Langit Hawa

Langit Hawa
resepsi.


__ADS_3

pagi ini keduanya tengah berada di sebuah hotel mewah kota tersebut, sejak semalam keduanya sudah berada di hotel itu.


langit menatap perempuan cantik yang tengah di dandani, beberapa kali hawa berkomentar tentang makeup nya yang terlalu tebal.


"bukan pengantin dong kalau make up nya tidak tebal non...."


ucap perias itu sedikit mengeluh karena Hawa sejak tadi tak mau diam.


"sayang...diam?"


ucap langit membuat hawa membeku.


langit sendiri sudah lebih dulu di dandani dan sudah siap untuk bersanding dengan pengantin cantik itu.


"memang harus seperti ini?"


"ya supaya cantik.....!"


ucap perias itu tersenyum melihat Hawa yang begitu pangling dan cantik.


"tuh kan cantik banget....!"


ucap perias itu merapikan bagian hijab yang memakai mahkota.


"aku suka.....!" ucap Langit mendekati hawa, meraih pinggang itu.


"cantik.....!"


ucap langit lagi sambil mengamati mahkota yang di pakai oleh Hawa.


tak sia sia Sarah memilih perias kondang itu, sebentar saja ia merubah tampilan istri nya semakin cantik.


"ayo, tuan putri...!"


ucap langit membuat Hawa terkekeh.


keduanya berjalan menuju ballroom hotel yang sudah di hias oleh Wedding organizer.


hawa tersenyum melihat beberapa orang yang melambaikan tangan pada nya. Langit membantu hawa berjalan sambil memegangi gaun pengantin nya yang begitu besar.


Awalnya hawa tidak mau, karena ia akan kesulitan berjalan jika memakai gaun pengantin yang besar di bagian pinggang hingga bawah.


cantik,dan elegan.. Sarah memilihkan disainer baju pengantin terbaik di kota itu, tentu nya dengan harga yang mahal.


langit justru suka melihat hawa memakai gaun pengantin itu, hawa tampak seperti tuan putri sungguhan.


Sarah dan Rizal sudah menunggu keduanya di pelaminan.


Esa dan Aqila tersenyum melihat Hawa yang tersenyum berjalan beriringan dengan langit,


perlahan Aqila meyakinkan hati nya untuk menerima Esa sepenuh hati nya karena tak mungkin ia berharap pada langit yang sudah menikah, mungkin mereka memang tidak berjodoh.


ballroom itu tampak penuh karena tamu undangan yang sudah berdatangan, langit dan hawa mengundang semua orang yang mereka kenal.


Surya tersenyum melihat putrinya duduk di kursi pelaminan bersama suami nya, sebenarnya Surya ingin meminta bantuan pada langit perihal situasi perusahaan nya yang sedikit bermasalah karena perusahaan nya dengan langit satu bidang.


namun ia urungkan karena teringat sikap nya yang selalu dingin terhadap langit.


banyak yang memberikan selamat, hingga tak ada waktu untuk keduanya untuk duduk sejenak saja, Hawa tersenyum menatap sang Ayah yang sedang ngobrol dengan rekan bisnis nya, entah kenapa pria itu menolak duduk di kursi pelaminan.


"biarkan saja Hawa...!"


ucap Arumi yang berdiri di samping nya.


"sebentar lagi juga pasti naik ke atas..!"


ucap Arumi dan benar saja, Surya paling tidak bisa Menolak keinginan istri nya itu.

__ADS_1


Arumi terkekeh saat Surya tersenyum menghampiri nya.


"jangan macam macam ya, nanti bunda suruh puasa baru tahu rasa...!"


ucap Arumi di telinga Surya sambil terkekeh.


hawa memperhatikan kedua nya yang tertawa kecil, entah karena apa?


tapi hawa senang melihat keadaan seperti itu, mereka selalu rukun.


keduanya tak pernah lama lama bertengkar, Arumi yang selalu sabar menghadapi sikap Surya yang terkadang membuat Arumi tak mengerti. namun Arumi selalu mendoakan suaminya itu.


Ezi pun hadir di acara tersebut, rindu melongo melihat resepsi pernikahan hawa dan langit yang digelar besar oleh keluarga langit.


tak menyangka jika Pria itu ternyata tajir.


"pantas hawa begitu keukeh ingin menikah dengan Langit, ternyata langit Setajir itu...!"


ucap rindu tak di tanggapi oleh Ezi yang memperhatikan Langit dan hawa yang berdiri di pelaminan menyalami tamu yang datang.


keduanya seperti raja dan ratu yang tampak serasi.


