
Hawa berdiri di cermin memperhatikan dirinya sendiri,hawa tampil cantik dengan gamis berwarna silver dan pasmina berwarna hitam.
entah kenapa ia suka dengan warna gelap itu, sebagian barang barang nya juga berwarna gelap.
dulu hidup nya gelap dengan kehadiran sosok ibu tiri jahat yang selalu menghiasi hari hari nya, hingga sampai tiba dimana seseorang memberikan warna dalam hari hari nya,namun itu hanya sesaat kemudian gelap lagi.
seperti langit... keadaan hati seseorang pun berubah ubah, terkadang cerah berawan dan mendung pertanda hujan.
kini hawa cukup bahagia memiliki sosok ibu tiri seperti Arumi yang begitu Baik dan tulus.
Arumi menyayangi nya seperti anak nya sendiri,hawa juga bersyukur sang ayah menjadikan Arumi sebagai pelabuhan terakhir nya.
"hawa....!"
ucap Arumi memanggil di balik pintu, membuyarkan lamunannya.
"ya Bun...!"
ucap hawa menyembul keluar.
"Esa sudah datang, kita berangkat sama sama saja!"
ucap Arumi meraih pundak Hawa untuk berjalan bersama.
Winda sendiri belum pulang masih berada di klinik, jadi mereka berangkat berempat saja.
Esa memperhatikan hawa yang sejak tadi banyak diam, entah apa yang sedang hawa pikirkan?
Esa berjalan beriringan bersama hawa memasuki ballroom hotel tersebut.!!
terlihat tempat itu sudah Ramai tamu berdatangan.
"Esa ..pak Surya?"
ucap seorang pria paruh baya menghampiri mereka.
"pak Seto....!"
ucap Surya berjabat tangan.
"wah...ini menantu sama mertua kompak ya...!"
ucap Seto terkekeh kecil melihat kedekatan Esa dan Surya, semua orang tahu tentang rencana pertunangan Esa dan putri Surya.
namun sesuai keinginan Hawa, Surya dan Rizal hanya mengundang kerabat dekat saja, meski hal itu sudah di ketahui banyak orang.
Hawa memperhatikan sekeliling tempat itu dan melihat langit bersama Dena, mereka juga sedang ngobrol dengan tamu yang lain nya.
kedua pandangan mereka bertemu, langit menatap hawa dengan tatapan tajam, tidak rela melihat gadis itu bersama Esa.
namun cepat hawa memalingkan wajahnya saat Dena menoleh.
Acara pun di mulai, beberapa artis tampil sebagai pembuka acara tersebut.
Acara itu bertujuan untuk memberikan penghargaan pada pengusaha pengusaha sukses dan berbakat di bidang nya masing-masing.
hawa merasa tidak nyaman karena langit terus memperhatikan nya..
sampai tiba saat dimana nama Esa terpilih sebagai pengusaha muda berprestasi dan sukses.
"ayo... ikut kedepan...!"
ucap Esa saat hendak menerima penghargaan itu.
patut lah Esa mendapatkan penghargaan itu,ia cukup lama berkecimpung di dunia bisnis, sebelum mendapatkan gelar S2 nya, Esa sudah banyak belajar dari Rizal sang Ayah yang juga menuai kesuksesan.
"hawa disini aja bang...!"
ucap hawa lirih karena takut dengan Surya yang menatap nya.
"ya sudah...!"
ucap Esa senyum Kemudian beranjak ke depan untuk menerima penghargaan.
"Alhamdulillah... saya tidak menyangka jika saya mendapatkan penghargaan ini, saya ucapkan terima kasih pada orang orang yang sudah mendukung saya dan memberikan saya semangat..
terima kasih Hawa...!"
__ADS_1
ucap Esa membuat hawa membeku seketika.
semua berdiri dan bertepuk tangan.
langit beranjak dari duduknya dan menghampiri Hawa, saat semua orang tengah memperhatikan Esa berbincang dengan pembawa acara.
langit meraih tangan hawa dan membawanya pergi.
hawa terkesiap saat seseorang tiba-tiba menarik tangan nya dan membawanya pergi dari keramaian.
"astagfirullah.... bang!"
ucap hawa menarik tangan nya, namun tak bisa karena langit memegang nya erat.
"bang.... lepas!"
ucap hawa menahan tubuh nya.
"aku rindu sama kamu hawa...!"
ucap langit lirih namun terdengar jelas oleh Hawa.
nafas hawa tersengal mendengar penuturan langit yang begitu memilukan, hawa memundurkan tubuhnya saat langit mencoba menepis jarak di antara mereka.
"kenapa hawa?"
