
Pagi itu hawa membereskan semua barang barang yang ia bawa dari apartemen, terlihat langit tengah duduk di kursi roda menghadap balkon yang menampakkan langit yang cerah berawan.
"kita keluar jalan jalan yu"
ajak hawa memeluk langit dari belakang.
kebetulan rumah tersebut memiliki lift jadi mereka tidak kesusahan saat akan turun ke bawah.
"kamu tidak ke rumah sakit?"
"aku Risen untuk sementara waktu...."
ucap hawa membuat langit langsung menoleh.
"kenapa Risen....?"
"aku tidak mungkin membiarkan mu sendiri dirumah..."
"tapi ada pembantu..."
"ya, Tapi tetap saja, aku tidak bisa pergi bekerja jika keadaan kamu masih seperti ini..."
"aku baik baik saja hawa.....aku bisa sendiri"
ucap langit menatap wanita yang duduk di hadapan nya itu.
"aku akan tetap dirumah sampai kamu bisa berjalan kembali seperti dulu..."
ucap hawa tetap pada pendiriannya.
"hari ini juga kita mau kontrol kan....aku akan selalu ada di sisi kamu, bang..."
ucap hawa membuat langit termenung.
ia bahkan membuat hawa harus berhenti bertugas demi menemani nya dirumah, bagaimana tanggapan Surya nanti jika mengetahui hal ini.
ia memang tidak mempermasalahkan soal uang, karena meskipun Langit dirumah tapi ia punya orang kepercayaan untuk mengurus perusahaan sementara waktu, sampai keadaan memungkinkan untuk ia kembali ke kantor.
kemarin pengacara kepercayaan Dena datang, pengacara itu memberikan surat wasiat terakhir dari Dena.
semua harta milik nya ia limpahkan pada langit,baik yang di dalam maupun luar negeri.
karena Dena memiliki banyak investasi di dalam dan luar negeri.
dan satu lagi yang langit tidak ketahui, baru baru ini Dena menanam investasi di salah satu risort di Lombok.
ternyata kekayaan yang ditinggal kan Dena cukup banyak, langit juga sudah memberi tahu Amora tentang kepergian Dena.
Amora begitu sedih mendengar kabar duka itu.
"aku minta maaf karena menghambat Karir mu, hawa...!"
"tidak...ini hanya sementara waktu!
sebentar lagi kamu akan sembuh?!"
ucap hawa kemudian mendorong kursi roda langit menuju lift.
"kita jalan jalan ya mumpung Udara nya bagus!"
ucap hawa mendorong kursi roda langit menuju taman.
"jika aku bisa berjalan, rasanya ingin berlari lari seperti dulu...!"
ucap langit dalam hati.
kedua nya berhenti di depan kursi taman.
terlihat beberapa orang tengah berolahraga.
hawa mendorong kursi roda langit menuju lapangan hijau yang berembun.
"bang... nanti kita main bola disini ya, kalau Abang udah bisa jalan!"
ucap hawa tersenyum berjongkok di hadapan langit.
"emang bisa? jadi suporter aja enggak bisa!"
ucap langit Tersenyum mencubit hidung istri nya itu.
"bisa, Hawa belajar sedikit..bisa lah jadi lawan Abang main."
ucap hawa terkekeh kecil menggenggam tangan langit yang memegang pipinya.
"aku bahagia karena kamu ada disini?
aku tidak tahu kalau tidak ada kamu hawa, apa lagi setelah aku kehilangan Mami!"
ucap langit Menatap jauh kedepan.
"mungkin itu maksud Tuhan menghadirkan hawa di kehidupan kamu,bang..
jangan sedih lagi ya...!
__ADS_1
hawa selalu ada untuk kamu!"
ucap hawa menggenggam tangan Langit.
keduanya kembali ke rumah setelah di rasa Udara mulai panas.
"mami...!"
ucap hawa yang melihat Sarah berada di dapur bersama pembantu.
"kalian dari mana? hari ini kan mau kontrol!"
ucap Sarah menghampiri mereka berdua.
"jalan jalan disekitar taman,Mi...!"
ucap hawa duduk di sofa.
"Mami udah lama?"
"lumayan, mami mau Antar langit kontrol.
Mami kira kamu sudah mulai tugas dirumah sakit..!"
"tidak, hawa Risen untuk sementara waktu sampai langit benar benar sembuh, barulah hawa kembali kerumah sakit!"
"apa tidak apa-apa seperti itu...?"
"tidak apa-apa....hanya hawa belum bicara langsung dengan kepala rumah sakit, sekalian saja nanti siang hawa menemui kepala rumah sakit."
"oh begitu...ya sudah!
terima kasih Hawa, kamu begitu memperhatikan langit..!"
"tentu saja, hawa kan istri nya!"
ucap hawa tersenyum.
kemudian keduanya bersiap untuk pergi kerumah sakit, di temani Sarah.