"kak Ezi....?"


ucap hawa Tersenyum saat Ezi dan rindu menghampiri.


"selamat ya Hawa...kakak ikut senang dengan kebahagiaan kamu...!"


ucap Ezi tersenyum.


"cepat dapat momongan ya hawa...!"


ucap rindu menimpanya.


"ya terima kasih kak....!"


semoga itu menjadi doa' untuk keduanya agar segera memiliki buah hati.


sore menjelang tamu semakin banyak berdatangan, entah Sarah menyebar berapa undangan karena yang bekerja dirumah sakit saja hampir semua di undang.


selama persiapan resepsi, langit dan Sarah yang banyak berbincang.sementara hawa hanya menurut saja rencana mereka.


dokter Sanusi datang bersama dokter kinan, keduanya tampak serasi dan seimbang.


yang satu cantik yang satu lagi Tampan, bersyukur karena Sanusi bisa cepat move on dari Hawa.


"selamat ya hawa, semoga kalian cepat bertiga..!"


ucap Sanusi tersenyum.


"terima kasih kak....!"


ucap hawa melirik ke arah langit yang sudah mulai bersikap ramah pada dokter Tampan itu, kehadiran Kinan begitu hawa syukuri.


hawa membuang nafas panjang, rasanya begitu lelah dan ingin merebahkan tubuhnya di ranjang.


bagaimana tidak ia hanya beristirahat saat sholat saja,makan pun terburu buru karena banyak tamu yang menanyakan pengantin.


"kamu mau ke kamar sekarang?"


ucap langit melihat hawa yang tampak letih.


terlihat waktu menunjukkan pukul sembilan malam, Beberapa tamu sudah mulai berkurang.


tinggal tamu langit yang masih berdatangan.


"aku duluan ya bang...!"

__ADS_1


ucap hawa dan di angguki oleh langit.


"win, temani aku ke kamar hotel yuk!"


udah hawa menghampiri Winda yang sedang ngobrol berdua dengan Zaki.


"ayo...aku temani, wa..!"


ucap Winda beranjak, terlihat Zaki menghela nafas.


"ya ampun wa, baru saja mau ngomong!


malah di ajak pergi...!"


hawa Terkekeh mendengar penuturan Zaki yang terkesan lucu.


"maka nya kalau mau ngelamar jangan di acara hawa Sama langit dong bang, kamu bikin acara sendiri..!"


ucap hawa tersenyum, sementara Winda mematung mendengar hal itu.entah ia salah menerka atau memang seperti itu, Zaki memang hendak melamar nya.


"temani langit ya Bang, besok lah di lanjut!"


ucap hawa Terkekeh Sambil mengangkat gaun tersebut di bantu oleh Winda yang tersenyum kecil, terlihat wajah nya memerah.


Hawa teringat pada dua orang yang ia rindukan, entah dimana keberadaan mereka, hawa lost kontak dengan Mimin dan Erin.


rasanya ingin sekali bertemu dengan mereka,tapi hawa tidak tahu dimana mereka saat ini.


Winda membantu hawa membuka gaun besar itu, karena hawa tidak bisa jika membuka nya sendiri.


"wa, ini berapa harganya..aku yakin ini tuh mewah!"


ucap Winda yang melihat beberapa mutiara menghiasi gaun mewah itu.


"langit dan mami Sarah yang tahu....!"


ucap hawa bernapas lega karena Lepas dari gaun itu.


"pantas sih mahal, langit sama bu Sarah punya selera tinggi... lihat saja, gaun nya semewah dan secantik ini,wa...!"


ucap Winda senyum memegang gaun pengantin itu.


"ya, seperti nya begitu!"


ucap hawa senyum, setelah itu Winda beranjak dari kamar saat terdengar seseorang mengetuk pintu.


"aku pulang ya, itu pasti langit...!"


ucap Winda berjalan ke arah pintu, benar saja langit langsung menyembul masuk.


"aku pulang ya, selamat bersenang-senang..."


ucap Winda melambaikan tangan nya.


langit Tersenyum menghampiri istri nya yang sudah melepaskan gaun mewah itu, hawa tampak segar setelah mandi.


"Abang..."


ucap hawa Terkekeh geli saat langit memeluk nya dari belakang.


"tinggal kita berdua yang berpesta...!"


ucap langit hendak mencium bibir hawa, namun Hawa menahan nya.


"mandi dulu bang, kita belum sholat isya...!"


ucap hawa dan di angguki oleh langit.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2