
"satu...dua.... tiga. eksen "
ucap foto grafer, sebelum mengambil foto Carlos bersama seluruh anggota keluarganya.
terlihat, sang fotografer mengambil beberapa kali foto keluarga Carlos.
"ini yang terakhir ya..."
ucap fotografer tersebut.
setelah mendengar arahan dari sang fotografer, semua anggota keluarga mengatur posisi mereka sesuai dengan yang di arahkan oleh sang fotografer.
Elisa, Carlos dan nyonya Salva duduk di sofa panjang, di sofa termewah yang carlos miliki. Leon duduk di pangkuan Elisa. sedangkan Felicia duduk dipangkuan Carlos. dan nyonya Salva duduk di tengah-tengah, di antara Carlos dan Elisa.
Vania dan Maureen duduk di sisi sofa, dengan posisi duduk menyamping.
semua anggota keluarga yang perempuan menggunakan gaun berbahan satin, berwarna pink. Elisa dan nyonya Salva, dengan model gaun tertutup bagian atasnya dan panjangnya hingga mata kaki.sedangkan untuk ketiga putri Elisa, dengan model gaun tanpa lengan.panjangnya masih sama, hingga mata kaki dan bagian belakang memanjang. cocok sekali untuk para gadis remaja.
sedangkan Carlos dan putra nya Leon, menggunakan kemeja putih dan setelan jas hitam.
cek lis .....cek lis.... cek lis...
sang fotografer, mengambil tiga kali gambar dengan gaya yang sama. untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
setelah selesai berfoto, Vania berdiri di samping ibunya, mereka semua menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Leon. setelah itu di lanjutkan dengan lagu panjang umur, barulah lagu tiup lilin.
lilin di tiup oleh elisa, Carlos dan Leon secara bersamaan. dan kini giliran Vania yang memotong kuenya, pada saat lagu potong kuenya di nyanyikan.
...potong kuenya...
potong kuenya, potong kuenya.
potong kuenya sekarang juga,
sekarang juga.
sekarang juga.
hore.....
"Vania, tolong bantu ibu potongkan kuenya. ibu kesulitan"
pinta Elisa. meminta bantuan sama Vania, karena dia merasa kesulitan untuk
memotong kue ulang tahun Leon. mengiat Leon yang ada dalam gendongan nya, sangat aktif.
"baik Bu"
jawab Vania, mengambil pisau lalu memotong kuenya.
"potongan pertama untuk , adik kakak yang genteng, leon.serta untuk ibu dan juga ayah yang Vania sayangi"
ucap Vania, sambil memegang kue tart, dengan potongan yang cukup besar.
"ayah, ibu dan Leon. gigitan pertama nya dilakukan sama-sama ya."
pinta Vania.
"bagaimana caranya Vania, ini sulit"
protes Elisa.
"seperti ini, sayang"
ucap Carlos.
"saya yang pegang kue nya. trus kita bertiga makan kuenya sama-sama ya."
Carlos memberikan arahan sama istri tercintanya, Elisa.
"ok. baiklah."
jawab Elisa, mengiyakan ide suami dan anaknya, Vania.
"da... da..." jawab Leon, seakan menyetujui ucapan ayah nya.
Elisa menggendong Leon, di tangan kanannya. tepat di tengah-tengah, diantara dia dan Carlos. Carlos mengakat kuenya, tepat di hadapan mulut Leon.
sedangkan dia dan Elisa, menggigit bagian sisi yang berbeda dari kue tersebut, bersama-sama.
"satu ... dua....tiga.... eksen"
ucap Vania, mengeluarkan handphone miliknya, dari tas selempang nya. untuk mengambil foto ibu, ayah dan adiknya yang sedang menggigit kue ulang tahun.
"wah.... hasil fotonya, cantik banget, ayah"
ucap Vania, sambil memperlihatkan hasil fotonya pada ayah dan ibunya.
"ayah, foto kan aku juga dong. pas lagi makan kue" pinta Vania.
"baiklah, ayah tidak bawa handphone. ayah pakai handphone mu saja ya "
"ini handphonenya. saya potong kue nya dulu ya, pas saya lagi makan kuenya, barulah ayah ambil foto saya, ya"
pinta Vania.
Carlos memanggil Rafael sedang berdiri di samping ayahnya, Eric.
__ADS_1
"Rafael, sini."
