
beberapa bulan telah berlalu. Vania, Rafael dan Clara semakin akrab saja.
mereka bertiga sering jalan bersama.
Carlos dan Elisa senang sekali, karena Vania bisa menyesuaikan diri di kota ini.
walaupun dia belum tau tempat-tempat di kota ini, tapi setiap kali ingin keluar rumah dia selalu di temani Clara atau Rafael.
semenjak kejadian Vania di buli beberapa hari yang lalu, Rafael lebih memperhatikan keselamatan Vania, dari murid-murid yang sering iseng terhadap Vania.
karena Rafael tau, bahwa Vania sering sekali di kerjain sama teman-teman satu kelasnya.
*****
hari ini adalah dimana hari ulang tahun sekolah.
semua murid diminta wajib untuk mengisi acara, ulang tahun sekolah ini.
Vania memilih untuk main drama, karena dia tidak bisa menyanyi, menari atau jadi menjadi model.
Vania, Clara dan Rafael sudah siap untuk tampil di panggung, hanya menunggu giliran saja.
"Clara, kenapa badan ku tiba-tiba saja gatal ya. aku gak kuat."
ucap Vania pada Clara.
"ini pasti ada yang iseng sama kita."
"benar Clara. bagaimana nih?"
"nanti pas edegan putri tidur, bagaimana dong?"
"aku tidak akan bisa mendalami karakter ku. masah sih, putri tidur bergerak-gerak."
ucap Vania dengan paniknya.
"kamu tunggu sebentar ya. saya akan cari solusinya. saya akan ke tempat Rafael dulu" ucap Clara, membukakan pintu kamar ganti, lalu segera berlalu menuju ruangan Rafael dan teman-temannya.
"selanjutnya No.14. Gisel dan teman-temannya akan mempersembahkan sebuah dance ."
ucap sang pembawa acara.
"kepada Gisel dan teman-temannya, saya persilahkan"
ucap sang MC, sambil menghadap kearah tirai panggung yang akan segera terbuka.
"dan untuk No.15. untuk Rafael dan teman-temannya di persilahkan untuk mempersiapkan diri. kalian akan segera tampil setelah yang satu ini."
ucap sang MC lagi, lalu segera berjalan menuju ke tempat duduknya, karena musik sudah mulai terdengar.
sedangkan Vania semakin gemetaran saja, mendengar ucapan sang MC.
badan sudah gatal semua, terutama bagian punggung, dada dan lehernya.
"aduh.... Clara ke mana sih?"
Vania mengoceh sambil menggaruk badannya.
"penampilan ku, bisa berantakan kalau sudah kayak gini" gumam Vania lagi. sambil merapikan rambut nya. lalu memasang pita rambutnya, yang berwarna merah.
"Vania, apakah kamu sudah siap?"
"sebentar lagi, kita akan tampil"
ucap Clara yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu.
"tentu saja, aku sudah siap. tapi aku tidak tahan dengan rasa gatal ini"
jawab Vania, sambil menggaruk bagian lehernya.
"coba kamu tahan rasa gatalnya. nanti kulit mu, bisa lecet. hilang sudah kecantikan sang putri salju. putri yang tercantik di dunia"
ucap Clara, menghibur sekaligus menggoda Vania.
"kamu bisa aja."
jawab Vania, menghentikan tangannya menggaruk lehernya. dia berusaha untuk menahan rasa gatal di badan nya, karena dia juga tidak ingin merusak penampilan nya, yang akan mempengaruhi nilai drama kelompok mereka kelak.
"cantik"
ucap Clara sambil merapikan penampilan Vania.
"ayo kita menunggu giliran kita, di belakang panggung"
ucap Clara lagi, sambil menarik tangan Vania ke luar ruangan.
__ADS_1
Vania, Clara dan teman cowoknya yang berperan sebagai kurcaci, merasa sangat gelisah karena Rafael belum tiba juga. sedangkan sebentar lagi, giliran mereka yang akan tampil.
"Rafael kemana sih"
tanya Vania.
"tadi Rafael membeli obat gatal untuk mu." jawab teman-teman Vania, serempak.
"mungkin sebentar lagi, dia akan sampai.
kamu tenang saja. kamu tau kan, Rafael seperti apa orang nya?"
jawab Clara, mencoba menenangkan Vania dan teman-temannya yang lain.
"terima kasih untuk Gisel dan teman-temannya. good... penampilan kalian sangat bagus"
ucap MC, sambil berjalan ke tengah-tengah panggung.
"hadirin, tepuk tangan nya dong untuk Gisel dan teman-temannya."
ucap MC itu lagi. dan para hadirin lansung bertepuk tangan, sedangkan gisel dan teman-temannya membungkuk hormat.
"sekarang giliran No.15. mereka akan mempersembahkan drama, dongeng putri salju."
ucap MC, memutarkan tubuhnya kearah tirai panggung yang masih tertutup.
"kita sambut persembahan dari Vania dan teman-temannya."
Vania Hendak berjalan memasuki panggung.
tapi langkahnya terhenti.
"Vania, tunggu. minum dulu obat ini"
ucap Rafael, sambil menarik tangan Vania.
"akhirnya, kamu sampai juga Rafael." ucap semuanya kompak, sambil mengelus dada.
"sudah, jangan drama deh"
ucap Rafael yang tidak suka melihat sikap teman-temannya yang dia anggap lebay.
