
Beberapa hari ini tak ada percakapan antara Hawa dan sang ayah, Surya berangkat pagi dan pulang malam hingga tak pernah bertemu dengan putri nya itu.
Saat ini hawa sedang memeriksa keadaan Dena yang semakin menurun, rambut nya semakin rontok, wajah nya semakin pucat.
"hawa....!"
"kenapa ibu dena?"
ucap Hawa saat selesai memeriksa keadaan nya.
"kapan kira-kira saya akan mati?"
hawa Tertegun mendengar penuturan Dena yang terkesan berputus asa.
langit juga belum ada perkembangan, ia masih betah dengan tidur panjang nya.
"saya bukan tuhan yang mengetahui kapan hamba nya akan pulang...!"
ucap hawa tanpa menatap wajah Dena yang begitu menyedihkan.
"saya hamba yang lalai...!"
"bertaubat jika anda merasa seperti itu....!"
"Hawa.....!"
ucap Dena menarik tangan hawa yang hendak melangkah pergi.
"saya minta maaf.....!"
ucap Dena membuat hawa terdiam.
"saya yang sudah membuat pertunangan kamu dengan Esa berantakan, saya sudah menghapus video itu.....!"
Dena juga sudah menghubungi pihak hotel untuk menghapus video itu, meski Ezi sudah lebih dulu mengurus semua itu.
"terlambat, karena sebagian orang sudah mengetahui aib saya...!"
ucap hawa karena ia sempat di minta keterangan oleh pihak kepala rumah sakit yang mengetahui tentang hal itu, karena berita itu cepat menyebar, untung lah Ezi cepat bertindak karena tak ingin adik nya itu jadi bahan gunjingan orang, dan kepala rumah sakit cukup memaklumi saat hawa memberikan keterangan mengenai masalah pribadi nya itu, dan kepala rumah sakit cukup mengerti dan tak lagi mempermasalahkan soal itu lagi karena video itu juga sudah di hapus.
"saya tahu...... maaf kan saya Hawa, setidaknya saya sudah meminta maaf dan menyesali kesalahan saya... jika saya mati nanti, saya titip langit...."
"kenapa baru sekarang anda berpikir seperti itu, apa keadaan nya harus seperti ini dulu? baru Anda menyadari bahwa selama ini hidup anda terpenjara rasa benci....."
ucap Hawa yang masih mengingat ancaman Dena tempo hari.
"ya, saya Tahu itu...saya minta maaf hawa.."
ucap Dena menitikkan air mata nya, menyadari bahwa selama ini ia sudah banyak menyakiti orang sekitar nya.
"saya sudah memaafkan Anda!"
ucap hawa Kemudian beranjak pergi dan masuk ke dalam ruangan Langit berada.
"assalamualaikum..mi?"
ucap hawa menghampiri Sarah yang sedang mengaji di hadapan Langit.
"walaikumsalam.. Hawa?"
ucap Sarah tersenyum mengajak hawa untuk duduk di samping nya.
Hawa menatap wajah langit yang tampak lebih cerah,luka di tubuh nya sudah semakin mengering.dokter Sanusi memberikan langit perawatan terbaik.
"hawa, coba kamu bisikan sesuatu agar langit bangun dari tidur nya ...mami ingin sekali melihat langit bangun!"
ucap Sarah dengan mata berkaca-kaca.
Rizal dan Esa sudah kembali ke kantor... tinggal Sarah yang menuggu langit sendiri.
hawa mendekati langit...
"langit.. bangun, apa kamu tidak lelah terus berbaring seperti ini...aku merindukan mu langit!"
ucap hawa lirih.
"astagfirullah....!"
ucap hawa dalam hati, kenapa harus terjebak dalam situasi seperti ini.
namun tak ada reaksi apapun dari langit, ia tetap terlelap.
__ADS_1
"Mi...hawa mau pulang dulu, ini sudah sore!
nanti malam hawa akan kembali....!"
ucap hawa mengusap bahu Sarah.
"mami Sabar ya, terus berdoa!
hawa juga selalu berdoa untuk kesembuhan langit?!"
ucap hawa senyum dan di angguki oleh Sarah.
hawa pun beranjak pergi dari ruangan itu..
"langit.... bangun lah nak, mami rindu sekali dengan mu... Dwi Mami!
kamu mau Hawa kan sayang...!
mami akan berikan apapun yang kamu mau, Dwi.. Mami.."
ucap Sarah terisak menelungkup wajah nya di pada tangan langit yang hangat..
teringat percakapan nya dengan Esa tadi malam.
"Esa Bagaimana rencana kamu selanjutnya sayang dengan hawa...?"
ucap Sarah yang juga memikirkan perasaan putra pertama nya itu.
