LDR Cinta Online

LDR Cinta Online
terungkapnya misteri lukisan bibir.


__ADS_3

Rafael kembali meraih tangan Vania, mengusapnya. dengan penuh keraguan Rafael mencoba untuk mengatakan yang sejujurnya pada Vania.


Rafael menarik nafas nya, kemudian menghembusnya pelan. lalu berkata.


"Vania, kenyataan nya tidak seperti yang kamu lihat di dalam video ini." ucap Rafael, sambil melihat manik mata Vania.


Vania menatap mata Rafael, mencoba mencari kejujuran dari sana.


"aku sangat mencintaimu. tidak ada satupun gadis di luar sana yang bisa menggoyahkan cinta ku padamu" ucap rafael, penuh keyakinan.


vania hanya diam saja mendengar penjelasan dari Rafael. dia tau bahwa Rafael memang sangat mencintai dirinya. tapi setelah melihat video itu, Vania jadi meragukan kesetiaan Rafael pada


dirinya.


"Vania...."


"ehm...."


"aku tau, bahwa kamu tidak percaya pada penjelasan dari ku. tapi aku akan mencari bukti, bahwa aku tidak melakukan apapun, seperti yang ada di dalam Vidio itu"


"baiklah. aku tunggu bukti dari mu" jawab Vania, pelan tapi penuh penekanan pada kata ' bukti dari mu '.


Rafael hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda dia setuju dengan keputusan dari Vania.


*****


beberapa hari setelah malam dilangsungkan acara pertunangan dirinya dengan Vania, Rafael kembali ke lagi ke negara Rusia.


hari ini Rafael kembali ke kampus nya untuk belajar dan selain itu, Rafael ingin mencari tau tentang rekaman video dirinya dengan seorang yg gadis yang dia tidak tau siapa. karena di dalam Vidio itu, wajah gadis itu tidak kelihatan.


tapi Rafael ingat betul bahwa kejadian itu bertepatan dengan waktu di mana hari perayaan pesta ulang tahun Jesika. karena dia ingat akan pakaian yang dia gunakan dan juga waktu itu bertepatan dengan dimana dia bangun pagi di dalam sebuah kamar hotel. dan bukan hanya itu saja, waktu itu Rafael juga sempat menemukan beberapa lukisan bibir di dadanya.


karena tidak tahu harus bertanya pada siapa tentang kejadian itu, Rafael akhirnya memilih untuk mencari tahu sendiri dengan cara diam-diam.


*****


Jesika dan juga teman-temannya sedang duduk santai di sebuah kafe.


sesekali mereka tertawa. sepertinya mereka sedang bersenda gurau.


"sudahlah..... jangan terlalu di ambil pusing" samar-samar Rafael dapat mendengar obrolan Jesika dengan kedua temannya itu.


sudah beberapa Minggu ini, Rafael memang selalu mengikuti kemanapun Jesika dan teman-temannya pergi. bahkan jika dia tidak punya waktu, karena di sebabkan oleh ada banyaknya pekerjaan, Rafael rela membayar seseorang untuk mengikuti ketiga sahabat ini.hanya untuk mendapatkan bukti, bahwa dirinya tidak melakukan apapun di dalam Video yang seseorang kirimkan pada calon istrinya, Vania.

__ADS_1


"bagaimana aku tidak pusing, aku sudah melakukan apapun untuk memisahkan Vania dengan Rafael. tapi acara pertunangan itu tetap saja terjadi" jawab Jesika, sambil mengelus keningnya, sebagai tanda bahwa dia sedang kecewa.


Rafael terkejut mendengar jawaban dari Jesika. dengan sigap, Rafael mengambil handphone miliknya dan merekam percakapan di antara tiga gadis itu.


"mungkin, Rafael memang bukan jodoh mu" timpal wana, teman Jesika.


"kamu apaan sih" jawab Gisel, sambil menyenggol lengan wana, yang keceplosan bicara. Gisel takut, sang ketua geng menjadi murka mendengar ucapan dari temannya wana.


"jika aku memang tidak di takdir kan untuk berjodoh dengan Rafael. itu artinya Vania juga tidak boleh berjodoh dengan Rafael" jawab Jesika, pelan tapi sinis.


"aku sudah rela membuat Vidio mesum dengan Rafael, dan mengirimkan nya pada Vania, tapi tetap saja Vania memilih untuk bertunangan dengan Rafael. aku benci pada Vania" ucap Jesika lagi.


"yang sabar ya." ucap Gisel, sambil mengelus bahu sahabatnya ini, Jesika.


