Langit Hawa

Langit Hawa
perubahan.


__ADS_3

langit menuntun tangan hawa untuk masuk ke dalam kamar, Hawa duduk tertegun mendengar penuturan Arumi barusan.


"apa kamu sudah menstruasi....?"


ucap Arumi menilik wajah hawa yang pucat.


"belum sudah telat seminggu ini....!"


ucap hawa Menoleh pada langit yang Tersenyum.


"Hawa, mungkin kamu sedang hamil...!"


tutur murni memegang bahu Hawa.


"tapi Hawa dulu juga seperti ini ya Bang...!"


ucap hawa menggenggam tangan langit.


"tidak ada salahnya mengecek... kita tidak tahu keajaiban tuhan...!"


ucap Surya menimpali sambil tersenyum.


"ya sudah...ayo duduk!"


ucap langit menyandarkan tubuh Hawa pada dadanya.


"ya, nanti kita akan coba beli taspack ya sayang!"


ucap langit membuat Hawa mendongak.


dulu beberapa kali mengalami hal seperti ini tapi hasilnya selalu negatif, hingga hawa enggan mengecek nya lagi meski ia telat satu bulan, karena pada akhirnya ia akan mendapatkan tamu bulanan lagi dan pada akhirnya ia hanya bisa menangis.


"sayang..... kamu tahu bahwa ada waktu nya hujan Turun setelah kemarau panjang...!"


Hawa Menoleh mendengar penuturan langit yang langsung membuat nya meremang.


"hawa takut bang... kalau pada akhirnya hawa harus seperti waktu itu karena hawa tak ingin terlanjur Berharap.....!"


"yang harus kamu lakukan adalah berharap hanya kepada NYa...."


ucap langit mengusap rambut hawa yang keriting.


"Abang nanti yang akan mengecek nya sendiri....!"


hawa Menoleh seketika pada langit yang tengah tersenyum menatap nya.


serius dengan perkataan nya, Langit pergi ke apotek siang hari setelah Surya dan Arumi pulang.


langit pergi ketika hawa tertidur setelah beberapa kali merasakan pusing dan mual.


"buka saja yang, kalau kamu tidak kuat!"


ucap langit mengusap rambut istri nya itu.


"hawa tidur saja bang... kalau hawa terus muntah nanti hawa akan buka puasa....!"


ucap hawa dan di angguki oleh langit.


sore itu hawa membantu murni menyiapkan makanan untuk berbuka puasa.


hawa memperhatikan langit yang sejak tadi sibuk dengan laptop nya.


"bang kamu mau riquest makanan?"


ucap hawa mendekati suami nya itu.


"Abang mau SOP buah aja....!"


ucap langit menyelipkan rambut hawa ke belakang telinga nya.


"apa lagi....!"


"kamu......."


ucap langit sambil terkekeh.


"kamu tuh bang...!"


ucap hawa dengan wajah memerah.


"Abang kirim file dulu ya sama Zaki..!"


ucap langit dan di angguki oleh hawa.

__ADS_1


**


keduanya bahagia menjalani kehidupan mereka yang jauh dari hiruk pikuk kota, berbeda dengan Sarah yang banyak melamun karena mengetahui jika Langit pergi entah kemana mencari hawa.


sore itu Sarah mendatangi rumah langit untuk membicarakan masalah itu secara baik baik namun Sarah tak mendapati anak bungsu nya itu dirumah.benarkah ia sudah keterlaluan.


"mi....!"


ucap Esa duduk di hadapan Sarah yang termenung sendiri.


"Mami nyesel Esa, sekarang langit pergi.


bahkan Amora saja tidak tahu kemana... mungkin bukan tidak tahu, tapi langit yang melarang Amora memberi tahu Mami.."


ucap Sarah menitikkan air matanya.


"Esa kan sudah bilang Waktu itu mi, kita jangan terlalu ikut campur urusan mereka berdua... yang terpenting mereka bahagia.."


ucap Esa memeluk ibunya itu.


"tapi apa salahnya jika mami memberikan saran, kasihan Langit ia juga ingin seperti mu mempunyai anak..!"


ucap Sarah tergugu.


"ya tapi dengan keadaan ini Mami harus tahu kalau langit lebih mengutamakan keberadaan hawa di samping nya.....!"


Sarah diam tak menjawab, cinta Langit ternyata benar benar besar untuk hawa, bahkan langit tak masalah jika tidak memiliki anak.


"nanti kita cari tahu dimana mereka, mami mau kan minta maaf sama mereka, biarkan semua berjalan seperti adanya Mi... mereka juga sudah berusaha"


ucap Esa dan di angguki oleh Sarah.


