daerah Jawa sih Mungkin hawa akan tetap disini, tapi kalau daerah luar Hawa gak mau kak, Hawa bingung nanti kalau ada apa-apa, karena Hawa gak mungkin terus mengandalkan orang lain.


Hawa udah biasa kok, berpindah tempat!"


ucap Hawa tersenyum paksa.


hidup ku seperti burung yang terbang ke sana ke mari dengan berbagai alasan, entah sampai kapan? dimana nantinya aku singgah.aku pun tidak tahu.


sebenarnya hawa tak ingin pergi,namun hawa juga tidak mau jauh dari surya, karena ia belum memiliki keberanian untuk berpisah sejauh itu dari Sang ayah.


hubungan nya dan langit pun tak ada kejelasan.


saat ini Hawa hanya ingin menata masa depan nya, meraih mimpi dan cita-cita menjadi orang yang bisa dihargai oleh orang lain karena selama ini ia sudah banyak di hina orang.


Esa dan Mimin membisu mendengar penuturan Hawa, Esa pun menilik ada kesedihan yang terpancar dari matanya.


rasanya ingin menahan nya untuk pergi, namun ia tidak punya alasan karena sebentar lagi ia pun harus kembali melanjutkan kuliah nya.

__ADS_1


Namun Esa juga merasa aneh kenapa ia bisa berpikir untuk menahan gadis itu untuk pergi?


Esa membuang nafas,sibuk dengan pemikiran nya sendiri, memahami hati dan pikiran nya sendiri. tentang keinginan nya yang tiba-tiba itu.


**


Ibra terkekeh kecil mendengar cerita Langit tentang percakapan nya dengan Aqila barusan.


gadis cantik itu ternyata begitu berani.


"gila bikin gue ngakak"


ucap Ibra kemudian tertawa.


langit pun ikut tertawa melihat gelak tawa sahabat nya itu.


"udah gebet aja lang....!


cantik kok..... imut imut gemes gitu!"


ucap Ibra kemudian melihat Aqila bersama kedua temannya memasuki kafe di mana langit dan Ibra singgah.


"tuh lihat...curi pandang!"


ucap Ibra terkekeh lagi.


langit melihat Aqila yang memang mencuri pandang pada nya, terlihat wajah nya bersemu merah.


"cantik sih, Tapi gue udah punya hawa! gue gak suka dia tuh centil,berani lagi!


gak kayak Hawa gue yang terkesan jual mahal waktu ketemu gue, nah dia terang terangan berharap bisa ketemu gue lagi!"


ucap langit memalingkan wajahnya dari Aqila yang melihat nya dari jauh.


"yah buat candaan aja lang, hiburan gitu dari pada bete mikirin cewek yang belum tentu mikirin Lo!"


gue yakin hawa juga pasti mikirin gue, gue tahu kalau hawa juga cinta sama gue,


prinsip gue sekali gue cinta,gue akan tetap mempertahankan nya, apapun keadaan nya"


ucap langit kemudian melihat Violla dan teman teman nya yang lain masuk ke dalam kafe tersebut, namun ia tak menghiraukan Violla yang menatap nya.


"tapi gimana Lang kalau misalnya si hawa justru minta pisah sama Lo?"


"gak mungkin...!"


"gak ada yang gak mungkin Lang, sesuatu bisa aja terjadi...Lo jangan mikirin manis nya doang!


jaga hati Lo juga, Lo harus bisa kontrol perasaan Lo...!"


"ya itu justru rasa cinta gue sama hawa semakin dalam...gue mau ajak dia kawin lari!"


"apa?Lo gila.....!"


"kayak gini aja gue tuh pusing, Hawa jauh dari gue, gue gak bisa bayangin kalau hawa seperti yang Lo bilang...gue mau bawa dia pergi!"


ucap langit dengan keinginan nya, cinta nya yang begitu dalam membuat nya takut kehilangan gadis berambut keriting itu.


"dasar bucin......!"


ucap Ibra menepuk pundak langit.


**


malam itu Esa melihat hawa yang sedang mengepak baju ke dalam plastik


sendirian,Mimin pergi ke luar untuk membeli makanan.

__ADS_1


"wa...aku udah bicara sama Mami soal kamu, nanti besok beliau ke ruko!"


ucap esa mendekati Hawa.


"ya bang..... terima kasih!"


ucap hawa dengan keringat di pelipis nya.


hawa mengambil ikat rambut dari saku celananya kemudian mengikat rambutnya tinggi di hadapan Esa yang mematung.


leher jenjang nya tampak putih berkeringat, namun hawa tak sadar dengan Esa yang mematung melihat nya seperti itu.


"hawa....!"


"HM...... "


"kamu sedang menggoda saya?"


ucap esa membuat hawa melongo tak mengerti.


"maaf, tapi hawa sedang mengepak baju, bukan menggoda.. apa yang membuat bang Esa berpikir kalau Hawa sedang menggoda bang Esa...!"


"hawa kenapa kamu begitu polos.....!"


ucap esa dalam hati, "atau aku yang memang tak bisa menahan diri ku untuk tidak tergoda dengan tingkah laku mu yang kamu anggap biasa!"


"hawa..boleh Abang bicara?"


"boleh..!"


"tapi jangan marah ya..."


ucap hawa menautkan alisnya, tak paham dengan apa yang Esa lontarkan.


"perempuan akan tampak mahal saat ia menjaga perhiasan nya... menjaga mahkota nya!"


"maksud nya?"


"hawa... apa ayahmu tidak pernah menyuruh mu menutup aurat!"


"apa?"


"ya, Hawa... kamu Tahu hijab itu pelindung untuk perempuan muslim yang sudah baligh..


hijab akan melindungi kamu dari laki-laki yang bukan muhrim, dengan kamu berhijab kamu juga menyelematkan laki laki dari dosa.."


hawa membisu mendengar penuturan Esa yang memperhatikan penampilan nya.


"sebenarnya tidak enak mengatakan hal ini, karena Abang gak ada hak apa apa!


tapi hawa Abang sayang menyayangkan jika kelak ada laki-laki yang berani macam macam karena melihat kamu.....!"


ucap Esa terhenti melihat hawa yang tampak memucat.


"hawa... jangan marah, Abang menasehati karena Abang peduli sama kamu hawa!"


ucap Esa tersenyum,


sebenarnya enggan membicarakan tentang itu dengan hawa, tapi Ada rasa khawatir dalam hati Esa, apa lagi sebentar lagi Hawa akan jauh dari jangkauan nya.


"gak apa-apa bang....HM, terima kasih sudah menasehati hawa bang!"


ucap Hawa menunduk pada pria yang mematung di hadapan nya.


hawa masuk kedalam, mencoba memahami ucapan Esa tadi.


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2