
Hawa memperhatikan kaca jendela yang basah oleh air hujan, sehabis subuh tadi hujan turun mengguyur wilayah tersebut, namun kini hujan sudah reda.
Hawa sudah bersiap dengan seragam sekolah nya, rambut nya ia biarkan terurai, menatap wajah nya dalam cermin.
senyum nya tertahan saat mengingat kejadian pertama kali ia dan langit bertegur.
"rambut Lo aneh!"
ucap langit terkekeh kecil.
hawa menggigit bibir nya mengingat kejadian dimana ia dan langit berciuman.
rasa sesal menyeruak memenuhi rongga hati,tak seharusnya ia terlena dengan semua itu.
sekarang apa yang terjadi?
"waktu ku disini hanya tinggal satu Minggu lagi!"
ucap hawa duduk di kursi,
"sedangkan hati ku terjerat cinta langit, pria yang kini tak ada kabar, mungkin langit masih marah" ucap Hawa sendiri, termenung mengingat kejadian semalam, saat Surya datang menemui nya.
***
"maaf, Apa laundry nya sudah tutup!?"
tanya Surya pada Esa yang baru saja keluar dari Ruko yang sudah tertutup pintu rolling.
"ya pak, sudah tutup sejak tadi!
apa bapak mau ambil baju?"
tanya Esa yang berpikiran jika Surya adalah pelanggan nya.
"bukan, saya mau bertemu Hawa..!"
ucap Surya senyum.
"hawa?"
ucap esa menautkan kedua alisnya, "siapa bapak ini?"
tanya Esa dalam hati nya.
"ya, saya mau ketemu Hawa, putri saya!"
ucap Surya menjelaskan perihal maksud nya. karena Surya bisa membaca Raut wajah pria tampan itu yang tampak bertanya siapa dirinya.
"oh..... anda ayah hawa?"
"ya saya ayahnya hawa.....! saya mau ketemu Hawa"
"sebentar, saya panggilkan!"
kemudian esa membuka pintu rolling dan masuk ke dalam.
Beberapa kali Surya menelpon putri nya itu namun hawa tak mengangkat nya.
hawa terdiam mengingat langit, biasa nya mereka akan pergi keluar sepulang ia bekerja di laundry, namun beberapa hari ini aktivitas itu berhenti seketika.
"hawa....."
ucap esa di balik pintu.
"wa...itu kayak nya bang esa deh manggil!
ucap Mimin beranjak dari rebahan nya.
hawa beranjak membuka pintu dan melihat esa yang sedang tersenyum pada nya.
"kenapa bang?"
ucap Hawa menilik wajah Esa.
__ADS_1
"ada ayah mu di bawah...!"
"ayah.....?"
ucap hawa keluar dari kamar kemudian berjalan meninggalkan Esa yang diam di ambang pintu.
Esa memperhatikan hawa yang berjalan menuruni tangga, celana training panjang berwarna putih dan Kaos street berwarna pink.
tercetak jelas bagian belakang dan depan tubuh hawa yang menonjol.
gegas Esa memalingkan wajahnya, keindahan yang bisa menimbulkan dosa.
"ayah....!"
ucap hawa menghampiri Surya yang berdiri di depan Ruko.
"hawa, Ayah telpon! kenapa tidak di angkat?"
"HM..... maaf ayah handphone nya mode silent, jadi hawa gak dengar!"
"ya sudah....ayah mau bicara sama kamu?
kamu sudah makan?"
"belum, hawa tadi makan sore jadi belum laper!"
"ya sudah, ayo kita Beli sate Mau?"
"ya, Boleh hawa mau!"
ucap hawa kemudian berjalan bersama Surya, "hawa....!"
panggil Esa dari dalam mengehentikan langkah nya, kemudian hawa menoleh ke belakang.
"sebentar ayah...!"
ucap Hawa Menghampiri Esa yang berada di dekat meja.
sebenarnya Esa tak bermaksud mendengar kan percakapan Ayah dan anak itu, namun entah kenapa Esa merasa penasaran dan mendengar kan percakapan keduanya di balik rolling,ada perasaan tak rela ketika Hawa hendak pergi dengan sang ayah dalam keadaan hawa yang berpakaian seperti itu,hatinya mendorong nya untuk memanggil gadis itu sebelum pergi.
"kenapa bang?"
ucap esa senyum memakaikan jaket tebal milik nya.
"sayangilah diri kamu sendiri hawa...!"
ucap esa kemudian pergi meninggalkan Hawa yang memantung sejenak, memegang jaket tebal yang tersampir di bahu nya.
