Langit Hawa

Langit Hawa
pahit.


__ADS_3

beberapa hari ini Hawa sudah bekerja di salah satu rumah sakit di kota tersebut, siang ini Esa datang menemui nya di rumah sakit.


"dokter, ada cowok cakep tuh di depan nyari Bu dokter?!"


ucap Sani, suster yang bertugas bersama nya.


"siapa?"


ucap hawa membuka jas kebesaran nya itu.


"mana Sani tahu.. cakep banget!"


"masa sih....?"


ucap hawa tersenyum melihat tingkah Sani.


Hawa menyembul keluar dan mendapati seorang pria yang membelakangi nya tengah menelpon seseorang.


"HM....!"


ucap Hawa berdehem.


"Sebentar......!"


ucap Esa berbalik membuat hawa mematung.


benar kata Sani, Esa tampak tampan dengan jas hitam nya.


"bang Esa....!"


"hawa...m, maaf dokter Hawa....?!"


ucap Esa senyum manis membuat hawa terpaku,Sani tersenyum di belakang hawa.


"calon suami ya dok...!"


ucap Sani, sontak membuat hawa langsung menoleh.


"duluan ya dok....!"


ucap Sani terkekeh melewati hawa dan Esa yang mematung.


"bang .....!"


"kita makan siang bareng yuk, Ada yang mau Abang bicarakan sama kamu!"


ucap Esa ditanggapi anggukan kecil oleh Hawa,


ia tahu apa yang akan Esa bicarakan.


teringat percakapan nya bersama Surya tadi pagi.


"hawa, pak Rizal dan bu Sarah ingin melamar kamu untuk Esa ....!"


Hawa membeku seketika mendengar penuturan Surya, sendok makan nya ia biarkan tergeletak di atas piring berisi nasi goreng seafood kesukaan nya.


"apa harus secepat itu,hawa juga baru bekerja dirumah sakit beberapa hari ini....!"


ucap hawa tanpa menatap wajah Surya yang tengah menatap nya.


"hawa, Esa itu sudah menuggu kamu selama tiga tahun ini, apa yang kamu ragu kan lagi?


Sarah juga begitu baik terhadap mu dan keluarga kita...!"


hawa menggigit bibir nya sendiri, menahan air matanya yang ingin jatuh,, bahwa San nya hawa belum siap untuk memulai semuanya dengan Esa, tidak ada yang salah dari Esa, yang salah itu dirinya sendiri.


mengapa masih saja terpaku pada masa lalu, rasa nya ingin berlari dari semua itu tapi kenapa rasanya berat sekali untuk melangkah meninggalkan nya.


"jangan bilang, waktu tiga tahun tidak cukup untuk membuat kamu melupakan langit, ayah bingung sama kamu hawa!


apa sih yang kamu harapkan dari anak itu?


apa selama tiga tahun ini dia mencari Kamu?


kenapa kamu terus terpaku pada masa lalu,coba buka pikiran kamu?"


"yah........!"


ucap Arumi menyentuh tangan Surya, mengehentikan ucapan nya pada Hawa yang diam mematung.


"ya sudah, Ayah atur saja semua nya!

__ADS_1


hawa pasrah.......!"


ucap hawa menahan air matanya.


Winda mengusap dokter cantik itu, Winda tahu apa yang dirasakan oleh saudara tiri nya itu, namun Winda juga mendukung Saran dari Surya untuk tidak mengharapkan seseorang yang sudah jelas jelas tidak ada kabar sama sekali.


*


"Hawa....!"


ucap Esa membuyarkan lamunannya, kini mereka berada di kafe yang tak jauh dari rumah sakit itu.


"ya,bang .....!"


ucap hawa menoleh pada Esa yang tengah memperhatikan nya.


"kamu mikirin apa?"


"tidak ada bang, kita pesan makanan?"


"udah, kamu tadi Abang tanya diam aja de...!"


tak lama pesanan makanan pun datang, hawa tertegun melihat makanan yang tersaji di hadapan nya.


Ayam geprek dan jus alpukat, Esa memesan makanan itu untuk mereka berdua.


"kamu suka kan Ayam geprek!"


"suka bang....!"


ucap hawa singkat, kemudian keduanya menikmati makanan tersebut.


"Hawa....!"


"ya, bang...!"


"Abang mau ngelamar kamu?"


hawa mematung mendengar penuturan Esa yang tanpa basa-basi.


"Abang mau serius Sama kamu,kamu mau kan jadi istri Abang?"


tanya Esa yang menilik wajah Hawa yang tanpa ekspresi.


Hawa menarik nafas dalam-dalam kemudian membuangnya.


"bang, hawa butuh waktu untuk menjawab semua itu...!"