"Esa sudah putuskan untuk membatalkan semua nya,mi...Esa akan mengalah untuk kebahagiaan langit dan Hawa!"
ucap esa tanpa menatap wajah Sarah.
"kamu yakin Sayang....?"
ucap Sarah memegang tangan esa.
"ya, Esa sudah ikhlas mi..
Mungkin Esa dan Hawa memang tidak berjodoh!"
ucap Esa dengan lapang dada.
tak ada yang sarah katakan, ia hanya memeluk putra sulung nya itu.
"Mi .....!"
ucap riza sang suami memegang bahu istri nya itu.
"pih.. kenapa langit masih belum sadarkan diri?
mami ingin langit bangun....!"
ucap Sarah terisak.
"mami harus sabar... kita sudah melakukan yang terbaik!"
ucap Rizal memeluk istrinya itu.
***
Malam itu hawa berniat untuk kembali kerumah sakit untuk melihat keadaan langit, dan berpapasan dengan Surya yang baru saja pulang dari kantor.
"ayah.....!"
"mau kemana kamu hawa?"
ucap Surya yang menilik penampilan hawa dan di ikuti Winda dibelakang Hawa.
"hawa mau kerumah sakit...!"
ucap Hawa menunduk.
"ternyata kamu tidak menggubris perkataan ayah... siapa yang mengajari kamu untuk melawan orang tua!"
ucap Surya langsung membuat hawa membeku Seketika.
"kenapa kamu masih saja mendatangi anak itu, kamu seperti nya tidak mendengar ucapan saya!"
"ayah......!"
ucap Arumi yang datang menghampiri.
__ADS_1
"bunda kecewa dengan sikap ayah yang terus seperti ini...."
ucap Arumi masuk ke dalam dan di susul oleh Surya.
Winda merangkul bahu Hawa untuk memberikan kekuatan.
"kamu sabar Hawa....!"
"ya win...karena aku bunda sama Ayah bertengkar!"
ucap hawa membuang nafas.
"Bun.... tunggu!"
ucap Surya Meraih tangan Arumi pelan.
Arumi duduk di ranjang membelakangi Surya.
"Bun...!"
ucap Surya Meraih kedua bahu arumi untuk menghadap nya.
"yah, sampai kapan ayah seperti ini sama Hawa?
kasihan hawa, bukan kah kemarin Esa juga sudah memberi tahu kita, kalau Esa membatalkan semua nya,dan menerima semua dengan lapang.. Esa meminta hawa untuk langit adik nya,lalu apa lagi sih Yah?"
ucap Arumi menatap Surya yang terdiam.
Esa memang sudah membicarakan hal itu dengan Surya di temani Rizal untuk membatalkan rencana pertunangan mereka, bahkan Esa meminta Hawa untuk langit, Surya bungkam tak menjawab penuturan Esa tentang langit dan Hawa.
"harus ayah tahu, tak ada satupun manusia yang luput dari salah dan dosa termasuk kita..
mereka saling mencintai, kenapa ayah tidak mengerti dan memikirkan kebahagiaan hawa, apa karena langit seperti itu?
Bunda juga mau menerima ayah apa adanya, yang terpenting kita semua mau belajar untuk lebih baik....!"
ucap arumi membuat Surya tertegun, mengingat bahwa ia juga tak jauh lebih baik.
ia juga banyak belajar dari ustadz abu Haidar.
"baiklah ayah akan merestui mereka...!"
ucap Surya beranjak dari duduknya kemudian masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Arumi sendiri.
Hawa duduk di ranjang menatap jendela, langit gelap Tanpa bintang, apa mungkin sebentar lagi akan turun hujan.
hawa menghela nafas panjang kemudian merebahkan tubuhnya di ranjang.
"ya Allah.... mudah kan apa yang menjadi kesusahan ku... bangun kan langit..!"
ucap hawa kemudian memejamkan matanya.
***
Sarah bangun dari tidur nya, terlihat jam menunjukkan pukul tiga pagi.
terlihat Rizal terlelap di samping nya, kemudian Sarah beranjak menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Sarah menunaikan shalat tahajud dua rakaat dan witir tiga rakaat..
"ya Allah...aku memohon pada Mu, sembukan putraku, bangun kan dia dalam tidurnya, sungguh tiada daya upaya ku selain meminta kepada Mu...!"
ucap Sarah Terisak.
Sarah duduk di hadapan langit dan melantunkan ayat suci Al-Quran.
"langit......!"
ucap Sarah memegang pipinya yang hangat.
"mami rindu Sama kamu nak!"
ucap Sarah mencium kening langit hingga menetas air matanya membasahi wajah langit.
perlahan langit membuka mata saat ia bermimpi seseorang meraih tangan nya menuju sebuah cahaya...
"nak .....!"
ucap Sarah tersenyum melihat langit membuka matanya....
bersambung.
__ADS_1