LDR Cinta Online

LDR Cinta Online
sebuah tamparan


__ADS_3

keesokan harinya,Elisa kembali melakukan aktivitas seperti biasa.


pagi ini dia ada jadwal mengajar.


sesampai nya di sekolah, ternyata Glen sudah ada di ruang guru.


"selamat pagi Bu Elisa..." ucap Glen, menyapa Elisa, dengan semangat dia tersenyum bahagia.


"selamat pagi pak glen." jawab Elisa, lalu dia duduk di kursi, meja kerjanya. yang menghadap langsung ke arah meja kerja Glen.


mereka mengobrol seperti biasanya. lalu tanpa disengaja, Glen melihat perhiasan yang sedang di pakai oleh Elisa.


'sejak kapan ya, Elisa jadi suka memakai perhiasan semahal ini?'


gumam Glen.sambil memperhatikan gelang, dan cincin yang dipakai oleh Elisa.


Glen yang penasaran sama perhiasan yang Elisa pakai, akhirnya memilih untuk bertanya pada Elisa,hanya untuk memastikan saja. kenapa elisa jadi tiba-tiba suka memakai gelang.


"ibu Elisa.... sejak kapan, ibu Elisa suka memakai gelang?"


tanya Glen.


dia heran kenapa Elisa jadi suka memakai gelang, padahal dulu dia bilang, bahwa dia tidak suka memakai gelang.


waktu itu, Elisa pernah bilang sama Glen kalau dia tidak suka memakai gelang


prof beberapa tahun yg lalu.


Elisa dan Glen hendak membelikan hadiah, untuk kado pernikahan rekan kerja mereka ' vera ' yang baru saja menikah.


waktu itu semua para guru menyumbang uang untuk membeli kado pernikahan untuk Vera.


karena uang yang berhasil dikumpulkan cukup banyak, jadi semuanya setuju untuk memberikan Vera perhiasan berupa gelang sebagai kado pernikahan.


tapi Elisa tidak setuju,karena menurutnya uang tersebut lebih baik untuk membeli perlengkapan rumah tangga saja. karena berhubungan ini pengantin baru, jadi mereka pasti lebih membutuhkan perlengkapan rumah tangga, dari pada perhiasan seperti gelang.


Elisa juga bilang, dia tidak suka memakai gelang, karena menurut dia, ribet pakai gelang. lagi pula seorang guru tidak mungkin mengajar dengan menggunakan perhiasan mahal, seperti gelang emas misalnya.


kembali ke masa sekarang.


"gelang ini pemberian dari temanku"


jawab Elisa.


"dia memberikan gelang ini, waktu kami bertemu di Singkawang"


"teman mu yang mana...?"


"ini kelihatan nya perhiasan mahal..."


tanya Glen


"dia temanku waktu kuliah dulu"


jawab Elisa berbohong.


"oh.... tapi kenapa kamu juga memakai cincin...?"


tanya Glen lagi.


"ini.... cincin ini baru aku beli kemarin"


jawab Elisa, dengan sedikit terbata-bata.


"oh...." jawab Glen sambil mengangguk kan kepalanya.


tapi di dalam hatinya,dia berkata


'sepertinya, Elisa sedang berbohong pada ku. mana mungkin ini cuma kebetulan, lagian motif cincin dan gelang nya sama. jadi, menurut saya perhiasan ini pasti di belikan oleh orang yang sama. pasti ada yang dengan sengaja ingin menghadiahkan nya pada elisa.'


monolog Glen


"pak Glen... saya masuk kelas untuk mengajar dulu pak" ucap Elisa yang berhasil membuyar lamunan Glen.


"ya.... silahkan buk." jawab Glen dengan sedikit terbata-bata.


"saya juga ingin masuk kelas, untuk mengajar"


***


walaupun sudah beberapa hari berlalu setelah kejadian Glen menanyakan tentang cincin dan gelang yang Elisa pakai, sama Elisa, waktu itu.


tapi Glen masih kepikiran saja sama Elisa.

__ADS_1


dia selalu berpikir bahwa gelang dan cincin yg Elisa pakai pasti pemberian dari seorang pria.