"kapan kamu bisa jawab lamaran Abang?


kalau Abang minta sore ini bagaimana?"


hawa tertegun menatap Esa yang menatap nya penuh harap.


"Mm ... kenapa harus sore ini?"


"ya, kalau jawabannya iya, malam ini juga Mami akan datang kerumah kamu Untuk melamar kamu!"


"oh gitu, ya udah kasih hawa waktu sampai sore!"


ucap hawa berpikir, apa cukup waktu beberapa jama ini ia pakai untuk menentukan masa depan nya.


"ya udah....!"


ucap Esa senyum.


setelah selesai makan,Esa mengajak hawa untuk menunaikan shalat Dzuhur bersama di masjid yang terletak tak jauh dari rumah sakit, supaya nanti hawa bisa langsung masuk ke dalam rumah sakit tersebut.


hawa termenung sendiri menatap punggung yang menjadi imam nya sholat.


hati nya bergetar tak kala mengikuti gerakan Esa mengimami nya.


"ya Allah....tuntun aku untuk memilih jodoh ku atas izin MU, tolong berikan aku petunjuk!"


ucap hawa berdoa dalam hati nya setelah selesai solat.


"ya udah, Abang kembali ke kantor ya, nanti Abang jemput atau gimana?"


tanya Esa saat hendak menuju parkiran.


"nanti Hawa telpon aja bang...!"

__ADS_1


"ya , udah! kamu hati hati ya..Abang pergi!"


ucap Esa kemudian pergi meninggalkan Hawa yang mematung sendiri menatap punggung yang menjauh.


hawa berjalan dengan gontai di koridor rumah sakit, pikiran nya tak menentu memikirkan lamaran Esa, hawa masuk ke dalam ruangan nya, terlihat Sani sedang merapikan berkas berkas pasien.


"dokter......!"


"ya, Sani...apa kita masih ada pasien?"


"ada Dok, tiga orang lagi... setelah itu kita bisa pulang!"


ucap Sani mengamati wajah hawa yang tampak tidak bersemangat.


"Kenapa dok? masa Abis ketemu calon malah lemes gitu?"


ucap Sani terkekeh menggoda hawa.


"dia ngelamar aku san....!"


ucap hawa tanpa menoleh.


"Alhamdulillah.....! kapan Dok Acara resmi nya?"


"belum aku jawab!"


"loh kenapa dok? cowok cakep gitu! kenapa di anggurin dok....!"


ucap Sani meringis membuat Hawa terkekeh.


tak lama seseorang masuk membuat hawa membeku seketika.


"oh, jadi kamu sudah kembali?"


ucap Dena duduk di hadapan hawa yang mematung.


sani diam melihat keduanya berinteraksi.


"saya pikir dokter hawa itu bukan kamu, tapi ternyata kamu hawa?"


ucap Dena menatap hawa dengan tatapan benci.


hawa memang dokter penyakit dalam di rumah Sakit itu, tak menyangka jika pasien nya kali ini adalah wanita yang dulu mengusir nya dari rumah.


"silahkan.... saya periksa!"


ucap Hawa mencoba untuk profesional dalam bekerja, mengesampingkan kan masalah pribadi nya.


"saya tidak mau diperiksa sama kamu!"


ucap Dena dengan angkuh, membuat Sani menautkan kedua alisnya, sementara hawa dengan santai menanggapi.


"terserah Anda, kalau Anda tidak mau saya yang memeriksa keadaan Anda, besok anda bisa datang lagi dan menemui dokter Kinan yang sama seperti saya dokter ahli penyakit dalam"


ucap hawa dengan tenang karena tak ingin mempermasalahkan soal itu.


"dengar hawa ,sampai kapan pun saya tidak akan membiarkan kamu dengan langit.


langit itu sudah saja jodoh kan dengan Violla, jadi jangan bermimpi untuk menggapai langit..


satu hal lagi... kartu mati kamu ada di tangan saya, kalau kamu berani menemui langit, saya akan sebarkan video itu.....!"


ucap Dena pergi meninggalkan hawa yang mematung dengan mata yang memanas.


hati nya terasa dicabik mendengar penuturan Dena yang begitu pahit terdengar.


hawa duduk menyandar kan tubuhnya di kursi, air mata tak sanggup ia tahan lagi.


sani terdiam menatap dokter cantik itu terisak, sani mendengar jelas penuturan wanita itu.


"dokter.....baik baik saja?"


ucap Sani mendekat.


"astagfirullah aladzim....."


ucap hawa menghapus air matanya.


"ya Allah apa kejadian ini memberi ku petunjuk untuk berhenti mengharapkan nya.....!?"


"aku pernah merasakan kepahitan dalam hidup,dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia..."

__ADS_1


(Ali bin Abi Thalib)


bersambung.


__ADS_2