
Vania yang pura-pura tidur sadarkan diri berusaha untuk tetap fokus dengan rencananya untuk membuktikan cinta Rafael pada dirinya.
sebenarnya dia sangat risih ketika Rafael terus saja menyentuh kulitnya.
wajah dan tangannya,Rafael bersihkan menggunakan tissue, membuat Vania geli, dia hampir saja tidak bisa menahan senyumnya.
tapi karena dia sedang pura-pura sakit, jadi Vania tidak boleh bergerak, dia harus tetap diam, karena dia sedang berpura-pura tidak sadarkan diri.
flash back of.
Vania yang sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan Rafael, dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.
sambil bersenandung, Vania terus menambah kecepatan mobilnya, karena tidak fokus, tanpa sengaja Vania hampir saya menabrak menyebrang jalan. tapi untung saya dia bisa mengelak, dan akhirnya mobilnya menabrak trotoar jalan.
jalanan sempat macet karena adanya terjadi kecelakaan itu, tapi untung tidak ada korban jiwa.
sebagai korban kecelakaan, Vania lansung di larikan ke rumah sakit.
sesampai di rumah sakit,Vania lansung di periksa oleh dokter. dan ternyata dokter yang menangani Vania adalah teman praktek Vania sendiri.
Vania yang dalam keadaan baik-baik saja, entah punya ide dari mana, dia mengutarakan keinginannya untuk mengerjai tunangan Rafael, pada dokter teman prakteknya. dan dokter tersebut juga menyetujui keinginan Vania, maka terjadilah drama kecelakaan yang membuat Vania pura-pura tidak sadarkan diri.
flash back on.
sudah beberapa jam ini Vania pura-pura tidak sadarkan diri. dan selama itu, Vania juga beberapa kali mendengar ocehan Rafael ya terus saja mengatakan cintanya pada Vania.
dan dari ucapan Rafael, kini Vania sadar bahwa Rafael sangat mencintai dirinya.
ehm.... Vania menggerakkan tubuhnya, sebagai tanda bahwa dirinya sudah siuman.
Rafael yang duduk di kursi, dengan kepala dia sandarkan disisi tempat tidur Vania, setelah mendengar erangan Vania, Rafael lansung bangun.
"sayang..."
ucap Rafael, sambil menatap mata Vania yang dengan perlahan lahan telah terbuka.
"kamu baik-baik saja?. katakan, bagian mana yang sakit?"
lanjut Rafael, sambil membelai rambut Vania.
"ya. aku baik-baik saja. jangan kawatir" Jawab Vania, sambil tersenyum.
sebenarnya Vania sungguh merasa tidak nyaman karena telah membohongi Rafael. tapi inilah cara yang tepat baginya untuk membuktikan cinta Rafael pada dirinya.
karena Vania tau di luar sana ada banyak sekali gadis-gadis yang lebih cantik dan menarik dari dirinya.
dan pasti banyak sekali hadis yang tertarik pada kekasih nya ini.
bukan tanpa alasan, Rafael kan masih muda dan tampan. di tambah lagi, di usia nya yang masih sangat muda, Rafael sudah menjadi pengusaha sukses. selain itu Rafael juga seorang pewaris tunggal dari keluarga 'alam', keluarga yang terkenal kaya raya di kota ini.
****
seorang dokter, temannya Vania yang sejak tadi melihat Vania sudah siuman, terus mencari cara bagaimana caranya dia menyampaikan pada Rafael bahwa Vania sedang berakting.
dokter tersebut terus saja mondar-mandir di depan pintu kamar rawat Vania.
sampai akhirnya dia menemukan ide.
tok tok.
__ADS_1
"masuk". jawab Rafael setelah mendengar suara ketukan di pintu.
dan tidak lama kemudian, seorang dokter memasuki ruangan itu.
"selamat siang."
"selamat siang dok"
jawab Rafael dan Vania serentak.
"bagaimana keadaan nona?"
tanya dokter itu pada Vania, seakan akan benar-benar memeriksa kondisi Vania.
