
Hawa melihat jalanan yang cukup berliku, hal itu membuat hawa merasa sedikit pusing.
"sayang, kamu kenapa?"
ucap langit melihat hawa memijat keningnya.
"pusing... jalan nya berliku..!"
"seperti cinta kita, berliku..!"
ucap langit merangkul bahu hawa kemudian mencium pipi nya.
sementara hawa terkekeh mendengar penuturan langit.
"bang ....!"
ucap hawa melepaskan diri.
karena sejak tadi langit tak berhenti membuat lelucon, bahkan tak sungkan merayu hawa, padahal saat ini mereka tidak sedang berdua.
Sarah dan Rizal tidak memperdulikan sejoli yang sejak tadi asik bercanda dan bermesraan.
Rizal senang karena langit nya sudah kembali cerah.
"kepala kamu pusing?"
ucap Sarah yang menoleh ke belakang, terlihat hawa tengah bersandar pada langit.
"ya, Mi.. mungkin karena jalan nya yang berkelok..."
"ya, pondok pesantren milik ustadz Ilham memang dekat gunung jadi jalan nya naik turun dan berbelok, tapi kamu akan senang kalau sudah sampai di tempat itu.
dari pondok pesantren itu kita bisa melihat gunung yang hijau dari dekat, Udara nya juga sejuk."
ucap Sarah menceritakan tentang tempat itu, satu kali ia pernah datang ke tempat itu setelah dua bulan langit dan hawa menikah, hanya saat itu keduanya tidak mengajak langit karena kondisi nya juga baru sembuh.
"oh gitu, hawa jadi tidak sabar ingin segera sampai!"
"tapi waktu aku ajak kamu ke Bogor, kamu tidak merasa pusing seperti sekarang?"
ucap langit memijat kening hawa pelan.
"ya, beda itu kan naik motor bang...!"
ucap hawa tersenyum mengingat kejadian dulu saat keduanya pergi ke puncak.
"jadi lebih suka naik motor?"
hawa tersenyum sambil mengangguk.
"ya udah kamu tidur aja!
biar tidak pusing!"
ucap langit mendekap erat tubuh istrinya itu.
beberapa jam kemudian akhirnya mereka sampai di pondok pesantren milik ustadz Ilham, Beberapa kali rehat karena hawa sempat muntah karena mabuk perjalanan.
"perlu Abang gendong...?"
ucap langit saat mereka turun dari mobil, di susul mobil Esa yang baru datang.
"loh, kok baru sampai?"
ucap Sarah, karena seingat nya Esa pergi duluan.
"ya , tadi Esa ketemu sama teman di rest area, jadi ngobrol lama!"
ucap Esa tersenyum kemudian menilik wajah hawa yang tampak pucat.
"hawa sakit? Lang?"
"dia ini mabuk perjalanan...!"
ucap Sarah tersenyum merangkul bahu Hawa.
Ilham tersenyum menghampiri mereka yang baru saja tiba di kediaman nya.
"assalamualaikum....!"
ucap Rizal lebih dulu menghampiri.
"walaikumsalam.....!
mari Masuk....!"
ucap Ilham mengajak mereka untuk menuju pendopo di pondok itu.
hawa tersenyum melihat kesekeliling tempat itu, benar kata sarah, terlihat dari dekat gunung yang hijau, udara juga begitu sejuk.
__ADS_1
"disini saja lah rehat nya sambil menikmati pemandangan gunung..!"
ucap Sarah di ikuti yang lain nya.
berbeda dengan langit yang langsung mengajak Hawa berkeliling tempat itu.
"masih pusing?"
tanya langit menuntun tangan hawa.
"tidak bang, hawa suka pemandangan alam nya!"
"hawa...........!"
teriak langit menggema.
"aku cinta sama kamu....!"
ucap langit membuat hawa terkekeh.
namun tidak dengan seseorang yang langsung membeku mendengar hal itu.
langit Tersenyum melihat istrinya itu terkekeh.
"malah ketawa...!"
ucap langit memeluk istrinya itu dari belakang.
"bang, jangan seperti ini!
ini di pesantren!"
ucap hawa dan di angguki oleh langit.
awalnya Aqila berpikir salah orang, mana mungkin pria itu ada di tempat ini?
tapi saat melihat dari jarak dekat, pendengaran nya langsung mendengar hal itu.
entah apa maksud Tuhan membawa pria itu datang, namun tidak sendiri.
langit dan hawa kembali ke pendopo menghampiri mereka yang sedang ngobrol.
"nah ini anak dan menantu saya!"
ucap Sarah saat hawa dan langit mendekati.
"ini langit, adik nya Esa...!"
"oh Sudah menikah lebih dulu?"
"ya, sudah ada sekitar Empat bulan...!"
"oh... pantas, masih terasa manis!"
ucap Ilham tersenyum.
"Aqila....!"
ucap Ilham memanggil putri bungsunya untuk datang.
Esa sendiri hanya diam saat melihat seorang wanita cantik, berkerudung warna biru Senada dengan gamis yang di pakai nya menghampiri.
