Langit Hawa

Langit Hawa
terbuka.


__ADS_3

Hawa meringkuk di kasur lipat, pikiran nya tak menentu mengingat kejadian tadi. Langit benar benar tidak kembali, ia salah paham dengan apa yang dilihat nya.


hawa bangun dan duduk menatap kaca jendela yang menampakkan gelap nya malam, melihat ia ngobrol dengan Ezi Saja sudah seperti itu marah nya, Apa lagi seperti tadi.


ah dasar langit,dia itu tipe pria yang cemburuan.


bagaimana menjelaskan semuanya, sementara jika di sekolah ia tak bisa berkomunikasi sama sekali, besok libur.....


hawa terdiam memikirkan langit yang tanpa kedua body guard nya, apa keadaan sudah mulai membaik?


'ah entahlah rasanya pusing...'


gumam hawa sendiri dalam hati.


teringat percakapan nya tadi bersama Esa.


*


Esa memperhatikan hawa dan pria yang tiba-tiba menarik tangan gadis itu.


Esa pun mendengar penuturan pria yang langsung membuat Hawa terperangah, tanpa mendengar ucapan Hawa, langit nama pria itu tak menghiraukan Hawa yang berteriak memanggil namanya.


"hawa..... siapa langit?


pacar kamu?"


ucap Esa mendekati Hawa yang menghapus air matanya.


"ya bang, dia seperti nya salah paham!"


"maaf hawa, aku gak bermaksud membuat kalian bertengkar, aku juga tidak tahu kalau kamu itu udah punya pacar!"


ucap Esa, entah kenapa ia merasa kecewa dengan kenyataan itu, hawa juga terlihat sedih karena hal itu.


"gak apa-apa bang, nanti biar hawa jelas kan...dia emang cemburuan banget, Hawa juga kadang kesal dengan sikap nya itu."


Esa terkekeh kecil mendengar apa yang Hawa lontarkan.


"itu artinya dia emang cinta sama kamu, maka nya dia itu cemburu lihat kamu sama cowok lain!"


"ya tapi harus nya tidak seperti juga, dia itu harus nya dengarkan hawa dulu!"


ucap Hawa kemudian masuk ke dalam ruko meninggalkan esa sendiri.


setelah beberapa hari seakan tak ada kabar, ia tiba tiba datang membuat Hawa resah.


langit masuk ke dalam rumah, terlihat Dena sedang duduk termenung sendiri, entah apa yang Sedang di pikirkan nya.


"kamu dari mana?"


ucap dena saat langit melangkah tak menyapa nya.


langit menyiapkan diri nya untuk menerima Omelan dari Dena tentang dirinya yang kabur dari para bodyguard itu.

__ADS_1


"kenapa kamu pulang sendiri?hm?


sudah berani melawan mami?"


"terserah mi, langit capek!


mami urus saja keberangkatan langit ke London sekarang, mungkin langit lebih baik pergi jauh dari pada diam dirumah ini, tapi langit tak bisa berkutik"


ucap langit kemudian pergi meninggalkan Dena yang mematung sendiri.


hatinya benar benar ngilu,tak sanggup melihat pemandangan seperti tadi, siapa pria yang sedang bersama Hawa?


mereka terlihat akrab, padahal baru satu Minggu mereka berdua berjarak.namun dengan mudahnya hawa dekat dengan pria lain.


"bagaimana sih perasaan Hawa terhadap ku?"


ucap langit sendiri duduk di ranjang nya.


waktu yang ia miliki hanya sebentar, ia berharap saat menemui gadis itu, ia bisa mengatakan jika ia begitu merindukan nya.


memeluk nya walau sebenar saja,tapi tidak justru ia di suguhkan pemandangan yang membuat nya cemburu.


langit memijat keningnya yang terasa pusing, apa lagi dengan sikap Dena yang terus menekan nya untuk segera pergi ke London.


mungkin jarak nya akan semakin jauh dengan Hawa, tapi langit mau saat mereka berpisah hubungan keduanya tetap seperti semula,tak apa lah meski harus hubungan jarak jauh, sampai kedua nya sama sama memiliki masa depan untuk meraih kebahagiaan.


langit benar benar pada keinginan nya, menjadikan hawa sebagai teman hidupnya kelak, namun jika seperti ini keadaan nya, langit tak akan bisa tenang jauh dari hawa karena menilik hawa yang mudah dekat dengan siapapun.


