
Rizal membuka matanya saat melihat langit berada di hadapan nya, ia tersenyum saat langit mencondongkan tubuhnya.
"maaf Langit baru datang!"
ucap langit menatap netra milik Rizal, papih nya lah yang selama ini tak pernah Lelah memberikan support untuk diri nya dan hawa agar tetap sabar dan tak henti berusaha.
selama ini langit lebih dekat dengan papih nya itu ketimbang Sarah yang justru banyak menuntut, penyakit paru paru yang di deritanya kembali kambuh hingga pria itu harus mendapatkan perawatan intensif.
kalau ada hawa mungkin dia yang akan merawat mertua nya itu, namun untuk saat ini ia tidak bisa meminta istrinya untuk merawat sang papih, lepas dari itu di rumah Sakit juga masih banyak dokter spesialis Dalam yang hebat seperti istri nya.
saat ini ia ingin fokus pada kehamilan hawa, dan Soal Rizal ia akan bicarakan dengan Esa untuk membawanya berobat ke luar negeri saja.
"mana Hawa?"
tanya Rizal membuat sarah tertegun, beberapa hari ini Rizal tak henti memikirkan keadaan langit dan Hawa yang entah dimana.
semua terjadi karena istri nya yang egois, jika tidak mungkin mereka tak jauh dari jangkauan nya.
"Hawa baik baik saja, ia bahkan sangat baik...tapi ia tidak ikut serta karena Langit tak ingin ia kelelahan...!"
"apa hawa Sakit?"
"tidak..... hawa sehat,tapi langit ingin ia tetap berada di ruang lingkup yang tenang.
"maafkan kami nak....!"
"ya papih jangan pikirkan, kami sudah memaafkan!
kami baik-baik saja!"
ucap langit menggenggam tangan Rizal.
"ayah harus sembuh ya!"
ucap langit dan di angguki oleh Rizal, tak lama Esa datang bersama Aqila dan satu orang perempuan yang pernah ia temui saat makan malam bersama, perempuan itu tersenyum pada langit namun langit bersikap dingin pada perempuan itu.
"kapan datang?
apa hawa tidak ikut?"
"tidak...aku sendiri, aku tidak ingin hawa tertekan bila berada di tempat ini, istri ku itu bahagia bersama keluarga nya dan aku!"
ucap langit menatap Sarah yang memalingkan wajahnya kemudian mengajak perempuan itu keluar dari ruangan itu.
"sayang.......!"
ucap langit menelpon istri nya itu dengan panggilan video.
Esa tersenyum melihat kemesraan mereka berdua yang tidak pernah berkurang.
"udah sampai Bang?"
"udah Sayang, Abang di rumah Sakit!"
ucap langit kemudian mendekat pada Rizal.
"assalamualaikum... papih"
"walaikumsalam... hawa, bagaimana kabar mu nak?"
tanya Rizal.
"baik, bagaimana keadaan papih dan mami. maaf hawa tidak bisa ikut melihat kondisi papih"
ucap hawa menilik wajah mertua nya yang tampak begitu pucat.
"tidak apa-apa Hawa, papih mengerti!"
ucap Rizal kemudian mereka berbincang hingga datang Sarah kemudian langit mengakhiri telponnya.
"Bang, bagaimana jika kita bawa papih berobat ke luar negeri...?"tanya langit duduk di kursi.
"Apa hawa tidak bisa mengobati papih?"
tanya Esa menimbang rencana langit karena ia berpikir bahwa hawa juga bisa mengobati papih nya, karena hawa juga seorang dokter yang cukup hebat. mungkin saja dengan hal itu bisa membuat hubungan antara hawa dan Mami nya membaik.
"Hawa tidak bisa...!"
"Kenapa?"
__ADS_1
ucap Sarah yang langsung bertanya mendahului Esa.
"karena dia sudah Risen dan sekarang berada jauh...!"
"apa salah nya jika ia kembali dan merawat papih mu, percuma dong mami punya menantu seorang dokter jika masih mengandalkan orang lain...!"
ucap Sarah membuat nafas langit tersengal.
"bukan karena itu Tapi saat ini hawa sedang hamil.....!"
tutur langit yang tak terima dengan penuturan Sarah,mereka yang berada di tempat itu terperangah.
awalnya Langit ingin memberikan kejutan tapi ternyata hal itu malah membuat hawa kembali di cap percuma oleh Sarah.
"benar kah?"
ucap Esa berdiri menghadap langit.
"apa Mami tidak salah dengar?"
"kenapa?
apa mami tidak percaya akan hal itu, atau mami masih pada rencana awal Mami?"
ucap langit membuat Sarah tertegun.
"bukan seperti itu...Mami senang jika benar adanya!"
ucap Sarah tersenyum memeluk langit.
"maafkan mami ya, kenapa kamu tidak memberi tahu tentang ini?"
"langit hanya ingin tahu bagaimana tanggapan Mami jika hawa masih belum hamil... ternyata mami masih saja menginginkan langit menikah lagi.
itu tidak akan pernah terjadi mi?"
ucap langit kemudian pergi keluar.