"assalamualaikum....!"
ucap Aqila justru menoleh pada langit.
"walaikumsalam...!"
ucap sarah tersenyum.
"loh, bukan nya kamu perempuan itu?"
ucap langit menilik gadis yang duduk di samping ustadz Ilham.
"kamu kenal Bang?"
tanya Hawa, menilik wajah Aqila.
"ya,kita ketemu waktu di Asia Afrika Lembang...
empat tahun yang lalu, aku kira kamu tidak ingat bang!"
ucap Aqila membuat Esa dan hawa membeku seketika karena dengan mudah nya Aqila memanggil langit dengan sebutan Abang.
"kebetulan sekali ya...!"
ucap Sarah mencoba mencairkan suasana.
"ya, itu sudah lama sekali!
__ADS_1
waktu aku tour perpisahan sekolah, yang!"
ucap langit menggenggam tangan hawa.
"oh.. apa Aqila perempuan yang berlari dengan Abang?"
tanya Hawa membuat Langit menautkan kedua alisnya.
"kamu tahu dari mana soal itu...?"
tanya langit karena saat itu hawa tidak ikut, dari siapa ia mengetahui hal itu.
"HM...tahu dari teman!"
ucap hawa senyum terpaksa, sebenarnya ia cemburu karena hal itu, tapi itu hanya masa lalu.
"itu hanya masa lalu..!
Aqila ini hawa, perempuan ku!"
ucap langit Tersenyum menegaskan bahwa dirinya sudah ada yang memiliki, karena langit tahu tatapan mata Aqila yang masih sama seperti dulu.
Aqila hanya tersenyum menanggapi ucapan langit yang menusuk hati nya, bahwa sejak kejadian itu.. Aqila begitu menginginkan langit, bahkan ia menggemakan nama langit di setiap doa nya, namun saat bertemu justru langit telah bersama yang lain.
mereka ngobrol dan menceritakan perihal Aqila yang dulu kenapa sampai di kejar kejar oleh orang suruhan Ilham.
saat itu disekolah SMP yang berada tak jauh dari pesantren itu mengadakan acara tour perpisahan, Aqila yang bukan siswa dari sekolah itu memaksa untuk ikut, dengan bantuan dari paman nya yang mengajar di sekolah itu. Aqila yang tidak pernah kemana, ingin tahu kota Lembang, Yuda sang paman akhirnya mengajak Aqila untuk pergi dengan nya.
saat Ilham mengetahui hal itu, ia langsung menyuruh orang menjemput Aqila namun Aqila berusaha kabur hingga bertemu dengan langit.
langit terdiam mendengar cerita tentang kejadian itu, justru yang menjadi pertanyaan adalah dari siapa hawa tahu soal itu.
Aqila tertegun saat mendengar penuturan Rizal yang mengatakan jika mereka datang bertujuan meminang nya untuk Esa, Aqila tak menyangka jika kakak nya langit lah yang melamar nya.
apakah ia bisa hidup menjadi kakak ipar dari pria yang ia cintai...?
Esa Sendiri tak mempersoalkan kejadian masa dulu karena bagi Esa yang terpenting saat ini adalah masa depan.
"bagaimana Aqila...!"
ucap sang Abi bertanya.
Aqila diam dan menunduk, entah harus memberikan jawaban apa?
"kalau diam, berarti kamu setuju!"
ucap ustadz Ilham langsung membuat Aqila mendongak.
"Alhamdulillah...!"
ucap ustadz Ilham tersenyum.
langit sendiri tak terlalu mengurusi hal itu, tatapan langit terus mengarah pada hawa yang tampak diam memperhatikan mereka.
"kita harus bicara berdua...!"
ucap langit, hawa menoleh sekilas kemudian mengangguk.
hawa menemui istri ustadz Ilham, saat Sarah mengatakan jika Hawa seorang dokter ahli penyakit dalam.
"tapi hawa tidak membawa perlengkapan apapun..!"
ucap hawa sambil berjalan memasuki rumah besar itu.
"tidak apa-apa, lihat saja!"
ucap sarah menuntun tangan Hawa.
hawa tersenyum saat melihat wanita paruh baya yang sedang duduk di sofa, tubuh nya kurus.ada beberapa orang yang tengah menemani nya.
"assalamualaikum...!"
ucap hawa duduk sambil menilik keadaan perempuan itu.
sementara langit pergi keluar sebentar untuk melihat sekeliling, karena ia ingin melihat peternakan yang tak jauh dari pesantren itu.
langit menghampiri Tempat itu bersama salah seorang santri laki laki.
peternakan sapi itu cukup bersih, ada beberapa Ekor ayam yang berada di peternakan itu.namun Langit terkesiap saat seorang gadis berlari menghampiri nya.
"hei... kenapa?"
ucap langit saat tiba tiba perempuan itu memeluk nya.
seekor ayam jantan tengah mengejar nya.
"Aqila...."
ucap ustadz Ilham membuat Aqila dan langit menjauh.
__ADS_1
Esa dan Hawa diam melihat interaksi keduanya.
bersambung.