
Hawa tersenyum menghampiri pria yang tengah bersandar pada Mobil menunggunya, pria itu menunduk sambil memainkan ponselnya.
"assalamualaikum...bang?"
"walaikumsalam.... sayang...!"
ucap langit Langsung mencium kening istrinya itu.
"Abang tidak tahu kamu sudah disini..."
ucap langit sambil merapikan kerudung Hawa.
"fokus sama handphone...!"
ucap hawa membuat langit terkekeh.
"Abang lebih fokus sama kamu.... Abang lagi chat sama Bu Amora.beliau sakit sayang..!"
ucap Langit membuka pintu mobil untuk Hawa.
"oh gitu... lalu bagaimana?"
"kita ke Amrik...!"
"Tapi hawa harus izin dulu!"
"ya udah, izin saja dulu...tiga hari, Abang akan bawa Bu Amora ke Jakarta!
tidak apa-apa kan?"
ucap langit sambil fokus menyetir.
"ya tidak apa-apa!
tapi bagaimana tanggapan Mami nanti kalau kita benar benar tidak bisa mengantar bang Esa melamar Aqila...!"
"biar nanti Abang yang bicara... kamu tahu, Mami Dena memang membiayai semua kebutuhan hidup ku, tapi Perempuan itu yang merawat Abang sejak Abang pindah ke Amrik.. jadi Abang mau dia tinggal dengan kita di rumah...!
kasihan ia sebatang kara"
"ya, hawa mengerti bang, ya udah nanti kita bicarakan hal ini dengan Mami Sarah?"
setelah itu keduanya memutuskan untuk langsung ke rumah Sarah di kawasan perumahan elit kota itu,, Sarah tersenyum melihat mobil langit masuk ke dalam halaman rumah nya, cepat ia membuka pintu.
kebetulan sekali sedang ada Mimin yang berkunjung ke rumah Sarah setelah cukup lama Mimin tak ada kabar.
"assalamualaikum......" ucap hawa tersenyum menghampiri Sarah.
"walaikumsalam....." ucap Sarah memeluk menantu cantik nya itu.
"sayang...." ucap Sarah saat langit mencium tangan nya.
"ada Mimin di dalam...."
ucap Sarah sambil merangkul bahu hawa masuk ke dalam rumah.
"benar Mi...?"
ucap hawa antusias,dan di angguki oleh Sarah.
"mba Mimin.....!"
ucap hawa menghampiri Mimin yang duduk bersama seorang anak kecil.
"hawa.....!"
ucap Mimin, keduanya saling berpelukan.
"kamu hebat sudah jadi dokter.....!"
ucap Mimin menilik jas putih yang hawa pakai.
"ya, Mba Mimin gimana kabar nya?"
ucap hawa duduk di samping Mimin.
keduanya ngobrol seru sampai melupakan langit.
__ADS_1
"Mi... Langit mau ke kamar...?"
ucap langit melangkah masuk ke dalam kamar yang dulu ia tempati beberapa hari sebelum menikah dengan hawa.
Sarah tersenyum melihat langit yang meninggal kan hawa yang asyik ngobrol dengan Mimin.
"bang.....?"
ucap hawa masuk ke dalam kamar, Minim sudah pulang bersama anak nya.
"udah kangen kangenan nya?"
ucap langit yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"maaf ya....!"
ucap hawa melingkar kan tangan nya di pinggang langit.
"ya, Abang sampai di anggurin...!"
ucap langit menyentil hidung hawa.
"ya maaf, tadi tuh saking senangnya ketemu teman lama...!"
ucap hawa tersenyum, langit tersenyum kemudian meraih bibir itu dan mencium nya.
langit paham, walau bagaimanapun Mimin lah yang menemani hawa, saat keduanya terpisah Karena ke egoisan Dena.
**
kini mereka tengah makan malam bersama, Sarah meminta keduanya untuk menginap di rumah itu.
hawa lega karena Sarah tidak mempermasalahkan soal diri nya yang saat ini tengah datang bulan, bagi Sarah hal itu memang lumrah terjadi.. banyak pasangan yang justru menikmati masa pacaran setelah menikah.
"jadi kalian tidak bisa ikut melamar Aqila...?"
ucap sarah saat langit menceritakan bahwa ia akan pergi ke Amrik untuk menjemput Amora.
"ya,mi... yang terpenting kan nanti pas nikah.."
"ya sudah tidak apa-apa Sayang.. kapan kalian berangkat?"
"kalau lusa bagaimana sayang?"
tanya langit pada istri nya itu.
