Langit Hawa

Langit Hawa
hinaan.


__ADS_3

tiga bulan berlalu.


Hawa tersenyum melihat langit yang sudah bisa berdiri sendiri, perlahan menggerakkan kakinya untuk melangkah.


dokter jeni terkagum melihat langit yang berdiri dengan tegak.


beberapa kali jeni memang mencuri pandang pada langit yang sedang melakukan terapi.


langit tampan dan mapan, jeni merasa hawa beruntung memiliki suami seperti langit.


langit berusaha menghindar saat beberapa kali jeni menyentuh tangan nya, beberapa kali pun jeni seperti sengaja melakukan hal itu..


hawa sendiri tak begitu memperhatikan hal itu, karena bagi hawa hal itu, hal yang biasa.


"yang ...."


ucap langit memanggil hawa untuk mendekat.


"kenapa.... bang?"


ucap hawa, saat ini mereka tengah berada di ruang terapi.


"aku mau kamu disini..!"


ucap langit meminta hawa berdiri di samping nya.


"tapi kenapa?"


ucap hawa menautkan kedua alisnya.


tak lama dokter jeni datang menyembul masuk.


"halo dokter Hawa... langit?"


ucap jeni yang memperhatikan hawa yang berdiri tak jauh dari tempat terapi langit.


"aku tunggu disana ya bang?"


"di sini aja yang!"


ucap langit menarik tangan hawa.


hawa mengangguk dan menemani Langit hingga selesai terapi.


langit memperhatikan jeni yang tampak kesal karena tak bisa berdekatan dengan pria itu, ternyata selama ini jeni mencari cari kesempatan untuk bisa berdekatan dengan langit.


"bang, kamu kenapa sih?"


ucap hawa sambil mendorong kursi roda langit menuju parkiran.


"kamu tuh enggak peka atau gimana sih yang?"


ucap langit menilik wajah hawa yang tanpa ekspresi.


"jeni tuh suka cari cari kesempatan untuk pegang pegang aku!


masa sih kamu tidak lihat!"


"aku lihat, tapi hal itu wajar karena dia kan dokter...hal itu biasa bang!


kamu tuh geer...!"


ucap hawa terkekeh.


"ya udah kita pulang ya..!"


ucap hawa membantu langit untuk naik ke Mobil, kebetulan mobil mereka bersebelahan dengan mobil seorang perempuan yang tengah hamil besar.


"repot banget sih kamu hawa...!"


ucap Violla tersenyum mengejek melihat hawa membantu langit beranjak dari kursi roda nya.


"bersyukur banget sih gue, gak nikah sama Langit yang cuma bisa duduk di kursi roda.."


ucap Violla tersenyum melihat langit dengan gemeretak gigi nya.


"aku lebih bersyukur karena tidak menikahi perempuan yang sudah hamil di luar nikah...


apapun itu kamu lebih baik dari hawa...!"


ucap langit dengan nafas memburu.


"oh ya, tapi aku kasihan sekali sama kamu hawa.. pasti setiap hari kerepotan!"


ucap Violla kemudian pergi sambil tertawa kecil.

__ADS_1


"Udah bang, Jangan di dengar..!


hawa tidak merasa repot mengurus Kamu bang..!"


ucap hawa menggenggam tangan langit.


meyakinkan bahwa selama ini ia dengan senang hati merawat nya.


**


langit terdiam menatap jalanan, hawa sendiri fokus menyetir.


selama ini ia berusaha keras agar bisa berdiri sendiri, meski sakit langit tetap berusaha untuk bisa bangkit.


langit menoleh pada perempuan yang tengah fokus menyetir, selama ini hawa yang selalu membawa mobil, istri nya itu begitu sabar mengurus nya,hawa tak pernah sedikitpun mengeluh lelah. justru ia selalu memberikan semangat disaat langit merasa lelah dengan semua ini.


"kita mampir ke mall dulu ya, kita jalan jalan dulu"


ucap hawa membelokan mobil nya menuju parkiran mall.


"kamu mau shoping yang...?"


tanya langit saat hawa mendorong kursi roda nya memasuki mall tersebut.


"tidak, kita makan saja setelah itu kita jalan jalan!


udah lama kan kita tidak keluar main Bang!"


ucap hawa tersenyum.


keduanya masuk ke dalam restoran yang menyajikan berbagai macam makanan yang enak dan mahal.


"mau makan apa?"


tanya hawa pada Langit.


"aku mau steak aja...!"


jawab langit sambil melihat sekeliling.


terlihat ada ridho dan kawan-kawan nya tengah makan di restoran itu juga.


"Lo lihat tuh...streker kebanggaan sekolah, jangan kan untuk nendang bola, untuk jalan aja tidak bisa!"


ucap ridho kencang hingga terdengar oleh langit dan Hawa, terlihat mereka pun tertawa mendengar penuturan ridho yang bagi mereka lucu.


setelah kejadian di sekolah tempo dulu, hubungan keduanya memang tidak baik.


apa lagi saat Violla lebih memilih langit ketimbang diri nya.