"apa ada keluhan?"
tanya dokter itu lagi.
"tidak dok. saya baik-baik saja"
jawab Vania.
"syukurlah"
jawab dokter itu sambil tersenyum.
"Vania, apa benar pria ini adalah tunangan mu.?"
tanya dokter itu, tersenyum dan mengedipkan matanya.
"ya..."
"ya."
"pantas saja kamu nekat bersandiwara, demi membuktikan cintanya padamu. karena tunangan mu ini sangat tampan. jadi wajar kalau kamu takut jika dia PHP in km." lanjut dokter itu lg.
mendengar ucapan temannya, sontak saja Vania langsung kaget.
'aduh, aku bisa-bisa ketahuan dong kalau saya cuma bohongan sakitnya. nasib, punya teman mulut ember.' gumam Vania dalam hati.
Rafael juga tidak kalah kagetnya. dia sampai melotot kan matanya, setelah mendengar ucapan dokter itu.
"sandiwara???. apa maksudnya?"
tanya Rafael, sambil melihat ke arah Vania dan dokter itu secara bergantian.
"ehm...."
jawab Vania gugup. dia melihat ke arah temannya, meminta bantuan.
tapi dokter itu malah berbisik.
"jujur saja. pasti aman kok"
suara bisikan dokter itu masih bisa di dengar oleh Rafael. dan Rafael pun menatap mata Vania, sambil mengangguk kan kepalanya, sebagai tanda meminta kejujuran dari Vania.
Vania yang mengerti maksudnya Rafael, akhirnya memilih untuk berkata jujur.
"sebenarnya tadi cuma terjadi kecelakaan kecil. keadaan saya baik-baik saja.saya pura-pura tidak sadarkan diri hanya untuk membuktikan bahwa apa kamu benar-benar mencintai ku"
__ADS_1
ucap Vania gugup.
"kenapa begitu Vania?. aku benar-benar mencintai mu. kenapa kamu meragukan cintaku?"
tanya Rafael dengan nada berusia menyakinkan Vania.
"maaf. tadi aku cuma iseng"
jawab Vania.
"ya sudah, besok-besok jangan di ulangi lagi ya. I love you."
bisik Rafael, sambil merangkul tubuh Vania.
"I love you to"
jawab Vania. sambil mengeratkan pelukannya pada Rafael.
Vania heran kenapa Rafael tidak marah sama sekali pada dirinya.
'ternyata Rafael benar-benar mencintaiku' gumam Vania di dalam hatinya.
"so sweet. ya sudah saya tinggal dulu. takut nya saya ganggu kalian berdua. selamat bersenang-senang."
ucap dokter itu, sambil berlalu.
"apakah kamu sudah yakin, bahwa aku sangat mencintaimu?"
ucap Rafael, sambil melepaskan pelukannya.
"ya"
jawab Vania. matanya terus menatap mata Rafael.
"apakah kamu mau menjadi istri ku?"
tanya Rafael.
"ya. saya mau"
jawab Vania.
mata keduanya saling bertemu. dan tanpa mereka sadari, secara perlahan keduanya saling mendekatkan wajah mereka.
bagaikan ada magnet yang menarik mereka berdua, keduanya secara perlahan memejamkan mata, dan akhirnya bibir mereka menyatu.
Rafael mengucap bibir Vania sekilas saja, lalu melepaskan nya.
tapi Vania malah semakin mengeratkan pelukannya pada Rafael, seakan memberi tanda bahwa dia menginginkan hal yang lebih dari itu.
Rafael yang mengerti maksud Vania, tanpa ragu-ragu lagi dia kembali meraih bibir itu dan menyesapnya. sehingga keduanya saling membalas pangutan bibir di antara keduanya.
ini adalah ciuman pertama yang penuh gairah di antara keduanya.
ciuman sebagai tanda mereka saling mencintai, menerima dan saling melengkapi.
semoga bahagia Vania dan Rafael.
Tamat.
__ADS_1