LDR Cinta Online

LDR Cinta Online
mimpi tidur berdua


__ADS_3

Vania, Rafael, serta kedua pemandu wisata berjalan menuju tenda. meskipun mereka tidak membawa lampu penerangan sama sekali, tapi mereka masih bisa melihat dengan jelas jalan menuju ke atas puncak bukit ini.


sesampai di atas bukit. Vania lansung masuk ke dalam tendanya. sedangkan Rafael dan kedua pemandu wisata memiliki untuk berjaga di sekeliling tenda. bahkan sesekali mereka menambah kayu ke dalam api unggun yang sudah mampir padam.


dua jam kemudian, semuanya sudah tertidur lelap. Rafael yang merasa kedinginan, memilih untuk masuk ke dalam tendanya. sedangkan kedua pemandu wisata, pak Simon dan pak Petrus memilih untuk tidur di dekat api unggun.


dengan mata sedikit tertutup, rafael berjalan menuju ke tendanya. setelah beberapa langkah masuk kedalam tenda,


Rafael lansung saja merebahkan dirinya di sana.


tanpa Rafael sadari, dia tidur di samping seseorang, yaitu nyonya Salva.


malam semakin larut. dan suasana semakin dingin, karena ini sudah menjelang subuh.


Rafael semakin mendekat kan tubuhnya pada nyonya Salva.


nyonya Salva merasa terganggu dengan posisi tidur nya yang sempit, mendorong tubuh Rafael supaya menjauh dari nya.


sedang Rafael merasakan kenyamanan, karena ada yang menghangatkan tubuhnya.


****


' Vania sayang, sejak kapan kamu pindah ke tendaku?' tanya Rafael pada Vania.


'aku takut tidur seorang diri di dalam tenda ku, sehingga aku masuk ke dalam tenda mu' jawab Vania, sambil merebahkan tubuhnya di samping Rafael.


'ya udh, kalau gitu kita lanjutkan tidurnya lagi ya' jawab Rafael. memperbaiki postur tidurnya. supaya lebih dekat dengan Vania.


beberapa menit kemungkinan, Rafael dan Vania sama-sama terlelap. karena cuaca semakin dingin. tanpa mereka sadari, mereka saling merapatkan tubuh mereka satu sama lain.


Vania memeluk dada Rafael yang tidur terlentang. sedangkan Rafael memeluk bahu Vania yang tertidur menggunakan bahu tangan kirinya, sebagai bantal.


karena merasa penat di bahu nya Rafael mengubah posisi tidur vania.tapi Vania yang tidak ingin posisi tidurnya di rubah, semakin mempererat pelukannya pada Rafael. bahkan, kini Vania meraba-raba bagian perut rafael.


'vania jangan gitu dong. gili' ucap Rafael.


beda lagi dengan nyonya Salva. dia yang merasakan dingin di tubuhnya, meraba- raba seluruh bagian tepat tidur untuk mencari selimut.


'yang, udh dong. tangan nya di jaga'


ucap Rafael lagi. tapi di dalam hatinya merasa bahagia karena mendapatkan perlukan hangat dari Vania.


berbeda lagi dengan nyonya Salva. dia yang merasa sangat kedinginan, terus saja mencari selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. sampai akhirnya dia menemukan sehelai kain. dan tanpa pikir panjang, nyonya Salva lansung menarik kain tersebut.


Rafael kaget, karena rubuhnya tiba-tiba saja ada yang menariknya.


' Vania, ada apa sih' ucap rafael sambil membuka matanya. tapi apa yang dilihat oleh Rafael, sungguh membuat dirinya terkejut.


"ah...... kamu siapa!" tanya Rafael.dia kaget, karena ada sosok seseorang yang menggunakan baju berwarna putih, dan rambutnya sangat berantakan. bahkan rambut nyonya Salva sampai menutupi bagian wajahnya.