"biarkan saja bang ...!"


ucap hawa kemudian beranjak pergi menemui pelayan dan meminta untuk di bungkus saja makanan mereka.


kemudian hawa Menghampiri ridho yang sedang terkekeh kecil menertawakan langit.


"kehidupan itu berubah, terkadang kita di atas dan terkadang kita juga turun ke bawah..


tertawa lah sepuasnya, karena suatu saat kami yang akan mentertawakan kalian..."


ucap hawa kemudian pergi meninggalkan Rido dan teman teman nya yang mematung mendengar penuturan Hawa.


langit Tersenyum melihat istrinya itu menghampiri ridho.


gadis yang dulu selalu menjadi bahan bulian disekolah kini berani membalas ucapan ridho.


"ayo bang, kita tidak perlu mendengar penuturan orang orang yang memiliki jantung tapi tidak memiliki hati....!"


ucap hawa keras dan terdengar oleh Ridho.


"sialan tuh cewek cupuk...!"


ucap ridho dengan gemeretak gigi nya.


"tuh cewek pacar nya si langit?"


tanya salah seorang teman ridho.


"gue enggak tahu ..!"


ucap ridho kemudian beranjak mengikuti langit dan Hawa.


"istri Abang hebat....?"


ucap langit menoleh pada hawa.

__ADS_1


"hawa tidak suka melihat mereka menghina Abang, Abang jadikan hinaan mereka sebagai motivasi untuk sembuh, dan buktikan kalau Abang jauh lebih baik dari mereka!"


ucap hawa memeluk langit dari belakang.


"ya, tentu saja..terima kasih sayang....!"


ucap langit mencium pipi Hawa.


ridho memperhatikan interaksi keduanya yang begitu mesra, ridho tidak tahu jika Hawa dan langit sudah menikah.


justru ridho tidak menyangka hawa kini tampil berbeda dengan kerudung segitiga nya, lebih cantik dengan postur tubuh yang berisi di depan dan belakang yang terlihat meski hawa menggunakan gamis.


"kita pulang ya...!"


ucap hawa membantu langit naik ke mobil.


saat hendak menyalakan mesin mobil, tiba-tiba ponsel nya berdering terlihat Arumi melakukan panggilan.


"assalamualaikum Bun...!"


ucap hawa langsung mengangkat telpon nya.


"walaikumsalam Hawa.... kamu dimana?"


"di jalan Bun, Mau pulang!"


ucap hawa menoleh ke arah langit yang menatap nya.


"kamu kesini ya, kita makan malam.


ada Al sama rindu di sini.....!"


ucap Arumi meminta hawa untuk datang.


"ya Bun, Hawa ke rumah sama langit...!"


ucap hawa kemudian melajukan mobilnya menuju rumah Surya.


"assalamualaikum Bun...!"


ucap hawa masuk sambil mendorong kursi roda langit.


"walaikumsalam...!"


ucap Arumi memeluk hawa.


"bagaimana kabar kamu?


Ayah tidak tahu kamu Risen dari rumah sakit?"


ucap Surya yang tak mengetahui hal itu.


"ya, untuk sementara waktu sampai langit sembuh?"


"kapan sembuh nya, kalau tidak sembuh bagaimana? apa selama nya kamu akan Risen."


ucap Surya langsung menohok hati hawa, lagi lagi ia harus mendengar hal yang menyakitkan.


"langit akan sembuh....!"


ucap hawa mengigit bibirnya.


"ayah... bunda minta hawa ke sini untuk makan malam bersama bukan seperti ini....!"


ucap arumi menggeleng kan kepalanya.


Surya Langsung pergi mendengar penuturan Arumi, ia kecewa karena hawa sampai harus Risen karena menikah dengan langit.


langit sendiri hanya diam menanggapi hal biasa yang selalu ia dengar...


"ya tapi maaf Bun, hawa sama langit sudah makan...!"


ucap Hawa memegang pundak langit.


rindu dan Ezi menyembul keluar , terlihat perut perempuan sedikit buncit.


Ezi sendiri tak suka saat mendengar hawa menikah dengan langit, karena Ezi Lebih suka dengan Esa.


"hawa.... lihat sebentar lagi kamu akan punya keponakan...!"


ucap Ezi tersenyum mengelus perut istri nya itu.


Arumi mematung mendengar penuturan Ezi yang terkesan pamer dengan kehamilan rindu.


hawa sendiri hanya tersenyum menanggapi, kemudian pamit pulang pada Arumi, karena situasi saat ini bukan situasi yang baik untuk keduanya.

__ADS_1


bersambung.


__ADS_2