LDR Cinta Online

LDR Cinta Online
takut hantu


__ADS_3

pesawat yang membawa Vania, nyonya Salva dan juga Rafael sudah sampai di bandara El tari Kupang,Nusa tenggara timur, atau biasanya di sebut NTT.


sesampai mereka di sana, Vania harus mencari mobil taksi lagi untuk membawa mereka bertiga ke tempat wisata labuan bajo.


membutuhkan beberapa jam perjalanan lagi bagi mereka untuk tiba di labuan bajo.


"wah pemandangannya sangat indah." ucap ketiganya.


mereka sengaja memilih untuk menyewa kamar yang berada di sekitar pulau padar. supaya bisa melihat pemandangan dari kamar hotel,mekipun tidak jelas. tapi besok mereka bertiga akan pastikan bahwa mereka akan segera mengelilingi tempat ini.


di malam hari. di saat nyonya Salva sedang beristirahat. nyonya Salva bahkan terlihat tidur pulas.


karena sudah tidak sabar ingin melihat keindahan alam ini.Rafael nekat membawa Vania untuk berjalan-jalan di sekitar pulau ini.


mereka berdua dengan nekatnya naik ke puncak bukit untuk melihat bagaimana suasana di pulau padar, di malam hari seperti ini.


dengan membawa dua orang pemandu wisata, Rafael dan Vania meninggalkan nyonya Salva seorang diri di kamar hotel.


"Vania, tanyakan pada nya, apakah boleh mendirikan tenda di sekitar bukit" ucap Rafael pada Vania


"untuk apa, mendirikan tenda di sana?"


tanya Vania pada Rafael, menggunakan bahasa Inggris.


"saya ingin. kita berdua menginap di sana, malam ini"


jawab Rafael. menggunakan bahasa Inggris.


"lalu bagaimana dengan nenekku"


tanya Vania.


"tenang saja. besok, pagi-pagi kita harus segera kembali ke kamar hotel. sebelum dia bangun tidur" jawab Rafael, memberi ide gila nya.


"yakin.... kita bisa kembali secepat itu?"


tanya Vania. dia merasa ragu, pergi tanpa berpesan kepada nyonya Salva. apalagi, ke puncak bukit bukanlah hal yang mudah, apalagi di malam hari seperti ini.


"yakinlah. lagian, besok kita kasih alasan, bahwa nenek mu sudah sangat tua, jadi tidak baik terkena angin malam" ucap Rafael.


dengan di bantu dua, pemandu wisata. Vania dan Rafael berhasil mendirikan dua tenda di atas bukit.


kebetulan, malam ini cuaca sangat mendukung. di sekitar tenda ada beberapa lampu lentera, dan di tambah cahaya bulan membuat Vania dan Rafael bisa melihat kebawah sana. bahkan danau terlihat jelas dari atas bukit ini.


"apakah kamu tidak merasa takut"


tanya Vania, yang duduk di samping Rafael.


"tidak...." jawab Rafael.


"tapi di sini sangat sepi sekali. di sini hanya ada kita berempat saja" ucap Vania lagi. dia sudah gelisah saja, membayangkan sesuatu akan terjadi.

__ADS_1


" saya rasa suasananya tidak seram kok. cahaya bulan juga cukup terang. di tambah lagi ada api unggun di sini" jawab Rafael, sambil menunjukkan api unggun tepat di depan mereka berdua duduk.


"jagung bakarnya sudah siap."


ucap salah satu pemandu wisata. yang sudah rafael bayar mahal, sehingga mereka akan melakukan apapun yang Rafael perintahkan.


sedangkan, nyonya Salva yang masih berada di kamar hotel, tiba-tiba saja terjaga, mencari-cari keberadaan Vania, yang kini sudah tidak ada lagi di sampingnya.


' kemana anak itu?. tadi dia tidur di sampingku, sekarang sudah tidak ada lagi' gumam nyonya Salva.


di hotel ini, nyonya Salva memang hanya memesan dua kamar saja. bukan karena tidak punya uang. tapi karena nyonya Salva ingin menjaga Vania. dia tidak ingin Rafael dan Vania berkencan berdua saja.


karena nyonya Salva takut yang akan menjadi orang ke tiganya adalah setan.