Langit tak suka melihat keberadaan perempuan itu di tengah-tengah mereka.
untunglah saat itu Rizal tengah tertidur di ruang sebelah hingga tak mendengar percakapan mereka.
Esa tersenyum senang saat mendengar kabar jika hawa tengah Hamil, pantas jika langit bersikap protektif.
ucap langit setelah keduanya ngobrol sampai Sore.
"kamu mau pulang kemana?"
"ke solo...hawa di solo, hawa sedang hamil!"
"benar kah?"
ucap Rizal dengan mata berkaca-kaca.
"ya, papih sehat ya saat ini hawa tidak bisa merawat papih karena hal itu, langit ingin hawa, atau kita fokus pada kehamilan Hawa!"
"ya, papih ngerti ...!"
ucap Rizal merasa lega karena kini hawa telah hamil.
Sarah terdiam mendengarkan percakapan mereka berdua, ia merasa menyesal karena sudah menyakiti menantu nya itu, Andai ia bersabar sebentar saja mungkin keadaan nya tak akan seperti sekarang ini.
Hawa jauh dari jangkauan nya, Sarah Sadar selama ini ia memang terlalu banyak menuntut.
***
"Rizal sakit apa?"
ucap Surya saat mereka berkumpul di ruang keluarga, siang tadi mereka sampai di solo termasuk Winda dan salsa namun tidak dengan Zaki yang masih harus menyelesaikan pekerjaan nya.
"dulu sempat punya riwayat sakit paru-paru tapi hawa juga tidak tahu pasti kalau hawa masih bekerja dirumah sakit mungkin hawa yang akan menangani nya!"
ucap hawa sedikit menyesal karena tak bisa merawat mertua nya itu.
"dirumah sakit banyak dokter, jadi kamu tidak perlu memikirkan hal itu, ingat kondisi mu!"
ucap Surya memberikan nasihat karena ia tak ingin kejadian yang lalu terulang lagi karena keduanya harus menunggu sampai bertahun-tahun lamanya untuk bisa pada masa ini.
"kapan Langit akan pulang?"
__ADS_1
tanya Surya karena hari raya hanya tinggal beberapa hari lagi.
"mungkin nanti malam.... Hawa belum menghubungi Langit lagi, hawa ingin membiarkan langit bersama keluarga nya karena hawa tahu keadaan kemarin membuat mereka berseteru"
ujar Hawa mengingat kejadian lalu yang sempat membuat tegang.
namun kini hawa bersyukur karena keadaan berpihak sudah lebih baik.
**
malam...
"sayang....!"
ucap Langit yang baru sampai di rumah.
"kamu udah pulang?"
ucap hawa melihat Jam menunjukkan pukul sepuluh malam.
"kangen.....!"
ucap langit merengkuh istrinya itu.
"gimana keadaan papih bang?"
ucap hawa menatap wajah langit yang tampak lelah karena kepulangan nya bersamaan dengan para pemudik hingga bandara cukup ramai penumpang yang hendak pulang.
"beliau ingin kamu pulang ke Jakarta...."
ucap langit menyentuh perut istri nya itu.
teringat percakapan nya saat hendak pamit pulang.
"bawalah hawa pulang, papih ingin bertemu, papih khawatir tak bisa bertemu dengan nya lagi.."
ucap Rizal sambil memegang dadanya yang terasa sesak.
"Papih harus sehat dan melihat anak anak Langit nanti, langit akan membawa hawa pulang tapi nanti... Langit mau papih berjanji untuk sehat..."
ucap langit dan diangguki oleh Rizal.
sementara Sarah terdiam sambil menitikkan air matanya, semua terjadi karena keegoisan nya.
***
"Abang memberi tahu mereka tentang kehamilan kamu....!"
"oh ya...... lalu bagaimana tanggapan mereka?"
"mereka senang.... tidak apa-apa kan aku memberi tahu mereka soal kehamilan mu?"
"tidak apa-apa.mereka juga menanti kabar gembira itu.hawa tidak masalah dari awal Juga hawa ingin memberitahu mereka..."
"apa kamu tidak benci sama mami?"tanya langit pada istri nya, karena langit tahu sarah sering kali menyakiti hawa.
"tentu saja tidak, kebencian hanya akan merusak hati...Hawa anggap itu sebagai ujian, dari kecil hawa sudah di tuntut untuk sabar dan tegar menghadapi ujian hidup...hawa tidak pernah membenci mami!"
ucap hawa Tersenyum menatap langit yang tertegun.
"Kenapa bang?"
"kamu tahu, kamu itu Bukan cuma cantik..tapi Ada lagi yang membuat Abang tidak bisa jauh dari kamu...!"
"apa?"
ucap hawa Terkekeh dengan wajah memerah.
"kamu mampu membuat Abang tenang hingga surga pun terbayang....!"
ucap langit kemudian mencium bibir istrinya itu
bersambung...
halo
halo....
terima kasih yang udah mampir 😍
__ADS_1
jangan lupa like dan komentar.
vote juga boleh.....