
Langit memperhatikan Hawa yang sedang memasak sarapan untuk mereka.mengingat kejadian dulu saat mereka bersama.
jika ia bisa berjalan seperti dulu Mungkin sudah melakukan hal yang sama.
memeluk istrinya itu dari belakang, namun hal itu tak mampu ia lakukan karena saat ini ia hanya bisa duduk di kursi roda.
"bang......"
ucap hawa menoleh, melihat langit yang tengah menatap nya.
"mau sarapan sekarang?"
ucap hawa mengahampiri langit merunduk menyamai posisi wajah mereka.
langit Tersenyum kemudian mengecup bibir istrinya singkat, hingga membuat hawa membeku.terlihat wajah nya memerah.
"aku merindukan saat-saat bersama kita..."
ucap langit menatap Hawa yang tanpa kerudung.
"kita tidak akan berpisah lagi..!"
ucap hawa memeluk suaminya dari belakang.
"kita sarapan ya...!"
ucap hawa beranjak mengambil sarapan untuk mereka berdua.
"Hawa bikin bubur....!"
ucap hawa duduk di samping langit dengan satu mangkuk bubur terisi penuh.
"satu berdua saja...!"
ucap hawa mulai menyuapi suami nya itu.
langit menilik hawa yang tersenyum memberikan nya suapan.
"rasanya seperti mimpi, aku masih tidak percaya dengan kenyataan ini..... semua yang terjadi lebih dari mimpi indah ku!"
ucap langit menyentuh pucuk kepala istrinya itu.
"hawa Juga merasa seperti itu, rasanya semua seperti mimpi!"
ucap Hawa terkekeh saat langit mencium pipi nya.
"Oh ya, hawa lupa!
cincin putih kita ada di rumah ayah.. nanti Hawa ambil!"
ucap Hawa mengingat cincin pertama yang langit berikan dulu.
"memang masih ada..?"
"ada, meski sempat hilang tapi Alhamdulillah ketemu lagi...!
seperti kamu, sempat hilang tapi ketemu lagi!"
ucap hawa terkekeh, langit Tersenyum mendengar penuturan hawa kemudian mencubit pipi nya gemas.
"terima kasih Tuhan, atas kebahagiaan ini..."
ucap Langit bergumam dalam hati sambil menatap wajah istrinya itu.
"oh ya, coba kamu lihat amplop putih yang berada di nakas, itu dari bang Esa...!"
ucap langit teringat pada amplop putih yang diberikan oleh Esa.
hawa beranjak mengambil amplop tersebut, kemudian memberikan nya pada langit.
"buka aja yang..."
ucap Langit meminta Hawa membuka nya.
Hawa tertegun saat melihat isi dalam amplop itu,dua buah tiket penerbangan tujuan Lombok.
"nanti ya kita kesana nya....!"
ucap langit dan di angguki oleh Hawa.
dulu langit memang berniat mengajak hawa main ke laut, tapi keadaan saat ini tak memungkinkan untuk pergi.
"ya udah..kita lanjut makan ya bang!"
ucap hawa kembali menyiduk bubur ayam yang masih tersisa.
tak lama terdengar ponsel Langit berdering, hawa beranjak pergi mengambil ponsel itu.
"Mami telpon...!"
ucap hawa memberikan nya pada langit.
__ADS_1
"halo, assalamualaikum Sayang, mami Dena meninggal..!"
ucap Sarah membuat Langit membeku seketika.
tadi pagi pagi sekali, Suster yang khusus menjaga dena memberi kabar tentang kepergian Dena.
"langit sayang....!"
"ya mi, langit dengar!"
ucap langit menunduk tak mampu menahan air matanya.
"mami jemput kalian ya!"
ucap Sarah kemudian menutup telponnya.
"bang...ada apa?"
ucap Hawa berjongkok di hadapan Langit.
"mami Dena meninggal....!"
ucap langit Terisak tak mampu menahan kesedihannya atas kepergian wanita yang bersama dengan nya dua puluh satu tahun ini.
"inalillahi....!"
ucap hawa kemudian membawa langit ke dalam pelukan nya.
"kamu sabar ya bang, semua akan kembali pada yang menciptakan NYA..!"
ucap hawa dan di angguki oleh langit yang terisak memeluk pinggang hawa.
***
langit terdiam menatap tanah merah yang menggunduk, rasa pilu menyelimuti hati nya.
rasanya baru kemarin kita berbicara, tapi kini aku harus menerima kenyataan bahwa perempuan yang aku anggap ibu ku sendiri, telah pergi untuk selamanya.
"Mi..."
ucap langit sambil menabur bunga bersama Hawa.
"kamu yang ikhlas ya bang, supaya mami Dena tenang.."
ucap Hawa memberikan kekuatan untuk suami nya itu.
semua hadir termasuk Surya dan Arumi yang datang melayat, awal nya Surya tidak mau, namun Arumi bersikeras untuk pergi.
Arumi memperhatikan langit yang duduk di kursi roda dengan mata yang berkaca-kaca.
hawa menghampiri Surya bersama langit saat pemakaman sudah selesai, Sarah dan Rizal yang mengurus semua nya.