"HM, hawa izin dulu sama Dokter kepala.."
ucap hawa sambil berpikir Apakah ia bisa pergi atau tidak Nanti.
tak lama kemudian sampai lah Esa dirumah.
"assalamualaikum..."
ucap Esa masuk ke dalam rumah.
"walaikumsalam......Esa, sayang.
ayo makan..!"
ucap Sarah tersenyum melihat Putra sulung nya sudah tiba di rumah.
"bang .....!"
ucap langit dan Hawa berbarengan.
"kompak....!"
ucap Esa yang langsung duduk di samping Hawa.
"astaga.... masih saja seperti itu...!"
ucap Esa yang terkekeh melihat ekspresi wajah langit yang tak suka melihat Esa duduk di samping Hawa.
langit ikut terkekeh mendengar penuturan Esa,ia masih saja cemburu pada Abang nya itu.
"Kamu baru pulang dari pondok pesantren?"
__ADS_1
tanya Sarah, kemudian mengambil piring untuk Esa,namun Esa melarang nya dengan isyarat tangan.
"ya, Esa udah makan tadi di pondok mi...!"
ucap Esa sambil mengecek ponselnya, dan tersenyum melihat chat masuk.
"cie....ada yang lagi jatuh cinta..!"
ucap langit terkekeh kecil melihat ekspresi wajah Esa yang tampak bahagia melihat pesan tersebut.
"ya, calon istri....!"
ucap Esa Terkekeh melihat chat dari Aqila yang menanyakan ia sudah sampai atau belum.
entah kenapa rasanya begitu senang membaca pesan dari gadis manja itu.
Aqila memang berbeda dengan Hawa yang tidak manja dan mandiri, mungkin karena dari kecil hawa sudah terbiasa dengan kehidupan nya yang cukup sulit karena kehadiran ibu tiri, berbeda dengan Aqila yang memang selalu di manja oleh Dila, meski sedikit bandel tapi Dila Begitu menyayangi putri bungsu nya itu.
Sarah dan Rizal tersenyum melihat Langit dan Esa yang sudah mulai dekat, karena sebelumnya Langit Masih merasa canggung karena mereka awalnya bertemu sebagai pesaing, dan tak menyangka justru mereka berdua itu bersaudara.
****
Hawa merebahkan tubuhnya di ranjang, terlihat Langit menyusul naik ke ranjang.
"kenapa sayang...?"
ucap langit merebahkan tubuhnya di samping hawa.
"Bang Esa berpikir kita ke Amrik itu untuk bulan madu, padahal kita mau ketemu Bu Amora..!"
"tidak apa-apa!
anggap saja seperti itu...!"
"tapi....!"
ucap hawa terhenti saat langit mencium nya.
"aku tidak mau kamu terus memikirkan hal itu Sayang, pernikahan kita belum genap satu tahun jadi Abang rasa hal seperti itu wajar... jadi jangan jadi kan beban....!
kamu tahu kan, Ibra dan Lili saja harus menunggu dua tahun untuk bisa memiliki anak, Kita baru menikah enam bulan yang lalu...!"
ucap langit menjelaskan.
namun hawa terdiam mengingat percakapan nya dengan Surya saat Acara resepsi.
"hawa... Ayah berharap sekali kamu bisa secepatnya memberikan ayah cucu..!"
ucap Surya terus memutar di benak nya.
"hawa.....?"
"ya bang.....!"
ucap hawa menoleh menatap wajah suaminya.
"apa yang kamu pikirkan?"
"tidak ada... hawa hanya memikirkan ayah, seperti nya ayah sedang ada masalah, tapi ayah tidak mau cerita.. hawa tahu Ayah seperti apa?
ia selalu terbuka dengan Hawa, tapi kemarin seperti ada yang ayah Sembunyikan dari hawa"
ucap hawa sambil berpikir.
"oh soal itu, nanti setelah pulang dari Amrik aku akan urus masalah ayah mu...?"
ucap langit membuat hawa termangu.
"perusahaan ayah mu memang sedikit bermasalah, orang kepercayaan ayah mu berkhianat.mereka membawa sebagian uang perusahaan saat ayah mu lengah, tapi kamu jangan khawatir,aku janji akan membantu ayah mu...!" ucap langit yang sudah menyelidiki kasus tersebut.
"terima kasih bang....."
"ya sayang.....!"
ucap langit memeluk istrinya itu, memejamkan matanya kemudian terlelap.
bersambung.
__ADS_1