Langit Hawa

Langit Hawa
kekuatan cinta.


__ADS_3

pagi...


Hawa tersenyum menatap wajah langit yang juga tengah tersenyum menatap nya, saat ini hawa tengah memakaikan dasi pada leher suaminya itu, rutinitas pagi yang menyenangkan untuk perempuan itu.


"i love you so much....!"


ucap langit berbisik di telinga Hawa, kemudian beralih mencium pipi perempuan itu.


"you to....!"


ucap hawa lirih.


setiap pagi selalu seperti ini, keduanya seakan tak ingin berpisah.Sama sama saling menautkan tubuh untuk Tetap bersama.


"aku malas ke kantor?"


ucap langit memeluk pinggang ramping itu, menciumi kepala yang terbungkus pasmina berwarna merah maroon.


"jangan seperti itu, CEO itu tidak boleh malas?"


ucap hawa menoleh ke arah belakang, langit memang paling senang memeluk nya dari belakang.


"Kamu yang bikin aku betah dirumah....."


ucap langit membalikkan tubuh istrinya itu.


"aku... kenapa aku yang di salah kan?"


ucap hawa mendelik sambil tersenyum.


"setelah resepsi nanti Kita pergi ke Amrik ya, aku mau bawa kamu ketemu sama Bu Amora!"


ucap langit memeluk pinggang hawa.


"aku cari waktu luang, karena aku harus melihat kondisi pasien ku dulu...!"


ucap hawa membuat langit terdiam.


"tapi itu kan masih lama Bang, kita atur acara itu saja dulu....!"


ucap hawa memeluk suaminya.


"ya udah... kita berangkat sekarang!"


ucap langit meraih tangan hawa untuk melangkah.


***


keduanya sama sama masuk ke dalam rumah Sakit, Langkah keduanya terhenti saat melihat Esa dan Aqila yang berjalan beriringan di koridor rumah sakit.


"Hawa.....!


Mm...maaf dokter hawa...."


ucap Esa menghampiri langit dan hawa.


"ya, Apa umi nya Aqila sudah berada di ruang perawatan...?"


ucap hawa Tersenyum menggenggam tangan Langit.


Aqila terpaku dengan jantung yang berdetak kencang, melihat langit tampak gagah dengan jas hitam nya.


berbeda dengan Esa yang saat ini hanya menggunakan kemeja berwarna biru muda, saat sampai di kota, Esa langsung membawa istri ustadz Ilham ke rumah sakit itu.


selain itu Esa lah yang mengurus semua nya, Esa memang pria baik hati.

__ADS_1


"sudah, Abang sengaja bawa umi langsung ke rumah Sakit, Agar cepat mendapatkan penanganan terbaik..!"


ucap Esa dan di angguki oleh hawa.


"apa dokter Sanusi yang menangani umi Dila?"


tanya Hawa sambil melirik ke arah Aqila yang menunduk.


"ya betul, hawa..."


ucap Esa tersenyum.


"ya sudah, nanti hawa lihat kondisi Umi Dila!


kami duluan ya!"


ucap hawa sambil menarik tangan langit pelan dan di angguki oleh Esa yang juga beranjak bersama Aqila.


"Udah ada dokter Sanusi kan, kamu fokus sama pasien yang lain aja yang?"


ucap langit sambil berjalan merangkul bahu hawa.


"tidak bisa seperti itu, mana mungkin hawa membiarkan nya sementara kita kenal mereka bang, jangan seperti itu?"


ucap hawa santai tak memperhatikan langit yang tengah menatap nya.


"kenapa sih?"


"aku tidak suka hawa....!"


"kenapa seperti itu, ini tugas hawa!


sekarang Abang berangkat ya ke kantor!"


ucap hawa yang kini sudah sampai di ruangan nya.


"ya udah, kamu hati hati ya...jaga semua yang kamu miliki untuk ku...!"


ucap langit senyum.


"astaga...bang, emang mau hawa bagi kesiapa?"


ucap hawa Terkekeh, ada ada saja suami nya itu.


"ya mungkin kan, di sini kan.....!"


"udah ya Abang sayang, hawa mau kerja!"


ucap hawa mendorong tubuh langit pelan.


