Langit Hawa

Langit Hawa
jam Beker.


__ADS_3

enam bulan berlalu,kini ayah dan putrinya itu rajin ke masjid, hawa tak pernah absen ikut kajian Islam bersama ustadz Abu Haidar dan ibu Arumi.


hubungan Dua keluarga itu semakin dekat apa lagi kedekatan Surya dengan ustadz abu Haidar.


selama ini Surya juga banyak belajar ilmu agama dari beliau, hingga terbesit keinginan untuk meminang Arumi untuk ia jadikan istri sekaligus ibu untuk hawa.


"saya tahu....kamu suka sama adik saya!"


ucap ustadz abu Haidar terkekeh saat keduanya berbincang setelah shalat isya berjamaah.


"ya Tapi saya malu, karena saya sendiri bukan seorang ustadz yang mungkin menjadi impian suami masa depan Arumi...pak ustadz, saya ini hanya seorang pendosa yang jauh dari kata baik!"


"jika anda tidak Bisa berlomba dengan orang Soleh untuk meningkatkan ketakwaan.. maka berlomba lah dengan para pendosa untuk bertaubat kepada Allah....!"


ucap ustadz abu Haidar tersenyum menepuk pundak Surya.


"Arumi memang mengharapkan laki laki yang Soleh,tapi tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak...aku tahu kamu laki-laki yang baik.... jika jodoh maka Allah memudahkan jalan nya!"


ucap abu Haidar yang ternyata mendukung keinginan Surya.


"nanti saya bicarakan dengan Arumi berdua... kamu berdoa saja ya...!"


ucap ustadz Haidar membuat senyum mengembang di wajah Surya.


setelah itu keduanya beranjak dari duduknya dan pulang ke rumah masing-masing.


Surya melihat hawa yang tengah sibuk dengan buku-buku nya, banyak perubahan yang terjadi dengan putri nya itu setelah mengenal Arumi dan winda.


hawa lebih bersemangat,tak lagi memusingkan langit yang tak pernah ada kabar sama sekali.


fokus belajar karena sebentar lagi juga ia akan menghadapi ujian.


"assalamualaikum.....!"


ucap Surya mendekati putri nya itu.


"walaikumsalam.....!"


ucap hawa yang serius menatap laptop nya.


"sudah makan belum?"


tanya Surya melihat hawa yang Begitu serius belajar.


"udah, cuma belum Solat isya yah! bentar nih nanggung!"


ucap hawa menoleh sekilas.


tak lama ponsel nya berdering, terlihat Esa melakukan panggilan video.


hawa menoleh pada surya yang melirik ponsel hawa.


Esa seperti jam Beker yang selalu telpon mengingatkan nya untuk solat.


"angkat saja....!"


ucap Surya senyum.


hawa menggeser tombol hijau setelah mendapat persetujuan dari Surya, karena jujur saja hawa malu jika ada ayah nya.


"halo assalamualaikum.... bang?"


ucap hawa senyum melihat wajah Esa yang semakin tampan.


pria ini memang tak pernah absen menelpon dan mengingat kan hawa untuk solat.

__ADS_1


"walaikumsalam......!"


ucap Esa senyum melihat gadis cantik berkerudung warna navy.


Esa bersyukur karena beberapa waktu ini hawa tak pernah menanggalkan kerudung nya, setiap kali melakukan panggilan video,hawa selalu tampil dengan kerudung nya.


"udah makan belum?"


ucap Esa membuat hawa menoleh pada surya dengan wajah memerah.


entah kenapa pria ini begitu perhatian, membuat hawa salah tingkah.


"jawab.....!"


ucap Surya lirih.


Surya lebih senang jika hawa dengan Esa, mungkin hal itu bisa membantu hawa melupakan langit.


"udah bang, ini lagi belajar!


ada ayah juga!"


ucap hawa menggeser ponsel nya pada Surya.


"assalamualaikum...pak Surya!"


ucap Esa kemudian hawa memberikan ponselnya pada Surya.


"bang, ngobrol sama ayah dulu ya!


hawa mau solat isya....!"


ucap Hawa senyum Kemudian beranjak dari duduknya meninggalkan Surya dengan ponselnya yang masih menerima telepon dari Esa.


karena hawa Tahu setelah ini Esa pasti menanyakan perihal ia sudah solat atau belum.


berbeda dengan langit, mungkin hawa bisa tenang jauh dari nya karena kesibukan sekolah dan belajar agama Yang menuntun hawa untuk tenang perihal jodoh yang tidak akan pernah tertukar.


langit merasa waktu yang dilaluinya berjalan lambat, beberapa kali mencoba mencari keberadaan hawa di sosmed namun ia juga tidak menemukan gadis itu, rasa rindu sudah tak terangkai oleh kata kata lagi, tapi langit bisa apa?


