
Hawa melangkahkan kakinya dengan Malas, terlihat Esa turun dari mobil nya, dengan jas hitam tampak Gagah dan lebih tampan dari biasanya, Hawa sendiri sudah siap untuk berangkat ke sekolah, tinggal beberapa hari lagi ia berada di tempat ini.
mungkin nanti ia akan merindukan tempat ini, tempat yang menjadi saksi cinta nya dengan langit bersemi.
"hawa .....!"
ucap esa menghentikan langkahnya, sebenarnya malu untuk bersapa karena kejadian semalam saat langit memeluk nya di depan Esa dan Mimin.
"kenapa bang?"
tanya Hawa tak berani menatap wajah Esa.
"kenapa lesu begitu?kamu belum sarapan?"
ucap Esa tersenyum mendekati gadis itu.
tak ingin mempermasalahkan kejadian tadi malam yang bukan menjadi urusan nya.
Esa Menilik penampilan hawa yang masih sama seperti semula, mungkin hawa belum bisa menerima nasihat dari nya.
"Udah sarapan kok, tadi sama mba Mimin di dalam!
bu Sarah katanya mau ke laundry?"
"oh,,mami paling sore karena ada keperluan penting dengan papih!"
"oh gitu ya bang...?
ya udah hawa berangkat duluan!"
ucap hawa pergi meninggalkan Esa di depan Ruko.
teringat percakapan nya bersama Mimin saat sarapan tadi..
"wa... kamu marahan sama pacar kamu?"
tanya Mimin saat keduanya memakan nasi goreng.
"gak tahu deh mba, dia itu bikin hawa takut!"
"takut Kenapa?"
"bukan hanya cemburuan tapi langit......!"
ucap hawa terdiam entah bagaimana menjelaskan nya pada Mimin, tentang rasa cinta langit yang begitu dalam padanya.
"ya ,mba ngerti wa!
tapi saran mba jangan mengambil keputusan saat kamu marah, itu akan membuat kamu menyesal, kamu juga harus pikirkan perasaan cowok kamu wa!
kamu beruntung di cintai pria setampan itu,mba juga bisa lihat dia itu baik wa, sayang kalau kamu tinggal begitu saja!"
ucap Mimin membuat hawa tertegun, semalam ia juga tidak bisa tidur karena mengkhawatirkan keadaan langit,, menyesal karena ia sudah menyakiti perasaan langit.
tapi ia juga lelah dengan keadaan ini, tak ada yang menguatkan nya untuk bertahan selain Rasa cinta dalam hati nya.
"hawa......?"
ucap Surya mengehentikan langkah putri nya itu.
"ayah......!"
ucap hawa melihat Surya turun dari mobil dan menghampiri nya.
terlihat wajah Surya tidak suka melihat nya, hawa mengernyitkan alisnya melihat wajah Surya seperti sedang menahan amarahnya.
"pulang jam berapa?
__ADS_1
Ayah mau bicara sama kamu?"
ucap Surya datar tanpa ekspresi, selama ini hawa tak pernah melihat Surya seperti itu.
"jam sebelas yah, hari ini praktek kesenian!"
"ya sudah, nanti ayah jemput!
sekalian kamu nanti beresin barang barang kamu di ruko itu...!"
"tapi....!"
"jangan membantah hawa, ayah gak suka!
kita juga tinggal tiga hari di Jakarta!
sebaiknya kamu berhenti bekerja di laundry itu!
"tapi hawa......!"
"cukup....uang ayah banyak,jadi kamu gak perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhan kamu?"
ucap Surya, menatap wajah cantik hawa dengan kaca mata bulat di wajah nya.
kecantikan nya sama persis dengan perempuan yang sudah melahirkan nya, perempuan yang tidak pernah ia jumpai lagi dua belas tahun ini.
ibu hawa meninggalkan saat hawa berusia enam tahun, kasihan putri nya itu!
karena sebuah Ambisinya hawa beberapa kali menjadi korban ibu tiri, tak sedikit pun ia mendapatkan kasih sayang dari seorang perempuan yang berstatus ibu tiri, termasuk Dena.
**
semalam langit pulang kerumah dalam keadaan kacau, mengingat pernyataan hawa yang ingin berpisah dengan nya.
bagaimana mungkin bisa seperti itu, langit begitu menginginkan hawa untuk menjadi teman hidup nya, karena hanya hawa yang benar benar tahu dan paham diri nya.
"bagus Langit, kamu berani temui cewek murahan itu...." ucap Dena saat langit tiba di rumah.
"ya siapa lagi Kalau bukan anak culun itu... kelakuan ayah sama anak gak jauh berbeda, emang dasar buah jatuh gak jauh dari pohonnya....!"