"oke... Abang berangkat!"


ucap langit sambil mencium kening hawa kemudian pergi berlalu.


Sani tersenyum melihat interaksi keduanya yang selalu mesra.


"HM... dokter hawa pasti selalu bahagia, punya pasangan yang baik seperti langit... udah ganteng, baik, tajir pula..!"


ucap Sani Terkekeh saat hawa menepuk bahu nya pelan.


"yang kemarin juga baik san, baik banget malahan, tapi aku tidak bisa memilih Bang Esa karena aku sudah lebih dulu bersama Langit meskipun aku sempat terpisah beberapa waktu yang cukup lama, tapi entah kenapa aku tidak bisa melupakan nya!"


ucap hawa mengingat semua kejadian bermula saat bersama langit.


"ya, sani juga paham, yang tidak tahu pasti berpikir macam-macam tentang kalian berdua..!"

__ADS_1


"aku tidak memperdulikan hal itu,san. biarkan saja!"


ucap hawa tersenyum kemudian memulai aktivitas nya.


***


siang itu hawa melangkah menuju ruangan dimana istri ustadz Ilham di rawat.


"assalamualaikum....."


ucap hawa masuk ke dalam ruangan itu.


"walaikumsalam... dokter hawa."


ucap dokter Sanusi yang sedang memeriksa keadaan umi Dila langsung menjawab salam nya.


terlihat ustadz Ilham dan Aqila berada tak jauh dari tempat itu, Aqila menatap hawa yang semakin cantik memakai jas putih kebesaran nya, pantas langit tak pernah melepaskan dokter cantik itu, sangat berbeda jauh dengan dirinya yang tak memiliki apapun untuk memikat pria itu.


"kangker nya belum sampai stadium lanjut, semoga bisa sembuh dengan kemoterapi.."


ucap Sanusi kemudian menjelaskan tentang penyakit yang di derita oleh umi Dila.


"semoga cepat sembuh ya, kami disini pasti memberikan perawatan terbaik..."


ucap hawa mengusap bahu umi Dila.


"terima kasih dokter...." ucap umi Dila dan di Angguki oleh hawa.


"Aqila bagaimana kalau kita makan siang bersama, bukan kah sebentar lagi kamu akan menjadi kakak ipar ku..." ucap hawa membuat Aqila tertegun.


***


kini Kedua nya berada di kantin rumah Sakit, hawa yang bersikap biasa saja, berbeda dengan Aqila yang tampak canggung.


"maaf untuk kejadian di pondok ya dokter"


ucap Aqila membuka obrolan.


"oh, soal itu aku sudah melupakan nya, Aqila.


kamu tidak usah khawatir...hal itu biasa, Karena memang banyak kaum wanita yang terpesona dengan langit...." ucap hawa terkekeh.


"bukan seperti itu...aku...."


ucap Aqila menunduk, seperti nya hawa tahu jika ia menyukai suami nya.


"aku tahu Aqila, kamu tidak perlu takut aku marah, selama kamu tahu batasan nya.


tapi sebentar lagi kita akan menjadi keluarga,


aku harap kamu tidak menolak Abang ku...."


ucap Hawa senyum.


"Kamu tahu Aqila...


bang Esa sama seperti langit yang banyak di dambakan banyak wanita, bang Esa itu bukan hanya Tampan, tapi seseorang yang begitu baik, juga mempunyai hati yang tulus...


Aku begitu mengenal beliau... kamu tidak akan menyesal menjadi kan nya imam didalam rumah tangga kalian...."


ucap hawa membuat Aqila membeku, hal itu memang terasa oleh nya, Esa begitu baik.


hawa juga menceritakan semuanya kepada Aqila tentang cinta segitiga yang terjadi di antara mereka, namun karena ketulusan Esa yang mengikhlaskan nya untuk langit, Perempuan yang telah lama ia nanti, demi kebahagiaan adik nya sendiri.


Aqila semakin membeku mendengar cerita hawa yang memang semua berjalan tak semudah itu...

__ADS_1


banyak ujian yang menerpa hubungan keduanya, namun karena cinta keduanya yang sama sama besar hingga membuat keduanya bersatu, itulah kekuatan cinta.


bersambung.


__ADS_2