
Hawa menarik nafas saat merasakan pinggang nya yang begitu nyeri, keram pun kembali terasa pada perut nya.
hawa tertegun sendiri saat menyadari mungkin saja ia hendak mendapatkan tamu bulanan, karena ia selalu seperti ini jika hendak menstruasi.
apa usaha mereka masih belum membuahkan hasil?
"sayang... kamu kenapa?"
ucap langit duduk di samping hawa yang termenung sendiri.
"bang, gimana kalau hawa datang bulan lagi?"
tanya hawa dan di tanggapi senyuman oleh langit.
"kok malah senyum sih bang?"
ucap hawa, saat ini mereka sudah kembali ke rumah setelah Weekend kemarin bermalam di hotel.
"tidak apa-apa... Abang tidak mempersoalkan itu sayang?"
ucap langit merengkuh tubuh hawa.
"mungkin harus lebih bersabar... jangan jadikan hal itu beban untuk kamu, karena Abang tidak mau melihat kamu bersedih.
kalau pun itu terjadi, mungkin sudah menjadi ketentuan Nya...!"
ucap langit menciumi kepala istrinya.
"terima kasih bang....!"
ucap hawa memeluk erat tubuh langit.
seperti biasa langit mengantar hawa ke rumah sakit, dan berpapasan dengan Violla yang turun dari mobil menggendong bayi yang masih merah.
usia kandungan nya Hanya berbeda satu Bulan dengan lili, namun hawa tak melihat Daniel bersama nya.violla hanya berdua dengan ibu nya.
langit menarik tangan hawa pelan untuk
melangkah masuk ke dalam rumah Sakit.
"Violla sudah melahirkan...!"
ucap hawa lirih.
"aku tidak peduli.....!"
ucap langit dan di tanggapi manyun oleh hawa.
"kalau dirumah, habis itu bibir Abang gigit...!"
ucap langit membuat Hawa terkekeh.
"tidak usah mengurus kehidupan orang lain.. cukup kita saja sayang....!"
ucap langit merangkul bahu Hawa.
"cepat agenda kan kita akan pergi ke Amrik...?"
ucap langit membuat hawa mendongak.
"tapi bang ...?"
ucap hawa mengajak Langit masuk ke dalam ruangan nya, seperti nya Sani belum datang.
"Hawa... beneran menstruasi...!"
ucap hawa menunduk.
"tidak apa-apa sayang, apa kamu mau Kita kesana nya nanti...!"
tanya langit Tersenyum.
"ya ....!"
ucap hawa mengangguk.
"ya udah, Abang berangkat ya!"
__ADS_1
ucap Langit mencium bibir Hawa sekilas.
"anggap saja tuhan memberikan kita waktu untuk berdua lebih lama, aku tidak mempermasalahkan soal itu Sayang, kita tetap berusaha..!"
ucap Langit mencium kening hawa.
"hati hati ya bang....!"
"ya....!"
ucap langit kemudian berlalu pergi.
langit berjalan di koridor rumah sakit, terlihat beberapa perempuan membisikkan sesuatu sambil menatap langit yang berjalan.
pria itu memang selalu menjadi pusat perhatian, setelah Acara resepsi itu semua tahu siapa langit yang selalu berjalan di koridor setiap pagi.
"Lang.....!"
terdengar suara Violla memanggil nya.
langit memalingkan wajahnya saat Violla menghampiri nya.
"langit...aku mau minta maaf..!"
ucap Violla tanpa sungkan mendekat.
langit memundurkan tubuhnya sedikit saat Violla mengikis jarak di antara mereka berdua.
"aku minta maaf karena sudah menyakiti perasaan mu waktu itu langit...!"
"aku sudah melupakannya....!"
ucap langit langsung pergi meninggalkan Violla yang mematung sendiri menatap punggung langit yang menjauh.
Violla tidak menyangka secepat itu langit bisa berjalan, ia pikir langit akan lama duduk di kursi roda.tapi pikiran nya justru salah.
saat ini rumah tangga tengah berantakan karena Daniel berselingkuh dengan wanita malam, keadaan nya yang baru saja melahirkan justru ditinggalkan pergi oleh suami nya,, sempat berpikir untuk kembali pada ridho tapi Violla urungkan.ia tidak mau kerepotan mengurus ridho yang kaki nya cedera karena bermain bola, memang akan sembuh tapi Violla malas jika harus seperti hawa yang mendorong kursi roda untuk Langit.
keadaan Umi Dila sudah lebih baik, siang ini mereka akan berencana untuk pulang karena weekend ini keluarga Esa akan datang melamar Aqila.
ustadz Ilham Merasa lega karena Aqila mau menerima lamaran Esa meski sebelumnya ia sempat ragu, tapi menilik Esa yang memang begitu baik membuat Aqila tak ingin melewatkan kesempatan yang tuhan berikan untuk memiliki suami seperti Esa.
ucap Esa kala itu membuat Aqila tertegun.