"Vania, di minum dulu obat gatal ini."
ucap Rafael, sambil memberikan satu butir obat alergi dan sebotol air mineral.
ucap Vania, sambil menerima sebutir obat alergi dari Rafael.
"sama-sama ini semua demi hasil yang memuaskan untuk penampilan kita"
jawab Rafael.
"sekali lagi, untuk No.15 saya panggilkan"
"ini adalah panggilan untuk yang kedua kalinya."
ucap MC, sambil menunggu tirai panggung terbuka.
"sebaiknya, kamu segera memasuki panggung. masalah penampilan saya. akan segera saya rapikan"
ucap Rafael, pada Vania.
"untuk peserta No.15. silahkan memasuki panggung. ini adalah panggilan yang ketiga kalinya."
ucap MC itu lg.
"jika kalian tidak tampil juga, maka kelompok kalian akan di ...."
ucapan MC terhenti.ketika mendengar suara musik, dan tirai panggung sudah di bukakan.
"wau.... putri saljunya sangat cantik."
ucap MC tersebut, terpukau melihat kecantikan Vania.
"kita sambut, penampilan No.15....
putri..... salju."
ucap MC itu lagi. lalu berjalan menuju sudut panggung.
Vania, berjalan memasuki panggung, di temani oleh Alunan musik.
****
dengan sedikit ketakutan putri salju berjalan di hutan seorang diri. karena dia baru saja di tinggalkan seorang diri oleh Prajurit suruhan ibu tirinya, yang sangat iri dengan kecantikan yang putri salju miliki.
__ADS_1
putri Salju adalah, sosok gadis yang sangat cantik di negri ini. tidak seorang pun yang mampu mengalahkan kecantikannya.
"hadirin semua, Vania yang memerankan putri salju, di drama ini benar-benar cantik ya. Tepuk tangan dong untuk Vania"
ucap MC itu lagi, yang terpukau melihat kecantikan Vania.
bagaimana tidak. Vania yang menggunakan gaun berwarna kuning, berjalan dengan anggunnya, di hutan buatan di panggung ini.
dengan menggunakan sepatu kaca dan pita merah di kepalanya, dan memakai riasan wajah yang natural, semakin menambah kecantikan Vania.
di tambah lagi, bentuk tubuhnya yang mungil, menambah kecantikan Vania.
semua hadirin bertepuk tangan, menyambut Vania di panggung ini. demikian juga dengan keluarga Vania yang hadir di acara ini.
Carlos, Elisa, nyonya Salva dan ketiga adik Vania, mereka semua tersenyum puas melihat akting Vania, di panggung ini.
"Vania, tampil dengan sempurna"
ucap Carlos pada istrinya Elisa.
"iya...." jawab Elisa singkat. dia tidak ingin mengalihkan pandangannya dari Vania.
setelah berjalan cukup jauh memasuki hutan. akhirnya putri salju menemukan, sebuah pondok.
tok.... tok.... tok...
putri Salju mengetuk pintu pondok tersebut.
setelah beberapa kali mengetuk pintu dan tidak ada jawaban juga dari sang pemilik, akhirnya putri salju memilih untuk masuk ke dalam pondok tersebut.
"ruangan ini sangat berantakan."
gumam putri salju, sambil membersihkan
seisi pondok tersebut.
"kira-kira siapa ya, pemilik pondok ini. kenapa ada banyak sekali tempat tidur.?"
"dan kenapa tempat tidur ini berukuran mini?" gumam putri salju lagi.
tidak butuh waktu lama bagi putri salju untuk merapikan ruangan itu.
"sudah rapi. sebaiknya, saya istirahat dulu." gumam putri salju, lalu naik keatas salah satu dipan di sana. merebahkan diri untuk menghilangkan rasa lelahnya. putri pun tertidur dengan nyenyak nya.
sehingga dia tidak menyadari kedatangan pemilik pondok ini.
sebetulnya, Vania berusaha keras untuk menahan rasa gatal di tubuhnya.
setelah beberapa lama kemudian, tujuh orang kurcaci pemilik pondok ini, pulang ke pondok mereka. dan betapa kagetnya mereka melihat keadaan seisi pondok mereka yang terlihat bersih dan rapi.
"siapa yang telah bersihkan seisi ruangan ini?"
ucap salah satu di antara mereka semua.
"iya ... kira-kira siapa ya, yang sudah membersihkan tempat ini?"
ucap yang lainnya.
"lihat di sini juga, sudah tersedia makanan"
jawab yang lainnya. lalu segera memakan makanan yang sudah tersedia di meja makan.
"teman-teman, di sini ada seorang gadis cantik. dia sedang tertidur dengan nyenyak nya"
teriak yang lainnya.
semua kurcaci itu menghampiri putri salju. mereka menyentuh bagian wajah dan kaki putri salju.
"kalian siapa?"
tanya Putri salju, dengan wajah ketakutan. mungkin karena dia bertemu dengan sekelompok laki-laki yang berpenampilan aneh. dan mempunyai postur tubuh yang sangat kecil.
"kami pemilik pondok ini. dan kamu siapa?" tanya salah satu dari kurcaci tersebut.
"saya putri salju. saya tersesat di hutan ini. bolehkah saya tinggal bersama kalian di pondok ini?"
Jawab putri salju.
setelah mendengar cerita dari putri salju. para kurcaci itu, memberi izin pada putri salju untuk tinggal bersama mereka di pondok ini.
****
maaf nanggung. kita lanjutkan besok ya.
......*yuk komen, supaya author lebih semangat lagi update......
__ADS_1
...terima kasih*...