
Hawa terdiam menatap gamis cantik brokat berwarna putih, senada dengan pasmina plisket yang juga berwarna putih.
ia baru saja selesai menunaikan shalat isya, seperti nya waktu berdetak lebih cepat dari hari biasanya, atau mungkin itu hanya perasaan nya saja.
Esa yang meminta sarah untuk memilih warna putih untuk pakaian yang akan mereka gunakan di acara pertunangan itu.
hawa menghela nafas panjang, kenapa waktu berjalan begitu cepat seakan menyeret nya ke dalam keadaan dimana ia akan terikat.
apa lagi Esa mengatakan jika ia ingin pernikahan itu sebulan setelah pertunangan mereka berdua.
"hawa....!"
ucap Winda masuk ke dalam kamar.
"kamu kok belum siap siap?"
ucap Winda yang sudah siap dengan gamis berwarna ungu muda.
"ini juga udah mau siap siap win..!"
ucap hawa Kemudian beranjak masuk ke dalam ruang ganti baju.
Winda senyum melihat gamis itu begitu pas di tubuh Hawa, terlihat rambut keriting nya panjang sedada.
"mau aku dandanin?"
ucap Winda mendekati hawa yang mematung menatap dirinya di cermin.
"rambut kamu aneh...!"
ucapan langit di masa lalu kembali terngiang tak kala hawa menatap rambutnya yang tergerai.
"rambut kamu bagus hawa...!"
ucap winda menyentuh rambut hawa.
"tapi ada seseorang yang mengatakan jika rambut ku ini aneh...!"
ucap hawa terkekeh kecil kemudian duduk di depan meja rias, membiarkan Winda merias wajahnya dengan makeup.
"hawa kamu cantik...!"
ucap Winda menatap wajah hawa yang sudah selesai ia dandani.
"nama nya juga perempuan win...!"
ucap hawa senyum Kemudian menggulung rambutnya dan memakai pasmina itu dengan cepat.
"hawa....!"
ucap Arumi masuk ke dalam kamar.
"ayo kita berangkat sekarang....!"
ucap arumi tersenyum menatap wajah cantik Hawa, dan di angguki oleh hawa.
ketiga nya berjalan menuju pintu depan, terlihat Surya dan Ezi sudah menuggu.
"cantik banget, calon pengantin...!"
"belum kak.....!"
ucap hawa manyun mendengar kata calon pengantin yang membuat nya meremang sendiri.
"ya,ya lah... kalau bukan calon pengantin, nama nya apa dong?"
"kak Ezi juga sama, calon pengantin....!"
ucap hawa membuat Ezi terkekeh.
di dalam perjalanan hawa lebih banyak diam, meskipun Ezi terus menggoda nya, namun hawa tak menghiraukan celotehan yang Ezi buat.
jantung hawa berdetak kencang saat tiba di hotel tersebut, tangan nya tiba-tiba dingin.
ia benar benar gugup menghadapi keadaan itu, Winda tersenyum merangkul bahu hawa.
"kamu harus tenang.....!"
__ADS_1
ucap Winda berjalan beriringan menuju ballroom.
terlihat Esa juga sudah datang bersama keluarga nya, kedua pandangan nya bertemu.
namun Esa melihat hawa yang begitu dingin.
"tuh hawa sudah datang...!"
ucap Sarah menghampiri mereka.
"hawa kamu cantik sekali.....?"
ucap Sarah senyum menatap hawa yang tersenyum kecil.
kemudian dua keluarga itu berkumpul untuk memulai acara tersebut,
Hawa diam mengikuti acara tersebut, namun saat Esa hendak bicara tiba tiba Layar besar di hadapan mereka menyala.
Hawa dan surya membulat kan matanya saat melihat video dirinya dan langit yang sedang berciuman.
"astagfirullah aladzim...!"
ucap hawa menangis, selain itu video itu menampakkan hawa yang keluar dari pintu apartemen milik langit.
"cukup.... hentikan semua itu!"
ucap Surya berteriak membuat hawa bergetar.
semua yang berada di tempat itu mematung menatap Hawa yang menangis.
Esa membeku seketika dengan hati yang sakit, melihat hawa yang keluar dari pintu apartemen.
"hawa bisa jelaskan yah...!"
namun tidak Surya Langsung mendatangi pihak hotel dan menanyakan siapa yang berani menayangkan video tersebut.
pihak hotel meminta maaf atas kelalaiannya pekerja nya,,
"kami mohon maaf, karena orang yang memberikan kaset itu mengatakan jika kaset CD itu merekam semua foto foto Esa dan hawa... kami benar-benar minta maaf...!"