"ayah...!"
ucap hawa mencium tangan Surya.
"bagaimana kabar kalian!?"
ucap Surya berusaha untuk melupakan semuanya.
"baik...ini ada surat untuk ayah, dari mami Dena!"
ucap hawa memberikan sebuah amplop putih pada Surya yang berdiri di samping Arumi.
saat tiba di rumah sakit, Suster ana mengajak nya berbicara sebentar,hawa membiarkan langit bersama Sarah.
Esa dan Rizal yang mengurus semua keperluan untuk kepulangan Dena dari rumah sakit.
"maaf dokter Hawa, kemarin saya lupa, almarhumah ibu Dena menitipkan surat ini.
sebelum beliau koma,, beliau berpesan untuk memberikan nya pada ayah anda!"
ucap suster ana memberikan sebuah amplop putih.
"ya, terima kasih suster ana, saya akan memberikan nya pada ayah!"
ucap hawa kemudian menelepon Arumi untuk memberitahu kabar duka itu.
"ya....!"
ucap Surya singkat menerima amplop itu.
"kamu mau pulang ke apartemen?"
ucap Arumi bertanya.
"tidak, hawa dan langit akan pulang kerumah Mami Dena karena rumah itu kosong!"
ucap hawa atas permintaan dena untuk yang terakhir kali nya, agar kelak jika ia tidak ada.
langit harus menempati rumah itu.
__ADS_1
terlihat Rizal dan Sarah menghampiri mereka,Esa terpisah karena membawa mobil sendiri.
"assalamualaikum..!"
ucap Sarah memeluk Arumi dan tersenyum pada Surya.
"walaikumsalam...!"
ucap Arumi membalas senyum Sarah.
"kita pulang sekarang sayang?"
tanya Sarah pada langit yang masih terlihat sedih.
"ya,mi Kita pulang sekarang saja..!"
ucap hawa dan di angguki oleh langit.
setelah itu mereka berpisah setelah hawa pamit pada Surya dan Arumi.
***
Surya terdiam menatap amplop berwarna putih itu, ia meminta Arumi menemani nya membuka amplop itu.
**
Aku yakin saat kamu membuka surat ini,aku sudah tidak ada di Dunia ini.
maafkan aku Surya, maaf untuk semua kesalahanku yang dulu hingga saat terakhir ku menghembuskan nafas..
aku hanya ingin kamu tahu, kamu adalah pria yang membuat ku tak ingin memiliki yang lain lagi, pria yang ingin aku jadi kan pelabuhan terakhir, namun karena Rasa cemburuku yang tidak beralasan Hingga membuat kita berpisah.
terima kasih untuk rasa yang tak pernah aku rasakan bersama pria lain... kamu yang terbaik, terakhir yang ku miliki.
aku mencintai mu......
Dena..
******
Surya termenung sendiri menatap tulisan tangan terakhir mantan istri nya itu, terakhir mereka bertemu adalah saat Surya mendatangi nya perihal video itu.
"jadi kan semua pelajaran hidup yah..."
ucap Arumi memeluk suaminya itu.
Surya memang baik, tak salah jika Dena sampai seperti itu.
mengenai hubungan nya dengan langit pun perlahan Surya melunakkan hatinya, Arumi meminta kakak nya untuk menasehati Surya perihal kehidupan yang tak bisa di sangka sangka, mencoba memahami keinginan sang putri,, semua yang terjadi dengan Hawa pun karena dirinya sendiri.
"semoga kamu tenang disana... Dena, maaf kan aku"
ucap Surya memeluk Arumi.
Surya sendiri sadar, ia banyak salah pada perempuan itu, padahal ia tahu seperti apa Dena, namun Surya malah membiarkan masalah itu berlarut hingga perceraian menjadi pelarian nya.
%%%
hawa dan langit masuk ke dalam kamar utama dirumah itu, kamar yang sengaja dena persiapkan untuk langit.
Dena tak memiliki kerabat yang lain nya, kedua orang tua nya sudah meninggal, Dena anak satu satunya, dan langit menjadi pewaris satu satunya.
Kamar itu cukup besar, terdapat foto langit yang sedang menendang bola.
"bang...ini foto kamu di Amrik.."
"ya.... hawa!"
ucap langit yang juga menatap foto nya.
ia rindu bermain benda bundar itu, tapi jangan kan untuk bermain bola, berjalan saja ia tidak bisa.
"kamu kenapa bang?"
ucap hawa berjongkok di hadapan langit.
"kamu mau tinggal disini sama aku?"
tanya langit menyentuh pipi istri nya itu.
"ya, tentu saja bang....!"
ucap hawa senyum saat Langit mengecup bibir nya sekilas.
"seperti apapun kamu,Mi..
aku akan sangat merindukan mu!
semoga kamu tenang dan bahagia disana..."
ucap langit dalam hati nya sambil memeluk Hawa.
__ADS_1
bersambung.
terima kasih yang udah like and komentar..😍😍😘