Dena akan mengizinkan nya pulang ke Indonesia tapi nanti,liburan yang akan datang, tapi itu masih lama.


ia ingin bertemu dengan hawa, melepaskan kerinduan nya selama ini.


langit berharap perempuan itu masih setia dengan cinta nya, seperti janjinya ia akan menuggu nya pulang.


rasanya sudah tak sabar ingin memeluk perempuan itu.


"hawa....aku rindu sekali sama kamu...?"


ucap langit menatap langit yang sepi tanpa bintang, seperti keadaan dirinya yang juga sepi tanpa hawa di samping nya.


"tunggu aku akan mencari mu ke Kalimantan...!"


ucap Langit tersenyum melihat Poto Poto mereka berdua saat di kebun teh.


"rasanya baru kemarin kita bersama dan sekarang kita terpisah jarak dan waktu.. aku harap kamu masih seperti Hawa ku yang dulu...!"


*


"sudah telpon nya yah?"


ucap hawa mengahampiri Surya yang duduk di sofa.


"Udah... kenapa malah ayah jadi nya yang ngobrol sama Esa..."

__ADS_1


hawa terkekeh kecil sambil merapikan buku buku nya.


"ayah suka sama Esa, dia baik dan juga sopan"


ucap Surya menghentikan aktivitas hawa sejenak.


"seperti nya dia suka sama kamu hawa...."


namun hawa diam tak menjawab, karena saat ini ia belum bisa benar benar melupakan langit.


walaupun mereka tak ada komunikasi sama sekali, tapi hawa berharap suatu saat langit mencari nya.


hawa ingin mengajak langit untuk hijrah ke arah yang lebih baik, kalau pun ingin bersama kedua nya harus dalam ikatan pernikahan.meski hawa ragu dengan restu kedua nya, namun hawa percaya kalau jodoh akan mencari jalan nya.


tapi tidak sekarang, hawa ingin mengejar mimpi nya menjadi seorang dokter.


meski awalnya ia ingin mengambil jurusan teknik informatika namun ia teringat dengan ucapan langit yang tak bisa mengejar mimpi nya untuk menjadi seorang dokter.


"mau nya kuliah di London, jadi dokter tapi mami bilang aku gak boleh jadi dokter, aku harus jadi pebisnis untuk mengurus perusahaan mami karena aku anak satu satunya...."


"kenapa mau jadi dokter bang?"


"dokter itu kan pekerjaan yang mulia hawa, bisa membantu orang menyembuhkan sakit!"


ucap langit senyum merengkuh tubuh hawa untuk bersandar pada nya.


pantas saja langit dengan telaten mengurusnya saat ia jatuh pingsan,pria yang memiliki hobi bermain bola itu memiliki mimpi menjadi seorang dokter, namun semua harus pupus karena ambisi Dena.


dan hawa berpikir untuk menjadi dokter seperti keinginan langit..hawa juga suka profesi itu.


"hawa sebenarnya cuma anggap bang esa sebagai kakak, tapi kalau seperti itu hawa juga bingung!"


"bingung kenapa?apa yang membebani kamu? langit? selama ini dia juga tidak ada kabar?apa yang kamu harapkan?"


ucap Surya membuat Hawa tertegun.


"maaf kan ayah hawa, ayah tidak mau kamu terus memikirkan anak itu... kalau esa Lebih baik kenapa tidak?"


hawa masih diam tak ingin berkomentar, biarkan waktu yang akan menjawab semua nya karena saat ini ia pun sedang melangkah ke arah yang lebih baik.


"maaf ya nak...!"


ucap Surya mendekati hawa.


"tidak apa apa yah... biarkan waktu yang menjawab semua nya, hawa tidak mau terlalu memikirkan hal itu...!"


ucap Hawa membuang nafas.


"hawa, menurut mu bagaimana jika ayah melamar ibu Arumi?"


"hawa setuju....!"


ucap hawa senyum karena ia tahu Arumi baik, hubungan mereka pun semakin dekat.


"tapi gimana kalau nanti ayah di tolak..?"


ucap Surya tertegun.


"ayah nih kalah sebelum berperang... tidak ada salahnya mencoba dulu, hawa suka sama ibu Arumi,dia itu baik banget sama Hawa...!"


ucap hawa senyum mengingat Arumi yang memang begitu baik dan perhatian pada nya.


'semoga ayah Berjodoh dengan ibu Arumi..'


ucap hawa berdoa dalam hati.

__ADS_1


bersambung.


__ADS_2