"ya om. ada apa?"
tanya Rafael, setelah sampai di dekat Carlos.
"kamu berdiri di samping Vania ya. om mau ambil foto kamu bersama Vania"
pinta Carlos.
"tapi om..."
"udh, berdiri saja di sana, di samping Vania" jawab carlos sambil menarik Rafael, untuk berdiri di dekat Vania.
"cek lis..."
foto pertama udh di ambil oleh carlos. terlihat Vania sedang memotong kue, dan Rafael berdiri tegak, dengan ekspresi wajah yang tegang.
"ayah, sudah siap" ucap Vania, pada ayahnya.
"Rafael, Vania. gigit kuenya sama-sama ya. satu... dua....tiga."
ucap Carlos.
Vania kaget mendengar apa yang ayahnya ucapan. dan dia lansung menoleh ke samping nya,seketika matanya melotot melihat Rafael berada di sampingnya.
sedangkan Rafael menurut saja, apa yang di arahkan oleh Carlos.
dia lansung ikut menggigit kue yang ada di tangan Vania. tepat bersamaan dengan Vania yang juga sedang menggigit kue yang sedang dia pegang.
"wah... fotonya, cantik banget. ayah suka.
yang satunya, cantik walaupun matanya melotot. dan yang satunya lagi, terlihat sangat tampan. andai saja, tadi hidung mu, Rafael menyentuh pipi Vania. foto ini akan lebih bagus lagi" ucap Carlos, sambil memperhatikan foto Vania dan Rafael di handphone milik Vania.
"ayah.... kenapa ayah malah mengambil foto saya sama Rafael sih?. kan malu."
"tidak apa-apa, Vania. ini kan cuma foto. bisa di abadikan, di jadikan sebagai kenangan."
"sini, kembalikan handphone Vania"
pinta Vania.
"tunggu sebentar Vania. ayah mau kirimkan ke teman ayah dulu, Eric"
"No. WhatsApp om Eric tidak ada sama Vania, ayah." ucap Vania, sambil merengek meminta handphone nya pada ayahnya.
"jika begitu, ayah kirimkan ke no. WhatsApp ayah saja."
ucap Carlos, sambil mencari-cari no.whatsApp nya.
"ok. sudah terkirim. ini handphone mu"
Vania melihat hasil foto dirinya dengan Rafael yang barusan di ambil oleh ayahnya.
"dasar ayah sereh " umpat Vania,melihat foto pertama. di sini terlihat jelas bahwa dia sangat cantik dan anggun. dia sedang menunduk memotong kue, dengan rambut tergerai indah. dan tubuhnya yang langsing terlihat cocok sekali menggunakan gaun panjang tanpa lengan. di foto ini dari ujung kaki hingga ujung rambutnya terlihat jelas.
sedangkan Rafael, wajahnya terlihat tegang, tapi tidak mengubah ketampanannya sedikitpun.
"ih... ayah. yang ini memerlukan."
ucap vania.di foto kedua, Vania kesal melihat ekspresi wajah marahnya. meskipun dia tetap cantik, tapi dengan matanya yang sedang melotot membuat dirinya seperti nenek sihir saja. pikir Vania.
sedangkan Rafael, dengan senyum di wajahnya, semakin menambah ketampanannya.
'benar juga kata ayah. andai saja hidung Rafael menyentuh pipi ku. foto ini pasti terlihat sangat cantik dan romantis. pasti terlihat seperti foto sepasang kekasih.' pikir Vania. sambil tersenyum melihat fotonya dengan rafael
'tapi sayang,kami hanya terlihat seperti teman yang lagi berantem. terlihat seperti aku yang tidak rela membagi kue ku pada nya. sedangkan dia terlihat seperti orang yang sedang mencuri makanan dari ku'
pikir Vania lagi. dia memperhatikan fotonya, dengan seksama sambil tersenyum malu-malu.
"sudah, jangan di lihat terus fotonya. sini giliran saya yang lihat." ucap Rafael, sambil mengambil handphone milik Vania, dari tangan Vania.
"kamu... beraninya menyentuh handphone ku"
ucap Vania, dia tidak rela handphone nya di pegang sembarangan orang.
"ini juga foto ku. jadi aku berhak untuk melihat fotonya"
jawab Rafael, tidak mau kalah.
"ok. tapi gak kaya gini juga cara nya"
protes Vania.