"hawa....ayo cepat!"
ucap Surya dari dalam menyadarkan hawa dari diam nya, gegas hawa memakai jaket tebal milik esa kemudian keluar mengahampiri sang ayah.
"kenapa Yah?"
Ucap hawa membuka obrolan sambil mengunyah makanan nya.
"ulangan mu Sudah selasai?"
"tinggal ulangan praktek Minggu ini yah?
kenapa?"
"baguslah kalau begitu jadi kamu bisa ikut Ayah akhir Minggu ini kita pindah ke Kalimantan..."
"akhir Minggu ini?
tapi raport nya belum keluar?"
"oh soal itu gampang? teman ayah nanti yang akan mengurus nya...!"
"oh...ya udah!"
ucap Hawa tersenyum paksa, antara ingin dan tidak pergi dari Jakarta, tapi ia benar benar tidak punya sanak saudara di Jakarta ini, tidak masalah jika Surya pindah ke Bandung atau Bogor, semua itu bisa ia tempuh dengan kendaraan beberapa jam jika hawa ingin bertemu dengan sang ayah, tapi Kalimantan cukup jauh.hawa tak berani jika pergi sendiri.
__ADS_1
"yang tadi itu siapa?"
"yang mana Yah?"
"pria yang memanggil kamu? pemilik laundry?"
"ya,dia itu anak pemilik laundry yah!"
"oh ...."
"kenapa?"
"gak apa-apa... ramah dan santun!"
ucap Surya mengingat percakapan singkat nya dengan Esa.
"mari pak, saya duluan!"
"oh ..ya, hawa... kemana ya?"
"ada di dalam, sedang mengambil jaket!"
ucap esa tersenyum kemudian pergi meninggalkan Surya sendiri.
**
hawa keluar dari Ruko dan melihat Esa yang baru turun dari mobil, dengan kemeja berwarna merah maroon dan celana berwarna hitam.
rasanya malu jika mengingat kejadian semalam....
"hawa...." ucap Esa tersenyum melihat hawa yang keluar dari ruko.
"bang, terima kasih untuk yang semalam, Hawa udah cuci kok jaket nya"
ucap hawa tak mampu menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"oh, soal itu...!
Jaketnya untuk kamu saja hawa, kenang kenangan!"
ucap Esa kemudian beranjak pergi masuk ke dalam Ruko.
hawa berjalan menuju gedung sekolah dengan pikiran yang tidak menentu, terlihat beberapa bus sudah berjejer di depan gedung dan di dalam.
Hari ini acara tour perpisahan kelas tiga,ke Bandung, langit juga pasti ikut.
terlihat beberapa siswa kelas tiga sudah datang dengan memakai kaos yang sama, sebenarnya ingin mencari langit namun hawa urungkan, masalah nya di sekolah itu sudah mereda, jika ia kembali mendekati langit.. keadaan pasti kembali ke semula.
langit memperhatikan Hawa sejak Hawa berbicara dengan Esa di depan ruko, tak rela rasanya terus membiarkan pria itu dekat dengan kekasih nya, namun langit juga tak bisa berbuat banyak karena ada dua body guard yang masih saja mengawal nya.
"wa.... kenapa?"
ucap Erin saat hawa masuk ke dalam kelas dengan wajah yang murung.
"mau ketemu langit, tapi takut?"
"ketemu ngapain wa!?
sebenarnya hubungan kamu apa sih sama langit?"
"dia itu kemarin Abang tiri Ku...!"
"Abang tiri tapi mesra banget...". ucap Lidia yang berbicara Sambil Lewat.
pasalnya dialah yang memotret Hawa dengan langit di tenda makan itu.
saat itu lidia tengah memesan makanan,dan tak sengaja melihat hawa dan langit.
dari poto itu ia bisa membeli tas mahal, karena informasi yang ia berikan pada Violla itu tidak lah gratis.
Langit memperhatikan Hawa yang sedang berjalan bersama Erin Menuju ruang laboratorium untuk praktek biologi, rasanya ingin sekali menarik tangan gadis itu dan membawanya nya ikut pergi bersama nya, namun itu hanya sebatas keinginan, karena langit tak bisa berkutik dengan dua orang yang berada di belakang nya.
bersambung.
__ADS_1
terima kasih yang sudah mampir, sampai part ke dua puluh ini, ada beberapa bab ke belakang yang author Riview sedikit, author juga merubah nama Adik esa yang hilang,boleh di baca lagi itu di part yang judulnya salah paham, takut nya para reader dari Awal yang setia membaca sampai part nanti sedikit bingung, jadi author kasih tahu di part ini, kalau ada sebagian yang author Riview..
terima kasih yang sudah Like and komentar...😍