'sepertinya Elisa sudah dilamar oleh seseorang.'


'karena tidak mungkin, ada orang yang mau memberikan perhiasan mahal, kalau bukan untuk orang yang dia cintai'


monolog Glen lagi.


tepat jam sembilan malam. pada saat ketiga putrinya sudah tertidur.


Elisa kembali untuk menyelesaikan pekerjaan nya menulis novel.


disaat dia sedang fokus, tiba-tiba terdengar ada suara ketukan di pintu rumah nya.


tok....tok... tapi tidak ada jawaban


tok.... tok...


'kira-kira siapa ya, yang bertamu malam malam begini?'


gumam Elisa. sambil berjalan menuju pintu, untuk membuka kan pintu bagi tamunya.


"tok..tok...buk...ibu Elisa..."


suara seseorang di depan rumah Elisa, memanggil nama Elisa.


dan betapa terkejutnya Elisa, ketika dia melihat siapa yang sedang menunggu nya di luar rumah nya.


Glen berdiri tepat di depan pintu rumah nya, dengan berdiri sempoyongan. sepertinya Glen mabuk.


"pak Glen. ada apa, pak Glen bertamu malam malam begini?"


tanya elisa.


"maaf Bu... saya harus bertamu pada saat sudah malam begini"


"tapi ada yang ingin saya tanyakan sama kamu Elisa"


jawab Glen.


"kenapa bapak tidak menelepon atau chat aku saya. atau pak Glen bisa bertanya kepada ku besok pagi"


tanya Elisa. karena dia Marasa tidak nyaman menerima tamu pada saat sudah larut malam begini.


"karena saya harus bertanya lansung kepada ibu Elisa sekarang juga"


jawab Glen, sambil berjalan menyelonong masuk ke dalam rumah Elisa.


"baiklah. apa yang ingin pak Glen tanyakan?" tanya Elisa, dia masih berdiri di depan pintu, sedang kan Glen sudah duduk di sofa ruang tamu.


Glen yang sedang duduk di sofa, lansung berdiri, dan berjalan ke arah Elisa.


"katakan, siapa yang sudah memberikan mu gelang dan cincin ini?"


tanya Glen sambil menarik tangan Elisa, lalu menunjukkan gelang dan cincin yang Elis pakai.


"ini dari teman saya" jawab Elisa singkat. Karena dia merasakan sedikit sakit dipergelangan tangan nya, akibat Glen memelintir pergelangan tangannya.


"bohong.... kamu sedang berbohong kan Elisa. sepertinya kamu sudah dilamar oleh pria lain"


"dan lihat ini...apa ini Elisa"


ucap Glen sambil menarik kalung yang sedang Elisa pakai.


"ya.... saya sudah dilamar oleh pacar saya. dan saya juga sudah menerima lamaran dari nya" jawab Elisa dengan terbata-bata, karena rasa sakit dilehernya.


"kamu keterlaluan Elisa. kamu sudah menyakiti hati ku."


"aku sudah mencintai mu, sepuluh tahun ini. tapi kamu malah menerima lamaran pria lain."


"kenapa Elisa...?"


"kenapa, pada saat aku mengatakan cinta ku padamu, kamu menolak ku. kenapa kamu waktu itu bilang kamu masih mencintai almarhum suamimu"


ucap Glen berapi api.


" aku sudah bilang pada mu, bahwa aku rela menunggu mu sampai kamu bisa menerima cintaku."


"dan kamu mengiyakan ucapan ku pada waktu itu."


"tapi ini... apa yang sudah kamu lakukan sekarang ini Elisa?"


"kamu sudah PHP in aku. kamu sudah memberi harapan palsu untuk ku"

__ADS_1


ucap Glen lagi dengan wajah memerah menahan marah.


"aku tidak pernah berbohong padamu Glen. aku benar-benar belum bisa move on dari almarhum suamiku Daniel"


"dan aku juga tidak pernah PHP in kamu, kamu saja yang terlalu berharap lebih dariku."


jawab Elisa tidak kalah tegas. dia tidak terima di nilai buruk oleh glen.