"cukup mi, jangan hina hawa lagi!"
"kenapa? kamu gak suka?"
ucap Dena melipatkan tangan nya di bawah dada.
"hawa tuh gak murahan,dia juga gak centil seperti kebanyakan cewek yang suka ngejar ngejar langit, hawa dan langit saling menyayangi, kenapa mami gak ngerti?"
"sayang....?bulsyit....!
mami gak peduli langit, Poko nya mami gak akan pernah setuju sama hubungan kalian berdua!"
"mi, Sebenarnya langit anak mami bukan sih?"
Dena Terdiam mendengar penuturan langit yang langsung menohok hati nya, mengingatkan nya pada malam dimana ia menerima bayi mungil dari salah satu preman yang meminta tebusan dengan uang senilai sepuluh juta rupiah.
"kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"karena mami gak pernah memikirkan kebahagiaan langit.....!"
"langit .... perempuan cantik itu banyak, kenapa kamu harus terpaku pada satu perempuan itu!
mami sayang sekali sama kamu langit,makanya mami akan pilihkan perempuan yang lebih dari si cupu itu!"
ucap Dena menutupi kegundahan hati nya,
ia tak akan membiarkan langit bersama gadis keriting itu, Dena akan memikirkan cara menyingkirkan anak itu dari kehidupan langit.
__ADS_1
"terserah.... tapi langit mau hawa...!"
ucap langit kemudian pergi meninggalkan Dena yang duduk sendiri di kursi meja makan.
langit Masuk ke dalam kamar dan membanting pintu, melempar kan semua barang yang berada di kamar nya, rasa nya kacau mengingat gadis itu dengan penolakan nya.
cinta nya terlanjur berakar, langit terlanjur menginginkan hawa.
tapi bagaimana sekarang?bukan hanya masalah mami nya, tapi juga hawa yang menolak untuk mempertahankan hubungan antara mereka berdua.
"salah kah aku yang terlalu mencintaimu Hawa?"
ucap langit sendiri meringkuk di ranjang dengan keadaan kamar yang berantakan.
Dena melajukan mobilnya menuju sebuah bar yang menjadi tempat favorit nya nongkrong bersama teman teman nya.
saat hendak memasuki bar tersebut, Dena melihat Surya bersama bule cantik berpakaian seksi, tentu saja hal itu membuat Dena cemburu, bahwasanya ia masih mendambakan sosok Surya yang mampu membuat nya mabuk kepayang di ranjang.
namun hal itu sebentar saja karena permasalahan yang membuat nya membenci pria itu.
"HM .. emang bener ya?buah jatuh gak jauh dari pohonnya...!"
ucap Dena menghentikan langkah Surya bersama bule cantik itu.
"kamu duluan ya Areta, aku ada urusan sebentar!"
ucap Surya manis pada bule cantik itu.
"oke...aku tunggu di mobil saja!"
ucap Areta rekan bisnis Surya yang akan bekerja sama di Kalimantan nanti.
"maksud kamu apa Dena?" ucap Surya menarik tangan perempuan itu, mengikis jarak di antara keduanya.
"menjauh dari ku?!"
ucap Dena mendorong tubuh Surya, pria yang sebenarnya sangat ia rindukan.
"kamu mau tahu kelakuan anak gadis mu yang so alim itu!"
ucap Dena tersenyum mengejek..
"maksud kamu apa?"
tanya Surya tak mengerti.
"kamu lihat ini.....!"
ucap dena memperlihatkan video langit dan hawa yang sedang berciuman di dapur.
Surya mengepalkan tangannya Melihat hawa bahkan mengalungkan tangannya pada leher langit.
"oh.... jadi anak kamu sudah merusak anak saya begitu?"
"merusak apa? anak kamu juga menikmati, kamu gak liat? kalau langit memperkosa hawa baru itu merusak, anak kamu saja yang murahan!"
"hawa tidak seperti itu?
anak kamu pasti yang sudah merayu hawa?"
"enak aja, kamu tuh sama hawa gak jauh berbeda, kelakuan anak sama ayah sama sama murahan.
belum lama kamu pisah sama aku, sekarang kamu Sudah mengandeng perempuan lain? kemana perempuan kemarin yang kamu ajak bercumbu?
aku benci sama kamu Surya!"
ucap Dena masuk ke dalam bar itu, ingin minum sepuasnya, melupakan semua kesedihan nya karena Surya.
__ADS_1
Surya sendiri terdiam mengingat kejadian tadi, ia harus berbicara dengan putri nya itu, terbesit rasa khawatir jika mengingat video yang diperlihatkan oleh Dena tadi.
bersambung.