
Dena memijat keningnya yang terasa pusing, sejak tadi darah terus keluar dari hidung nya..
Dena mencoba menghubungi nomor langit namun tidak aktif, tak lama setelah itu nomor yang tak dikenal melakukan panggilan telepon.
"halo...ibu Dena!"
terdengar seorang perempuan menelpon.
"ya halo saya Dena.....!"
"saya dari pihak rumah sakit ingin memberi tahu kan jika putra Anda langit mengalami kecelakaan, dan sekarang sudah berada di rumah sakit....!"
ucap perempuan itu memberikan kabar tentang kecelakaan yang di alami oleh langit.
malam itu langit minum hingga mabuk, begitu juga dengan Zaki yang ikut mabuk.hampir pagi keduanya pulang dari bar itu.
"lang, gue aja yang bawa mobil !"
ucap Zaki namun di halangi oleh langit yang masuk dalam kursi kemudi.
"gue aja, gue masih bisa...!"
ucap langit terkekeh mentertawakan keadaan dirinya sendiri.
"gila....gue sampai seperti ini !"
ucap Langit tertawa kecil sambil bersandar pada mobil.
"lang , benar Lo bisa?"
"ya, gue bisa... gue masih waras!"
ucap langit kembali terkekeh.
rasa sakit kembali menjalar ke seluruh hati nya, mengingat perempuan itu sudah bertunangan.
"rasanya gue mau mati aja.....!"
ucap langit menelungkup kan wajah nya di stir.
"jangan gila langit, gue masih mau Hidup...!"
"tenang aja.......!"
ucap langit terkekeh Kemudian melajukan mobilnya.
awalnya memang tidak ada masalah, semua berjalan lancar namun tiba-tiba langit merasa kepalanya pusing dan tak bisa mengendalikan kemudi nya hingga menabrak pembatas jalan dan terpental menabrak kendaraan yang lain nya.
**
Dena bergegas menuju rumah sakit itu, meskipun kondisi nya begitu lemah namun ia tidak mungkin membiarkan langit dirumah sakit.
"dokter... saya Mami nya langit.."
ucap Dena menghampiri dokter yang sedang berjalan.
terlihat rumah sakit ramai karena kecelakaan itu melibatkan dua mobil dan satu pengendara motor.
"Bu, tolong ibu mendonorkan darah untuk langit, langit terluka parah ,dia kehilangan banyak darah dan membutuhkan donor sekarang juga,di rumah sakit kami hanya ada dua Kantong, kemungkinan kami butuh dua kantong lagi.
tolong sekarang juga ibu temui suster untuk mendonorkan darah ibu"
ucap dokter itu kemudian pergi meninggalkan Dena yang mematung sendiri.
bagaimana bisa ia mendonorkan darah nya untuk langit sementara dia bukan orang tua kandung Langit yang sesungguhnya.
jam segini mana bisa ia mencari orang untuk donor darah, apa lagi golongan darah langit AB.
bergegas Dena pergi mengemudikan mobilnya menuju rumah orang tua langit yang sesungguhnya, ia tidak punya pilihan lain.
meskipun ia takut langit pergi meninggalkan nya jika mengetahui yang sesungguhnya, namun Dena juga berpikir Mungkin saja sebentar lagi ia akan mati, mungkin memang lebih baik mengungkapkan siapa langit yang sebenarnya.
***
"Astagfirullah...."
Sarah terperanjat dari tidurnya saat bermimpi tentang kejadian kecelakaan yang menimpa seorang pria yang sarah tidak ketahui siapa.
"kenapa mi....?"
__ADS_1
ucap Rizal ikut terbangun mendengar hal itu.
"pih....mami bermimpi tentang seseorang yang mengalami kecelakaan.....apa itu pertanda buruk tentang Dwi..!"
ucap Sarah memeluk suaminya itu.
"semoga itu hanya mimpi Mi...
semoga Dwi baik baik saja!"
ucap Rizal mengusap punggung istri nya itu.
dor...dor..
keduanya terdiam saat mendengar seseorang menggedor pintu rumah.
"siapa pih..jam segini?"
"tidak tahu,kita coba lihat...."
ucap Rizal beranjak dari ranjang dan pergi keluar.
Dena terus menggedor pintu rumah Sarah hingga seseorang membuka pintu itu.
"siapa kamu?"
ucap Rizal saat melihat Dena di balik pintu.
Esa yang mendengar hal itu, melihat Dari atas siapa yang datang pagi pagi buta seperti ini.
"saya wanita yang dua puluh tahun ini merawat anak kalian yang hilang...!"
ucap Dena membuat Sarah dan Rizal membulat kan matanya.