" jika begitu, kenapa kamu, mengiyakan ucapan ku pada saat aku bilang aku akan menunggu mu, sampai kamu bisa melupakan almarhum suamimu?"


"dan pada saat itu kamu berjanji akan mencoba untuk menerima ku!"


jawab Glen dengan penuh emosi.


"kenapa kamu bisa menerima pria lain? dan kenapa kamu tidak bisa menerima cintaku?"


"apa kekurangan ku, Elisa?"


tanya Glen sambil menatap mata Elisa dengan intens. sepertinya dia ingin mendapatkan jawaban yang jujur dari tatapan mata Elisa.


"kamu tidak punya kekurangan apapun Glen. aku tidak bisa menerima mu, karena aku tidak mencintaimu"


jawab Elisa.


"sebelum ini, aku menilai mu, kamu adalah wanita baik-baik. tapi sekarang aku tahu kenapa kamu mau menerima pria itu, karena dia kaya raya kan Elisa"


"ternyata kamu cewek matre, kamu mau sama dia. karena kamu hanya ingin hartanya" ucap Glen lagi.


"kamu sudah keterlaluan Glen. ucapan mu, sudah merendahkan harga diriku."


"keluar.... keluar kamu dari rumah ku Glen"


teriak Elisa dengan penuh emosi.


tapi Glen tidak bergerak sedikitpun.yang ada sekarang Glen semakin marah sama Elisa.


"dasar wanita lajang...berani beraninya kamu mengusirku"


jawab Glen sambil mengangkat tangan kanannya. dan..


plak...plak.... dua tamparan mendarat di pipi sebelah kiri Elisa.


"apa ini Glen...?"


"kamu berani sekali menampar pipiku!"


tanya elisa, dengan penuh emosi. dia tidak percaya bahwa Glen bisa berbuat kasar padanya.


"pergi dari rumahku Glen. pergi dari sini, sebelum aku berteriak meminta bantuan warga" ucap Elisa memberikan ancaman pada Glen.


"oh.... sekarang kamu sudah berani untuk mengancam ku Elisa."


"silakan berteriak, aku tidak takut sama ancaman dari mu."


"aku malah suka jika warga datang kemari, karena aku ingin mereka tau bahwa kamu adalah wanita rendahan. yang sudah berani berpacaran dengan pria lain,dalam keadaan berduka, karena suamimu baru saja meninggal dunia."


"dan tidak hanya pacaran saja, tapi kamu sudah menerima lamaran dari pria tersebut."


ucap Glen penuh emosi.


"Glen.... dengarkan ucapan ku baik-baik"


ucap Elisa sambil menarik nafas panjang.


"sikap mu yang kasar dan suka mabuk mabukan, inilah yang tidak Aku suka dari mu."


"aku belum jadi istri mu saja, kamu sudah berani-beraninya untuk menampar pipi ku. lalu apa jadinya aku, kalau sudah jadi istri mu, bisa- bisa setiap hari kamu berbuat kasar pada ku"


ucap elisa dengan amarah yang menggebu-gebu.


"dulu... saya pernah berpikir untuk belajar mencintaimu, tapi ketika saya tau kamu adalah pria yang kasar, saya jd tidak ingin lagi untuk belajar mencintaimu.'


"jika kamu ingin tau kenapa aku mau menerima cinta Carlos, itu karena dia baik dan perhatian. dia bisa menghargai ku sebagai wanita... dan dia juga menyayangi anak- anak ku."


"dia tidak kasar seperti mu. tidak ada yang bisa menjamin bahwa kamu bisa berubah Glen !!!!" ucap Elisa panjang lebar, meluapkan isi hatinya.


Glen terkejut mendengar ucapan Elisa, semuanya yang Elisa sampaikan benar adanya.


bahwa tidak ada yang bisa menjamin bahwa dia bisa merubah sifat arogannya.


glen berjalan keluar rumah Elisa dengan gontai. dia merasa malu sama Elisa. karena dia sudah lancang menampar pipi elisa.apalagi ucapan Elisa seperti menusuk hatinya....


menyesal.... menyesal tidak berguna....

__ADS_1


semoga Elisa menentukan pilihan yang baik... dan tepat untuk nya.


__ADS_2