LDR Cinta Online

LDR Cinta Online
Will you marry me


__ADS_3

beberapa hari telah berlalu setelah kejadian dikamar hotel waktu itu.


hari ini Rafael sedang mempersiapkan dirinya untuk pulang ke London, mengiat tiga hari lagi dia dan Vania akan melangsungkan acara pertunangan diantara mereka berdua.


tidak lupa, Rafael juga menyimpan sebuah kotak kecil, kedalam koper yang sedang dia Peking. sepertinya itu adalah sebuah hadiah untuk Vania.


setelah merasa semuanya sudah siap, barulah Rafael ke bandara. tujuan nya sekarang ini adalah ke London untuk menemukan calon tunangannya.


di London


setelah sampai di London, Rafael di sambut dengan baik oleh ibunya.


"kamu sudah sampai,Rafael"


ucap sang ibu. dia begitu kaget, karena kedatangan Rafael lebih cepat dari jadwal yang seharusnya.


"ya Bu...." jawab Rafael, sambil mencium punggung tangan ibunya.


"ibu baru saja selesai masak."


"kamu pasti belum makan kan?"


"ayo ibu temankan, makan"


ucap nyonya aura, ibunya Rafael.


sambil berjalan membawa putranya masuk kedalam rumah.


"nanti saja Bu. saya ingin menelpon Vania dulu. saya ingin mengajak nya untuk berkencan malam ini" jawab Rafael.


"ya sudah...." jawab nyonya aura. dia mengerti bagaimana perasaan Rafael saat ini. Rafael pasti sangat merindukan Vania.


****


Vania dan teman-temannya sedang berjalan menuju tempat parkir mobil di kampus, di tempat dia kuliah.


tapi langkahnya terhenti sesaat setelah dia mendengar ada bunyi getaran di handphone miliknya.


"hallo...." ucap Vania setelah sambungan video call tersambung.


"hallo juga, sayang." jawab Rafael, dengan sangat antusias.


"apa kabarmu?. dan sekarang kamu lagi dimana?" tanya Vania, sambil melihat ke sekeliling Rafael, lewat layar ponsel.


"aku baik-baik saja. dan bagaimana dengan mu" Rafael, balik bertanya.


"saya juga baik. kamu lagi dimana?"


"bukankah, seharusnya sekarang kamu sedang dalam perjalanan ke London?"


tanya Vania penasaran.


dia heran kenapa Rafael seperti nya sedang ada di dalam kamar.


"sekarang, aku sudah di London. dan sekarang aku sedang berada di dalam kamarku" jawab Rafael, sambil mengarahkan kameranya ke seluruh isi kamarnya.


"oh..... jadi sekarang kamu sudah di London" tanya Vania, sambil ber- oh ria.


"kenapa kamu tiba secepat ini?"


"bukankah seharusnya satu jam lagi, barulah kamu tiba di negara ini?"


tanya Vania lagi.


"saya sengaja berangkat lebih awal. karena saya sudah sangat merindukan mu" ucap Rafael. sambil tersenyum.

__ADS_1


"sekarang kamu dimana?"


"lagi di kampus. sekarang sudah jalan pulang"


"jika begitu, saya jemput ya"


"tapi saya sedang di tunggu sama teman. tadi dia janji mau mengantarkan saya pulang" jawab Vania.


vania baru ingat, bahwa dia sudah ketinggalan jauh dari teman-temannya. mungkin sekarang teman-temannya sedang menunggunya di parkiran. sedangkan dia masih di taman kampus. berdiri di bawah pohon rindang.


"pokoknya saya jemput ya. kamu bilang saja sama teman-teman mu, bahwa hari ini, kamu tidak perlu di antar pulang"


ucap rafael, bersikeras ingin menjemput kekasihnya ini.


"baiklah. saya tunggu kamu, di kampus"


jawab Vania, pasrah. sambil berjalan menuju parkiran.


"ok. da... sayang. saya langsung otw ya"


"da.... juga. hati-hati di jalan. sampai jumpa" jawab Vania.


setelah sampai di parkiran. Vania lansung menghampiri ketiga temannya.


"maaf ya. tadi saya mengakat telpon dulu." Vania meminta maaf. dia merasa tidak enak hati karena telah membuat teman-temannya telah lama menunggu dirinya.


"tidak masalah. ayo cepat naik" ucap Marissa.


"maaf, saya tidak jadi ikut bersama kalian. karena Rafael akan menjemput saya"


jawab Vania.


"jadi, pacar mu Rafael sudah tiba di negara ini?" tanya Jonathan dan Killa. yang sejak tadi hanya duduk manis di belakang kemudi.


"iya.... maaf ya" ucap Vania lagi.


jawab ketiganya, serempak.


"jika begitu, saya pindah kedepan" ucap Killa. sambil membuka pintu mobil, Marissa. dan pindah duduk di sampingnya Marissa.di samping kemudi.


"da.... selamat bersenang-senang." ucap ketiganya, sambil melambaikan tangan.


dan Marissa pun segera melajukan mobilnya, meninggalkan Vania seorang diri,di parkiran menunggu kedatangan Rafael.


begitulah persahabatan di antara Vania dan teman-temannya.