Esa turun ke bawah mendengar hal itu.
"langit sebenarnya anak kalian..!" ucap Dena dengan nafas tersengal.
"omong kosong macam apa?kami tidak percaya..!"
"demi tuhan, saya tidak bohong.
langit kecelakaan dia terluka parah dan butuh donor darah....!"
ucap Dena terisak.
"ayo mi, kita kerumah sakit!"
ucap Esa menarik tangan Sarah dan Rizal yang mematung mendengar penuturan Dena.
Sarah menangis sepanjang jalan mendengar cerita Dena tentang Langit.
rasanya ingin marah pada Dena,tapi melihat kondisi Dena yang tidak berdaya Sarah memilih untuk diam.
tak lama mereka sampai di rumah Sakit tempat hawa bekerja.
"saya kakak nya langit..!"
ucap Esa yang langsung menemui suster untuk mendonorkan darah nya untuk langit, di ikuti Rizal karena dokter mengatakan kondisi langit yang semakin melemah.
"astagfirullah aladzim....!"
ucap Sarah menangis mendengar penuturan dokter.
entah harus percaya atau tidak jika Pria yang selalu bersama hawa adalah putra bungsu nya sendiri.
pantas ia merasakan getaran jika bertemu anak itu, tapi benarkah Langit adalah Dwi.
Sarah terperangah melihat Dena yang terus mimisan, bergegas Sarah meminta dokter menangani Dena yang tampak lemah.
"aku masih butuh kamu untuk mengatakan pada langit kebenaran ini...!"
ucap Sarah pada Dena yang dibawa oleh suster.
"Suster Sani, tolong hubungi dokter Hawa untuk datang membantu kita disini...!"
ucap dokter Sanusi dan di angguki oleh Sani.
Sarah terdiam sendiri duduk di kursi tunggu, menuggu Rizal dan Esa selesai diambil darahnya.
__ADS_1
dengan pikiran tak menentu Sarah tak berhenti menangis, apa Mimpi itu sebuah firasat.
Sarah juga mendengar ada dua mobil dan satu motor yang tertabrak mobil langit.
"saya yang akan membiayai semua pengobatan mereka dokter...!"
ucap Sarah pada dokter yang mengatakan hal itu pada sarah.
tak lama Esa datang menghampiri Sarah.
"Esa .....!"
ucap Sarah memeluk putra sulung nya itu.
tanpa berpikir panjang Esa langsung mengajak Sarah dan Rizal kerumah sakit saat mendengar penuturan Dena tentang langit yang membutuhkan donor darah.
dan saat di periksa oleh Dokter darah mereka memang Cocok dengan darah Langit.
Sarah sendiri Bingung karena mengetahui jika langit dan Esa mencintai perempuan yang sama.
tak lama Rizal dan hawa muncul berbarengan.
hawa langsung ke rumah Sakit saat Sani meminta nya datang ke rumah sakit.
langkah nya terhenti saat melihat Sarah yang menangis di pelukan Esa.
"sebenarnya apa yang terjadi?"
ucap Hawa bergumam sendiri.
pandangan kedua nya bertemu, hawa merasa bersalah atas kejadian tadi malam.
"dokter Hawa... cepat!"
ucap Sani membuyarkan lamunannya.
Hawa gegas mengikuti langkah Sani menuju ruang operasi.
"dokter hawa, cepat kita tidak punya banyak waktu karena kondisi pasien sangat lemah ..!"
hawa menggigit bibir saat melihat siapa korban kecelakaan itu, air matanya jatuh tak tertahankan..
"langit....."
mereka menatap hawa penuh tanda tanya.
namun cepat Hawa bertindak karena Dokter Sanusi memberikan isyarat cepat.
hawa keluar dari ruangan tersebut dengan tubuh yang lemas, karena saat ini kondisi langit tengah kritis.
"hawa... bagaimana keadaan langit?"
ucap sarah membuat Hawa tertegun, kenapa Sarah begitu mengkhawatirkan keadaan langit.
"kenapa Bu sarah menanyakan perihal langit?"
tanya Hawa dengan air mata yang menetes di pipi nya.
"langit itu anak saya yang hilang..!"
hawa terperangah mendengar penuturan Sarah yang seperti mimpi.
"bagaimana keadaan nya hawa?"
"langit tengah kritis Bu Sarah....!"
ucap Hawa menunduk karena Esa terus menatap nya.
"astagfirullah.....!"
ucap Sarah Menangis memeluk suaminya.
bersambung.
terima kasih yang udah mampir.
terima kasih yang udah like and komentar.
😍😍😍😘
__ADS_1