' jangan-jangan mereka berdua sedang berkencan. bahaya....' pikir nyonya Salva.


dengan tergesa - gesa nyonya Salva keluar dari kamarnya. bertanya pada resepsionis, kemana kedua cucunya itu pergi.


setelah mendapatkan informasi dari resepsionis, nyonya Salva memilih untuk ikut serta kemana kedua cucunya pergi.


nyonya Salva terpaku sesaat, melihat Rafael dan Vania yang sedang duduk berdampingan di dekat api unggun. tidak jauh dari tenda mereka berdua, bahkan di temani oleh dua pemandu wisata.


nyonya Salva yang tadinya, sempat marah karena kahwatir jika Vania dan Rafael sedang berduaan saja di tempat ini, khawatir jika mereka berdua akan melakukan hal-hal yang tidak di inginkan.


rasa marah nyonya Salva lansung hilang, ketika melihat bahwa Rafael dan Vania hanya sedangkan duduk duduk saja. bahkan mereka berdua terlihat jaga jarak, tidak ada edegan mesra sedikitpun.


sesekali Vania dan Rafael terlihat tertawa. entah apa yang mereka bicarakan, tapi yang pasti mereka berdua mengobrol dengan di temani oleh dua orang pria.


' tapi bagaimanapun juga, mereka tetap harus di kawal.' pikir nyonya Salva lagi.


nyonya Salva berjalan perlahan menuju kearah Vania dan Rafael.


"ehm...." nyonya Salva berdehem.


"Rafael. kamu dengar tidak ?"


tanya Vania, dengan wajah ketakutan.


"iya. ada apa Vania ?"


tanya Rafael, tidak mengerti dengan apa yang dimaksud kan oleh Vania.


"Rafael, tadi aku mendengar ada suara orang berdehem. suaranya, seperti suara nenek-nenek"


jawab Vania. dia lansung mendekatkan tubuhnya pada Rafael.


"Rafael.... lihat itu." ucap Vania, sambil menunjukkan sebuah bayangan seseorang.


"itu kan cuma bayangan kita, Vania"


"bukan, Rafael. bayangan tubuh kita itu di sebelah sini." jawab Vania.

__ADS_1


merasa ada tidak beres, Rafael pun menoleh ke belakang.


"auw....." Rafael berteriak, bahkan dia dengan refleks, Rafael lansung melompat ketakutan.


"ada apa ?" tanya Vania.


"yang. ayo kita pergi dari sini, yang. di belakang mu ada hantu" ucap Rafael, lalu menarik tangan Vania, mengajak Vania cari tempat yang aman.


bahkan sekarang, tanpa dia sadari Rafael sudah memanggil Vania dengan sebutan ' yang '


yang artinya, sayang.


Vania menoleh ke belakang nya. dan melihat ada sosok nenek-nenek yang sedang membungkuk kan badannya.


nenek itu menggunakan baju serba putih.


"hantu....." ucap Vania sambil berlari. Rafael dan kedua pemandu juga ikut berlari juga.


mereka berempat berlari terbirit-birit ke arah yang berlawanan.


" hahaha......" nyonya Salva tertawa terbahak-bahak. karena nyonya Salva senang melihat Vania dan rafael, lari ketakutan.


'rasain Lo. siapa suruh ninggalin saya sendirian di dalam kamar hotel' umpat nyonya Salva.


'belum apa-apa sudah ketakutan' gumam nyonya Salva.


karena merasa kelelahan. nyonya Salva masuk kedalam tenda Rafael. dan kembali tertidur pulas di sana.


dia sengaja tidak memakai selimut. nyonya Salva berbaring membelakangi pintu tenda. membiarkan rambut panjangnya tergerai indah, menutupi bagian belakangnya.


'akan aku kerjain lagi kamu, Rafael. siapa suruh membawa cucu ku kabur' pikir nyonya Salva, tertawa puas.


nyonya Salva,merapikan posisi tidurnya.


'semoga saja dengan pakaian ku yang serba putih, berhasil membuat Rafael kembali ketakutan. gumam nyonya Salva lagi.


sementara keempat orang yang tadi nya sempat berlari ketakutan, kini sedang bersembunyi di balik bukit.


"di sini banyak sekali nyamuknya. ayo kita kembali lagi ke tenda" ucap salah satu pemandu wisata. mereka berjalan hanya menggunakan cahaya bulan saja, sebagai penerangan.


"tapi kami masih takut." jawab Vania dan Rafael bersamaan.


"maaf non. saya rasa yang tadi itu bukan hantu. soalnya tadi saya liat ada dua orang yang berada di belakang nenek tua itu" ucap pak Petrus. salah satu pemandu wisata.


"ya non. saya rasa tadi kita Hanya sedang kaget aja. karena selama saya jadi pemandu wisata, saya belum pernah mendengar kalau ada cerita horor di daerah ini" timpal pak Simon. pemandu wisata.


"kalau bapak yakin yang tadi itu bukan hantu. kami mau kok kembali ke tenda"


jawab Vania.


dan setelah Vania menjelaskan pada Rafael tentang semuanya. mereka berempat pun memilih untuk kembali ke tenda.

__ADS_1


__ADS_2