
beberapa waktu berlalu, hawa membantu sang ayah mempersiapkan segala keperluan untuk pernikahan nya yang akan di gelar Minggu ini, hawa tersenyum melihat Surya yang sedang ngobrol dengan Arumi sesekali tertawa bersama.
rasa bahagia memenuhi rongga hatinya, sebelum nya ia tidak pernah tahu rencana pernikahan Surya dengan perempuan perempuan yang berada di belakang, hawa selalu tahu saat Surya sudah menikah atau membawa ibu tiri ke dalam rumah.
tapi untuk kali ini ia membantu mempersiapkan semuanya bersama Winda.
hawa merebahkan tubuhnya di ranjang Setelah ia dan Surya pulang dari rumah Arumi.
hawa membuka buka ponsel Milik nya, rasa rindu kembali menggelayuti hatinya tentang sosok langit yang menghilang begitu saja.
sebentar lagi ia akan menghadapi ujian nasional,tak Terasa waktu berjalan begitu cepat.
Surya meminta nya untuk kuliah kedokteran di London, tapi hawa menolak karena ia pikir di Indonesia juga bagus tak perlu lah pergi jauh apalagi saat ini ia punya Arumi, rasanya enggan untuk pergi seperti dulu.
Tak lama ponselnya berdering terlihat Esa melakukan panggilan telepon.
"assalamualaikum.....hawa...!"
"walaikumsalam.... bang!?"
"udah mau tidur?"
"ya, kenapa bang?"
"tidak hawa, Abang cuma tanya aja...ya udah kamu istirahat..!"
"ya bang, terima kasih bang...!"
ucap hawa Tanpa berbicara lagi,,
Bingung dengan perasaan nya sendiri, hawa khawatir jika esa menaruh harapan pada nya.
hawa sendiri sadar saat ini ia juga tak seharusnya mengharapkan langit, tapi untuk saat ini ia hanya ingin fokus pada kuliah nya dulu, sementara Esa terang terangan menunjukkan perhatian nya.
Hawa memejamkan matanya dan menyimpan ponselnya di nakas.
pagi menjelang Surya sudah bersiap dengan tuxedo berwarna hitam, Surya tampak tampan dan gagah, pantaslah jika sampai saat ini Dena masih mengharapkan nya.
terkadang Dena dengan sengaja menghubungi Surya untuk melepaskan kerinduan nya,Dena tak pernah melupakan pria itu, terbesit sebuah rasa penyesalan karena dulu ia begitu keras kepala tak memberikan Surya kesempatan untuk menjelaskan semuanya,di tambah kelakuan dua anak remaja yang membuat nya geram tak habis pikir.
tapi saat ini ia hanya bisa meratapi kesendirian nya.
"ayah.... tampan!"
ucap hawa menghampiri Surya yang sudah siap untuk pergi ke rumah Arumi yang berada di samping rumah.
"istri lima langkah ya pak Surya..!"
ucap pak RT terkekeh, di ikuti Surya yang tersenyum menanggapi.
setelah penghulu datang, Surya dan yang lainnya beranjak pergi ke rumah Arumi.
tak ada perayaan apapun, hanya acara akad nikah dan makan bersama.
hawa tampil cantik dengan gamis brokat berwarna gold senada dengan kerudung nya..
langkah nya terhenti saat melihat seorang pria yang ia kenal berada di samping Winda.
kedua pandangan nya bertemu,
__ADS_1
Ezi...pria Yang sudah lama sekali tak ia jumpai,kini berada di hadapan nya.
semalam Ezi sampai di Kalimantan, sengaja ia datang untuk menghadiri acara pernikahan bunda nya.
"hawa...pak Surya?
jadi yang mau menikah dengan bunda ku itu pak Surya?"
"ya, kakak udah kenal mereka..?"
tanya Winda menatap kedua nya.
"ya,kita dulu satu kosan ya kak, sebelum kebanjiran!"
ucap hawa senyum mengingat semua itu,tak menyangka jika Al yang dimaksud ibu Arumi dan winda adalah Ezi.
"saya tidak menyangka jika kamu anak Arumi..."
ucap Surya menepuk pundak Ezi.
Surya tahu jika Ezi menyukai Hawa, namun takdir mengatakan jika kini mereka harus menjadi kakak beradik tiri.
tak lama acara di mulai, Surya menghadap penghulu dengan tenang, tampak ustadz abu Haidar yang akan menikahi mereka.
"saya terima nikah dan kawin nya, Arumi Asifa binti Abdul hakim dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas dua puluh gram di bayar tunai!"
ucap Surya dengan satu tarikan nafas.
