
Hawa bangun dan melakukan aktifitas seperti biasa, ia mencuci pakaian dan yang lainnya.
membuat sarapan untuk langit..
Hawa terdiam menatap meja yang menjadi saksi semalam.
"benar kah langit menyukai ku, atau saat itu langit sedang berhalusinasi kalau aku ini Violla?"
pikir hawa dalam benaknya.
"ah kenapa rasanya tak percaya dengan semua itu, bagaimana jika langit sedang mempermainkan ku?
bagaimana mungkin langit menyukai perempuan seperti diriku? aku tidak cantik, apa lagi dengan kaca mata yang selalu melekat pada wajah ku ini..
berbeda jauh dengan Violla yang mengejar ngejarnya, selalu tampil cantik dan modis.
sedangkan diriku,tak ada satupun kelebihan apa lagi jika di bandingkan dengan Violla."
hawa memijat keningnya yang berdenyut pusing,tak seharusnya ia hanyut dalam sentuhan langit.
"kenapa kamu diam saja hawa? kenapa kamu diam saat langit terus menciumu?
cepat atau lambat Mungkin saja aku akan pergi, tapi kenapa justru aku tidak bisa menghindari sentuhan langit yang begitu memabukkan.."
jiwa keduanya hampa, hidup nya pun terasa sepi, keduanya sama sama terlahir dan besar dalam keadaan broken home.
dan saat mereka dekat, keduanya langsung merasa nyaman karena memang keduanya saling membutuhkan, saling mengisi ruang hati nya yang kosong.
Hawa terperanjat saat tiba tiba langit memeluk nya dari belakang.
"astaga langit mengagetkan Saja!"
ucap hawa berbalik.
kini keduanya saling berhadapan, jarak keduanya begitu dekat.
"ngehalu apa?"
ucap langit senyum menatap wajah hawa yang berkeringat dingin.
"aku....!"
ucap hawa menghindar kemudian duduk di kursi.
"semalam kamu....!"
"apa?" ucap langit jongkok di hadapan Hawa.
"kamu sadar gak sih dengan apa yang semalam kamu lakukan!"
"sadar......!"
ucap langit kemudian mengecup bibir hawa, Membuat hawa membeku seketika.
"langit...aku!"
ucap hawa terhenti saat langit melakukan hal yang sama, mengangkat tubuh nya untuk duduk di meja.
hal yang begitu indah untuk kedua nya,langit yang semakin tak bisa mengendalikan diri nya untuk tidak menyentuh gadis itu.
"langit!"
ucap hawa menutup bibir nya dengan tangan.
"kenapa?
kamu gak percaya Sama aku..
apa yang aku ucapkan itu benar benar dari hati aku, keriting..aku suka sama kamu!"
"tapi bagaimana dengan Mami mu jika mengetahui soal ini?"
ucap hawa mencoba coba mencari Cctv di dapur itu, khawatir dengan apa yang mereka lakukan terekam kamera.
namun hawa tak menemukan keberadaan Cctv tersebut.padahal Dena memang menyimpan rapih Cctv itu..
"aku gak perduli, karena selama ini dia juga gak perduli sama aku,dia cuma mikirin suami baru, lelaki baru!
__ADS_1
tanpa pernah memikirkan aku!"
menilik hal itu, bukan hanya hawa yang haus kasih sayang tapi langit juga.
"aku serius hawa! aku gak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya..aku dulu pernah punya pacar, tapi baru kali ini aku merasakan nya dengan kamu!"
ucap langit meraba belakang telinga Hawa, membuat hawa meremas meja.. kemudian langit kembali mencium bibir hawa dengan lembut tak menuntut, membuat hawa terengah tak bisa menolaknya.
"langit...!"
ucap hawa melepaskan pagutan bibir langit, tubuhnya meremang bukan main merespon sentuhan langit.
"aku takut, rasa nya semua seperti mimpi!
aku....!"ucap Hawa menunduk, bukan menghindar justru keduanya mengikuti arahan setan.