Rizal sendiri tak banyak bicara karena ia juga sudah menasehati istri nya yang masih saja keras kepala.


justru kesehatan nya semakin menurun karena hal itu, ia juga sedih karena langit menjauh dari jangkauan nya.baru saja kemarin ia kembali dan karena suatu hal ia pergi lagi.


*


waktu berbuka akhirnya tiba, hawa memberikan segelas teh manis hangat untuk suami nya itu.


"terima kasih......"


ucap langit memeluk pinggang Hawa..


ucap hawa melepaskan tangan langit.


"mau makan atau Nanti saja..."


tanya murni senyum melihat kedua anak muda itu.


"kita sholat Maghrib saja dulu Bu le..."


ucap hawa dan di angguki oleh murni.


setelah selesai melaksanakan shalat magrib bergegas hawa beranjak pergi ke kamar mandi.


"oek......"


langit Tersenyum mendengar hawa yang kembali muntah.


"semoga Engkau mengabulkan doa kami selama ini..."


ucap langit beranjak menghampiri hawa kemudian memijat tengkuk nya pelan.


"bang...."


"HM ..."


ucap langit Tersenyum.


"kenapa senyum seperti itu....?"


ucap hawa tersenyum memberangus.


"tidak apa-apa....!"


ucap langit mengangkat tubuh Hawa dan membawa nya keluar dari kamar mandi.


"kenapa harus di gendong segala...?"


ucap hawa menatap langit yang Terkekeh.


"ya takut nya lemas...!"

__ADS_1


ucap langit membaringkan tubuh hawa di ranjang kemudian memeluk nya dari belakang.


"kita cek besok....!"


desis langit di telinga Hawa.


"kamu yakin bang .. nanti kalau hasil nya sama seperti dulu bagaimana...?"


ucap hawa Menoleh ke belakang melihat langit yang tampak santai dan tenang.


"tidak masalah... kita cukup Rido dengan ketentuan nya, bukan kan kita sudah bahagia meski hanya berdua saja... tapi tidak ada salahnya berharap?"


ucap langit membuat hawa tenang.


"kalau masih mual tidak usah pergi sholat tarawih yang, kamu istirahat saja!


harus nurut ya!"


ucap langit dan di angguki oleh hawa.


"Abang berangkat sholat tarawih dulu ya!"


ucap langit mengelus kepala istri nya itu.


"ya...!"


ucap hawa sambil beranjak.


"kamu mau kemana?"


"bang boleh tidak hawa makan duluan, rasanya laper banget!"


ucap hawa membuat langit tertegun, tak biasa hawa merasa kan hal seperti itu, ia bahkan jarang makan karena memang tak nafsu makan.


tadi pagi saja saat sahur, hawa makan cukup banyak, perubahan yang cukup besar.


"boleh Sayang... kenapa tidak?


Abang suka melihat mu banyak makan...!"


ucap langit Tersenyum.


selama ini hawa memang banyak pikiran hingga ia kurang nafsu makan, bahkan karena hal itu membuat tubuh Hawa kurus.


tapi beberapa hari ini sebelum keduanya berada di solo, hawa memang terlihat lebih banyak makan dan ngemil sampai masalah itu datang hingga membuat keduanya berada di rumah itu.


andai saja Sarah tak terus menekan Hawa Mungkin keadaan nya akan lain,tapi semua sudah terlanjur terjadi dan langit tetap memilih untuk mempertahankan rumah tangga nya bersama hawa, apa pun keadaan nya nanti.


kehadiran buah hati memang penting, tapi hal itu tak menjadi ukuran cinta nya pada gadis yang saat ini tengah melahap makanan nya.


"kamu tumben makan banyak....?"


ucap murni senyum.


namun hawa terdiam saat merasakan Perutnya keram dan rasa mual kembali datang hingga ia langsung beranjak menuju wastafel.


"astaga hawa....!"


ucap murni mengikuti langkah Langit menghampiri hawa yang tengah memuntahkan makanan nya.


"langit sebaik nya Kamu temani hawa saja dirumah, Bu le khawatir...!"


ucap murni dan di angguki oleh langit.


"ya sudah...Bu le pergi ke masjid ya!"


ucap murni kemudian beranjak pergi.


hawa mendelik sambil tersenyum menatap langit yang tersenyum melihat nya.


"apa sih kamu bang....?"


ucap hawa bersembunyi di dada Pria itu.


langit mengangkat tubuh hawa dan mendudukkan nya di meja.


"seperti nya Abang kali ini berhasil....!"


ucap langit terkekeh kemudian mencium bibir hawa dengan lembut.


bersambung...


terima kasih yang udah mampir.....😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2