Langit Hawa

Langit Hawa
lebih giat.


__ADS_3

Hawa berjalan dengan langit yang memeluk nya dari belakang, entah kenapa pria ini selalu saja seperti itu jika keduanya hendak keluar dari kamar.


"bang, kamu kalau seperti ini bisa bisa pengantin nangis..."


ucap hawa menoleh ke arah belakang, terlihat langit terkekeh kecil.


karena sejak tadi Sarah sudah menelepon menuggu mereka.


"sebenarnya malas pergi ke pondok,apa lagi ini masih pagi sekali sayang...!"


ucap langit menoleh pada jam dinding yang menunjukkan pukul lima pagi, seperti rencana Sarah mereka berangkat ke pondok setelah sholat subuh.


karena Akad nikah akan berlangsung pada pukul sepuluh pagi, menghindari keadaan macet Sarah meminta mereka untuk bersiap siap setelah solat subuh.


"mana bisa seperti itu, yang mau menikah itu Abang nya....!"


"ya....!"


ucap langit menuntun tangan hawa keluar dari kamar.


hawa tampil cantik dengan dress muslim berwarna moccha Senada dengan kemeja milik langit, keduanya selalu tampak serasi.


terlihat Amora juga sudah menuggu mereka di depan pintu, Sarah yang meminta Amora untuk ikut ke acara pernikahan Esa dan Aqila.


Sarah banyak berbincang dengan Amora saat langit mengenalkan Amora sebagai seorang yang merawat nya dari kecil, banyak yang Amora cerita kan pada ibu kandung Langit.


keduanya menjadi dekat karena Sarah tak sungkan dan menganggap Amora sebagai keluarga nya sendiri, Sarah berterima kasih karena Amora Sudah merawat dan menemani langit dari kecil hingga besar.


"maaf Bu, lama menunggu!"


ucap hawa senyum menghampiri Amora.


"tidak apa-apa....mami mu sudah menelpon langit...!"


ucap Amora yang memainkan ponselnya.


"oke....mari Masuk tuan putri!"


ucap langit membuka pintu mobil untuk Hawa, di ikuti oleh Amora di depan bersama supir.


saat keluar dari gerbang terlihat beberapa mobil melewati nya, terlihat Sarah membuka kaca mobil.


"ya, ampun pengantin baru...!"


ucap Sarah menghentikan mobilnya di depan mobil langit.


"ya, Mi... Maaf lama...!"


ucap langit Terkekeh kemudian mengikuti dari belakang, tampak mobil Surya pun ikut dalam barisan. Sarah juga mengundang Arumi dan keluarga untuk ikut hadir ke acara akad pernikahan putra sulung nya.


Hawa terdiam saat kembali merasakan pinggang nya yang terasa nyeri, Perut nya pun sedikit keram.


apa ia akan kembali datang bulan?


"sayang kamu kenapa?"


ucap langit menyentuh tangan hawa yang dingin.


"pinggang hawa nyeri, mungkin........!"

__ADS_1


ucap hawa terhenti menatap wajah langit yang tampak menunggu lanjutan dari ucapan nya.


"tidak apa-apa....!"


ucap Langit memeluk istrinya itu.


"kalau itu terjadi, mungkin Allah meminta kita untuk bersabar...Ibra saja harus menunggu dua tahun, besok kita main ya kerumah Ibra dan Lili, kita kan belum lihat bayi mereka!"


ucap langit dan di angguki oleh hawa.


bersyukur memiliki langit yang tak pernah menuntut apa apa dari nya, justru langit lah yang tampak santai menikmati proses nya tanpa harus tergesa-gesa.


langit mengusap kepala istri nya yang berbalut pasmina berwarna capuccino itu hingga hawa terlelap dalam dekapan nya.


langit malas pergi karena menilik keadaan hawa yang sering kali mabuk perjalanan, hingga membuat langit merasa enggan untuk pergi ke tempat yang jalan nya naik turun dan berkelok-kelok.


"tidur....?"


ucap Amora menengok ke belakang.