"Ya... Aqila mau mendampingi Abang..!"
ucap Aqila tersenyum menitikkan air mata nya.
selama ini Esa sudah begitu baik, bukan hanya padanya tapi keluarga nya.
bahkan Esa yang membiayai pengobatan umi Dila di rumah sakit itu.tak ada alasan menolak Esa, masalah hati biarkan waktu yang akan merubah semuanya.
"Alhamdulillah.. udah lebih segar ya umi..?"
ucap hawa melihat keadaan Umi Dila
"ya,terima kasih dokter Hawa...!
Anda begitu baik...!"
ucap umi memegang tangan Hawa.
"tentu saja, itu tugas para dokter di sini...!"
ucap hawa senyum.
"Nanti ikut kan ke pondok...?"
tanya umi Dila yang mengetahui perihal acara lamaran tersebut.
"hawa tidak janji, karena Langit Mengajak ke Amrik untuk bertemu dengan ibu asuh nya...!"
"oh begitu...ya tidak apa-apa!"
ucap umi dila senyum.
setelah itu mereka membereskan semua barang barang yang hendak di bawa pulang.
__ADS_1
"sudah siap...?"
ucap Esa masuk ke dalam ruangan.
"ya sudah nak....!"
ucap umi Dila tersenyum.
Aqila memperhatikan Esa yang menoleh pada Hawa, Entah Kenapa ia tidak suka melihat hal itu.
"terima kasih Hawa, dokter Sanusi..!"
"ya, datang Minggu depan untuk kontrol...!"
ucap Sanusi dan di angguki oleh istri ustadz Ilham itu.
"kenapa....?HM....?"
ucap Esa melihat Aqila yang memberangus.
Aqila bungkam hanya menggeleng kan kepalanya saja, Sementara Esa tersenyum menanggapi.
seperti nya gadis itu sudah mulai berpindah haluan, sebenarnya dulu ia juga bisa saja membuat hawa jatuh hati pada nya , namun menilik keadaan langit yang lebih membutuhkan hawa. Esa mengalah untuk kebahagiaan Adik nya itu.
"jangan manyun, nanti jelek...!"
ucap Esa sambil menyetir.
"enggak manyun juga jelek bang...!"
ucap Aqila menatap ke depan.
"nah, makanya kalau udah tahu begitu jangan manyun nanti tambah jelek....!"
ucap Esa Terkekeh melihat Aqila yang menganga kemudian menepuk pundak Esa.
"eh... enggak boleh pegang pegang, nanti kalau udah sah....!"
ucap Esa kembali Terkekeh melihat tingkah Aqila yang menggemaskan.
kini keduanya tengah berada di perjalanan menuju pondok, mereka akan mempersiapkan acara lamaran Esa..
ustadz Ilham tersenyum karena sepanjang perjalanan mereka terus bergurau.
sore menjelang magrib, mereka sampai di pondok pesantren itu, Esa membantu Umi Dila Untuk turun dari mobil.
"bang ...?"
"apa?"
ucap Esa menoleh sekilas.
"mau pulang atau nginep...?"
tanya Aqila tiba tiba.
"pulang lah, Aqila.... nanti ya kalau udah sah baru Abang nginep?"
ucap Esa Terkekeh membuat wajah Aqila memerah seketika.
"astaga...itu lagi?"
"ya iyalah... emang salah, tidak kan?
kalau di sini terus, mau nya dekat dekat kamu trus, Abang takut setan...!"
ucap Esa membuat Aqila terperangah.
"nak Esa, ayo kita sholat Maghrib dulu...!"
ucap ustadz Ilham, terdengar suara adzan berkumandang.
"Abang sholat dulu ya!"
ucap Esa sambil menggulung tangan kemejanya
"nah gitu, senyum..biar jelek nya ilang...!"
__ADS_1
ucap Esa melihat Aqila yang tersenyum manis.
bersambung......