"pergi dari tenda ku" teriak Rafael lagi,


sambil menjauhkan tangan nyonya Salva dari atas perutnya, kemudian segera duduk.

__ADS_1


"kamu ...." teriak nyonya Salva, yang juga kaget melihat wajah Rafael.lalu segera merapikan rambutnya yang menutupi bagian wajahnya.


"nenek, kenapa ada di dalam tenda ku" tanya Rafael. sambil mengelus di dadanya. merasa lega karena bukan hantu yang berada di sampingnya saat ini.


"ya.... karena saya memang tidur di sini"


jawab nyonya Salva.


"sejak kapan?"


tanya Rafael.


"semenjak, kamu dan Vania kabur, karena ketakutan, semalam"


"apa maksudnya, nek" tanya Rafael, tidak mengerti.


"maksud ku. kenapa kamu dan Vania, dengan teganya meninggal kan aku seorang diri di kamar hotel" jawab nyonya Salva.


"maaf nek. saya dan Vania tidak pernah bermaksud untuk meninggalkan nenek seorang diri di kamar hotel. tapi mengingat nenek sudah sangat tua, jadi saya fikir nenek lebih baik istirahat saja di kamar hotel, dari pada harus terkena angin malam" jawab Rafael dengan santainya.


"Rafael...berani beraninya kamu mengatai ku ' tua '. kamu.... kamu akan aku kasih pelajaran ya. hari ini kamu tidak boleh dekat-dekat lagi dengan cucu ku, Vania"


ucap nyonya Salva, sambil menjewer telinga Rafael.


"ampun nek. saya janji tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi " ucap rafael, memohon ampun.


"sayang.... tolong aku. " teriak Rafael. meminta tolong pada kekasih hatinya, Vania. karena nyonya Salva tidak kunjung melepaskan tangannya dari telinga nya, yang ada nyonya Salva malah semakin memperkuat menjewer telinganya.


sedangkan, Vania yang tertidur dengan pulas nya, kaget mendengar teriakkan Rafael.


gumam Vania di dalam hatinya.


setelah meregang otot-otot tubuhnya, Vania memilih untuk keluar dari tenda nya, sambil mengucek matanya vania keluar tenda untuk memastikan siapa yang berteriak.


Vania, berhenti tepat di depan tendanya, untuk mencari kira-kira dari mana asal suara orang berteriak tadi.


'ternyata, berasal dari sini. dari dalam tenda rafael'


gumam Vania.


tanpa aba-aba, Vania lansung masuk kedalam tenda Rafael.


tapi Vania sangat kaget, ketika melihat ada nyonya Salva di dalam tenda Rafael.


"nenek... ternyata kamu ada disini?"


ucap Vania. dia berfikir neneknya sangat menghawatirkan hilang nya dirinya,dari kamar hotel, sehingga pagi-pagi buta seperti ini neneknya sudah ada di atas bukit ini.


"maaf kan Vania ya nek. ini semua salah Vania kok. dan bukan salah Rafael. tolong di lepaskan ya, tangan nenek dari telinga Rafael" ucap Vania, tidak enak hati sama Rafael.


"Vania... sini." panggil nyonya Salva. sambil menunjukkan tempat di sampingnya.


" iya nek." jawab Vania, lalu duduk di samping nyonya Salva.

__ADS_1


"kamu dan juga Rafael. kalian berdua sama-sama nakal ya." ucap nyonya Salva, sambil menjewer kedua telinga cucunya ini. menjewer telinga Vania dan Rafael.


"hari ini, kalian berdua tidak bisa lagi kabur dari ku. kemanapun kalian berdua pergi, akan nenek pastikan bahwa nenek pasti akan selalu ikut serta" ucap nyonya Salva penuh amarah. bahkan nyonya Salva, memutar telinga Rafael dan Vania di akhir kalimatnya.


"ampun nek. baiklah, Kami pasti akan mengikuti semua perintah nenek" jawab Vania.