"kalau kamu merasa itu mimpi, biarkan aku yang mewujudkan mimpi itu!"
ucap langit kemudian merengkuh tubuh hawa yang kurus.
weekend ini hawa berangkat pagi ke laundry karena sekolah libur, jadi nanti hawa bisa pulang sore, dengan segunung baju setrikaan yang menuggu nya.
setelah kejadian pagi itu, hawa berusaha untuk percaya pada langit, mempercayakan hatinya..
tapi tidak sepenuhnya... karena sejak awal ia menghindari keadaan ini,tapi hal itu berubah saat ia mengenal sosok langit yang membuat nya terbuai begitu saja.
hawa tampil sederhana dengan celana jeans berwarna hitam dan kaos tangan panjang berwarna merah maroon,
tak ada yang spesial, hawa selalu tampil apa adanya saja.
"mau kemana?"
ucap langit yang baru pulang dari lari pagi nya, ia tidak mengetahui jika weekend ini hawa tetap kerja.
"Kerja?"
ucap hawa menunduk, jujur saja ia masih malu dengan kejadian tadi pagi.
keduanya terbuai dengan perasaan masing-masing.
"emang gak libur?ini kan weekend Hawa?"
aku udah siapin kamu sarapan sama makan siang, hari ini aku pulang sore jadi nanti aku masak makan malam untuk kita!"
ucap hawa kemudian memalingkan wajahnya dari langit yang tampak tampan saat berkeringat seperti itu.
"oh aku kira libur!
ya udah tunggu, aku antar kamu!"
"gak usah!"
ucap hawa menyentuh tangan langit.
keduanya terdiam menatap wajah masing-masing.
"aku...maaf!
aku berangkat sendiri saja?"
"kenapa?"
ucap langit menyudutkan hawa pada dingin.
"kamu itu pacar aku, jadi kemana pun kamu harus sama aku?"
ucap langit Tersenyum.
"tunggu sebentar!"
ucap langit kemudian pergi, karena jika terus dalam keadaan seperti itu bisa jadi ia menahan hawa untuk pergi.
"nanti angkat jemuran ya,biar nanti sore aku setrika baju nya!"
ucap hawa saat ia hendak naik motor langit.
"ya, nanti aku angkat jemuran nya!
__ADS_1
ayo naik!"
ucap langit kemudian menarik tangan hawa.
langit menarik tangan hawa agar memeluk tubuh nya,hal yang dulu selalu ia hindari jika bersama Violla, namun berbeda dengan hawa.
perempuan itu seperti magnet yang membuat langit candu.
**
tak lama mereka sampai di depan ruko, terlihat Mimin baru saja membuka pintu rolling.
"aku kerja dulu!"
ucap hawa namun cepat langit menarik tangan nya.
"apa?"
"pulang jam berapa, nanti Abang jemput de!"
ucap langit membuat hawa terkekeh mendengar kata Abang Ade yang langit lontarkan.
"Kenapa sih, jangan bilang langit lagi!
Abang.... ngerti!"
ucap langit menyentil hidung hawa.
"ya bang... sekitar jam lima!"
"ya udah Abang nanti jemput, kamu tunggu ya jangan pulang dulu!"
ucap langit mengacak rambut hawa yang keriting.
"apa sih lang? eh bang?"
ucap hawa kembali terkekeh.
"ya udah hati hati ya!"
ucap langit kemudian pergi.
dari dalam mobil seseorang perempuan memperhatikan interaksi keduanya.
jantung nya tiba tiba berdetak kencang, Teringat seseorang yang telah lama hilang Beberapa tahun ini.
"cie pacar?"
ucap Mimin menyenggol bahu Hawa.
hawa terkekeh kecil menanggapi ucapan Mimin.
tak lama Sarah pemilik laundry tersebut datang.
"Mimin,Hawa?"
ucap Sarah senyum menyapa sambil berjalan kedalam menghampiri karyawan nya yang lain.
tak terasa waktu berjalan cepat, waktu menunjukkan pukul setengah lima sore.
tiba-tiba seseorang datang ke laundry itu.
"hawa?"
ucap Ezi yang tiba-tiba berada di hadapan nya.
"kak ezi?"
ucap hawa tersenyum.
"aku mau laundry baju baju ku!"
ucap ezi, dengan seperti itu ia bisa bertemu dengan hawa dan ngobrol sebentar.
karena akhir akhir ini hawa terkesan menjauh dari nya.
hawa berbincang dengan ezi sambil menulis nota untuk baju laundry nya, namun tangannya langsung terdiam saat melihat seseorang di sebrang jalan menatap nya tajam..
__ADS_1
bersambung..