"maaf bang, tapi hawa tidak bisa seperti dulu lagi..
jujur hawa menyesal dengan apa yang sudah kita lakukan dulu...!"
ucap hawa menunduk.
"Kenapa kamu menyesal?"
"bang,kamu tuh cinta sama aku karena apa?
apa yang udah kita lakukan itu dosa..!"
ucap hawa menatap wajah langit yang tampak kecewa dengan penuturannya.
ucap langit membuat hawa tertegun.
"tapi mereka menentang hubungan kita, hawa tidak bisa mengecewakan ayah.
maaf kan hawa bang...!"
ucap hawa hendak berbalik namun terhenti saat langit yang menyentuh tangan nya, tangan langit begitu dingin.
"aku gak bisa hidup tanpa kamu hawa, aku mau hidup sama kamu!"
ucap langit dengan air mata yang menetes.
"tapi kita.....!"
ucap hawa terhenti saat langit menundukkan wajah nya di pundak hawa.
tubuh hawa membeku merasakan wajah langit yang begitu dingin.
entah apa yang terjadi dengan pria itu, tangan nya pun terasa begitu dingin.
tanpa sadar seseorang memotret interaksi keduanya,
"bang....!"
ucap hawa mencoba mengangkat wajah langit di pundak nya.
"bang, kamu sakit?"
ucap hawa menilik wajah langit yang begitu pucat.
"bang .....!"
"Kenapa...?"
ucap Zaki yang baru saja datang, atas permintaan langit yang tadi menelpon nya untuk datang menjemput nya.
karena sejak tadi ia merasa tidak kuat menahan tubuhnya yang terasa begitu dingin.
__ADS_1
"langit...Lo sakit?"
ucap Zaki kemudian merangkul bahu langit dan membawa nya ke parkiran di ikuti oleh hawa di belakang.
"aku ikut... tapi nanti kita mampir ke apotek dulu ya bang!"
ucap hawa dan di angguki oleh Zaki.
Zaki menepikan mobilnya di depan apotek, gegas hawa keluar dan membeli obat untuk langit.
***
Zaki membaringkan tubuh langit di ranjang,hawa membeku melihat foto yang terpajang di atas ranjang.
Poto mereka berdua saat di kebun teh, ternyata langit masih menyimpan poto itu bahkan menjadikan foto itu pajangan di kamar.
"bang bantu hawa buka jas nya langit...!"
ucap Zaki kemudian membuka jas hitam yang di pakai oleh langit dan menggulung kemeja pria itu sampai siku.
Hawa kembali terpaku saat melihat nama nya terukir pada tangan kanan pria itu.
"langit tuh cinta banget sama kamu hawa...!"ucap Zaki membuat hawa menoleh.
"ya...hawa tahu, tapi hawa....!"
ucap hawa menitikkan air mata nya melihat kondisi langit.
aku benar benar bingung dan tidak berdaya langit...
aku harus bagaimana jika keadaan nya seperti ini?
hawa memeriksa keadaan langit, kemudian menginfus pria itu dan memberikan nya Beberapa obat.
"langit demam tinggi..tapi hawa Udah kasih obat penurun panas...
kalau bisa temani langit disini bang... kasihan kalau dia sendiri...!"
ucap hawa meminta Zaki untuk menginap di apartemen.
"saat aku sakit pun aku selalu sendirian,Dena tidak pernah memperhatikan aku..."
ucap hawa teringat penuturan langit yang begitu menyedihkan.
tapi saat ini ia tidak bisa menemani Langit, biarkan saja Zaki menginap dan menemani langit.
"ya,hawa....!"
"ya sudah hawa pulang ya...!"
ucap hawa kemudian beranjak pergi dari apartemen Langit.
terlihat Surya dan Esa Beberapa kali melakukan panggilan telepon, hawa menyetop taksi untuk mengantar ya pulang ke rumah.
"assalamualaikum..bang..?"
"walaikumsalam...kamu dimana de?"
"hawa di jalan bang,maaf tadi hawa ada urusan sedikit jadi hawa pergi dari hotel itu.. sekali lagi hawa minta maaf..!"
ucap hawa merasa bersalah karena pergi begitu saja, belum lagi ia harus menghadapi Surya dirumah.
"ya sudah kamu hati hati, ini sudah malam..."
"ya bang.....!"
ucap hawa kemudian mengakhiri telponnya.
hawa menatap jalanan yang tergenang air hujan, pikiran nya benar benar tidak bisa berhenti memikirkan kondisi langit.
tapi ia juga tidak mungkin membatalkan pertunangan nya besok dengan Esa karena langit.
belum lagi masalah Dena..
"aku harus bagaimana....aku merasa tidak berdaya langit...!"
bersambung..
__ADS_1