"lalu sekarang harus bagaimana?"


Minggu ini laundry tampak sibuk, banyak pelanggan yang datang untuk mencuci baju dan menyetrika.


Esa memperhatikan hawa yang terlihat lesu tak bersemangat seperti hari hari biasa, apa karena kejadian kemarin gadis itu kehilangan semangat.


"wa, kamu sakit?"


ucap esa membantu mengepak barang.


"gak apa-apa bang, cuma ngantuk berat!


semalam gak bisa tidur?"


"kamu mikirin dia sampai gak bisa tidur?"


tanya Esa membuat Hawa mendongak.


"hawa....m, bukan semalam banyak nyamuk bang!"


ucap Hawa terbata kemudian menunduk kan wajah nya.


"ya nyamuk nya pacar kamu yang cemburuan itu kan...!"


ucap esa terkekeh, pasalnya ia menutupi rasa tidak suka nya itu mendengar kenyataan bahwa semalam hawa terus memikirkan pacar nya itu.

__ADS_1


"ah bang Esa bisa aja!"


ucap hawa tersenyum tipis.


ia pun menyibukkan dirinya dengan pekerjaan, berharap bisa melupakan langit.


meski ia meresahkan keadaan pria itu, tapi hawa berharap langit baik baik saja.


waktu menunjukkan pukul dua belas siang, terdengar adzan Dzuhur berkumandang,Esa keluar dari ruangan nya dengan menggunakan Koko berwarna putih dan sarungnya berwarna hijau.


pria itu memang rajin ke masjid, Wajahnya tampak basah dan segar oleh air wudhu,hal itu menyadarkan hawa, bahwa selama ini ia jauh dari status nya sebagai hamba Allah yang banyak meninggalkan kewajiban nya beribadah.


"istirahat dulu, yang mau makan atau solat dulu bergantian saja!"


ucap Esa tersenyum pada Hawa kemudian melangkah keluar menuju masjid yang letaknya tak jauh dari tempat mereka.


"kok wudhu nya disini, emang di masjid gak ada air wudhu!"


ucap hawa pada Mimin yang sedang menulis.


"ya, bang Esa emang suka gitu, katanya berjalan ke masjid itu dalam keadaan sudah berwudhu.."


"hebat ya dia, udah cakep! rajin beribadah!"


"ya itu pria idaman wa ...bang esa kan kuliah di Amrik..!"


"oh... tapi kok sekarang dia ada disini?"


"ya, kata Bu Sarah sih,lagi liburan dulu!


kuliah S2 tinggal dua tahun lagi, calon sarjana teknik informatika...masa depan yang menjanjikan!"


ucap Mimin menjelaskan pada Hawa,


Mimin sudah lama bekerja di tempat itu, pegawai paling lama dan paling dekat dengan Sarah,jadi banyak tahu soal keluarga sarah.


"oh gitu....!"


"ya, suaminya juga punya perusahaan besar, ya laundry ini cuman sampingan Bu Sarah aja biar ada kegiatan!"


"hebat ya kak mereka itu...!"


ucap Hawa tersenyum kemudian beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar.


memeriksa bajunya dan mengambil mukena yang entah sejak kapan ia abaikan.


hawa mengambil wudhu dan melaksanakan shalat Dzuhur di tempat itu.


Hawa termenung sendiri, mengingat kehidupan nya yang beragama namun jauh dari ibadah,


pikirnya terbuka, tentang jalan hidup yang selalu ia keluhkan.. berlari dari keadaan, itu yang selalu ia lakukan. tak sadar ada tuhan tempat bersandar sesungguhnya...


mungkin saat ini lebih baik memikirkan untuk Memperbaiki diri ketimbang memikirkan langit yang tak kunjung mereda.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2