"seorang pria pak...!"
ucap pekerja hotel itu menunduk dengan takut melihat Surya yang tak terima dengan kejadian itu,dia yakin bahwa Dena lah biang masalah ini.
Hawa masih terisak di pelukan Arumi, rasanya tak punya muka di hadapan keluarga Esa.
"kita tunda saja acara ini....!"
ucap Rizal membuat semua berbisik bisik membicarakan tentang Hawa.
sebuah kesalahan di masa lalu yang kini semua orang tahu.
"apartemen siapa itu Hawa?"
ucap Esa bertanya.
"langit....!
tapi demi tuhan hawa tidak berbuat apa apa yah...!"
"tidak berbuat apa-apa bagaimana,di hotel saja kalian sudah seperti itu?"
ucap Surya dengan suara menggebu.
"tidak yah, demi tuhan hawa tidak berdua, hawa bersama Zaki, waktu itu langit sakit..!"
"bohong... ayah tidak percaya..!"
"ayah....!"
ucap Arumi mencoba membela gadis itu.
"kamu bikin ayah malu...!"
ucap Surya kemudian pergi meninggalkan hawa dan yang lainnya.
"kita tunda saja acara ini Esa...!"
__ADS_1
ucap Sarah membuang nafas, bahwasanya mereka harus berpikir ulang untuk melanjutkan niatnya itu.
semua orang yang berada di tempat itu berhamburan keluar untuk pulang, banyak yang berbisik membicarakan tentang video itu.
hawa luruh dan berjongkok di lantai sambil menangis..
"kenapa dena Setega itu....?"
ucap hawa tak henti menangis.
"pokoknya ezi mau pekerja yang menayangkan video itu di pecat!"
ucap Ezi kemudian menghampiri pihak hotel.
Esa melangkah meninggalkan tempat itu dengan perasaan tidak menentu,itu hanya masalalu, mungkin Esa bisa tak menghiraukan hal itu tapi soal semalam jujur saja membuat nya kecewa.
hawa pergi begitu saja meninggalkan nya di Acara penghargaan itu demi langit.
"Bun...hawa mesti gimana?"
"kita bicarakan di rumah....!"
ucap Arumi mengajak hawa untuk meninggalkan tempat itu.
***
saat ini langit tengah duduk di depan waiters bar bersama Zaki.
"Lang... udah jangan mabok lagi,Lo baru sembuh!"
"ini yang terakhir, besok gue balik ke Amrik!"
ucap langit yang merasa sakit hati karena malam ini adalah malam pertunangan hawa dan Esa.
tak ada satupun kekuatan untuk nya memperjuangkan cinta nya, kenyataan nya hawa tetap memilih pria itu.
Rasanya tak sanggup tetap berada di Indonesia jika Untuk melihat wanita yang dicintainya bersanding dengan pria lain.
tanpa langit tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan acara tersebut, semua berantakan karena video dan foto foto itu.
hawa masuk ke dalam kamar dengan lesu, Surya pergi entah kemana?
beberapa kali Arumi coba menghubungi nya namun nomor nya tidak aktif.
"Dena......"
ucap Surya yang mendatangi rumah Dena bersama Rudi asisten nya.
"apa.....?"
ucap Dena tersenyum melihat Surya yang datang dengan keadaan marah.
"kenapa kamu berbuat seperti itu?"
"berbuat apa?"
"kamu pikir saya tidak tahu kalau kamu yang menyuruh orang untuk menayangkan video itu...?"
"kalau ya kenapa?
itu pelajaran untuk Kamu dan anak kamu yang so' cantik itu.... jangan macam macam dengan ku?"
ucap Dena dengan senyum mengejek kemudian menutup pintu dengan membanting nya keras di hadapan Surya yang geram pada nya.
Surya pulang dalam keadaan bungkam, Arumi pun membiarkan Surya hingga kemarahan nya mereda,waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi, namun hawa tak mampu memejamkan matanya, ia pun beranjak dari ranjang,
hawa terkesiap saat tiba tiba menyenggol gelas hingga jatuh dan pecah.
"astagfirullah...."
ucap hawa menatap pecahan kaca yang berserak di bawah lantai..
bruk..........
sebuah mobil sport yang ditumpangi dua orang Pria itu menabrak pembatas jalan hingga mobil terpental dan menabrak beberapa kendaraan lain nya.
bersambung.
__ADS_1