Langit Hawa

Langit Hawa
Rahmat.


__ADS_3

Saat ini Hawa dan Langit berada di rumah Surya,mereka tengah mengadakan acara makan bersama karena Winda tengah mengandung setelah pernikahan nya tiga bulan yang lalu bersama Zaki.


Hawa ikut bahagia dengan kebahagiaan mereka, ia bahkan tak merasa iri seperti ucapan Sarah waktu itu.


"jangan bilang kamu iri kalau Mami memanjakan Aqila...!


jadi kamu pulang tanpa berpamitan dengan Mami, kamu kan seorang dokter kamu harus nya tahu sopan santun"


ucap Sarah saat mereka bertemu di mall, saat itu Sarah dan Aqila tengah memilih pakaian bayi, Sarah Masih kesal karena waktu itu langit dan hawa pulang tanpa berpamitan.


"Maaf mi, waktu itu langit yang memaksa pulang!"


ucap hawa, saat itu ia hanya berdua dengan Winda.


"Mami tahu itu cuma alasan kamu aja!"


ucap Sarah kemudian berlalu menghampiri Esa dan Aqila.


hawa menghela nafas berat menyikapi hal itu, Winda sendiri hanya menggeleng kan kepalanya.


"kok seperti itu sih?


mertua kamu... setahu ku Bu Sarah itu baik!"


ucap Winda merangkul bahu Hawa.


"Mungkin beliau masih kecewa karena aku keguguran cucu pertama nya, aku juga tidak tahu kenapa beliau sampai seperti itu, Mungkin karena telah lama ia mengharapkan hal itu namun semua hilang sekejap mata..."


ucap hawa menoleh sekilas pada Esa dan Aqila.


"ya tapi kan masalah itu Allah yang menetap kan hawa, kita manusia hanya bisa berusaha dan berdoa...!"


ucap Winda mengusap punggung saudara tiri nya itu.


"biarkan saja, semoga allah melunak hati nya..!"


ucap hawa kemudian beranjak pergi dari tempat itu.


***


"kami harus nyusul....


aku doakan kamu juga cepat hamil Lagi ya hawa.."


ucap Winda saat mereka tengah makan bersama.


"ya tentu saja....... kita akan langsung dapatkan dua nanti..." ucap Langit Terkekeh mengusap pucuk kepala Hawa.


"anak kembar seperti itu?"


ucap Surya menimpali dan di angguki oleh langit.


keadaan seperti terbalik, di saat langit dan Surya akur justru dirinyalah yang berjarak dengan Sarah.


menjadi salah Tak harus terlihat rusak, semua sudah menjadi kehendak Allah.


"sayang.... kamu kenapa?"


ucap langit sambil merapikan kerudung nya.


"tidak apa-apa bang....!"


ucap hawa tersenyum.


**


malam itu Esa meminta Aqila untuk duduk di samping nya, ia ingin menasehati istri nya itu agar tidak bersikap sama seperti Sarah pada Hawa.

__ADS_1


"Abang tidak suka kamu seperti itu sama Hawa..."


ucap Esa yang Menilik sikap kedua nya pada Hawa.


"seperti itu bagaimana, ila bersikap biasa saja"


ucap Aqila memalingkan wajahnya.


Awalnya ia iri dengan Hawa yang selalu mendapatkan perhatian lebih dari keluarga, apa lagi ia juga tahu jika sebelumnya Esa dan langit memperebutkan perempuan itu.


apa lagi melihat sikap langit yang selalu acuh padanya membuat Aqila ingin menunjukkan bahwa ia bisa lebih baik dari dokter itu.


"Abang masih suka sama Hawa...?"


ucap Aqila membalikkan tubuhnya menatap netra suami nya.


"bukan seperti itu, dari dulu sampai sekarang Abang suka tapi bukan seperti Abang sama kamu...dia itu sudah Abang anggap seperti adik sendiri... jadi Abang mohon kamu jangan cemburu, kasihan Hawa.. kalian kan sama sama perempuan...!"


ucap Esa membuat Aqila terdiam.


"dalam situasi apapun ila tahu dia memang selalu menang...!"


ucap Aqila kemudian pergi keluar meninggalkan Esa Sendiri.