"janji?" tanya nyonya Salva pada Vania.


"iya, janji nek" jawab Vania.


"lalu bagaimana dengan mu ?" tanya nyonya Salva pada Rafael. karena sejak tadi, Rafael hanya diam saja.


"mau bagaimana lagi. nenek selalu saja mengganggu aku dan Vania setiap kali kami berkencan. bahkan di dalam mimpi sekalipun, nenek selalu hadir di sana" jawab Rafael, dengan wajah memelas.


rafael ingat, bagaimana tadi dia bermimpi tidur berdua bersama dengan kekasih hatinya, Vania. mereka berdua sudah saling berpelukan. tapi ternyata semua itu hanyalah mimpi. karena yang Rafael peluk, ternyata nyonya Salva.


'aduh.... kasian deh gue. pengennya sih bisa tidur dengan pacar sendiri. tapi gak tau nya, malah tidur dengan nenek tua


ini.' batin Rafael merintih membayangkan, bagaimana dia memeluk nyonya Salva tadi.


" ternyata yang aku peluk tadi, nenek ini. hiks .... hiks......" gumam rafael.menangis di dalam hatinya.


"ingat, mulai sekarang. kemanapun kalian berdua pergi, harus dalam pantauan ku" ucap nyonya Salva, menatap keduanya bergantian. lalu melepaskan tangannya dari telinga Vania dan Rafael.


"baiklah,nek" jawab keduanya bersamaan. dengan wajah memelas.


"kita akan kembali ke hotel sekarang juga. nenek sudah sangat gerah, pengen mandi" ucap nyonya Salva.


"jangan gitulah nek. kami masih ingin jalan-jalan di bawah sana" bantah Rafael.


" baiklah. kalian berdua boleh jalan-jalan dulu. nenek kasih waktu dua jam, dari sekarang. setelah itu kita kembali ke hotel"ucap nyonya Salva, memberi izin.


"terima kasih nek."jawab keduanya bersamaan.


"Vania, ayok kita berkeliling Sekarang juga" ucap Rafael.


"tapi ini masih terlalu pagi.cuacanya sangat dingin" jawab Vania.


"percayalah, jika kita berkeliling, kita pasti akan berkeringat dan tidak kedinginan lagi. dan matahari pasti sudah tumbuh ketika kita sudah berada di bawah sana" ucap rafael, sambil menunjuk ke bawah sana. dimana di sana terlihat ada beberapa Danau, dengan air yang begitu jernih berwarna biru.membuatnya sudah tidak sabar lagi untuk menyentuh air itu.


"ok. ayo kita pergi sekarang juga" jawab Vania yang tidak ingin membuang-buang waktunya.


"ingat jangan lama-lama. nenek akan memantau kalian berdua dari atas sini" teriak nyonya Salva, ketika dua cucunya sudah berlalu dari hadapannya.


"ya nek. nenek tenang saja. kami aman kok" jawab Rafael. dan lansung di cubit oleh Vania, kerena tidak suka melihat kejahilan Rafael pada neneknya.


Rafael dan vania sibuk berkeliling melihat-lihat keindahan alam pulau padar di pagi hari. sedangkan nyonya Salva malah asik tertidur dengan nyenyak di dalam tenda.


nyonya Salva bukannya tidak ingin ikut berkeliling pulau ini, tapi kondisi dia yang sudah sangat tua, membuat dia rentan sakit. bahkan sekarang dia sudah mulai merasakan sakit di bagian pinggang nya, akibat semalam berjalan keatas bukit ini.


meskipun semalam nyonya salva telah menyewa kuda untuk mengantar dirinya naik ke atas bukit ini, tapi tetap saja pinggang nya sakit.


jadi nyonya Salva sengaja membiarkan Vania dan Rafael berkeliling berdua saja, supaya mereka berdua tidak tau bahwa dia sedang sakit pinggang.

__ADS_1


......yuk komen supaya author update lagi......


__ADS_2