Vania yang belum memiliki mobil pribadi, setiap hari selalu di antar jemput oleh ketiga temannya secara bergantian.


ketiga teman Vania, semuanya memiliki mobil pribadi. tapi mereka selalu memilih untuk berangkat bersama, jika sedang tidak ada janji dengan orang lain.


mereka memilih bersama, supaya pertemanan mereka lebih akrab. dan supaya hemat uang bensin.


lagian rumah Mereka berempat satu arah.


berbeda dengan Vania yang belum memiliki mobil pribadi. bukan nya Carlos tidak mau membelikan Vania mobil. tapi Vania yang tidak mau boros, memilih untuk setiap kali dia ingin berpergian, selalu bersama sopir atau teman-temannya.


sebetulnya, jika dia mau Vania bisa saja menggunakan mobil milik Carlos ayahnya. karena Carlos dan nyonya Salva memiliki beberapa mobil mewah di garasi rumahnya. tapi Vania tidak melakukan itu. dia lebih nyaman bersama dengan teman-temannya.


dan jika dia sedang ingin pergi keluar rumah sendiri, Vania lebih suka di antar oleh supir ibunya.


Vania, bukannya tidak bisa menyetir mobil. tapi Vania ingin menggunakan mobil, jika itu mobil hasil dari kerja keras nya sendiri.


di kafe.


Vania dan Rafael sedang duduk di sebuah kafe.

__ADS_1


terlihat, keduanya sedang menikmati makan malam bersama.


setelah selesai makan. Rafael, tiba-tiba berlutut di hadapan Vania.


Vania kaget melihat aksi Rafael yang tidak seperti biasanya.


"Vania, Will you Marry me?"


ucap rafael, pada Vania. sambil membukan sebuah kotak cincin di tangan nya.


Vania Hanya bisa diam mematung, memperhatikan kotak cincin yang ada di tangan Rafael. kotak cincin berwarna merah, dan berbentuk love ada di hadapannya saat ini. bukan hanya itu saja, di dalam kotak itu ada sebuah cincin di dalam nya.


"Vania, Will you Marry me!" ulang Rafael.


"yes, I Want to marry you" jawab Vania.


Raffi lansung mengeluarkan cincin dari dalam kotaknya. lalu segera menyematkan cincin tersebut di jari manis Vania.


"aku bahagia, karena kamu bersedia menerima lamaran ku" ucap rafael, bangkit berdiri dan mencium pucuk kepala Vania.


"aku juga bahagia" jawab Vania.


Rafael menarik tubuh Vania, supaya bangkit berdiri. mensejajarkan Vania dengan tubuhnya.


"aku mencintaimu." bisik Rafael, sambil meraih tubuh Vania kedalam pelukannya.


"aku juga mencintaimu" jawab Vania, sambil menatap manik mata Rafael.


ini adalah untuk yang pertama kali nya, Rafael dan Vania bermesraan. setelah tiga tahun pacaran, mereka berdua belum Pernah Melakukan ini.


rafael memberanikan dirinya, untuk mendekatkan wajahnya ke wajah Vania.


memiringkan kepalanya. dan secara perlahan, Rafael mendekatkan bibirnya kearah bibir Vania.


Vania, secara refleks juga melakukan hal yang sama seperti yang Rafael lakukan.


bahkan, kedua nya sudah saling memejamkan matanya.


cup....


kedua bibir itu menempel dengan sempurna.


sedetik... dua detik. kedua bibir itu hanya sekedar menempel saja. mungkin keduanya masih sama-sama gugup, sehingga tidak berani melakukan apapun.


rafael membuka matanya. menatap mata Vania yang masih tertutup.


dan karena merasa tidak ada penolakan dari Vania, Rafael memberanikan dirinya untuk membuka bibirnya, dan mengecup bibir Vania sekilas.


Vania masih diam saja.


lagi dan lagi, karena merasa tidak ada penolakan dari Vania. rafael kembali mengecup bibir Vania untuk yang kedua kalinya. dan akhirnya Vania membalas kecupan bi**r dari Rafael.


rafael menyandarkan kepala Vania di bahunya, super dia dan Vania lebih leluasa saling ******* bi**r satu sama lain.


ciuman itu terjadi beberapa menit.


Untung saja di kafe ini tidak ada pengunjung yang lain.


karena tadi Rafael sudah memboking tempat ini untuk dua jam. dan tidak ada satupun yang bisa mengunjungi kafe ini, selain mereka berdua.


jadi tidak ada satupun yang melihat aksi keduanya.


beberapa menit kemudian, setelah mereka kekurangan oksigen barulah keduanya melepaskan ciuman mesra diantara keduanya.


ini adalah ciuman pertama yang dilakukan oleh Rafael dan Vania setelah tiga tahun pacaran.

__ADS_1


kalau sudah begini, dunia serasa milik berdua. jadi kedua insan ini bisa-bisa lupa waktu.karena tidak ada kebahagiaan yang paling indah, selain bisa mengungkapkan cinta kita pada orang yang kita cintai.


__ADS_2