"kalau tidak seperti ini, hawa selalu mabuk bu"


ucap langit dan di angguki oleh Amora yang kembali fokus kejalan.


setelah beberapa jam kemudian, hawa Terbangun dan melihat langit juga terlelap sambil memeluk nya.


perut nya terasa mual karena belum sarapan padahal Amora Membawa beberapa makanan untuk mereka berempat.


"kamu bangun..ayo tidur lagi..."


ucap langit Terkekeh melihat hawa yang memberangus.


ucap hawa, Amora menoleh ke belakang mendengar hal itu.


"di belakang banyak makanan, tadi ibu sengaja bawa untuk sarapan kita...!"


ucap langit dan Amora pun menoleh mendengar hawa yang mengatakan jika ia merasa lapar.


"ya, hawa....." ucap Amora senyum.


Langit mengambil satu Tupperware persegi panjang yang berukuran sedang yang di dalamnya terdapat sandwich isi sosis dan telur serta beberapa sayuran segar yang pembantu buatkan untuk mereka.


"jam berapa kita sampai bang?"


ucap hawa sambil memakan sandwich nya bersama langit.


"sebentar lagi....!"


ucap Langit melihat ke arah jalan yang memang menuju arah pesantren yang pasti akan membuat istri nya pusing.


benar saja selang beberapa waktu hawa sudah merasakan pusing dan memijat keningnya sendiri.


"kamu pusing....?"


hawa mengangguk kecil sambil menahan sesuatu yang seperti nya akan keluar dari mulut nya, dia memang seorang dokter tapi hawa tidak bisa menghindari keadaan seperti ini.


hawa membuang nafas kemudian mengoleskan minyak angin pada kening nya, memejamkan matanya dan bersandar pada langit.


"ini yang membuat Abang malas de, kasihan kamu suka mabok..!"

__ADS_1


"tidak apa-apa... Kita juga tidak mungkin tidak hadir di acara pernikahan Abang kamu!"


ucap hawa mendongak.


"lama kelamaan juga kamu akan terbiasa dengan perjalanan seperti ini Hawa, ibu dulu juga seperti kamu!"


ucap Amora tersenyum menimpali ucapan langit.


"apa kamu harus sering ke tempat dataran tinggi seperti ini...!"


"tapi kalau naik motor aku gak pusing Bang"


ucap hawa menilik langit yang tampak berpikir.


"harus nya kita tadi naik motor Saja ..."


ucap Langit mencium kening hawa.


tak lama mereka sampai di kediaman keluarga Aqila, terlihat tenda berwarna putih hijau menghiasi pekarangan rumah itu.


tampak megah seperti keinginan Esa, dan Sarah lah yang mendatangkan wedding organizer dan catering ke Acara resepsi itu.


hawa dan langit turun dari mobil, melihat beberapa orang yang berkumpul menuju tempat itu, Sarah menghampiri mereka untuk ikut mendampingi Esa menuju ke arah mempelai wanita.


"sayang...kamu kenapa?"


ucap Sarah menilik wajah hawa yang tampak pucat.


"biasa...!"


ucap langit memeluk istrinya dari belakang, namun hawa menyikut nya pelan karena di tempat itu banyak orang, tapi dasar langit tak segan melakukan hal itu.


Sarah terkekeh melihat ekspresi wajah langit yang menerima perlakuan itu dari hawa.


"kamu bang.......!"


ucap hawa lirih namun terdengar oleh langit.


"tak terbayangkan kalau kamu hamil, pasti seperti itu mual muntah...!"


ucap Sarah membuat hawa membeku.


"ya sudah ayo temani Abang mu...!"


ucap Sarah dan di angguki oleh keduanya.


"jangan pikirkan itu sayang, kita akan lebih giat berusaha....!"


ucap langit berbisik di telinga istri nya itu.


Hawa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat ekspresi wajah Langit yang membuat nya ingin tertawa.


Esa tampak tampan dengan toxedo berwarna putih nya, terlihat ustadz Ilham dan istri sudah menunggu di depan pintu masuk ke tenda besar itu.


Beberapa dayang dengan pakaian sopan menyambut kedatangan mereka,Esa menoleh pada langit yang justru sejak tadi malahan menggoda istri nya.


Esa menggeleng kan kepalanya melihat tingkah adik nya itu, di saat seperti ini masih saja bisa bercanda.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2