Rasanya cemburu karena Esa terus membela hawa.


hari berganti,bulan berganti hingga tiba pada hari dimana Aqila melahirkan, Esa terpaksa mengambil jalan Caesar karena Aqila mengalami pendarahan untung lah tak terjadi Apa-apa pada bayi mereka.


bayi mereka berjenis kelamin laki-laki, tampan seperti Esa.


sore itu Hawa mengajak Langit untuk menengok Aqila di rumah Sakit, dengan terpaksa langit menerima ajakan itu.


sejak hari dimana Sarah menyakiti hati Hawa, Langit jarang menghubungi mereka jika mereka tidak menghubungi duluan.


Langit tidak suka jika pembahasan Sarah selalu saja tentang kehamilan, itu dan itu.


"assalamualaikum....!"


ucap hawa masuk ke dalam ruangan Aqila.


"terlihat Esa tengah menggendong bayi mereka, Sarah juga ada di situ.


"langit...coba lihat Abang mu...!


Apa kamu tidak ingin seperti itu...?"


ucap Sarah menoleh ke arah Hawa yang justru tersenyum.


"langit Sama hawa itu masih muda...."


ucap langit merangkul bahu hawa kemudian mencium pipi istri nya tanpa sungkan membuat Hawa membeku seketika.


"jadi kita santai, dan tidak terlalu memikirkan soal itu.kita juga lagi senang main sana sini...


ya kan sayang....?"


ucap langit namun hawa Hanya diam.


"sampai kapan main main Terus...!"


ucap Sarah menggelengkan kepalanya, berbeda dengan Esa dan Aqila yang diam tak ikut serta.


"langit Bosen ya Mi, Kalau setiap ketemu selalu itu saja yang mami bahas....!"


ucap langit memalingkan wajahnya.


"salah mami membahas masalah itu...?"

__ADS_1


tanya Sarah tak mau kalah.


"salah... karena mami tidak berhak ikut campur urusan rumah tangga langit dan Hawa...


ayo pulang....!"


ucap langit menarik tangan Hawa.


"tapi bang........!"


ucap hawa menghentikan langkahnya.


"jangan seperti itu sama Mami, dia hanya bertanya....!"


ucap Hawa menggenggam tangan langit yang bergetar karena marah.


"Hawa tidak apa-apa bang....!"


"sampai kapan kamu berpura-pura baik baik saja... Abang tahu kamu tidak baik baik saja!"


ucap langit yang melihat hawa menangis saat kembali mendapatkan Tamu bulanan.


"Abang tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti kamu, termasuk Mami...!


Karena tujuan hidup Abang adalah membahagiakan kamu...!"


ucap langit membuat hawa menetes kan air matanya.


dulu ia takut dengan cinta langit yang terlalu berlebihan, tapi saat ini ia begitu beruntung memiliki Pria yang begitu menyayangi nya.


"kita pulang....!"


ucap langit menuntun tangan istrinya.


Keadaan memang tak berpihak pada nya namun langit bertekad akan membuat Hawa bahagia meski mereka hanya berdua.


"jangan menangis lagi...!"


ucap langit menciumi wajah istrinya itu, kini kedua nya berada di dalam mobil.


"kita main ke pantai ya..!"


ucap langit dan di angguki oleh Hawa.


tak berapa lama mereka sampai di pantai, karena weekend keadaan tempat itu juga cukup ramai pengunjung.


langit mengajak Hawa Berjalan di sekitar pantai, langit suka melihat sunset bersama perempuan itu.


"es kelapa muda, mau?"


ucap langit dan di angguki oleh hawa.


"kalau Hawa tidak bisa hamil lagi gimana Bang?"


ucap hawa Menoleh ke arah Langit.


"aku juga dulu berpikir tidak akan bisa berjalan lagi seperti sekarang ini... tapi kamu tak pernah bosan memberikan aku semangat.


hal itu juga yang akan Abang lakukan, Abang tidak akan lelah memberikan kamu semangat dan berusaha lebih giat lagi..."


ucap langit memeluk Hawa.


"terima kasih bang....!"


"jangan berputus asa, bukan kah seperti itu yang kamu ucapkan dulu pada ku....Rahmat Allah itu luas, melebihi langit...dan aku mencintaimu mu melebihi luasnya Langit...!"


ucap langit mencium kening Hawa, bersama menikmati matahari tenggelam di ufuk barat.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2