**
Hawa mendorong kursi roda langit menyusuri koridor rumah sakit bersama Sarah.
beberapa ada yang menyapa hawa dan sebagian terlihat cuek.
hawa langsung masuk ke ruangan dokter Sanusi yang menangani langit.
"walaikumsalam, dokter Hawa, langit, ibu Sarah..."
ucap dokter Sanusi menilik keadaan langit.
"bagaimana apa ada yang dikeluhkan..."
ucap dokter Sanusi pada langit sambil memeriksa.
langit terdiam menatap hawa.
"kenapa bang...?"
"apa yang kamu keluhkan?"
"tidak ada....!"
ucap Langit singkat.
karena tidak ada yang di keluhkan oleh langit, dokter Sanusi memberikan jadwal untuk terapi.
"nanti untuk selanjutnya,dokter jeni yang akan memantau perkembangan kaki kamu.. beliau dokter ahli tulang!"
ucap dokter Sanusi kemudian menjelaskan, sesekali melirik ke arah Hawa.
dokter Sanusi sebenarnya menyukai dokter cantik ahli penyakit dalam itu, namun sayangnya hawa sudah menikah.
Sanusi sendiri sebenarnya bertanya tanya tentang pernikahan Hawa yang begitu mendadak dan tidak ada resepsi pernikahan.
"bang, hawa keruangan kepala dokter dulu ya, hawa mau membicarakan masalah hawa yang akan Risen untuk sementara waktu!"
ucap hawa saat mereka sudah keluar dari ruangan dokter Sanusi.
langit mengangguk kecil tanpa ekspresi, Sarah sendiri terdiam memperhatikan langit yang tiba tiba menjadi pendiam.
"ya udah, Mi, hawa tidak akan lama!"
ucap hawa kemudian beranjak pergi meninggalkan langit dan Sarah yang menunggu di ruang tunggu.
"kamu tahu tidak, dokter Hawa yang menikah kemarin itu...?kok mendadak ya? tidak ada acara resepsi pernikahan segala, jangan jangan dokter Hawa hamil di luar nikah...!"
ucap salah satu suster yang berjaga di depan membicarakan pernikahan Hawa yang terbilang dadakan itu.
tak sadar jika Sarah dan langit berada di tempat itu.
"mi, kita tunggu di parkiran Saja...!"
__ADS_1
ucap langit dan di angguki oleh Sarah.
"jangan mendengar kan gunjingan orang, mereka tidak tahu apa apa!"
ucap Sarah yang paham dengan apa yang dipikirkan oleh langit.
"ya, mi...!"
ucap langit singkat.
langit mengamati hawa yang berjalan beriringan bersama dokter Sanusi yang juga hendak keluar.
rasa cemburu Hadir begitu saja membuat nya bersikap dingin.
"maaf ya bang lama...tadi ngobrol dulu sama Sani di dalam...!"
ucap hawa, namun di tanggapi dengan dinding oleh langit.
"Ya sudah kita pulang!"
ucap Sarah membantu langit naik ke dalam mobil.
Sarah paham apa yang terjadi dengan langit, ia tengah cemburu melihat kedekatan hawa dengan dokter Sanusi.
"bang....kamu kenapa?"
ucap Hawa merunduk menyamai posisi wajah Langit.
"seperti nya dokter Sanusi suka sama kamu!"
ucap langit tanpa menatap wajah hawa.
"kenapa kamu berpikir seperti itu?"
"aku laki laki, aku tahu dia suka sama kamu?"
"bang cemburu kamu tidak beralasan, jangan berlebihan seperti itu...hawa tidak nyaman kalau kamu selalu bersikap seperti ini?"
ucap hawa membuat langit tertegun.
"aku.... takut kalau kamu ninggalin aku, apa lagi kalau sampai aku tidak bisa jalan seperti dulu..!"
"bang, berhenti berpikir seperti itu..hawa bingung harus gimana sih?
supaya kamu tidak berpikir seperti itu.
hawa juga sudah Risen kan!
apa lagi?"
ucap hawa duduk di sofa berdecak.
"maafkan aku hawa..."
ucap langit menyentuh tangan istrinya itu.
"aku sayang sama kamu bang, jangan berpikir seperti itu lagi, apa lagi sekarang kita sudah menikah.."
ucap hawa tersenyum memeluk Pria itu.
**
Kata mu cinta ku berlebihan.
cemburu ku tak beralasan.
membuat diri mu tak nyaman.
maafkan aku sayang.
aku takut kehilangan dirimu.
aku takut, aku takut kehilangan mu.
aku takut kehilangan Dirimu.
aku takut hidup tanpa dirimu.
aku tak akan bisa.
aku yang bisa gila.
bila kau pergi meninggalkan ku.
(aku takut_ republik)
bersambung.
apakah para reader punya seseorang yang pencemburu seperti langit?
😂😂😘😘🙄
terima kasih yang udah dukung author di novel ini...😘😘
__ADS_1