"baiklah, maaf. kalau gitu, kita lihat fotonya bersama-sama ya. kita duduk di sebelah sana" jawab Rafael, sambil menunjuk ke arah meja, di sudut ruangan.
dua orang pria tampan, sedang duduk di salah satu meja. mereka berdua sedang memperhatikan dua remaja yang sedang mengobrol. mereka mengobrol dengan sangat akrab, seperti orang yang sudah lama saling kenal. bahkan sesekali mereka terlihat tertawa bersama.
"Kenapa kamu tiba-tiba ada di samping ku"
"ayah mu yang meminta ku, untuk berfoto dengan mu"
"trus kamu, mau begitu aja ? "
"ya ... bagaimana mungkin aku bisa menolak keinginan dari ayahmu"
"ayah.... dia memang suka iseng"
__ADS_1
"sudahlah ini kan cuma foto, gak ada salahnya juga"
"iya sih. aku suka foto yang ini"
ucap Vania, menunjukkan foto nya pada saat dia sedang memotong kue. karena di foto ini, dia terlihat sangat cantik.
"tapi aku lebih suka foto yang ini. di sini aku terlihat sangat tampan."
"iya, di foto ini kamu memang terlihat sangat tampan. tapi akunya yang jelek."
"tolong jangan di hapus ya, fotonya. aku suka dua-duanya."
"baiklah. aku juga suka dua-duanya."
"walaupun di foto ini, kamu terlihat seperti zombie?"
goda Rafael, sambil menunjukkan foto yang kedua. yang membuat raut wajah Vania berubah.
"kamu.... beraninya kamu mengatai ku !!"
"di foto ini, kamu juga terlihat seperti cowok culun." protes Vania.
"culun ?"
"aku ini tampan. gak ada culun nya sama sekali" ucap Rafael, dia juga protes, tidak terima di Katai culun.
"iya... culun"
"dasar cewek aneh." ucap Rafael dengan wajah masam.
" ok. maaf. jadi di simpan gak nih, fotonya ?" tanya Vania, mengahiri perdebatan mereka berdua.
"ya di simpan dong. kapan lagi kita bisa Selfi aneh kayak gini."
jawab Rafael.
"tapi janji, jangan meledek saya lagi."
"janji. tapi dengan syarat kamu juga jangan meledek saya lagi"
"janji..."
jawab Vania, sambil mengacungkan jari kelingkingnya"
"janji..." jawab Rafael, meraih jari kelingking Vania.
"janji. janji jari kelingking" ucap kedua bersamaan.sambil tertawa bersama.
di sudut ruangan
"Carlos, anak kita terlihat sangat akrab.mereka berdua terlihat sangat cocok sekali." ucap Eric.
"benar Eric. mudah mudahan mereka berdua berjodoh ya. "
"amin...." jawab Eric.
"kita akan menjadi Best frend selamanya. selain itu, kita juga bisa jadi besan" lanjut Carlos.
"itu akan lebih baik lagi. kita berdua tidak hanya berteman, tapi juga keluarga"
timpal Eric.
"jika itu terjadi aku akan sangat bahagia eric "
"aku juga"
hahaha....
dua pria tampan itu tertawa bersama.
di sudut ruangan, lainnya
"oh ya, kita belum kenalan. siapa nama mu?"
ucap Rafael.
"saya Vania. dan siapa nama mu?"
"saya Rafael." jawab Rafael sambil tersenyum.
"saya tidak menyangka, bahwa kamu anak dari om Eric" ucap Vania lagi.
"saya juga tidak menyangka, akan berkenalan dengan gadis secantik dirimu di sini. karena tadinya saya pikir ini adalah pesta seorang anak bayi, jadi yang hadir di sini hanyalah ibu dan bayinya."
"tentu saja aku hadir di sini. inikan acara ulang tahun adik ku"
"tadi aku tidak tahu, bahwa om Carlos punya anak secantik dirimu"
"aku adalah anak pertama nya. dan aku masih punya tiga orang adik."
"oh.... aku sudah lama sekali tidak bertemu dengan om Carlos, jadi wajar jika aku tidak tau tentang dirinya"
jawab Rafael.
"tidak masalah"
jawab Vania singkat.
__ADS_1
'kira-kira gimana ya, reaksi Rafael jika dia tau bahwa aku hanyalah anak sambung, dari ayah carlos' pikir Vania.