"sah..."
"sah...... Alhamdulillah...!"
hawa tersenyum bahagia melihat kebahagiaan sang Ayah, dengan ini ia tidak khawatir lagi karena sudah ada yang mengurus ayah nya itu.
Dena meremas ponselnya saat melihat postingan Surya yang bersanding dengan Arumi menampakkan istri baru nya.
"oh, secepat itu kamu melupakan aku?
lihat saja aku tidak akan membiarkan kamu bahagia begitu saja di atas kesedihan ku, akan ada masa aku menghancurkan kebahagiaan kalian....!"
ucap Dena kemudian beranjak pergi,ia harus segera menenangkan diri nya.
terlihat langit baru saja keluar dari kamar dan hendak pergi ke kampus, hari ini ia juga ada jadwal bermain bola dengan teman teman nya di kampus.
langit memperhatikan Dena yang berwajah muram, entah apa yang terjadi dengan mami nya itu.
"mi, mami mau kemana?"
ucap langit melihat Dena hendak masuk ke dalam mobil.
"bukan urusan kamu langit,mami pusing!
satu hal lagi mami gak izin kan kamu pulang ke Indonesia sebelum kuliah kamu selesai!"
"loh kenapa gitu mi, kemarin mami bilang sama Langit, langit boleh pulang liburan musim panas ini....!"
"tidak Langit, kamu tidak boleh balik ke Indonesia!"
ucap Dena kemudian masuk ke dalam mobil dan membanting pintu dengan keras.
__ADS_1
langit terdiam dengan nafas yang memburu,kesal dengan sikap Dena yang seenaknya.
"sebenarnya aku ini ia anggap apa?"
ucap langit mengepalkan tangannya.
ia sudah berangan akan bertemu dengan hawa dan sekarang tiba tiba Dena menghanguskan mimpi itu.
tapi bukan langit jika ia terus-menerus menurut, liburan musim panas ini ia akan pulang dan mencari hawa!
**
"kamu sejak kapan di Kalimantan..?"
ucap Ezi, saat ini kedua nya tengah bersama di meja makan.
"udah lama kak, sekitar delapan bulan...hawa pindah pas kenaikan kelas!"
"oh gitu... pantesan aku cari kamu tidak ada di sekolah yang lama, tanya Sama salah satu siswa di sana juga gak ada yang tahu..."
ucap Ezi mengingat kejadian masa lalu, saat ia mencari hawa ke sekolah nya, informasi yang ia dapatkan hanya tentang hawa yang sudah pindah sekolah entah kemana...
"loh ini udah akrab aja...!"
ucap Arumi duduk di samping Ezi.
"ya,Bun...Al udah kenal mereka...!"
ucap Ezi atau Alfarezi menceritakan semuanya pada bunda Arumi.
"oh gitu..... dunia terlihat sempit ya kalau seperti itu, sekarang malah udah jadi keluarga..."
ucap Arumi senyum.
benar yang dikatakan oleh arumi, Waktu berjalan dengan cepat tak menyangka jika saat ini Ezi menjadi kakak tirinya.
"hawa, apa kamu masih pacaran sama cowok nyebelin itu...?"
ucap Ezi menanyakan perihal langit.
hawa terkekeh kecil mendengar penuturan Ezi, teringat Ezi yang begitu kesal dengan langit.
"langit sekarang kuliah di Amrik kak, Hawa sama dia lost kontak... tapi...!"
ucapan hawa terhenti saat melihat Surya menghampiri nya.
hawa tak ingin Surya mendengar kan percakapannya dengan Ezi tentang langit karena Surya tidak suka mendengar nama itu.
"cari lah pria yang lebih baik,, contoh nya Esa..!"
ucapan Surya memutar membuat hawa merasa sesak, entah kapan pikiran nya berhenti memikirkan langit.
"semoga Allah memberikan ku jalan atas apa yang aku rasakan, karena sesungguhnya hanya ia yang mampu membolak-balikkan hati manusia..."
Ezi sendiri terdiam, mendapati Hawa yang seperti nya masih menyimpan rasa pada pria yang ia bilang lost kontak dengan nya, apa kejadian ini menunjukkan bahwa ia dan hawa hanya bisa menjadi kakak beradik tiri, tanpa lebih dari itu.
dengan hal itu Ezi sadar ia harus menghapus mimpi yang sempat ia bangun bersama hawa, karena saat ini hawa adalah adik tiri nya.
bersambung.
__ADS_1