"saya yakin, setelah melihat video itu, cinta Vania pada Rafael pasti akan segera berkurang. bahkan dengan seiringnya waktu, akan ada banyak konplik di antara mereka berdua. dan Lama-kelamaan mereka akan putus" ucap Gisel lagi. mencoba menyakinkan Jesika, bahwa masih ada harapan bagi Jesika untuk mendapatkan Rafael. dan supaya Jesika tidak kecewa.


setelah selesai merekam, Rafael menghampiri Jesika dan teman-temannya.


plok... plok....


Rafael berjalan sambil bertepuk tangan.


"jadi, kejadian itu adalah ulah kalian bertiga" tanya Rafael.


"jawab...." teriak Rafael.


ketiga gadis itu terperanjat mendengar teriakkan Rafael.


"saya cuma merekam saja" jawab Gisel, gugup.


"dan saya cuma membantu mengeditnya saja" jawab wana, lebih gugup dari Gisel.


"dan itu semua adalah ide dari Jesika" ucap gisel lagi, sambil menunjukkan ke arah Jesika.


dan wana ikut mengangguk kan kepalanya, sebagai tanda bahwa apa yang Gisel katakan adalah benar.


"jadi yang ada di dalam Vidio itu adalah, kamu...." ucap Rafael sambil berteriak, menunjukkan tangannya ke arah Jesika.


Jesika terperanjat mendengar teriakkan Rafael yang bagaikan petir di siang bolong. bahkan beberapa orang yang sedang duduk santai di kafe ini, ikut menoleh ke arah mereka.


"Jesika, apakah benar bahwa gadis yang ada didalam video ini adalah kamu?" Rafael kembali bertanya, sambil menunjukkan vidio di handphonenya.


"jawab...." ucap Rafael. kini dia semakin jengkel saja melihat Jesika yang tidak mengucapkan apapun, sebagai jawaban dari berbagai pertanyaan nya.

__ADS_1


"iya...." akhirnya Jesika menjawab pertanyaan Rafael, sambil menundukkan kepalanya.


"baiklah. kamu harus menjelaskan semua ini pada Vania" ucap Rafael.


"saya tidak mau"


"kenapa tidak mau?"


"Vania jadi marah padaku kerena ulah mu. jadi kamu harus meminta maaf pada dirinya"


"maaf. aku minta maaf Rafael. tapi pada dirimu, dan bukan pada Vania" jawab Jesika bersikeras, tidak mau meminta maaf pada Vania.


"aku sudah memaafkan mu. dan sekarang kamu harus meminta maaf pada Vania"


"aku tidak mau meminta maaf pada Vania, karena aku sangat membencinya"


"Kenapa?"


"kenapa kamu membenci Vania?"


"karena dia, aku tidak bisa mendapatkan dirimu. aku mencintaimu Rafael, tolong mengertilah dengan perasaan ku" ucap Jesika dengan menggebu-gebu.


"cinta ?"


"ini cinta kata mu?"


"no... no.... no... ini bukan cinta Jesika"


"aku sudah lama memendam perasaan ku ini pada mu. bahkan sejak kita SMA, saya sudah jatuh cinta padamu. tapi kedatangan Vania... dia berhasil merebut mu dari ku" ucap Jesika lagi.


"kamu tidak pernah mencintaiku, jesika.kamu hanya terobsesi pada diri ku. dan karena kamu tidak menyukai Vania, itulah yang menyebabkan kamu untuk ingin memisahkan kami" jawaban Rafael dengan lantang. seakan sedang menegaskan pada Jesika bahwa, tidak ada cinta di antara mereka berdua.


"aku mencintaimu Rafael. aku mencintaimu.... tolong mengertilah dengan perasaan ku" ucap Jesika, sambil menangis histeris. bahkan Jesika sampai menangkupkan tangan nya di hadapan Rafael.


"jesika, percayalah pada ku, ini bukanlah cinta. tapi ini, kamu hanyalah terobsesi untuk mendapatkan diriku"


ucap Rafael, sambil memegang tangan Jesika, mencoba untuk menenangkan Jesika yang sedang menangis.


entah kenapa, Rafael jadi kasihan melihat reaksi Jesika pada dirinya, pada saat ungkapan cinta Jesika di sangkal oleh dirinya.


*****


readers semua, mohon maaf ya karena beberapa hari yang lalu author tidak bisa update. paman author sakit parah selama beberapa hari jadi author ikut membantu menjaga nya. dan empat hari yang lalu paman author ini sudah meninggal dunia. jadi author tidak punya waktu untuk nulis naskah.

__ADS_1


...*setelah selesai membaca, jangan lupa dukungan nya like komen dan vote nya. terima kasih.*...


__ADS_2